Salam, Saya bukan orang TUK, tapi simpatisan TUK. Pikiran-pikiran TUK sejalan dengan pikiran saya. Saya senang diskusi agama dan tinggal di Jakarta. Kalau FPI, MMI mau muncul adu argumentasi tentang Islam wah senang sekali....
Syaratnya,pertama, mau datang dengan otak bukan bawa golok.Yang muncul pemikir, bukan centeng-centeng yang kerjanya mendengus-dengus dan petentengan Kedua, ususnya musti panjang, gak gampang kena arus pendek, muka merah dan plintir kumis Dan ketiga, mau ditolol-tololin karena mereka memang selama ini tolol bener ha..ha..ha.. Dimas. --- In [email protected], "sautsitumorang" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > hahaha... > > > perhatikan judul posting dari orang TUK ini!!! > > > memang beginilah slalu gaya mereka ngomong soal "Islam" di manapun > terutama di luar Indonesia, seperti di Amrik, Eropa Barat, Israel dan > Universitas Melbourne Australia. > > orang macam ini pulak lah nyang akan adakan diskusi "Islam dan Seni" > di bulan Ramadhan yad!!! bisa dibayangkan gimane aturan maennya kan! > hahaha... > > > apa mereka (nyang ngaku-ngaku pembela "pluralisme" dalam > "berkeyakinan itu) berani ngundang FPI dan organisasi semacam untuk > ikut juga jadi pembicara?! apa mereka memang sudah "demokratis", > sudah "liberalis", sudah "pluralis", sudah "HAMis", sudah > "posmodernis" cuma bisa mereka buktikan dengan mengundang jugak para > FPI, MMI dan kelompok Islam lain yang gak seideologi dengan "Islam" > mereka!!! > > kalok nggak, ya Amerikanis dong namanye... > > > hahaha... > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED], MGR <indunisi@> wrote: > > > > > > Majalah TEMPO 18-24 Agustus 2008 > > > > WAWANCARA > > Asghar Ali Engineer: > > > > Surga Bukan Monopoli Muslim > > DI dunia muslim, Asghar Ali Engineer > > dikenal gigih memperjuangkan kesetaraan gender dan hak-hak > perempuan. > > Dia juga memberikan perhatian pada nasib orang miskin yang > dipinggirkan > > karena struktur sosial yang timpang. Mereka, mengutip sosiolog Iran, > > Ali Syariati, disebutnya sebagai orang yang tertindas. Asghar Ali > tak > > cuma bicara. Dia sendiri memimpin komunitas Syiah Ismailiyah Bohra > yang > > cukup terkenal di India. > > > > Belakangan, Asghar Ali kerap menyuarakan pentingnya hubungan > > saling menghormati antarpemeluk agama berbeda. Dalam konteks India, > > tanah airnya yang acap diwarnai konflik antara pemeluk Hindu dan > Islam, > > suaranya amat berarti. Untuk dedikasi mendorong toleransi, dia > > memperoleh penghargaan harmoni komunal dari pemerintah India pada > 1997. > > Asghar Ali lahir dari keluarga santri. Dia belajar bahasa Arab > > dari ayahnya, Syekh Qurban Husain. Dia juga mendapat pendidikan > sekuler > > hingga memperoleh gelar sarjana teknik sipil dari University of > Indore. > > > > Pekan lalu, bersama sejumlah cendekiawan dari kawasan Asia > > Selatan, Asghar Ali berkunjung ke Indonesia. Ia menyampaikan ceramah > > tentang Islam dan negara bangsa serta bertemu dengan sejumlah > > cendekiawan Islam Indonesia, antara lain bekas presiden Abdurrahman > > Wahid. Di sela kunjungan itu, Asghar Ali menerima Nugroho Dewanto > dan > > Iqbal Muhtarom dari Tempo. > > > > Mengapa belakangan Anda kerap menulis soal teologi perdamaian dan > pluralisme religius? > > Saya bahkan menulis buku tentang masalah itu. > > Kedua isu tersebut sangat penting saat ini, ketika terorisme > terjadi di > > mana-mana dan muncul kesalahpahaman bahwa Islam mendukung perang > serta > > kekerasan lewat jihad. Padahal Islam sesungguhnya mendukung > perdamaian. > > Seorang muslim menyapa dengan ucapan assalamualaikum, yang berarti > > kedamaian untuk Anda. Begitu pentingnya konsep damai dalam Islam > > sehingga banyak disebut dalam Quran dan hadis. Perang dalam Islam > > memiliki konteks semata untuk bertahan. Nabi mengatakan perang suci > > adalah jihad kecil, sedangkan memerangi hawa nafsu merupakan jihad > > besar. > > Dari mana kesalahpahaman ini dimulai? > > Ketika kerajaan ditegakkan atas nama Islam, para > > penguasa menyebut perang memperebutkan wilayah sebagai jihad. Arti > > jihad pun berubah, dari upaya sungguh-sungguh menjadi semata perang. > > Para teroris bahkan menggunakan istilah jihad untuk membenarkan > > pembunuhan terhadap orang tak bersalah, dengan bom yang diletakkan > di > > sembarang tempat. Padahal, dalam syariat jelas disebut, dalam perang > > sekalipun tak boleh membunuh anak kecil, orang tua, orang tak > bersalah, > > dan noncombatantapalagi mengebom pasar. > > Jadi tulisan-tulisan Anda tak cuma ditujukan kepada pembaca > nonmuslim, tapi juga untuk sesama muslim? > > Ya, banyak nonmuslim yang salah paham terhadap > > Islam. Tapi apa yang dilakukan para teroris yang mengatasnamakan > Islam > > sesungguhnya juga tak sesuai dengan ajaran Quran. Mereka salah > memahami > > jihad. > > Anda mendorong pluralisme religius, padahal ulama di sini berfatwa > bahwa pluralisme haram.... > > Haram? (tertawa). Quran dalam surat Al-Maidah > > mengatakan, "Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya > satu > > umat (saja). Tapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang > telah > > diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan." > > Quran juga mengatakan bahwa surga bukan hanya monopoli muslim, tapi > > juga untuk mereka yang percaya kepada Allah dan hari akhir serta > > melakukan kebajikan. Jadi, mencapai surga bergantung pada bagaimana > > sikap dan perilaku kita, bagaimana kita memperlakukan orang lain. > > Kemanusiaan itu amat penting. Di India ada begitu banyak agama, dan > > penganut Islam 150 juta orang. Mereka menerima konsep masyarakat > > majemuk. > > Ulama mengatakan mereka menerima pluralitas tapi menolak pluralisme. > > > Saya mengerti. Pluralisme merupakan konsep untuk > > menerima perbedaan dalam beragama. Quran mengakui semua nabi dan > > menunjukkan perbedaan masing-masing mereka. Quran menerima keyakinan > > Yahudi, Kristen, dan Sabiin. Kita diperintahkan untuk saling > > menghormati. > > Di negara seperti Indonesia, tempat hidup berbagai agama seperti > juga di India, apa arti penting pluralisme? > > Kita harus menerima pluralisme, karena sekarang > > ini perpindahan penduduk terjadi di seluruh dunia. Orang pindah dari > > satu negara ke negara lain. Kebanyakan muslim hidup sebagai > minoritas > > di berbagai negara, seperti Amerika, Australia, dan Eropa. Bagaimana > > jika warga negara-negara itu menolak kaum muslim? Pluralisme pada > > dasarnya adalah Anda bebas memeluk agama tapi juga harus menghormati > > pemeluk agama lain. > > Apa jadinya bila pluralisme ditolak? > > Jika saya menghormati agamamu dan kamu > > menghormati agamaku, tak akan terjadi konflik. Bila sebaliknya, > jelas > > akan terjadi konflik. Kita diminta berlomba-lomba dalam kebaikan, > > tolong-menolong antarsesama, menegakkan keadilan. Dengan cara itu, > kita > > bisa mencapai surga. > > Bagaimana semestinya posisi Islam dalam kehidupan bernegara? > > Quran tak bicara tentang negara, hanya bicara > > tentang masyarakat. Dalam hidup bermasyarakat, kita harus menegakkan > > keadilan, tak boleh ada eksploitasi, tak boleh ada persekusi. Quran > > adalah buku panduan moral. Bagaimana kita menjaga perilaku. > Bagaimana > > meminimalkan konflik. Itu semua pada akhirnya akan bermanfaat dalam > > hidup bernegara. > > Agama tumbuh subur, tapi kenyataannya konflik terjadi di seluruh > penjuru dunia. > > Dalam konflik yang terjadi antarnegara atau di > > antara dua individu, penyebabnya biasanya ketidakadilan. Tidak ada > > penghormatan terhadap hak pihak lain. Ambil contoh apa yang > dilakukan > > Amerika terhadap Irak, Afganistan, Pakistan, dan Vietnam. Itu adalah > > bentuk arogansi. Dengan kekuasaannya, Amerika membunuh jutaan orang > di > > seluruh penjuru dunia. Siapa yang menghormati hak orang lain, tak > akan > > terlibat dalam konflik. > > Mungkinkah umat Islam menjadi satu kekuatan politik? > > Muslim dapat menjadi satu kesatuan hanya dalam > > soal agama, tapi tidak dalam soal politik. Kita bicara dalam bahasa > > yang berbeda, memiliki budaya yang berbeda, mengenakan pakaian yang > > berbeda. Satu-satunya yang menyatukan kita adalah agama yang sama. > > Muslim tak pernah menjadi satu kesatuan politik sejak dulu sampai > > sekarang. Tiap negara dan penguasa memiliki kepentingan berbeda. > Mesir, > > Suriah, dan Libya pernah bergabung dalam satu negara Republik > Persatuan > > Arab, tapi cuma bertahan dua tahun. Pakistan dan Bangladesh akhirnya > > berpisah. Indonesia dan Malaysia tak bisa bersatu. > > Bagaimana dengan kelompok Islam yang mendukung konsep Khilafah > Islamiyah? > > Dalam sejarah Islam, khilafah cuma bertahan > > selama 30 tahun. Sesudah itu, yang muncul adalah kerajaan Islam dari > > berbagai dinasti. Sekarang umat Islam terpisah dalam berbagai > negara. > > Mereka memiliki budaya dan tradisi yang berbeda. Umat Islam dapat > > bersatu cuma dalam kesatuan agama, bukan dalam kesatuan politik. > > Anda memimpin Center for Study of Society and Secularism. Apa > sesungguhnya makna sekularime? > > Saya tidak mengartikan sekularisme seperti di > > Barat, yaitu pemisahan antara urusan agama dan negara. Tiap negara > > memiliki sejarah berbeda. Sekularisme secara sederhana, menurut > saya, > > adalah konsep hidup berdampingan secara damai antarkelompok dan > > penganut agama yang berbeda. Konstitusi di negara saya, India, > adalah > > sekuler, padahal mayoritas penduduknya beragama Hindu. Saya bebas > > beragama dan menjalankan keyakinan Islam, tanpa memandang rendah > > pemeluk Hindu. > > Di sini ulama juga mengharamkan sekularisme. Bila ulama saja susah > memahaminya, bagaimana dengan orang awam? > > Ya, saya tahu. Di negara saya, para ulama amat > > menerima sekularisme karena dengan konstitusi itu, sebagai minoritas > > kami dapat diperlakukan dengan adil. Mereka menyebut India sebagai > > Darul Amanini kategori ketiga selain Darul Islam dan Darul Harb. Di > > dalam Darul Aman, setiap muslim bebas menjalankan keyakinannya. Tak > ada > > intervensi negara dalam urusan seperti perkawinan dan waris, kecuali > > ada ketidakadilan di situ. > > Ada pula kelompok yang berpendapat Islam tak kompatibel dengan > demokrasi.... > > Bagaimana mungkin? Konsep demokrasi itu baru > > muncul jauh setelah lahirnya Islam. Quran tak bicara apa-apa tentang > > sistem pemerintahan tertentu, apakah itu demokrasi, kediktatoran, > atau > > kerajaan. Quran hanya bicara tentang masyarakat. Kita yang harus > > mengatur tata kehidupan yang terbaik untuk diri kita sendiri. > > Apa pendapat Anda tentang formalisasi syariah? > > Syariah adalah persoalan pribadi. Hukum syariah > > jangan ditafsirkan oleh negara. Biarlah masing-masing komunitas > > melaksanakannya. Contoh terbaik adalah periode Madinah, ketika > pemeluk > > Islam, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan dan bebas menjalankan > > syariat mereka masing-masing. Negara hanya boleh menjaga ketertiban > dan > > keteraturan. > > Bagaimana Anda melihat kasus Ahmadiyah di Indonesia? > > Saya sama sekali tidak setuju dengan ajaran > > Ahmadiyah, tapi saya sedih melihat perlakuan terhadap mereka. > > Biarkanlah mereka menjalankan keyakinan mereka dan biarkanlah Allah > > yang memutuskan nasib mereka kelak di akhirat. Manusia tidak bisa > > mengambil alih wewenang Allah. > > Ulama di sini bisa menerima Ahmadiyah bila mereka menyatakan diri > keluar dari Islam.... > > Mengapa mereka harus menyatakan diri sebagai > > nonmuslim? Biarkanlah mereka menyebut diri muslim. Kalau keinginan > > seperti itu dilanjutkan, nanti penganut Syiah dan Sunni juga akan > > bertengkar, siapa yang paling benar. Akhirnya semua kelompok Islam > akan > > saling mengafirkan. > > Apakah Anda melihat ada hubungan antara penolakan terhadap > > pluralisme dan sekularisme dengan meningkatnya fundamentalisme dalam > > Islam? > > Terorisme dan fundamentalisme bukanlah produk > > agama. Ini adalah produk situasi sosial dan politik. Apa yang > dilakukan > > Amerika di Palestina, tindakannya mendukung Israel, aksinya > menyerang > > negara-negara Islam, semua itu menjadi penyebab meningkatnya > terorisme. > > Siapa yang menciptakan Usamah bin Ladin? Amerika! Ketika > bergandengan > > tangan dengan Amerika memerangi Uni Soviet di Afganistan, Usamah bin > > Ladin tak disebut teroris, tapi mujahidin. Usamah bin Ladin bukanlah > > ciptaan Islam. > > Jadi tuduhan bahwa Islam merupakan agama teroris itu tidak tepat? > > Secara politik ataupun secara agama, tidak > > tepat. Tidak ada agama yang mengajarkan penganutnya melakukan > > kekerasan. Agama selalu mempromosikan kemanusiaan. > > Bagaimana Anda memandang masa depan Islam dan kehidupan bernegara > di Indonesia? > > Indonesia sekarang sedang dalam ujian. > > Konstitusinya mengakui demokrasi dan pluralisme. Di masa lalu, kami > > mengagumi hubungan antarpenganut agama: Islam, Kristen, Hindu, > Buddha, > > dan agama lain yang harmonis. Kebetulan di India juga ada banyak > agama. > > Tapi sekarang terjadi konflik agama di Indonesia. Saya berharap > > demokrasi dan pluralisme di Indonesia akan bertambah kuat. > > > > Asghar Ali Engineer > > Tempat dan Tanggal Lahir: > > Rajasthan, 10 Maret 1939 > > Pendidikan: > > Belajar bahasa Arab dari ayahnya, Syekh Qurban Husain > > Menyelesaikan pendidikan sarjana teknik sipil dari University of > Indore > > Karier: > > Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Komunitas Dawoodi Bohra, 1977 > > Mendirikan Institute of Islamic Studies di Mumbai, 1980 > > Mendirikan Center for the Study of Society and Secularism, 1993. > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > >

