http://www.suaramerdeka.com/harian/0501/31/nas02.htm
Senin, 31 Januari 2005NASIONAL

Masuk AS Gampang-gampang Susah (1)
''Cukur Dulu Jenggotmu''

KETAT: Seorang petugas imigrasi memeriksa barang penumpang. Sejak peristiwa 
9 September 2001, AS sangat ketat terhadap masuknya orang asing.(79) 
SM/Bagas Pratomo

Bersama sembilan jurnalis lain dari Indonesia, wartawan Suara Merdeka Bagas 
Pratomo saat ini sedang di Amerika Serikat selama dua pekan atas undangan 
Departemen Luar Negeri AS. Kunjungan ini mengambil tema ''American Society 
and US Foreign Policy Formulation''. Berikut suratnya dari Washington DC.

''KAMU mau ke Amerika? Cukur dulu itu jenggotmu. Nanti repot di sana,'' kata 
seorang teman. Kesan ini memang terasa wajar dirasakan oleh kebanyakan kita 
yang berada di luar Amerika Serikat. Sejak peristiwa 9 September 2001 yang 
menghancurkan dua menara World Trade Center New York dan menewaskan ribuan 
orang itu, negara ini menjadi sangat ketat terhadap masuknya orang asing.

Apalagi jika model tampang dan nama mirip dengan warga kawasan Timur Tengah. 
Akan tetapi justru karena itu saya nekat tidak mencukur jenggot. Saya ingin 
tahu seberapa susah masuk dengan tampang model begitu.

Sebenarnya ketatnya persyaratan masuk ke AS sudah terasa saat pengurusan 
visa. Foto untuk visa harus "netral" dengan ukuran dan posisi foto yang 
sudah ditentukan. Dinas Imigrasi dan Kewarganegaraan AS menjelaskan, 
ekspresi setiap subjek haruslah netral (tidak tersenyum) dengan kedua mata 
terbuka dan kedua rahang tertutup rapat. Jadi, jangan harapkan foto yang 
cengengesan bakalan diterima.

Ketentuan ini berlaku sejak 1 September 2004 dan bisa dibaca pengumumannya 
di situs Deplu AS. Hanya mungkin tidak semua orang mengetahuinya. 
Persyaratan foto ini lengkap tertera di situs, termasuk warna latar 
belakang, pencahayaan, ukuran badan di frame foto, arah tatap mata, 
orientasi kepala, dan ekspresi wajah natural lainnya yang diizinkan.

"Senyum dengan rahang tetap tertutup diizinkan tetapi tidak dianjurkan," 
demikian salah satu penjelasan situs. Dokumen perjalanan ini merujuk pada 
ketentuan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) yang pada Mei 
2003 mengeluarkan petunjuk tentang penggunaan informasi biometrik untuk 
paspor-paspor yang bisa dibaca dengan mesin.

Senyuman disebutkan bisa mendistorsi fitur-fitur wajah lain seperti kedua 
mata. Dengan demikian, ekspresi wajah harus senetral mungkin untuk segala 
tipe identifikasi.

Nantinya AS akan memberlakukan sistem paspor dengan bar codes yang dapat 
dibaca dengan mesin. Pertengahan 2005 ini, informasi biometrik masuk di 
dalamnya. Dengan cara ini, sebuah chip komputer yang ditanam di paspor akan 
memudahkan cek silang terhadap pemegang paspor. Dengan memanfaatkan program 
komputer akan dikenali fitur-fitur wajah, selain juga untuk pengecekan sidik 
jari. Biasanya diminta jari telunjuk untuk identifikasi.

Sistem ini akan menyandingkan wajah yang terekam kamera-kamera keamanan di 
115 bandara di Amerika yang melayani penerbangan internasional dan 14 
pelabuhan besar dengan informasi yang terdapat dalam chip tadi.

Tak Pandang Bulu
Ketatnya persetujuan ini juga tak pandang bulu. Bahkan di antara kami para 
wartawan yang menjadi tamu undangan Deplu AS pun, ternyata tidak bisa mulus 
disetujui permohonan visanya.

Rekan dari Kompas Budiman Tanure-djo yang sarjananya teknik nuklir, saat itu 
masih harus menunggu dua minggu lagi untuk clearance dari Washington. 
Demikian pula yang punya nama-nama muslim, seperti Muhammad Nurkolis Ridwan 
dari Majalah Sabili, Muhammad Lapang dari Majalah Gontor, dan Priyantono 
Oemar. Sapto Waluyo dari Majalah Saksi yang jenggotan juga. Sementara yang 
lain termasuk saya, sudah disetujui.

Menurut keterangan Humas Kedubes AS di Jakarta, Novita Patricia Wund, tidak 
ada penjelasan apa pun dari Washington kepada Kedubes mengapa visa mereka 
masih harus diklirkan lebih lanjut. Sedemikian tertutupnya sehingga pihak 
kedutaan pun tak tahu-menahu alasan penundaan persetujuan visa tersebut.

Akhirnya kami pun hanya menebak-nebak, mungkin karena nama yang berbau 
muslim. Budiman mengira, soal visanya berkaitan dengan S1-nya yang teknik 
nuklir. ''Mungkin dikira bisa bikin bom,'' ujarnya berseloroh.

Namun, Atase Pers Kedubes di Jakarta Max Kwak menyatakan jangan diambil 
hati. ''Saya yang diplomat juga terkadang menjalani pemeriksaan kalau masuk 
ke AS,'' tuturnya.

Dia bercerita, di Imigrasi juga pernah secara acak dia harus menjalani 
pemeriksaan intensif. Barang-barang bawaan dia dicek teliti dan dibuka 
kopernya.

''Apa boleh buat memang. Sejak 911 itu Amerika memang menjadi sangat 
sensitif mengenai keamanan negara ataupun warganya,'' kata Max. Bahkan, 
lanjutnya, memasuki Kedubes AS di Jakarta sekarang seperti masuk kamp 
militer. Semua memang dijaga superketat. Jalan di depan gedung Kedubes 
diblok satu lajur dengan beton sehingga tertutup untuk lewat kendaraan.

Dan untuk masuk mengajukan permohonan visa, orang harus antre berderet-deret 
di jalan samping Kedubes. Dan, belum tentu permohonan visa disetujui oleh 
Washington. Kalau ditolak, biaya visa 100 dolar itu pun hangus.

Begitu masuk ke AS lewat bandara San Fransisco, rombongan kami juga harus 
melewati berbagai pengecekan. Polisi dengan anjing pelacak berseliweran 
mengecek koper-koper yang mencurigakan. Dan, setelah penerbangan hampir dua 
hari dari Jakarta, prosedur yang sangat ketat tadi memang terasa 
menyebalkan.

Lalu bagaimana dengan soal jenggot tadi? Saya akan ceritakan pada tulisan 
kedua besok.(33j) 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke