Jurnal Sairara:
LANGKAH PERTAMA
Dalam pepatah-petitih tetua kita di berbagai pulau, sering kudapatkan adanya
pikiran-pikiran yang sangat nalar, logis dan dialektis. Misalnya "menepuk air
di dulang memercik ke muka sendiri", "tangan mencencang bahu memikul".
Sedangkan pada kata-kata "wolak-waliké zaman" , selain adanya ciri seperti di
atas, bahkan kulihat adanya suatu konsep sejarah yang selalu mengalir "pantha
rei" seperti pernah diungkapkan oleh Heraclitus, pemikir Yunani Kuno, atau
"l'histoire est toujours contemporaine" [sejarah senantiasa aktual], jika
menggunakan istilah Benedetto Groce, sehingga "mémoiré pun bercorak demikian"
, ujar Marek Halter, budayawan dan romansier Israel. Pada kata-kata Marek
Halter ini, aku malah mendapatkan pandangan Grup sejarawan Annales, Paris yang
menunjukkan adanya hubungan antara masa silam, hari ini dan esok. Masa silam
mempengaruhi hari ini dan selanjutnya hari ini berdampak pada bangunan esok.
Generasi yang menyepelekan masa silam bisa dikatakan sebagai
angkatan kehilangan sejarah. Pemutihan masa silam juga, sesuai dengan nalar
ini bisa disebut pelenyapan kesadaran suatu angkatan. Kalau keliru maka
Benedetto Groce melakukan kekeliruan dengan mengatakan bahwa "l'histoire est
toujours contemporaine".
Menyimak pikiran-pikiran yang terdapat di pepatah-petitih, pada pantun,
gurindam, seloka dan lain-lain genre sastra lokal termasuk sansana dan
legenda-legenda rakyat dalam masyarakat Dayak, sebagai contoh, terkesan padaku,
selain merupakan bentuk penyimpulan pengalaman hidup generasi terdahulu, juga
merupakan salah satu sarana penyampaian nilai kepada generasi berikut. Dengan
demikian, agaknya sastra-seni, termasuk legenda, sastra lisan, merupakan
lumbung nilai suatu angkatan di suatu kurun waktu. Dan nilai-nilai ini
dituangkan dalam bentuk artistik. Oleh adanya nilai-nilai dalam sastra-seni,
maka apakah terlalu salah penglihatanku bahwa sastra-seni sebagai salah-satu
lumbung nilai kolektif , juga merupakan benteng bertahan dan pangkalan
pengembangan diri baik sebagai individu mau pun sebagai suatu kolektif
komunitas, terutama dalam soal identitas, makna hidup-mati, ukuran baik-buruk,
adil dan tidak adil. Aku mau kembali mengambil contoh yang terdapat dalam
sejarah Dayak
Kalteng. Khususnya Katingan.
Untuk menaklukkan daerah ini, mula-mula kolonialis Belanda mengirimkan 7
pendeta ke pedalaman untuk meng Kristen-kan orang Dayak. Entah bagaimana
ceritanya, beberapa orang dari pendeta yang dikirim ini mati dipancung
kepalanya. Kemudian Belanda menyebarkan opini bahwa orang Dayak itu adalah
"lambang segala keburukan dan kejahatan". Disebut "dayakers". Kebudayaannya,
termasuk sastra-seninya, dinamakan sebagai "ragi usang" tanpa guna dan harus
dibuang. Agresi kebudayaan ini dihadapi oleh orang Dayak dengan berhimpun di
sekitar nilai-nilai budaya Kaharingan sehingga agresi ini , sekali pun
berdampak, tapi secara kebudayaan, tidak memusnahkan manusia Dayak pada waktu
itu. Melihat kurang mempannya agresi kebudayaan ini, maka agresi dikembangkan
di bidang politik dan militer. Berdasarkan cerita lisan yang dituturkan
almarhum kakekku saban subuh, perlawanan Dayak terhadap agresi militer Belanda
ini menyulut "Perang Kasitu" dengan korban tidak kecil. Dilukiskan oleh kakek
alm. bahwa untuk memetik buah kelapa, kita tak perlu memanjat pohonnya, tapi
cukup dengan berdiri di atas timbunan bangkai korban perang yang terdiri dari
orang-orang berambut jagung, bermata biru, berkulit macam-macam. Cerita ini
tentu saja tidak akurat sebagai sumber sejarah ilmiah. Tapi seperti dikatakan
oleh seorang sejarawan Afrika Selatan, legenda bisa mengantar kita ke masalah
yang lebih dalam dan bisa dipertanggungjawabkan. Jika demikian, barangkali di
sinilah arti penting registrasi dan riset sejarah lokal yang dilakukan dengan
tekun oleh Institut Dayakologi Pontianak, Kalimantan Barat. Kemudian dijadikan
muatan lokal pendidikan di propinsi tersebut. Mengenal sejarah lokal akan
menyempurnakan penulisan sejarah Indonesia, mendesentralisasi penulisan
sejarah, membantu kita mengenal akar guna berdialog dengan pulau-pulau lain dan
dunia.
Dari sejarah Dayak, aku melihat bahwa agresi kebudayaan, melikwidasi
nilai-nilai lokal yang hidup, menanamkan nilai-nilai baru hingga menjadi nilai
dominan dalam kebudayaan, termasuk sastra-seni, agaknya merupakan langkah
pertama guna mendominasi dan menguasai jiwa suatu bangsa atau etnik. Ketika
jiwa bangsa itu sudah ditaklukkan, maka pada saat itu bangsa tersebut sudah
dikuasai secara halus dan seperti kerbau dicocok hidungnya menjadi tenaga murah
bagi si penakluk. Ketika itu juga, kemerdekaan tidak lebih dari kain sutera
halus kemilau, pembungkus pencaplokan dan penindasan serta penggadaian negeri.
Dibalik sutra pembungkus ini terdapat darah dan airmata serta "jiwa-jiwa mati",
jika menggunakan istilah Nikolai Gogol. Pencaplokan budaya dan pendominasian
nilai, sering juga dibarengi dengan tindakan administratif seperti pelarangan,
bahkan likwidasi fisik.
Nilai apa dan bagaimanakah yang mendominasi kebudayaan, sastra-seni kita hari
ini? ***
Paris, Musim Dingin 2008.
------------------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]