Wa 'alaikum salam,

Terima kasih Pak Prayudi atas perhatiannya.
Sebenarnya banyak hal yang bisa "diberitakan" akan tetapi karena mengejar waktu 
tayang jadinya banyak yang disingkat. Artinya -- mungkin kita semua bisa 
merasakan --, banyak hal yang ada di otak kita tapi karena 
keterbatasan-keterbatasan (termasuk waktu) jadinya sebagaimana yang tertulis. 
Mudah-mudahan Pak RW 16 bisa lebih banyak lagi menyempatkan waktunya (termasuk 
dalam ikut mendiskusikan urusan lingkungan!) sehingga tidak terlewat untuk 
"diekspose". Dan juga usaha mengingatkan ini mudah-mudahan bukan karena 
"kecewa". Karena di banyak kesempatan respons dan sikap kita terhadap 
kekecewaan menjadi cerminan siapa kita itu. Tapi secara pribadi saya sangat 
senang karena saya bisa silaturahmi. Lain halnya dengan warga RW 15, saya tidak 
pernah lihat mereka ikutan di milis ini. Moga-moga bukan karena mereka tidak 
punya e-mail address ... Haree gene gak punya e-mail .... (guyon azza ya!)

Untuk urusan Sistem dan Teknis Pelaksanaan Pertandingan, silakan Panitia 
memberikan respons seperlunya. Yang jelas rapat-rapat hingga larut malam yang 
dilakukan / diwakili utusan masing-masing RW bukanlah membicarakan "pepesan 
kosong" tapi tentunya untuk merumuskan aturan main serta kenyamanan dalam 
setiap pelaksanaan perlombaan dan pertandingan yang sudah, sedang dan akan 
dilaksanakan.

Wassalam / Jaerony.-

  ----- Original Message ----- 
  From: pra 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Wednesday, June 06, 2007 10:33 PM
  Subject: Re: [porsenipar] Porsenipar, Salah Satu Bentuk Dinamika Masyarakat


  Assalamu Alaikum Wr.Wb.
  Memang tiada duanya teman kita yg satu ini, selalu mengulas dan mengulas, 
tapi kalau boleh saya tambahkan karena ulasan kemarin belum menyentuh salah 
satu permasalahan yaitu WASIT (apa karena masih satu "atap" atau memang 
kebetulan Doang...)

  Pada pertandingan bola volley kemarin, saya menilai wasitnya sangat tidak 
kapabel untuk pertandingan sekelas antar RW, jangankan pemain, penontonpun 
melihat dengan jelas semua kesalahan dalam kepemimpinan kemarin.
  Saya sudah menanyakan itu kepada Wasit I (Pungkindaru), tetapi beliau selalu 
berlindung dibalik pernyataan "Wasit Utama berhak penuh..."!?
  Lalu apa gunanya Wasit II dan hakim garis ?

  Pasti pandangan wasit I tidak bisa mengcover seluruh areal lapangan dan sepak 
terjang pemain, itulah gunanya peran pembantu diatas, dan menurut peraturan 
PBVSI sebelum memastikan/mengambil keputusan yang dimungkinkan pandangan wasit 
terhalang, maka peran para pembantu menjadi sangat penting untuk didengar (saya 
salut sekaligus prihatin untuk Saudara saya Bpk Fahrurrozi)

  Saya mengulas ini untuk Amar Ma'ruf karena menjadi WASIT itu sulit sekali, 
selain mutlak mengerti peraturan juga dituntut untuk ADIL dan JUJUR.

  Sama halnya dengan Kiblat Masjid, apabila arahnya salah mungkin para jamaah 
yang lain wajib untuk mengingatkan demi kebaikan kita semua.

  Masih tetap salut untuk Panitia Pusat karena sudah berusaha menyajikan yang 
terbaik untuk kita semua.

  Kami dari RW 16 menerima kekalahan kemarin dengan lapang dada, dan kami akan 
tetap bersemangat untuk pertandingan berikutnya, tentu dengan kwalitas yang 
lebih baik lagi dan kami mohon agar Panitia Pusat lebih bersemangat lagi untuk 
kearah yang lebih baik juga, awas infiltrasi "pemain asing", jaga kehormatan RW 
masing-masing, jangan warganya menjadi penonton dan penyumbang dana, sementara 
melihat "orang lain" memakai kaos pemberian warga dan memakai atribut warga itu 
sendiri.
  Satu lagi pak Jae, ulas juga dong, "pejabat RW" yang masih mau ditunjuk untuk 
menjadi Wasit, apa engga hebat tuh kepedulian Beliau...

  Wassalamu Alaikum Wr.Wb

    
    ----- Original Message ----- 
    From: jaerony 
    To: [EMAIL PROTECTED] 
    Sent: Monday, June 04, 2007 3:42 AM
    Subject: [porsenipar] Porsenipar, Salah Satu Bentuk Dinamika Masyarakat


    PORSENIPAR, SALAH SATU BENTUK DINAMIKA MASYARAKAT

     

     

    Bagi kita yang gemar sepak bola berakhirnya pertandingan-pertandingan Liga 
di kawasan Eropa dan terakhir Liga Champion untuk putaran 2006-2007 menjadikan 
hari-hari setelahnya menjadi hambar seakan-akan tiada lagi satu hiburan yang 
dapat dipakai sebagai sarana pelepas lelah setelah seharian bekerja. Tapi, 
tunggu jangan apatis dulu! Partai uji-coba (frendly-game) antar-negara dan 
menyusul kemudian Piala Eropa 2007 menjadi alternatif tontonan yang tak kalah 
menariknya.

     

    Ketika membaca artikel berjudul "Beckham is come back" baik di milis ini 
maupun di media lain mesin uang yang bernama David Beckham (sebagai pemain 
bintang di club-nya maupun ikon sebuah produk) seolah-olah menyentak kehampaan 
kita dan menggiringnya untuk menyaksikan pertandingan uji-coba kesebelasan 
Inggris melawan Brasil. Dalam pertandingan itu umpan jarak jauh Beckham yang 
disambut dengan tendangan John Terry di depan gawang Brasil menghasilkan gol 
yang indah! Dan, kehampaan menjadi sedikit terobati.

     

    Partai uji-coba kesebelasan antar negara lainnya di samping Inggris-Brasil 
menjadi menarik termasuk uji cobanya kesebelasan Indonesia melawan Hongkong dan 
terakhir lawan Singapura. Demikian juga menariknya turnamen Piala Eropa yang 
babak kualifikasinya telah dimulai sejak minggu yang lalu.

     

    Menyaksikan dan mengamati pertandingan yang susul-menyusul khususnya di 
daratan Eropa itu, kita bisa merasakan betapa dinamika di kawasan itu 
sedemikian tingginya. Cobalah sesekali Anda membaca ulasan mengenai kompetisi 
Liga Champion khususnya dari sisi kekayaan club-club papan atas yang sering 
memenangi pertandingan termasuk "jual-beli" para pemainnya pada saat musim 
transfer pemain. Angka-angka dollar sangat-sangat wah, gaji seorang pemain bisa 
puluhan kali lipat dari gaji seorang eksekutif sekalipun!

     

    Kitalah Dinamika Itu

    Tulisan ini tidak bermaksud secara serta-merta membandingkan kondisi suatu 
tempat dibanding dengan tempat yang lain apalagi di negara yang jauh lebih 
makmur itu. Akan tetapi kita bisa membawa cara pikir dan cara pandang kita 
kepada urusan yang besar dan lebih besar lagi dalam menyikapi dan membina 
lingkungan di mana kita tinggal. Sekedar bahan pembanding, apa yang ada di 
benak kita kala melihat pertikaian tiada berakhir khususnya di seputaran timur 
tengah?

     

    Kita tentu sudah sangat paham bahwa "Allah tidak akan merubah suatu kaum, 
tetapi kaum itu sendiri yang harus merubahnya". Demikian juga dengan sebuah 
dinamika, orang-orang yang ada di dalamnyalah yang bertindak sebagai subjek 
dari dinamika yang diinginkannya itu berlandaskan pada pemikiran dan tindakan 
inovatif dan kreatif dalam koridor cara pandang dan berkehidupan yang positif.

     

    Jika sudah demikian, kita dapat mengarahkan (mengorientasikan) sebuah 
lingkungan apakah akan kita bentuk suatu lingkungan yang religius, lingkungan 
yang hijau-sejuk-nyaman, lingkungan gemar olah raga dan sebagainya.

     

    Liburan panjang kemarin (1-3 Juni 2007) bisa jadi sebuah refleksi kecil 
adanya dinamika itu. Hari Jum'at, umat Islam secara berjamaah menunaikan shalat 
Jum'at. Sabtu sore, pertandingan sepak bola berlangsung di lapangan RW 13. 
Minggu sore, pertandingan bola volley putra dan putri meriah dilangsungkan di 
lapangan volley RW 14. Kemudian, Minggu malamnya diselenggarakan tenis meja di 
lapangan bulu tangkis RW 15.

     

    Dari Gelanggang ke Gelanggang

    Kesebelasan RW 13 Gunduli Kesebelasan RW 15 dengan Skor 7-1

    Pertandingan yang dipimpin oleh Wasit Mi'un dan hakim garis Sunhaji dan 
Budi dari Korps Wasit Persikabo ini berlangsung kurang seimbang apalagi 
menjelang akhir pertandingan. Ball possession 60:40 praktis di bawah dominasi 
kesebelasan RW 13. Akan tetapi, pada awal-awal pertandingan penampilan 
kesebelasan RW 15 yang berkostum kuning-kuning ini sebenarnya lebih baik dari 
pertandingan sebelumnya. Tercatat ada beberapa kesempatan yang gagal 
dimanfaatkan antara lain :  di menit ke-7 saat terjadi kemelut di depan gawang 
RW 13, dan kemudian menit ke-23 di mana tendangan bebas yang dilakukan pemain 
bernomor punggung 17 tepat di pelukan kiper serta shooting lain yang mengenai 
mistar. Hasil kerja keras mereka membuahkan gol pada menit ke-44 (menit ke-9 
babak kedua) yang dilakukan oleh Ari, pemain bernomor punggung 18.

     

    Kesebelasan biru-hitam (RW 13) tidak kalah dalam hal mendapatkan kesempatan 
mencetak gol dalam pertandingan yang berlangsung 2 x 35 menit ini. Kerja sama 
pemain bernomor 13, 7 dan 16 (Pak RW 13), serta 13, 7 dan 8 di beberapa 
kesempatan sangat membahayakan gawang RW 15. Beberapa shooting sempat mengenai 
mistar gawang. Tim yang didukung puluhan supporter yang membunyikan genderang 
dan tetabuhan lain, puluhan balon di tangan serta poster-poster dengan tulisan 
"RW-13" yang dipegang anak-anak menambah suasana riuh rendah di antara tujuh 
gol yang diciptakan timnya pada sore itu.

     

    Kemeriahan dan Antusiasme di Dua Lapangan Volley

    Hari Minggu 3 Juni 2007 merupakan awal dipertandingkannya cabang bola 
volley puteri dan putera yang menempati masing-masing di Lapangan I dan II. Di 
lapangan I bertanding tim RW 13 (biru-hitam) dan tim RW 14 (kuning-hitam). 
Sementara itu di Lapangan II bertanding tim RW 15 (merah-biru) berhadapan 
dengan tim RW 16 (hitam-hitam).

     

    Pertandingan volley puteri dilangsungkan lebih awal dan dipimpin oleh Wasit 
I Tri Joko (Pak RW 16) dan Wasit II Almasdi Rahman (RW 14). Di set pertama tim 
kuning-hitam lebih dulu tertinggal 8-5 yang kemudian disusul sampai pada 
kedudukan 8-16 saat tim biru-hitam (RW 13) meminta time out yang kedua kepada 
wasit. Selanjutnya, tim RW 14 memimpin angka hingga kedudukan akhir set pertama 
16-25.

     

    Di set kedua tim RW 13 mulai bangkit kedudukan hampir imbang 2-3, 7-8, dan 
mulai menjauh dengan skor 12-16. Lalu, terjadi lagi kejar-kejaran angka pada 
kedudukan 15-16 di mana bola dipermainkan dalam reli-reli panjang hingga 
kedudukan 15-18. Skor akhir set kedua adalah 16-25 untuk kemenangan RW 14.

     

    Pantang menyerah, tim biru-hitam di set ketiga sempat mengungguli lawannya 
hingga angka 8-0 sebelum tim lawan meminta wasit untuk time-out pertama. 
Pancingan reli-reli panjang yang dilakukan tim RW 14 tidak mampu melampaui 
perolehan angka lawan hingga kedudukan 25-18 untuk RW 13. Secara keseluruhan, 
tim RW 14 unggul 2-1 di pertandingan yang menganut sistem permainan 3 set penuh 
ini.

     

    Di Lapangan II yang mempertandingkan tim merah-biru (RW 15) dengan tim 
hitam-hitam (RW 16) bola volley putera tidak kalah sengitnya. Kejar-kejaran 
angka terjadi di set pertama hingga pada kesudahan 20-25 untuk RW 16. Tim RW 15 
yang didukung oleh lebih banyak suporter di banding tim lawan mampu menambah 
motivasi hingga mampu mengungguli lawan dengan kedudukan akhir set kedua 25-16.

     

    Dengan perlawanan imbang dan celetukan supporter khususnya dari RW 15 yang 
"mengganggu" kedudukan skor sempat seimbang di set ketiga ini. Tercatat 
beberapa kedudukan imbang kedua tim, yaitu pada kedudukan 14-14, kemudian 18-19 
dan 19-19, 20-20, 21-21, dan 22-22 yang diselingi dengan berpindah-pindahnya 
service. Perlawanan sengit yang tidak saja dilakukan oleh pemain tetapi juga 
dukungan penonton membuahkan angka akhir bagi kemenangan Tim RW 15, 25-23. 
Keseluruhannya dimenangkan oleh tim RW 15 dengan skor 2-1.

     

    Pertandingan volley putera dipimpin oleh Wasit I Pungkindaru (RW 14) 
dibantu oleh Wasit II Pahrurrozi (RW 14).

     

    "Pertandingan Wirid" di Cabang Tenis Meja

    Pertandingan Minggu malam di cabang Tenis Meja mempertandingkan RW 15 
melawan RW 16 (puteri) dan RW 14 melawan RW 17 (putera).

     

    Tim puteri tennis meja RW 16 menang mudah menghadapi tim puteri RW 15. Dari 
tiga partai yang dipertandingkan kesemuanya berakhir dengan straight-set 
sehingga kedudukan 0-3 untuk kemenangan RW 16.

     

    Di cabang tennis meja putera pertandingan berlangsung "serius tapi santai" 
meskipun tidak berarti bahwa lawan yang dihadapi tergolong mudah seperti yang 
terjadi di partai kedua yang berlangsung dengan rubber-set. 

     

    Di partai pertama, bahkan masing-masing pasangan (RW 14 dan RW 17) ngebodor 
dengan melakukan aksi "tos" di setiap bola mati. Malahan, pemain nurut saja 
gara-gara tidak lagi melakukan "tos" penonton menyuruh melakukan "tos" dengan 
pasangannya. "Tos dong Pak ...." Dan pasangan pemain melakukan apa yang diminta.

     

    Kalau di partai pertama pemain "nurutin" penonton buat "tos", di partai 
kedua penonton nyeletuk, "Ini pertandingan tenis meja apa pertandingan wirid 
sih?" Serentak penonton dan suporter pada tertawa. Gara-garanya adalah pemain 
tunggal dari RW 17 (Royo) yang memakai peci saat bertanding. Dan karenanya 
dipanggil "ustadz" sebagai bahan celetukan kemudian. Lawannya yang dari RW 14 
(Marsudi) memang kalem dan layak sebagai "ustadz". Jadilah, pertandingan yang 
seringkali hening dari ocehan penonton dilukiskan layaknya "pertandingan wirid".

     

    Meskipun mendapat keuntungan menang WO di partai keempat namun keseluruhan 
pertandingan dimenangkan RW 14 dengan skor 3-2.



    Wassalam,

    Jaerony Setyadhi, warga RW-14


Kirim email ke