KHILAFAH vis a vis NASIONALISME

Posted By solihan On July 17, 2007 @ 11:21 pm In Kantor Jubir | 2 Comments

Ide Khilafah sering kali dibenturkan dengan gagasan nation state, untuk 
memperdalam masalah ini berikut wawancara Tsaqofah dengan juru bicara Hizbut 
Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto (Redaksi) 



Bagian #3 (Terakhir)



BURHANUDDIN:

Saya mau bertanya soal respon Hizbut Tahrir terhadap kasus-kasus aktual yang 
melibatkan pada dua negara Islam. Misalnya, kasus Ambalat yang melibatkan 
Indonesia dengan Malaysia di mana keduanya secara mayoritas berpenduduk Islam 
dan punya kultur Islam. Bagaimana Hizbut Tahrir memandang kasus tersebut?

 

ISMAIL YUSANTO:

Pertama, kasus Ambalat ini merupakan bukti kesekian kali bahwa nasionalisme 
memang biang kerok dari perpecahan umat. Kasus ini seakan mengulang episode 
ganyang Malaysia tahun 1960-an. Kasus Ambalat terjadi karena masing-masing 
merasa memiliki hak atas wilayah itu. Jadi ini didorong kepentingan nasion, 
bukan kepentingan Islam sebagai sebuah keseluruhan. Perpecahan seperti inilah 
yang membuat umat Islam ini terus-menerus mengalami proses pelemahan dan pada 
akhirnya termarjinalisasi di semua sektor kehidupan dalam konteks global. 

Kedua, karena nasionalisme ini juga dunia Islam tidak pernah bisa menyelesaikan 
berbagai persoalan. Misal, dalam konfliknya dengan Israel, Mesir merasa tidak 
punya urusan lagi dengan Israel setelah Gurun Sinai kembali ke pangkuan Mesir. 
Begitu juga Yordania, Libanon dan Syria setelah Tepi Barat Sungai Yordan,  
Libanon Selatan dan Dataran Tinggi Golan kembali kepada mereka masing-masing. 
Jadi, kasus Ambalat merupakan bukti kesekian kalinya bahwa nasionalisme itu 
adalah biang dari perpecahan dan pelemahan umat. 

Kalau sudah begitu, maka kita pantas malu terhadap Uni Eropa yang  bisa 
menyelesaikan masalah imigrasi dengan mencabut seluruh ketentuan imigrasi 
sehingga orang, barang dan jasa bisa bergerak dengan leluasa. Sementara antar 
negeri muslim seperti  Indonesia dengan Malaysia masih saja menggunakan 
ketentuan  imigrasi lama sehingga warga negara Indonesia yang masuk Malaysia 
tanpa prosedur imigrasi disebut pendatang haram. Sebenarnya persoalan imigrasi 
itu 'kan hanya ketentuan administratif saja. Kalau ketentuan administratif 
tersebut dicabut demi kepentingan semua seperti yang terjadi di Uni Eropa, 
selesai sudah. Arus barang dan jasa akan beredar cepat yang pada akhirnya akan 
mendorong kemakmuran  bersama. Toh ternyata ketika Malaysia ditinggalkan sekian 
ratus ribu buruh Indonesia pembangunan di sana mandek. Itu bukti yang 
menunjukkan bahwa sebenarnya kita saling membutuhkan. Indonesia butuh, Malaysia 
juga butuh. Kenapa antar negeri muslim, bukan hanya antara Malaysia dan 
Indonesia, tidak dibuat saja aturan yang menguntungkan kedua belah pihak  
seperti yang terjadi di  Uni Eropa? 

 

BURHANUDDIN:

Apakah penjelasan Anda tidak terkesan menggampangkan masalah?

 

ISMAIL YUSANTO:

Tidak. Buktinya Uni Eropa bisa melakukannya, kenapa kita tidak? Jadi, menurut 
saya, dunia Islam itu sekarang cenderung selalu terlambat dalam berfikir. Meski 
kita ini punya basis teologis dan  historis yang sangat kuat untuk bersatu, 
kita tidak juga mampu menarik pelajaran dari kasus-kasus serupa ini.

Apalagi kemudian ternyata isu Ambalat antara Indonesia dan Malaysia tersebut 
lebih diwarnai  oleh kepentingan perusahan minyak besar. Ambalat itu memang 
blok yang kaya migas. Di sana Unocal itu sudah masuk. Perusahaan minyak besar 
itu baru saja diakuisisi oleh Cevron Texaco dari Amerika Serikat, sedangkan 
Texaco itu induknya Caltex. Caltex  mengelola 70% minyak di Indonesia, 
sedangkan Unocal mungkin mengelola sekitar  10%. Setelah akuisisi, praktis akan 
membuat 80% minyak di Indonesia bakal ditangani oleh Cevron Texaco. Di 
Malaysia, perusahaan minyak besar yang bermain adalah Shell. Patungan antara 
Inggris dan Belanda. Jelas Malaysia lebih dekat kepada Inggris. Konyolnya, 
mereka juga memberikan ladang konsesi di blok Ambalat. Tentu ke Shell. Jadi 
kasus Ambalat ini sebenarnya lebih merupakan cerminan pertarungan antara 
Inggris dan Belanda melalui Shell dengan Amerika Serikat melalui Cevron Texaco.

 

BURHANUDDIN:

Kelompok Islam revivalis tidak monolitik. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 
misalnya, menerima sistem demokrasi, bahkan terlibat dalam mekanisme formal 
demokrasi. Bagaimana Hizbut Tahrir memandang suatu kelompok yang masuk kedalam 
struktur demokrasi?

 

ISMAIL YUSANTO:

Kami membedakan antara sikap terhadap pendapat (ara), hukum (ahkam) dan pikiran 
(afkar) fiqhiyah  dengan sikap dakwah. Menyangkut  pandangan politik,  sikap 
Hizbut Tahrir mengenai masalah tersebut cukup jelas. Dan bahwa ada kelompok 
lain  yang memilih  jalan yang berbeda dari Hizbut Tahrir, ya memang inilah 
kehidupan. Siapapun berhak untuk memilih jalannya hidupnya sendiri-sendiri. 
Itulah sikap kami. Tetapi Hizbut Tahrir tidak berhenti pada pandangan fiqhiyah 
saja, tapi dilanjutkan dengan pandangan atau perspektif dakwah. Dengan 
perspektif  dakwah, maka yang menjadi fokus dari Hizbut Tahrir adalah perubahan 
ke arah Islam, ke arah tegaknya syariat Islam.  Perubahan itu hanya mungkin 
dilakukan bila ada kekuatan yang pro-perubahan.

Dalam konteks menggalang kekuatan bagi perubahan ke arah Islam itu, maka Hizbut 
Tahrir itu akan mengajak semua komponen yang ada. Baik yang sama pemikirannya 
dengan Hizbut Tahrir maupun yang berbeda, baik yang berada di dalam parlemen 
maupun yang di luar parlemen. Jadi kalau kami datang ke PKS, Partai Bulan 
Bintang, Partai Bintang Reformasi, PPP atau bahkan mungkin ke PDI Perjuangan 
dan Golkar, itu semua dalam kerangka  pandangan dakwah, bukan lagi pandangan 
fiqhiyah tadi. 

 

BURHANUDDIN:

Anda bersikap nafsi-nafsi?

 

ISMAIL YUSANTO:

Bukan nafsi-nafsi. Semangatnya adalah kesadaran akan kebebasan memilih, dan 
bahwa wala taziruu wa ziratun wijra ukhra. Saya kira, hal ini yang mesti 
dipahami dan mesti dikembangkan juga di dalam negeri kita. Jadi kita ingin 
mengembangkan kesamaan visi dan misi dari berbagai ragam kelompok umat.

 

BURHANUDDIN:

Terakhir, apakah Anda optimis gagasan khilafah Islamiyah akan tercapai karena 
banyak pihak yang mengatakan bahwa ide yang Anda usung terlalu absurd dan 
ahistoris?

 

ISMAIL YUSANTO:

Kalau saya diminta menjawab, saya pasti akan menjawab optimis. Bagaimana kita 
tidak optimis kalau Pertama, khilafah itu sebuah kewajiban, bahkan dijanjikan 
oleh Allah Swt. Memang sulit. Tapi antara sulit dan mustahil itu beda. Sulit 
itu bukan mustahil. Sulit itu sesuatu yang mungkin, tapi memang membutuhkan 
daya yang luar biasa. Sementara mustahil itu sama sekali tidak mungkin 
terwujudkan. Seperti menegakkan benang basah,  sampai kapan pun tidak akan 
bisa. Menyatukan timur dengan barat, atau  utara dengan  selatan itu juga tidak 
mungkin terwujud. Memegang air tapi kita tidak mau basah, dan sebagainya. 

Dan berdirinya (kembali) khilafah itu bukanlah sesuatu yang mustahil. 
Sebagaimana jatuhnya  Romawi Timur kepada Islam. Meski itu sangat sulit, tapi 
karena keyakinan dari para sahabat, para pejuang Islam pada waktu itu bahwa 
jatuhnya Romawi Timur ini adalah sebuah kemestian, sebuah kewajiban dan 
sekaligus dijanjikan, maka misi sesulit itu tetap saja dilakukan. Ekspedisi 
untuk menaklukkan Konstantinopel sudah di mulai semenjak Khalifah Usman bin 
Affan. Dan Anda tahu, sejarah membuktikan Konstantinopel jatuh baru pada tahun 
1453. Jadi hampir 700 tahun kemudian. Ketika panglima Muhammad al-Fatih masuk 
ke benteng Konstantinopel, dia  teringat kepada hadist yang berbunyi Fala ni'ma 
al-amir, amiruha. Fala ni'ma al-jaiz fadzalika al-jaiz (sebaik-baik panglima 
perang adalah panglima perang yang menaklukkan Konstantinopel, dan sebaik-baik 
tentara adalah tentara yang menaklukkan Konstantinopel). Hadis itu dibaca oleh 
Muhammad al-Fatih, seolah-olah Nabi memuji dirinya. Padahal hadis itu diucapkan 
pada 700 tahunan sebelum peristiwa besar itu terjadi. 

Bila untuk menaklukkan Konstantinopel yang merupakan jantung dari adikuasa 
Romawi Timur saja akhirnya bisa dilakukan, meski harus melalui upaya yang 
luarbiasa dan memakkan ratusan tahun, apalagi untuk sebuah khilafah yang itu 
sudah pernah ada, dan tinggal membangkitkan memori umat, tentu insha Allah akan 
lebih mudah. Dalam pengalaman gerak Hizbut Tahrir, pengalaman gerak saya di 
negeri ini sekian tahun lamanya, saya mendapatkan respon yang luar biasa dari 
umat. Bisa dikatakan tidak ada satupun dari umat, bahkan yang terjadi justru 
sebaliknya. Kemarin saya berdakwah ke Kalimantan Selatan, di kabupaten 
Tabalong. Di sana seorang pemuda yang begitu diberi kesempatan bicara, langsung 
tunjuk jari dan bicara keras-keras seraya  mengatakan bahwa sebelum masuk 
ruangan ini dia termasuk orang yang paling keras menolak syariat dan khilafah. 
Tapi setelah masuk ruangan ini dan mendengar semua penjelasan, dia berubah 
menjadi orang yang sangat mendukung syariat dan khilafah. Jadi masalahnya 
adalah penjelasan kepada umat.

Ketika umat ini makin lama makin mendukung, apalagi ditambah dengan kondisi 
eksternal seperti bagaimana Amerika Serikat dengan kejam menggempur Irak,  juga 
Afganistan tanpa bisa kita cegah sama sekali, dan konflik Israel dan Palestina 
yang sudah lebih 50 tahun tidak juga kunjung selesai, para pemimpin umat pun 
berfikir lalu solusinya apa? Apa yang bisa kita lakukan untuk membela diri? PBB 
sudah terbukti lebih berpihak kepada negara-negara besar. Organisasi Konferensi 
Islam (OKI) juga tidak punya gigi karena masing-masing anggota lebih 
mementingkan negaranya sendiri-sendiri. Negara-negara Arab sama saja, ASEAN 
apalagi. Pada puncaknya mereka, para pemimpin umat itu, akan melihat bahwa 
gagasan khilafah ini yang paling pas. Meski cita-cita itu sangat sulit. Dan 
kesulitan itu juga yang kami rasakan. Tapi semua masih sangat mungkin berubah, 
baik karena faktor internal maupun tekanan eksternal. Ada banyak tokoh-tokoh 
Islam yang pada 20 tahun yang lalu ketika kami pertama kali muncul untuk 
menyampaikan ide khilafah ini tidak mau mendengar atau bahkan mencibir dan 
sebagainya, sekarang berubah total, mereka mendukung betul. 

 

BURHANUDDIN:

Semudah itukah?

 

ISMAIL YUSANTO:

Tidak juga. Tapi itulah faktanya. Dan saya melihat, perubahan itu  lebih banyak 
disebabkan oleh pengaruh dari luar. Proses berpikir yang lebih didasarkan pada 
kenyataan-kenyataan dari luar. Tidak mengapa. Dalam soal khilafah, basis 
teologis dan basis teoretis dari ide itu kan sudah sangat jelas. Dari dulu 
sampai sekarang ya itu-itu saja, tidak berubah-ubah. Yang berubah itu 
kondisi-kondisi eksternal umat. 

Ketika kondisi eksternal demikian mencekik dan menyayat nurani umat seperti 
yang sekarang tengah terjadi, maka otomatis umat ini makin lama makin mendukung 
ide khilafah, karena itu akan menjadi solusi mendasar. Ketika dukungan itu 
makin membesar,  bagaimana mungkin kita tidak optimis? Apalagi pada 
kenyataannya pengamat dunia internasional pun  juga memperkirakan khilafah 
Islam akan berdiri tidak lama lagi. National Intelligence  Council (NIC) yang 
bersidang di Amerika Serikat baru baru ini, menskenariokan bahwa pada tahun 
2020  Islamic Caliphate (khilafah Islam) akan berdiri. Itu prediksi mereka. 
Bukan saya, bukan Hizbut Tahrir, juga bukan umat Islam, tapi mereka. 

Mereka menskenariokan empat kemungkinan pada tahun 2020. Pertama, dunia tetap 
dipimpin oleh Amerika Serikat. Kedua, dunia dipimpin oleh India atau China. 
Ketiga, dunia dipimpin oleh seorang tiran, entah dari mana. Lalu yang keempat 
berdirinya Islamic Caliphate. Bila mereka saja bisa memprediksi bahwa khilafah 
Islam akan berdiri, mengapa kita bilang itu tidak mungkin?

 

***


--------------------------------------------------------------------------------

Article printed from : http://www.hizbut-tahrir.or.id

URL to article: 
http://www.hizbut-tahrir.or.id/index.php/2007/07/17/khilafah-vis-a-vis-nasionalisme/


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke