Bacalah wawasan para pemimpin umat Islam di Indonesia zang masih 
cinta Tanah Air:

"Hasyim menjelaskan, gerakan transnasional kerap mengusik kedaulatan 
negara. Mereka berupaya mengganti bentuk negara yang sah dengan 
konsep pemerintahan Islam. "Kalau tidak dicegah, keutuhan negara 
terancam," katanya..."

Salam

danardono


Jumat, 27 Juli 2007,
 


BIN Takut Petakan Gerakan Islam

 
JAKARTA - Badan Intelijen Negara (BIN) selama ini tidak berani 
memetakan gerakan Islam di Indonesia. Wakil Kepala BIN As'ad Said 
Ali mengatakan, posisi lembaganya dilematis kalau harus berbicara 
soal gerakan Islam.

"Kami takut. Seperti polisi, kalau menangkap Abu Dujana, harus ada 
bukti kuat dulu. Kalau tidak, pasti takut," kata Ali As'ad saat 
dialog bertajuk Spirit Keagamaan dalam Politik Kebangsaan di Kantor 
PB NU kemarin.

Dialog yang digelar PB NU itu menghadirkan Rais Syuriah KH Ma'ruf 
Amin, Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas, dan Ketua 
Umum PB NU Hasyim Muzadi. 

Sikap BIN itu sempat dipertanyakan Ketua Umum Persekutuan Gereja-
Gereja Indonesia Pdt Andreas A. Yewangoe yang hadir dalam dialog 
tersebut. Menurut Andreas, BIN seharusnya membuka kesulitannya 
kepada pemuka agama. Dengan begitu, mereka bisa membantu BIN dalam 
mengatasi ketakutan. "Lebih baik dibuka, apa ketakutan yang 
sebenarnya. Siapa tahu kami bisa mencari jalan keluarnya," kata 
Andreas.

Para pembicara dalam dialog tersebut sepakat bahwa masalah Islam dan 
negara sebenarnya sudah selesai. Hanya, persoalan yang baru adalah 
masuknya gerakan politik berbasis agama yang berhaluan 
transnasional. "Gerakan transnasional ini akan menjadi eksesif 
(berdampak buruk kepada banyak hal, Red). Tidak hanya pada gerakan 
transnasional itu sendiri, tetapi juga ekonomi, budaya, sosial, dan 
sebagainya, termasuk politik internasional, yakni terganggunya 
hubungan antarnegara," kata Hasyim Muzadi, 

Hasyim menjelaskan, gerakan transnasional kerap mengusik kedaulatan 
negara. Mereka berupaya mengganti bentuk negara yang sah dengan 
konsep pemerintahan Islam. "Kalau tidak dicegah, keutuhan negara 
terancam," katanya.

Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas mengatakan, Muhammadiyah 
merupakan salah satu kekuatan yang hingga kini setia atas bentuk 
NKRI. "Muhammadiyah tidak melihat ada masalah dengan NKRI, 
Pancasila, dan UUD 1945. Dan, (itu) tidak perlu dipermasalahkan 
lagi," katanya. 

Sidang Tanwir Muhammadiyah 26 April 2007, kata Yunahar, kembali 
menegaskan bahwa Muhammadiyah wajib menjaga keutuhan NKRI. "Juga 
menjaga aset-aset negara dari pihak asing dan lain-lain," ujarnya. 
(tom)







--- In [email protected], "Mudatsir" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> KHILAFAH vis a vis NASIONALISME
> 
> Posted By solihan On July 17, 2007 @ 11:21 pm In Kantor Jubir | 2 
Comments
> 
> Ide Khilafah sering kali dibenturkan dengan gagasan nation state, 
untuk memperdalam masalah ini berikut wawancara Tsaqofah dengan juru 
bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto (Redaksi) 
> 
> 
> 
> Bagian #3 (Terakhir)
> 
> 
> 
> BURHANUDDIN:
> 
> Saya mau bertanya soal respon Hizbut Tahrir terhadap kasus-kasus 
aktual yang melibatkan pada dua negara Islam. Misalnya, kasus 
Ambalat yang melibatkan Indonesia dengan Malaysia di mana keduanya 
secara mayoritas berpenduduk Islam dan punya kultur Islam. Bagaimana 
Hizbut Tahrir memandang kasus tersebut?
> 
>  
> 
> ISMAIL YUSANTO:
> 
> Pertama, kasus Ambalat ini merupakan bukti kesekian kali bahwa 
nasionalisme memang biang kerok dari perpecahan umat. Kasus ini 
seakan mengulang episode ganyang Malaysia tahun 1960-an. Kasus 
Ambalat terjadi karena masing-masing merasa memiliki hak atas 
wilayah itu. Jadi ini didorong kepentingan nasion, bukan kepentingan 
Islam sebagai sebuah keseluruhan. Perpecahan seperti inilah yang 
membuat umat Islam ini terus-menerus mengalami proses pelemahan dan 
pada akhirnya termarjinalisasi di semua sektor kehidupan dalam 
konteks global. 
> 
> Kedua, karena nasionalisme ini juga dunia Islam tidak pernah bisa 
menyelesaikan berbagai persoalan. Misal, dalam konfliknya dengan 
Israel, Mesir merasa tidak punya urusan lagi dengan Israel setelah 
Gurun Sinai kembali ke pangkuan Mesir. Begitu juga Yordania, Libanon 
dan Syria setelah Tepi Barat Sungai Yordan,  Libanon Selatan dan 
Dataran Tinggi Golan kembali kepada mereka masing-masing. Jadi, 
kasus Ambalat merupakan bukti kesekian kalinya bahwa nasionalisme 
itu adalah biang dari perpecahan dan pelemahan umat. 
> 
> Kalau sudah begitu, maka kita pantas malu terhadap Uni Eropa yang  
bisa menyelesaikan masalah imigrasi dengan mencabut seluruh 
ketentuan imigrasi sehingga orang, barang dan jasa bisa bergerak 
dengan leluasa. Sementara antar negeri muslim seperti  Indonesia 
dengan Malaysia masih saja menggunakan ketentuan  imigrasi lama 
sehingga warga negara Indonesia yang masuk Malaysia tanpa prosedur 
imigrasi disebut pendatang haram. Sebenarnya persoalan imigrasi 
itu 'kan hanya ketentuan administratif saja. Kalau ketentuan 
administratif tersebut dicabut demi kepentingan semua seperti yang 
terjadi di Uni Eropa, selesai sudah. Arus barang dan jasa akan 
beredar cepat yang pada akhirnya akan mendorong kemakmuran  bersama. 
Toh ternyata ketika Malaysia ditinggalkan sekian ratus ribu buruh 
Indonesia pembangunan di sana mandek. Itu bukti yang menunjukkan 
bahwa sebenarnya kita saling membutuhkan. Indonesia butuh, Malaysia 
juga butuh. Kenapa antar negeri muslim, bukan hanya antara Malaysia 
dan Indonesia, tidak dibuat saja aturan yang menguntungkan kedua 
belah pihak  seperti yang terjadi di  Uni Eropa? 
> 
>  
> 
> BURHANUDDIN:
> 
> Apakah penjelasan Anda tidak terkesan menggampangkan masalah?
> 
>  
> 
> ISMAIL YUSANTO:
> 
> Tidak. Buktinya Uni Eropa bisa melakukannya, kenapa kita tidak? 
Jadi, menurut saya, dunia Islam itu sekarang cenderung selalu 
terlambat dalam berfikir. Meski kita ini punya basis teologis dan  
historis yang sangat kuat untuk bersatu, kita tidak juga mampu 
menarik pelajaran dari kasus-kasus serupa ini.
> 
> Apalagi kemudian ternyata isu Ambalat antara Indonesia dan 
Malaysia tersebut lebih diwarnai  oleh kepentingan perusahan minyak 
besar. Ambalat itu memang blok yang kaya migas. Di sana Unocal itu 
sudah masuk. Perusahaan minyak besar itu baru saja diakuisisi oleh 
Cevron Texaco dari Amerika Serikat, sedangkan Texaco itu induknya 
Caltex. Caltex  mengelola 70% minyak di Indonesia, sedangkan Unocal 
mungkin mengelola sekitar  10%. Setelah akuisisi, praktis akan 
membuat 80% minyak di Indonesia bakal ditangani oleh Cevron Texaco. 
Di Malaysia, perusahaan minyak besar yang bermain adalah Shell. 
Patungan antara Inggris dan Belanda. Jelas Malaysia lebih dekat 
kepada Inggris. Konyolnya, mereka juga memberikan ladang konsesi di 
blok Ambalat. Tentu ke Shell. Jadi kasus Ambalat ini sebenarnya 
lebih merupakan cerminan pertarungan antara Inggris dan Belanda 
melalui Shell dengan Amerika Serikat melalui Cevron Texaco.
> 
>  
> 
> BURHANUDDIN:
> 
> Kelompok Islam revivalis tidak monolitik. Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS) misalnya, menerima sistem demokrasi, bahkan terlibat 
dalam mekanisme formal demokrasi. Bagaimana Hizbut Tahrir memandang 
suatu kelompok yang masuk kedalam struktur demokrasi?
> 
>  
> 
> ISMAIL YUSANTO:
> 
> Kami membedakan antara sikap terhadap pendapat (ara), hukum 
(ahkam) dan pikiran (afkar) fiqhiyah  dengan sikap dakwah. 
Menyangkut  pandangan politik,  sikap Hizbut Tahrir mengenai masalah 
tersebut cukup jelas. Dan bahwa ada kelompok lain  yang memilih  
jalan yang berbeda dari Hizbut Tahrir, ya memang inilah kehidupan. 
Siapapun berhak untuk memilih jalannya hidupnya sendiri-sendiri. 
Itulah sikap kami. Tetapi Hizbut Tahrir tidak berhenti pada 
pandangan fiqhiyah saja, tapi dilanjutkan dengan pandangan atau 
perspektif dakwah. Dengan perspektif  dakwah, maka yang menjadi 
fokus dari Hizbut Tahrir adalah perubahan ke arah Islam, ke arah 
tegaknya syariat Islam.  Perubahan itu hanya mungkin dilakukan bila 
ada kekuatan yang pro-perubahan.
> 
> Dalam konteks menggalang kekuatan bagi perubahan ke arah Islam 
itu, maka Hizbut Tahrir itu akan mengajak semua komponen yang ada. 
Baik yang sama pemikirannya dengan Hizbut Tahrir maupun yang 
berbeda, baik yang berada di dalam parlemen maupun yang di luar 
parlemen. Jadi kalau kami datang ke PKS, Partai Bulan Bintang, 
Partai Bintang Reformasi, PPP atau bahkan mungkin ke PDI Perjuangan 
dan Golkar, itu semua dalam kerangka  pandangan dakwah, bukan lagi 
pandangan fiqhiyah tadi. 
> 
>  
> 
> BURHANUDDIN:
> 
> Anda bersikap nafsi-nafsi?
> 
>  
> 
> ISMAIL YUSANTO:
> 
> Bukan nafsi-nafsi. Semangatnya adalah kesadaran akan kebebasan 
memilih, dan bahwa wala taziruu wa ziratun wijra ukhra. Saya kira, 
hal ini yang mesti dipahami dan mesti dikembangkan juga di dalam 
negeri kita. Jadi kita ingin mengembangkan kesamaan visi dan misi 
dari berbagai ragam kelompok umat.
> 
>  
> 
> BURHANUDDIN:
> 
> Terakhir, apakah Anda optimis gagasan khilafah Islamiyah akan 
tercapai karena banyak pihak yang mengatakan bahwa ide yang Anda 
usung terlalu absurd dan ahistoris?
> 
>  
> 
> ISMAIL YUSANTO:
> 
> Kalau saya diminta menjawab, saya pasti akan menjawab optimis. 
Bagaimana kita tidak optimis kalau Pertama, khilafah itu sebuah 
kewajiban, bahkan dijanjikan oleh Allah Swt. Memang sulit. Tapi 
antara sulit dan mustahil itu beda. Sulit itu bukan mustahil. Sulit 
itu sesuatu yang mungkin, tapi memang membutuhkan daya yang luar 
biasa. Sementara mustahil itu sama sekali tidak mungkin terwujudkan. 
Seperti menegakkan benang basah,  sampai kapan pun tidak akan bisa. 
Menyatukan timur dengan barat, atau  utara dengan  selatan itu juga 
tidak mungkin terwujud. Memegang air tapi kita tidak mau basah, dan 
sebagainya. 
> 
> Dan berdirinya (kembali) khilafah itu bukanlah sesuatu yang 
mustahil. Sebagaimana jatuhnya  Romawi Timur kepada Islam. Meski itu 
sangat sulit, tapi karena keyakinan dari para sahabat, para pejuang 
Islam pada waktu itu bahwa jatuhnya Romawi Timur ini adalah sebuah 
kemestian, sebuah kewajiban dan sekaligus dijanjikan, maka misi 
sesulit itu tetap saja dilakukan. Ekspedisi untuk menaklukkan 
Konstantinopel sudah di mulai semenjak Khalifah Usman bin Affan. Dan 
Anda tahu, sejarah membuktikan Konstantinopel jatuh baru pada tahun 
1453. Jadi hampir 700 tahun kemudian. Ketika panglima Muhammad al-
Fatih masuk ke benteng Konstantinopel, dia  teringat kepada hadist 
yang berbunyi Fala ni'ma al-amir, amiruha. Fala ni'ma al-jaiz 
fadzalika al-jaiz (sebaik-baik panglima perang adalah panglima 
perang yang menaklukkan Konstantinopel, dan sebaik-baik tentara 
adalah tentara yang menaklukkan Konstantinopel). Hadis itu dibaca 
oleh Muhammad al-Fatih, seolah-olah Nabi memuji dirinya. Padahal 
hadis itu diucapkan pada 700 tahunan sebelum peristiwa besar itu 
terjadi. 
> 
> Bila untuk menaklukkan Konstantinopel yang merupakan jantung dari 
adikuasa Romawi Timur saja akhirnya bisa dilakukan, meski harus 
melalui upaya yang luarbiasa dan memakkan ratusan tahun, apalagi 
untuk sebuah khilafah yang itu sudah pernah ada, dan tinggal 
membangkitkan memori umat, tentu insha Allah akan lebih mudah. Dalam 
pengalaman gerak Hizbut Tahrir, pengalaman gerak saya di negeri ini 
sekian tahun lamanya, saya mendapatkan respon yang luar biasa dari 
umat. Bisa dikatakan tidak ada satupun dari umat, bahkan yang 
terjadi justru sebaliknya. Kemarin saya berdakwah ke Kalimantan 
Selatan, di kabupaten Tabalong. Di sana seorang pemuda yang begitu 
diberi kesempatan bicara, langsung tunjuk jari dan bicara keras-
keras seraya  mengatakan bahwa sebelum masuk ruangan ini dia 
termasuk orang yang paling keras menolak syariat dan khilafah. Tapi 
setelah masuk ruangan ini dan mendengar semua penjelasan, dia 
berubah menjadi orang yang sangat mendukung syariat dan khilafah. 
Jadi masalahnya adalah penjelasan kepada umat.
> 
> Ketika umat ini makin lama makin mendukung, apalagi ditambah 
dengan kondisi eksternal seperti bagaimana Amerika Serikat dengan 
kejam menggempur Irak,  juga Afganistan tanpa bisa kita cegah sama 
sekali, dan konflik Israel dan Palestina yang sudah lebih 50 tahun 
tidak juga kunjung selesai, para pemimpin umat pun berfikir lalu 
solusinya apa? Apa yang bisa kita lakukan untuk membela diri? PBB 
sudah terbukti lebih berpihak kepada negara-negara besar. Organisasi 
Konferensi Islam (OKI) juga tidak punya gigi karena masing-masing 
anggota lebih mementingkan negaranya sendiri-sendiri. Negara-negara 
Arab sama saja, ASEAN apalagi. Pada puncaknya mereka, para pemimpin 
umat itu, akan melihat bahwa gagasan khilafah ini yang paling pas. 
Meski cita-cita itu sangat sulit. Dan kesulitan itu juga yang kami 
rasakan. Tapi semua masih sangat mungkin berubah, baik karena faktor 
internal maupun tekanan eksternal. Ada banyak tokoh-tokoh Islam yang 
pada 20 tahun yang lalu ketika kami pertama kali muncul untuk 
menyampaikan ide khilafah ini tidak mau mendengar atau bahkan 
mencibir dan sebagainya, sekarang berubah total, mereka mendukung 
betul. 
> 
>  
> 
> BURHANUDDIN:
> 
> Semudah itukah?
> 
>  
> 
> ISMAIL YUSANTO:
> 
> Tidak juga. Tapi itulah faktanya. Dan saya melihat, perubahan itu  
lebih banyak disebabkan oleh pengaruh dari luar. Proses berpikir 
yang lebih didasarkan pada kenyataan-kenyataan dari luar. Tidak 
mengapa. Dalam soal khilafah, basis teologis dan basis teoretis dari 
ide itu kan sudah sangat jelas. Dari dulu sampai sekarang ya itu-itu 
saja, tidak berubah-ubah. Yang berubah itu kondisi-kondisi eksternal 
umat. 
> 
> Ketika kondisi eksternal demikian mencekik dan menyayat nurani 
umat seperti yang sekarang tengah terjadi, maka otomatis umat ini 
makin lama makin mendukung ide khilafah, karena itu akan menjadi 
solusi mendasar. Ketika dukungan itu makin membesar,  bagaimana 
mungkin kita tidak optimis? Apalagi pada kenyataannya pengamat dunia 
internasional pun  juga memperkirakan khilafah Islam akan berdiri 
tidak lama lagi. National Intelligence  Council (NIC) yang bersidang 
di Amerika Serikat baru baru ini, menskenariokan bahwa pada tahun 
2020  Islamic Caliphate (khilafah Islam) akan berdiri. Itu prediksi 
mereka. Bukan saya, bukan Hizbut Tahrir, juga bukan umat Islam, tapi 
mereka. 
> 
> Mereka menskenariokan empat kemungkinan pada tahun 2020. Pertama, 
dunia tetap dipimpin oleh Amerika Serikat. Kedua, dunia dipimpin 
oleh India atau China. Ketiga, dunia dipimpin oleh seorang tiran, 
entah dari mana. Lalu yang keempat berdirinya Islamic Caliphate. 
Bila mereka saja bisa memprediksi bahwa khilafah Islam akan berdiri, 
mengapa kita bilang itu tidak mungkin?
> 
>  
> 
> ***
> 
> 
> -------------------------------------------------------------------
-------------
> 
> Article printed from : http://www.hizbut-tahrir.or.id
> 
> URL to article: http://www.hizbut-
tahrir.or.id/index.php/2007/07/17/khilafah-vis-a-vis-nasionalisme/
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke