Syaratnya salah satunya adalah punya KTP dan KK setempat. Betapa pun miskinnya, kalau gak punya kedua dokumen tsb ya gak kebagian.
Bagaimana caranya supaya mereka yang kurang beruntung tsb mendapatkan jatah kompor dan tabung gas? Ambil jatah kita, berikan kepada mereka! Atau, jual lalu uangnya disedekahkan. Bagaimana kalau jatah gak diambil? Bukan su'udzon, tapi pengalaman di tempat-tempat lain, stok yang tersisa diperjual-belikan oleh oknum aparat .... Wallahu a'lam, --amin Pada tanggal 26/05/08, IND, Sodikin, Achmad <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Sebetulnya ada yang salah jika seluruh warga perumahan kita menerima > bantuan kompor untuk orang miskin tersebut. > > Kalo tidak salah di RT 06/15 di tekankan tentang persyaratan bahwa yang > berhak menerima adalah warga yang pengeluaran bulanannya < 1 jt rupiah. > > Ya kontrolnya hanya di nurani kita masing2, apakah kita termasuk > kelompok itu atau bukan, karena memang tidak dituntut perinciaannnya. > > Alhamdulliah kami dan beberapa tetangga, tidak "mengambil "jatah" > tersebut takut nggak berkah pak..jika harus berbohong... > > Wassalam, > sdk > > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Sunday, May 25, 2008 5:34 PM > To: info rw14; porsenipar; Arroyyan Arroyyan > Subject: [Ar-Royyan-7720] KOMPOR GAS MEMBAKAR MALU > > > KOMPOR GAS YANG MEMBAKAR MALU > > Oleh Jojo Wahyudi > > Tiba-tiba aku ingat "sajak" yang begitu kuat menggugah > Sajak yang selalu tak bosan kudengar > dari seorang "seniman" yang tak pernah lepas kukagumi > Deddy Mizwar > > Bangkit itu......... SUSAH > SUSAH melihat orang lain SUSAH > SENANG melihat orang lain SENANG > > Bangkit itu........ TAKUT > TAKUT untuk Korupsi > Takut mengambil yang bukan haknya > > Bangkit itu........ MALU > MALU menjadi BENALU > MALU minta melulu > > Bangkit itu MENCURI > MENCURI perhatian dunia dengan PRESTASI > > Bangkit itu......... MARAH > MARAH bila Martabat Bangsa dilecehkan > > ................................................. > > Aku teringat "sajak" di atas karena MALU. Malu bukan karena menjadi > benalu > dan minta melulu, tapi karena MALU menjadi TAK MALU menerima sumbangan > Kompor Gas gratis dari Pemerintah. > > Pada awalnya aku heran kenapa lingkungan perumahan tempatku tinggal > mendapat bantuan kompor gas konversi minyak tanah tersebut. Sebab bila > ditilik dari kemampuan warganya jauh dari "miskin" meski tak bisa > dibilang > kaya. Rumah standard keluarga sederhana, bahkan sebagian cenderung > lebih, > karena perumahan BTN sudah direnovasi demikian "mewah" mengikuti trend > perumahan masa kini, model "minimalis" yang biaya pembuatannya tak lagi > minimalis. Sepeda motor sudah menjadi kendaraan umum warga dan sebagian > lagi bahkan menggunakan mobil. > > Apakah yang demikian ini patut menerima sumbangan konversi minyak tanah > ke > gas? Aku sendiri tidak yakin, karena demikian antusiasnya warga > mengantri > sumbangan tersebut. Apakah pemerintah sudah tepat sasaran memberikan > "dana > subsidi"nya pada warga miskin? Atau memang untuk hal konversi minyak > tanah > ini semua warga Negara berhak mendapatkannya? Termasuk warga > lingkunganku > yang tak lagi miskin dan perlu dana subsidi. > > Memang bila bicara mengenai "hak", kita semua akan menuntutnya setengah > mati. Apalagi "pajak" dari pemerintah adalah makanan kita sehari-hari, > pajak penghasilan yang otomatis dipotong saat kita gajian, ppn saat kita > membeli barang, pajak tanah, pajak rumah dan lain-lain. Kita akan merasa > sangat berhak atas segala yang pemerintah kucurkan untuk rakyat, karena > kita telah membayar pajak, termasuk subsidi BBM yang saya sangat yakin > bila > dinaikan menjadi sepuluh ribupun, kita masih sanggup untuk mengisi motor > dan mobil kita. > > Aku jadi TAKUT, seperti nukilan "sajak" di atas, takut mengambil yang > bukan > "hak"nya. > Aku juga menjadi MALU, malu karena seolah menjadi minta melulu, minta > "hak" > sebagai warga negara yang telah membayar pajak. Sementara saat tukang > bubur > ayam yang biasa lewat depan rumah kutanya "Apakah mas mendapat jatah > kompor > gas? Dia menjawab dengan lirih, ada kekecewaan di wajahnya "Tidak pak. > Pendatang seperti saya tidak mendapat kompor gas. Istri di kampung > bilang, > kalau kompor gas dari pemerintah juga belum pernah di terima di sana" > Kini aku merasa menjadi PENCURI, karena MENCURI sesuatu yang sebenarnya > lebih dibutuhkan si tukang bubur itu. > Terakhir, aku menjadi MARAH. Marah karena MARTABAT-ku merasa dilecehkan. > Aku masih sanggup untuk membeli kompor gas sendiri. > > " Pak Jojo, koq bengong, ini jatah kompor gasnya di ambil" kata petugas > dari RW. Ternyata aku melamun sejak tadi, segera kuambil "jatah" dari > pemerintah tersebut > ........................................................................ > .. > Dan ternyata.... Kompor Gas telah membakar rasa MALU-ku > > (BDB2, Minggu 25 Mei 2008) > > -------------------------------------------------- > Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 > -=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===- > -= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =- > > | Official Website: http://www.porsenipar.web.id | > ------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 ------- > > -------------------------------------------------- Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 -=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===- -= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =- | Official Website: http://www.porsenipar.web.id | ------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------
