Ass.Wr.Wb
Terima kasih atas pendapat Bpk Prayudi, saya secara pribadi berpendapat 
bahwa yang lakukan adalah  murni sebagai Wasit, tidak pernah memihak 
kepada Team siapapun .. !!
Untuk menjadi wasit, saya secara pribadi sudah mempersiapkan diri dengan :
1. Membaca buku tentang Bola Volly dan peraturannya, yang dalam buku itu 
tertulis bahwa : Wasit I bisa menganulir  keputusn Wasit II & hakim Garis, 
dalam konteks ini, yang menjadi pegangan saya adalah Penglihatan saya. 
2. Diskusi dengan sesama rekan (guru olah raga), dan melihat pertandingan 
(walau cuma Di TV-Proliga)
3. Menyiapkan MENTAL, karna tidak semua orang bisa main Bola Volly, Mau 
Menjadi WASIT.
4. dan yang terpenting bahwa kemarin (seminggu sebelum pertandingan), saya 
secara pribadi sudah Siap (bersedia) diTraining Wasit  oleh Bapak Medi (RW 
18) yang menpunyai Serfikat Wasit tingkat Bogor
dan memang untuk pertandingan kemarin memang ada hal yang membuat saya 
kurang Konsentrasi, yaitu :
1. Penonton dibelakang wasit
2. Tempat berdiri wasit masih kurang tinggi.
Dari semua yang jelaskan mudah2x-an ada manfaatnya,  yang jelas saya 
masalah Wasit (khusus Intern) akan menjadi masalah yang krusial dalam 
pertandingan sifatnya Sosial Kemasyarakatan.
Terima Kasih.

Salam Olah Raga.

G. Pungkindaru 




"pra" <[EMAIL PROTECTED]>
06/06/2007 22:33
Please respond to info
 
        To:     <[EMAIL PROTECTED]>
        cc: 
        Subject:        Re: [porsenipar] Porsenipar, Salah Satu Bentuk 
Dinamika Masyarakat


Assalamu Alaikum Wr.Wb.
Memang tiada duanya teman kita yg  satu ini, selalu mengulas dan mengulas, 
tapi kalau boleh saya tambahkan karena  ulasan kemarin belum menyentuh 
salah satu permasalahan yaitu WASIT (apa karena  masih satu "atap" atau 
memang kebetulan Doang...)
 
Pada pertandingan bola volley  kemarin, saya menilai wasitnya sangat tidak 
kapabel untuk pertandingan sekelas  antar RW, jangankan pemain, 
penontonpun melihat dengan jelas semua kesalahan  dalam kepemimpinan 
kemarin.
Saya sudah menanyakan itu kepada  Wasit I (Pungkindaru), tetapi beliau 
selalu berlindung dibalik pernyataan "Wasit  Utama berhak penuh..."!?
Lalu apa gunanya Wasit II dan hakim  garis ?
 
Pasti pandangan wasit I tidak bisa  mengcover seluruh areal lapangan dan 
sepak terjang pemain, itulah gunanya peran  pembantu diatas, dan menurut 
peraturan PBVSI sebelum memastikan/mengambil  keputusan yang dimungkinkan 
pandangan wasit terhalang, maka peran para pembantu  menjadi sangat 
penting untuk didengar (saya salut sekaligus prihatin untuk  Saudara saya 
Bpk Fahrurrozi)
 
Saya mengulas ini untuk Amar  Ma'ruf karena menjadi WASIT itu sulit 
sekali, selain mutlak mengerti peraturan  juga dituntut untuk ADIL dan 
JUJUR.
 
Sama halnya dengan Kiblat Masjid,  apabila arahnya salah mungkin para 
jamaah yang lain wajib untuk mengingatkan  demi kebaikan kita semua.
 
Masih tetap salut untuk  Panitia Pusat karena sudah berusaha menyajikan 
yang terbaik untuk kita  semua.
 
Kami dari RW 16 menerima  kekalahan kemarin dengan lapang dada, dan kami 
akan tetap bersemangat  untuk pertandingan berikutnya, tentu dengan 
kwalitas yang lebih baik lagi dan  kami mohon agar Panitia Pusat lebih 
bersemangat lagi untuk kearah yang lebih  baik juga, awas infiltrasi 
"pemain asing", jaga kehormatan RW masing-masing,  jangan warganya menjadi 
penonton dan penyumbang dana, sementara melihat "orang  lain" memakai kaos 
pemberian warga dan memakai atribut warga itu  sendiri.
Satu lagi pak Jae, ulas juga  dong, "pejabat RW" yang masih mau ditunjuk 
untuk menjadi Wasit, apa engga hebat  tuh kepedulian Beliau...
 
Wassalamu Alaikum Wr.Wb
 
  
----- Original Message ----- 
From:  jaerony 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, June 04, 2007 3:42 AM
Subject: [porsenipar] Porsenipar, Salah  Satu Bentuk Dinamika Masyarakat



PORSENIPAR, SALAH SATU BENTUK DINAMIKA  MASYARAKAT

 

 

Bagi  kita yang gemar sepak bola berakhirnya pertandingan-pertandingan 
Liga di  kawasan Eropa dan terakhir Liga Champion untuk putaran 2006-2007 
menjadikan  hari-hari setelahnya menjadi hambar seakan-akan tiada lagi 
satu hiburan yang  dapat dipakai sebagai sarana pelepas lelah setelah 
seharian bekerja. Tapi,  tunggu jangan apatis dulu! Partai uji-coba 
(frendly-game) antar-negara dan  menyusul kemudian Piala Eropa 2007 
menjadi alternatif tontonan yang tak kalah  menariknya.

 

Ketika  membaca artikel berjudul ”Beckham is  come back” baik di milis ini 
maupun di media lain mesin uang yang bernama  David Beckham (sebagai 
pemain bintang di club-nya maupun ikon sebuah produk)  seolah-olah 
menyentak kehampaan kita dan menggiringnya untuk menyaksikan  pertandingan 
uji-coba kesebelasan Inggris melawan Brasil. Dalam pertandingan  itu umpan 
jarak jauh Beckham yang disambut dengan tendangan John Terry di  depan 
gawang Brasil menghasilkan gol yang indah! Dan, kehampaan menjadi  sedikit 
terobati.

 

Partai  uji-coba kesebelasan antar negara lainnya di samping 
Inggris-Brasil menjadi  menarik termasuk uji cobanya kesebelasan Indonesia 
melawan Hongkong dan  terakhir lawan Singapura. Demikian juga menariknya 
turnamen Piala Eropa yang  babak kualifikasinya telah dimulai sejak minggu 
yang  lalu.

 

Menyaksikan  dan mengamati pertandingan yang susul-menyusul khususnya di 
daratan Eropa itu,  kita bisa merasakan betapa dinamika di kawasan itu 
sedemikian tingginya.  Cobalah sesekali Anda membaca ulasan mengenai 
kompetisi Liga Champion  khususnya dari sisi kekayaan club-club papan atas 
yang sering memenangi  pertandingan termasuk ”jual-beli” para pemainnya 
pada saat musim transfer  pemain. Angka-angka dollar sangat-sangat wah, 
gaji seorang pemain bisa puluhan  kali lipat dari gaji seorang eksekutif 
sekalipun!

 

Kitalah  Dinamika Itu

Tulisan  ini tidak bermaksud secara serta-merta membandingkan kondisi 
suatu tempat  dibanding dengan tempat yang lain apalagi di negara yang 
jauh lebih makmur  itu. Akan tetapi kita bisa membawa cara pikir dan cara 
pandang kita kepada  urusan yang besar dan lebih besar lagi dalam 
menyikapi dan membina lingkungan  di mana kita tinggal. Sekedar bahan 
pembanding, apa yang ada di benak kita  kala melihat pertikaian tiada 
berakhir khususnya di seputaran timur  tengah?

 

Kita  tentu sudah sangat paham bahwa ”Allah  tidak akan merubah suatu 
kaum, tetapi kaum itu sendiri yang harus  merubahnya”. Demikian juga 
dengan sebuah dinamika, orang-orang yang ada di  dalamnyalah yang 
bertindak sebagai subjek dari dinamika yang diinginkannya itu berlandaskan 
pada pemikiran dan tindakan inovatif dan kreatif dalam koridor  cara 
pandang dan berkehidupan yang positif.

 

Jika  sudah demikian, kita dapat mengarahkan (mengorientasikan) sebuah 
lingkungan  apakah akan kita bentuk suatu lingkungan yang religius, 
lingkungan yang  hijau-sejuk-nyaman, lingkungan gemar olah raga dan 
sebagainya.

 

Liburan  panjang kemarin (1-3 Juni 2007) bisa jadi sebuah refleksi kecil 
adanya  dinamika itu. Hari Jum’at, umat Islam secara berjamaah menunaikan 
shalat  Jum’at. Sabtu sore, pertandingan sepak bola berlangsung di 
lapangan RW 13.  Minggu sore, pertandingan bola volley putra dan putri 
meriah dilangsungkan di  lapangan volley RW 14. Kemudian, Minggu malamnya 
diselenggarakan tenis meja di  lapangan bulu tangkis RW 15.

 

Dari  Gelanggang ke Gelanggang

Kesebelasan  RW 13 Gunduli Kesebelasan RW 15 dengan Skor 7-1

Pertandingan  yang dipimpin oleh Wasit Mi’un dan hakim garis Sunhaji dan 
Budi dari Korps  Wasit Persikabo ini berlangsung kurang seimbang apalagi 
menjelang akhir  pertandingan. Ball possession 60:40  praktis di bawah 
dominasi kesebelasan RW 13. Akan tetapi, pada awal-awal  pertandingan 
penampilan kesebelasan RW 15 yang berkostum kuning-kuning ini  sebenarnya 
lebih baik dari pertandingan sebelumnya. Tercatat ada beberapa  kesempatan 
yang gagal dimanfaatkan antara lain :  di menit ke-7 saat terjadi kemelut 
di  depan gawang RW 13, dan kemudian menit ke-23 di mana tendangan bebas 
yang  dilakukan pemain bernomor punggung 17 tepat di pelukan kiper serta 
shooting lain yang mengenai mistar.  Hasil kerja keras mereka membuahkan 
gol pada menit ke-44 (menit ke-9 babak  kedua) yang dilakukan oleh Ari, 
pemain bernomor punggung  18.

 

Kesebelasan  biru-hitam (RW 13) tidak kalah dalam hal mendapatkan 
kesempatan mencetak gol  dalam pertandingan yang berlangsung 2 x 35 menit 
ini. Kerja sama pemain  bernomor 13, 7 dan 16 (Pak RW 13), serta 13, 7 dan 
8 di beberapa kesempatan  sangat membahayakan gawang RW 15. Beberapa 
shooting sempat mengenai mistar  gawang. Tim yang didukung puluhan 
supporter yang membunyikan genderang dan  tetabuhan lain, puluhan balon di 
tangan serta poster-poster dengan tulisan  ”RW-13” yang dipegang anak-anak 
menambah suasana riuh rendah di antara tujuh  gol yang diciptakan timnya 
pada sore itu.

 

Kemeriahan  dan Antusiasme di Dua Lapangan Volley

Hari  Minggu 3 Juni 2007 merupakan awal dipertandingkannya cabang bola 
volley puteri  dan putera yang menempati masing-masing di Lapangan I dan 
II. Di lapangan I  bertanding tim RW 13 (biru-hitam) dan tim RW 14 
(kuning-hitam). Sementara itu  di Lapangan II bertanding tim RW 15 
(merah-biru) berhadapan dengan tim RW 16  (hitam-hitam).

 

Pertandingan  volley puteri dilangsungkan lebih awal dan dipimpin oleh 
Wasit I Tri Joko (Pak  RW 16) dan Wasit II Almasdi Rahman (RW 14). Di set 
pertama tim kuning-hitam  lebih dulu tertinggal 8-5 yang kemudian disusul 
sampai pada kedudukan 8-16  saat tim biru-hitam (RW 13) meminta time out 
yang kedua kepada wasit.  Selanjutnya, tim RW 14 memimpin angka hingga 
kedudukan akhir set pertama  16-25.

 

Di  set kedua tim RW 13 mulai bangkit kedudukan hampir imbang 2-3, 7-8, 
dan mulai  menjauh dengan skor 12-16. Lalu, terjadi lagi kejar-kejaran 
angka pada  kedudukan 15-16 di mana bola dipermainkan dalam reli-reli 
panjang hingga  kedudukan 15-18. Skor akhir set kedua adalah 16-25 untuk 
kemenangan RW  14.

 

Pantang  menyerah, tim biru-hitam di set ketiga sempat mengungguli 
lawannya hingga  angka 8-0 sebelum tim lawan meminta wasit untuk time-out 
pertama.  Pancingan reli-reli panjang yang dilakukan tim RW 14 tidak mampu 
melampaui  perolehan angka lawan hingga kedudukan 25-18 untuk RW 13. 
Secara keseluruhan,  tim RW 14 unggul 2-1 di pertandingan yang menganut 
sistem permainan 3 set  penuh ini.

 

Di  Lapangan II yang mempertandingkan tim merah-biru (RW 15) dengan tim 
hitam-hitam (RW 16) bola volley putera tidak kalah sengitnya. 
Kejar-kejaran angka terjadi di set pertama hingga pada kesudahan 20-25 
untuk  RW 16. Tim RW 15 yang didukung oleh lebih banyak suporter di 
banding tim lawan  mampu menambah motivasi hingga mampu mengungguli lawan 
dengan kedudukan akhir  set kedua 25-16.

 

Dengan  perlawanan imbang dan celetukan supporter khususnya dari RW 15 
yang  ”mengganggu” kedudukan skor sempat seimbang di set ketiga ini. 
Tercatat  beberapa kedudukan imbang kedua tim, yaitu pada kedudukan 14-14, 
kemudian  18-19 dan 19-19, 20-20, 21-21, dan 22-22 yang diselingi dengan 
berpindah-pindahnya service. Perlawanan sengit yang tidak saja dilakukan 
oleh  pemain tetapi juga dukungan penonton membuahkan angka akhir bagi 
kemenangan  Tim RW 15, 25-23. Keseluruhannya dimenangkan oleh tim RW 15 
dengan skor  2-1.

 

Pertandingan  volley putera dipimpin oleh Wasit I Pungkindaru (RW 14) 
dibantu oleh Wasit II  Pahrurrozi (RW 14).

 

”Pertandingan  Wirid” di Cabang Tenis Meja

Pertandingan  Minggu malam di cabang Tenis Meja mempertandingkan RW 15 
melawan RW 16  (puteri) dan RW 14 melawan RW 17 (putera).

 

Tim  puteri tennis meja RW 16 menang mudah menghadapi tim puteri RW 15. 
Dari tiga  partai yang dipertandingkan kesemuanya berakhir dengan 
straight-set sehingga kedudukan 0-3  untuk kemenangan RW 16.

 

Di cabang  tennis meja putera pertandingan berlangsung “serius tapi 
santai” meskipun  tidak berarti bahwa lawan yang dihadapi tergolong mudah 
seperti yang terjadi  di partai kedua yang berlangsung dengan rubber-set. 

 

Di  partai pertama, bahkan masing-masing pasangan (RW 14 dan RW 17) 
ngebodor dengan melakukan aksi ”tos”  di setiap bola mati. Malahan, pemain 
nurut saja gara-gara tidak lagi melakukan  ”tos” penonton menyuruh 
melakukan ”tos” dengan pasangannya. ”Tos dong Pak  ....” Dan pasangan 
pemain melakukan apa yang diminta.

 

Kalau  di partai pertama pemain ”nurutin” penonton buat ”tos”, di partai 
kedua  penonton nyeletuk, ”Ini pertandingan tenis meja apa  pertandingan 
wirid sih?” Serentak penonton dan suporter pada tertawa.  Gara-garanya 
adalah pemain tunggal dari RW 17 (Royo) yang memakai peci saat bertanding. 
Dan karenanya dipanggil ”ustadz” sebagai bahan celetukan kemudian. 
Lawannya yang dari RW 14 (Marsudi) memang kalem dan layak sebagai 
”ustadz”.  Jadilah, pertandingan yang seringkali hening dari ocehan 
penonton dilukiskan  layaknya ”pertandingan wirid”.

 

Meskipun  mendapat keuntungan menang WO di partai keempat namun 
keseluruhan pertandingan  dimenangkan RW 14 dengan skor 3-2.

 

Wassalam,

Jaerony  Setyadhi, warga RW-14

 



Kirim email ke