Assalamu Alaikum Wr.Wb. Memang tiada duanya teman kita yg satu ini, selalu mengulas dan mengulas, tapi kalau boleh saya tambahkan karena ulasan kemarin belum menyentuh salah satu permasalahan yaitu WASIT (apa karena masih satu "atap" atau memang kebetulan Doang...)
Pada pertandingan bola volley kemarin, saya menilai wasitnya sangat tidak kapabel untuk pertandingan sekelas antar RW, jangankan pemain, penontonpun melihat dengan jelas semua kesalahan dalam kepemimpinan kemarin. Saya sudah menanyakan itu kepada Wasit I (Pungkindaru), tetapi beliau selalu berlindung dibalik pernyataan "Wasit Utama berhak penuh..."!? Lalu apa gunanya Wasit II dan hakim garis ? Pasti pandangan wasit I tidak bisa mengcover seluruh areal lapangan dan sepak terjang pemain, itulah gunanya peran pembantu diatas, dan menurut peraturan PBVSI sebelum memastikan/mengambil keputusan yang dimungkinkan pandangan wasit terhalang, maka peran para pembantu menjadi sangat penting untuk didengar (saya salut sekaligus prihatin untuk Saudara saya Bpk Fahrurrozi) Saya mengulas ini untuk Amar Ma'ruf karena menjadi WASIT itu sulit sekali, selain mutlak mengerti peraturan juga dituntut untuk ADIL dan JUJUR. Sama halnya dengan Kiblat Masjid, apabila arahnya salah mungkin para jamaah yang lain wajib untuk mengingatkan demi kebaikan kita semua. Masih tetap salut untuk Panitia Pusat karena sudah berusaha menyajikan yang terbaik untuk kita semua. Kami dari RW 16 menerima kekalahan kemarin dengan lapang dada, dan kami akan tetap bersemangat untuk pertandingan berikutnya, tentu dengan kwalitas yang lebih baik lagi dan kami mohon agar Panitia Pusat lebih bersemangat lagi untuk kearah yang lebih baik juga, awas infiltrasi "pemain asing", jaga kehormatan RW masing-masing, jangan warganya menjadi penonton dan penyumbang dana, sementara melihat "orang lain" memakai kaos pemberian warga dan memakai atribut warga itu sendiri. Satu lagi pak Jae, ulas juga dong, "pejabat RW" yang masih mau ditunjuk untuk menjadi Wasit, apa engga hebat tuh kepedulian Beliau... Wassalamu Alaikum Wr.Wb ----- Original Message ----- From: jaerony To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, June 04, 2007 3:42 AM Subject: [porsenipar] Porsenipar, Salah Satu Bentuk Dinamika Masyarakat PORSENIPAR, SALAH SATU BENTUK DINAMIKA MASYARAKAT Bagi kita yang gemar sepak bola berakhirnya pertandingan-pertandingan Liga di kawasan Eropa dan terakhir Liga Champion untuk putaran 2006-2007 menjadikan hari-hari setelahnya menjadi hambar seakan-akan tiada lagi satu hiburan yang dapat dipakai sebagai sarana pelepas lelah setelah seharian bekerja. Tapi, tunggu jangan apatis dulu! Partai uji-coba (frendly-game) antar-negara dan menyusul kemudian Piala Eropa 2007 menjadi alternatif tontonan yang tak kalah menariknya. Ketika membaca artikel berjudul "Beckham is come back" baik di milis ini maupun di media lain mesin uang yang bernama David Beckham (sebagai pemain bintang di club-nya maupun ikon sebuah produk) seolah-olah menyentak kehampaan kita dan menggiringnya untuk menyaksikan pertandingan uji-coba kesebelasan Inggris melawan Brasil. Dalam pertandingan itu umpan jarak jauh Beckham yang disambut dengan tendangan John Terry di depan gawang Brasil menghasilkan gol yang indah! Dan, kehampaan menjadi sedikit terobati. Partai uji-coba kesebelasan antar negara lainnya di samping Inggris-Brasil menjadi menarik termasuk uji cobanya kesebelasan Indonesia melawan Hongkong dan terakhir lawan Singapura. Demikian juga menariknya turnamen Piala Eropa yang babak kualifikasinya telah dimulai sejak minggu yang lalu. Menyaksikan dan mengamati pertandingan yang susul-menyusul khususnya di daratan Eropa itu, kita bisa merasakan betapa dinamika di kawasan itu sedemikian tingginya. Cobalah sesekali Anda membaca ulasan mengenai kompetisi Liga Champion khususnya dari sisi kekayaan club-club papan atas yang sering memenangi pertandingan termasuk "jual-beli" para pemainnya pada saat musim transfer pemain. Angka-angka dollar sangat-sangat wah, gaji seorang pemain bisa puluhan kali lipat dari gaji seorang eksekutif sekalipun! Kitalah Dinamika Itu Tulisan ini tidak bermaksud secara serta-merta membandingkan kondisi suatu tempat dibanding dengan tempat yang lain apalagi di negara yang jauh lebih makmur itu. Akan tetapi kita bisa membawa cara pikir dan cara pandang kita kepada urusan yang besar dan lebih besar lagi dalam menyikapi dan membina lingkungan di mana kita tinggal. Sekedar bahan pembanding, apa yang ada di benak kita kala melihat pertikaian tiada berakhir khususnya di seputaran timur tengah? Kita tentu sudah sangat paham bahwa "Allah tidak akan merubah suatu kaum, tetapi kaum itu sendiri yang harus merubahnya". Demikian juga dengan sebuah dinamika, orang-orang yang ada di dalamnyalah yang bertindak sebagai subjek dari dinamika yang diinginkannya itu berlandaskan pada pemikiran dan tindakan inovatif dan kreatif dalam koridor cara pandang dan berkehidupan yang positif. Jika sudah demikian, kita dapat mengarahkan (mengorientasikan) sebuah lingkungan apakah akan kita bentuk suatu lingkungan yang religius, lingkungan yang hijau-sejuk-nyaman, lingkungan gemar olah raga dan sebagainya. Liburan panjang kemarin (1-3 Juni 2007) bisa jadi sebuah refleksi kecil adanya dinamika itu. Hari Jum'at, umat Islam secara berjamaah menunaikan shalat Jum'at. Sabtu sore, pertandingan sepak bola berlangsung di lapangan RW 13. Minggu sore, pertandingan bola volley putra dan putri meriah dilangsungkan di lapangan volley RW 14. Kemudian, Minggu malamnya diselenggarakan tenis meja di lapangan bulu tangkis RW 15. Dari Gelanggang ke Gelanggang Kesebelasan RW 13 Gunduli Kesebelasan RW 15 dengan Skor 7-1 Pertandingan yang dipimpin oleh Wasit Mi'un dan hakim garis Sunhaji dan Budi dari Korps Wasit Persikabo ini berlangsung kurang seimbang apalagi menjelang akhir pertandingan. Ball possession 60:40 praktis di bawah dominasi kesebelasan RW 13. Akan tetapi, pada awal-awal pertandingan penampilan kesebelasan RW 15 yang berkostum kuning-kuning ini sebenarnya lebih baik dari pertandingan sebelumnya. Tercatat ada beberapa kesempatan yang gagal dimanfaatkan antara lain : di menit ke-7 saat terjadi kemelut di depan gawang RW 13, dan kemudian menit ke-23 di mana tendangan bebas yang dilakukan pemain bernomor punggung 17 tepat di pelukan kiper serta shooting lain yang mengenai mistar. Hasil kerja keras mereka membuahkan gol pada menit ke-44 (menit ke-9 babak kedua) yang dilakukan oleh Ari, pemain bernomor punggung 18. Kesebelasan biru-hitam (RW 13) tidak kalah dalam hal mendapatkan kesempatan mencetak gol dalam pertandingan yang berlangsung 2 x 35 menit ini. Kerja sama pemain bernomor 13, 7 dan 16 (Pak RW 13), serta 13, 7 dan 8 di beberapa kesempatan sangat membahayakan gawang RW 15. Beberapa shooting sempat mengenai mistar gawang. Tim yang didukung puluhan supporter yang membunyikan genderang dan tetabuhan lain, puluhan balon di tangan serta poster-poster dengan tulisan "RW-13" yang dipegang anak-anak menambah suasana riuh rendah di antara tujuh gol yang diciptakan timnya pada sore itu. Kemeriahan dan Antusiasme di Dua Lapangan Volley Hari Minggu 3 Juni 2007 merupakan awal dipertandingkannya cabang bola volley puteri dan putera yang menempati masing-masing di Lapangan I dan II. Di lapangan I bertanding tim RW 13 (biru-hitam) dan tim RW 14 (kuning-hitam). Sementara itu di Lapangan II bertanding tim RW 15 (merah-biru) berhadapan dengan tim RW 16 (hitam-hitam). Pertandingan volley puteri dilangsungkan lebih awal dan dipimpin oleh Wasit I Tri Joko (Pak RW 16) dan Wasit II Almasdi Rahman (RW 14). Di set pertama tim kuning-hitam lebih dulu tertinggal 8-5 yang kemudian disusul sampai pada kedudukan 8-16 saat tim biru-hitam (RW 13) meminta time out yang kedua kepada wasit. Selanjutnya, tim RW 14 memimpin angka hingga kedudukan akhir set pertama 16-25. Di set kedua tim RW 13 mulai bangkit kedudukan hampir imbang 2-3, 7-8, dan mulai menjauh dengan skor 12-16. Lalu, terjadi lagi kejar-kejaran angka pada kedudukan 15-16 di mana bola dipermainkan dalam reli-reli panjang hingga kedudukan 15-18. Skor akhir set kedua adalah 16-25 untuk kemenangan RW 14. Pantang menyerah, tim biru-hitam di set ketiga sempat mengungguli lawannya hingga angka 8-0 sebelum tim lawan meminta wasit untuk time-out pertama. Pancingan reli-reli panjang yang dilakukan tim RW 14 tidak mampu melampaui perolehan angka lawan hingga kedudukan 25-18 untuk RW 13. Secara keseluruhan, tim RW 14 unggul 2-1 di pertandingan yang menganut sistem permainan 3 set penuh ini. Di Lapangan II yang mempertandingkan tim merah-biru (RW 15) dengan tim hitam-hitam (RW 16) bola volley putera tidak kalah sengitnya. Kejar-kejaran angka terjadi di set pertama hingga pada kesudahan 20-25 untuk RW 16. Tim RW 15 yang didukung oleh lebih banyak suporter di banding tim lawan mampu menambah motivasi hingga mampu mengungguli lawan dengan kedudukan akhir set kedua 25-16. Dengan perlawanan imbang dan celetukan supporter khususnya dari RW 15 yang "mengganggu" kedudukan skor sempat seimbang di set ketiga ini. Tercatat beberapa kedudukan imbang kedua tim, yaitu pada kedudukan 14-14, kemudian 18-19 dan 19-19, 20-20, 21-21, dan 22-22 yang diselingi dengan berpindah-pindahnya service. Perlawanan sengit yang tidak saja dilakukan oleh pemain tetapi juga dukungan penonton membuahkan angka akhir bagi kemenangan Tim RW 15, 25-23. Keseluruhannya dimenangkan oleh tim RW 15 dengan skor 2-1. Pertandingan volley putera dipimpin oleh Wasit I Pungkindaru (RW 14) dibantu oleh Wasit II Pahrurrozi (RW 14). "Pertandingan Wirid" di Cabang Tenis Meja Pertandingan Minggu malam di cabang Tenis Meja mempertandingkan RW 15 melawan RW 16 (puteri) dan RW 14 melawan RW 17 (putera). Tim puteri tennis meja RW 16 menang mudah menghadapi tim puteri RW 15. Dari tiga partai yang dipertandingkan kesemuanya berakhir dengan straight-set sehingga kedudukan 0-3 untuk kemenangan RW 16. Di cabang tennis meja putera pertandingan berlangsung "serius tapi santai" meskipun tidak berarti bahwa lawan yang dihadapi tergolong mudah seperti yang terjadi di partai kedua yang berlangsung dengan rubber-set. Di partai pertama, bahkan masing-masing pasangan (RW 14 dan RW 17) ngebodor dengan melakukan aksi "tos" di setiap bola mati. Malahan, pemain nurut saja gara-gara tidak lagi melakukan "tos" penonton menyuruh melakukan "tos" dengan pasangannya. "Tos dong Pak ...." Dan pasangan pemain melakukan apa yang diminta. Kalau di partai pertama pemain "nurutin" penonton buat "tos", di partai kedua penonton nyeletuk, "Ini pertandingan tenis meja apa pertandingan wirid sih?" Serentak penonton dan suporter pada tertawa. Gara-garanya adalah pemain tunggal dari RW 17 (Royo) yang memakai peci saat bertanding. Dan karenanya dipanggil "ustadz" sebagai bahan celetukan kemudian. Lawannya yang dari RW 14 (Marsudi) memang kalem dan layak sebagai "ustadz". Jadilah, pertandingan yang seringkali hening dari ocehan penonton dilukiskan layaknya "pertandingan wirid". Meskipun mendapat keuntungan menang WO di partai keempat namun keseluruhan pertandingan dimenangkan RW 14 dengan skor 3-2. Wassalam, Jaerony Setyadhi, warga RW-14
