Sebetulnya mudah melihat hitam dan putih setelah masalahnya dipilah-
pilah sehingga menjadi sempit. Hanya orang "oportunitis" yang mau 
mencari aman saja yang tidak bisa mengatakan hitam or putih. 
Biasanya orang oportunitis itu mbulet aja bicaranya. Ditanya A atau 
B. Jawabnya bisa "atau" atau C.

Saya melihat ada yang mempostingkan cuplikan dari buku Ahmadiyah 
Telanjang Bulat di Panggung Sejarah. Saya juga baca dari buku ini 
tentang bagaimana MGA (diduga) mengadakan 'persekongkolan' dengan 
pemerintah SIKH (yang berkuasa pada saat itu). Pemerintah SIKH itu 
terkenal sangat kejam dan bengis kepada musuh-musuhnya. MEreka bisa 
membunuh anak kecil, wanita, dan orang tua. Bahkan bisa membunuh 
hanya karena seseorang mengumandangkan adzan.

Katanya keluarga dan sesepuh MGA juga ikut mengangkat pedang melawan 
kaum bengis ini. Namun faktanya, ketika kaum SIKH ini dapat 
mengalahkan pasukan2 muslim, termasuk sesepuh MGA, SIKH ini malah 
membebaskan sesepuh MGA bahkan memberikan mereka hadiah. Padahal 
kalo dinilai dari kebengisan yang digambarkan sendiri oleh MGA dalam 
buku2nya sebelumnya, sepantasnya sesepuh MGA ini akan dibakar dalam 
tungku yang panas. Bagaimana tidak? sesepuh juga merupakan musuh 
besar bagi pemerintahan SIKH.

What really happened? Kalau kita tanyakan ini kepada kaum ahmadiyah, 
mereka hanya menjawab ini hal wajar tanpa menjelaskan alasannya.

Buku tsb mencoba memberikan jawaban berdasarkan pengalaman-pengalam 
sesepuh MGA tsb bhw:

Sebenarnya keluarga  MGA tidak pernah berperang melawan SIKH [saking 
baiknya muslim ini...] bahkan mereka bersekongkol dan membantu kaum 
SIKH ketika kaum SIKH berhadapan dengan pasukan pasukan sabilillah 
pimpinan syed Ahmad Berlevi.

Pada jaman kekuasaan Nao Nihal SIngh [kaum SIKH] juga ayahnya MGA, 
Ghulam Murtada, memegang jabatan dalam tentara raja Nihal tsb untuk 
menghantam kaum muslimin.

Dalam buku tsb diberi gambaran yang mengintikan "begitulah watak 
yang turun temurun sesepuh dan keturunan sang MGA yang menggunting 
dalam lipatan, menohok kawan sendiri bahkan memakan daging daging 
saudaranya"  

Samakah yang keluarga MGA lakukan dengan yang dilakukan oleh 
Soekarno-Hatta, yang katanya diyakini sbg taktik. Taktik apa yang 
ingin dimainkan oleh sesepuh MGA? taktik menyelamatkan harta dan 
tanah keluarganya? Karena faktanya memang kaum SIKH mengembalikan 
sebahagian tanah warisan keluarga MGA karena jasa2 keluarga MGA 
kepada SIKH. Unbelievable kaum SIkh bisa berbaik hati kepada 
keluarga MGA tanpa sebab musabab karena sewajarnya kalau benar2 
keluarga MGA pernah berperang melawan SIKH, nasibnya akan sama 
dengan musuh2 SIKH lainnya. Mate!

Kalau mau dipikir, sungguh cerdik mereka. Mendekatkan diri dan 
bersekongkol dan patuh kepada siapa yang berkuasa. Cari aman.

salam,


--- In [email protected], Phyllobates Terribilis 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> MGA tak pernah menghalangi kemerdekaan rakyat Pakistan, yang 
diberikan oleh mahkota Inggris (seperti Malaysia, Singapura, Brunei, 
dan banyak lainnya). MGA TIDAK memerangi pejuang Pakistan.
>    
>   Mengenai ketundukan pada penjajah, hal ini juga dilakukan oleh 
pemimpin kita, bung Karno-bung Hatta, dan lain lainnya, dalam 
membantu pemerintah militer Jepang mengkonsolidasi kekuatan militer 
(mobilisasi budak untuk tugas militer Jepang, yang dinamakan 
Romusha, mobilisasi pemuda untuk kepentingan pertahanan Jepang). 
namun ini semua diyakini sebagai taktik. Juga pemimpin kita, 
dwitunggal Sukarno-Hatta tak memekikkan mati syahid. Beliau beliau 
memilih ditangkap pasukan Belanda di Jogya daripada menyingkir 
kehutan bersama pak Dirman.
>    
>   Tidak semudah itu kita mempelajari sejarah, yang tak pernah 
hitam putih. Misalnya, apakah Tan Malakka itu pengkhianat atau 
pejuang? Apakah pak harto pahlawan atau penjahat HAM?  Apakah 
Kartosuwiryo pengkhianat atau pahlawan Islam? Apakah Imam Bonjol 
pahlawan atau pembantai di Minangkabau dan tapanuli?
>    
>   
> 
> Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           --- In [email protected], Phyllobates Terribilis 
> <phyllobates.terribilis@> wrote:
> >
> > penilaian seseorang terhadap orang atau sesuatu adalah 
subyektif, 
> dan syah syah saja. Anda menekankan apa yang anda sebut 
> pengkhianatan MGA, orang lain tidak melihatnya relevan bagi 
kekinian 
> sejarah Ahmadyah dan bangsa Pakistan, yang sejak kala itu 
> mengumpulkan ratusan pengkhianat. Hingga kini.
> > 
> 
> Sekarang antara penilaian saya dan sampeyan aja. Buat sampeyan, 
MGA 
> itu pengkhianat gak bagi bangsanya???
> 
> Seorang pemimpin TUNDUK kepada penjajah, apa menurut pendapat 
> sampeyan?? Seorang pemimpin berkomplot dengan penjajah mencari 
> amannya sendiri, pengkhianat gak bagi sampeyan?? 
> 
> Kan seharusnya orang sekaliber MGA itu punya moto "Mati Syahid 
atau 
> Hidup Mulia".
> 
> Sudah jelas sikap dan pendapat saya soal pengkhianat. Bagaimana 
> pendapat sampeyan?? Saya tidak tanya soal sumbangsih!
> 
> wassalam,
> 
> 
> 
>                          
> 
>        
> ---------------------------------
> Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke