Okeh. Saya tulis nama anda lengkap: Jusfiq Hadjar Gelar Sutan Barajo Kabau.
--- Pada Sel, 4/1/11, Jusfiq <[email protected]> menulis: Dari: Jusfiq <[email protected]> Judul: [proletar] Re: Lagu yang paling berkesan ("jasadlelaki" bermental bangsat...). Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 4 Januari, 2011, 5:55 AM Bangsat.. Bajingan. Tulis nama saya dengan baik.. Saya tidak pernah mempermainkan nama anda. Ini satu. Kedua: mengutip tulisan orang tanpa menyebut sumbernya adalah plagiat. --- In [email protected], "jasadlelaki" <jasadlel...@...> wrote: > > > Wakakakakkkkkk...,ente lucu juga pig. > Kalaupun lirik lagu itu atas inspirasi mbak reza sendiri jelas kagak mungkin. > Kecuali kalau Taufiq Ismail itu sama dgn rezameut lain lagi ceritanya. > > Tapi, ente cukup teliti juga. > Abis, emang banyak orang pada suka GE-ER kalau di dunia maya. > Seolah-olah dia, padahal bukan. > Kalau dituding self defense-nya bukan main arogan dah... > > Emang jauh lebih bagus berolah raga push-up, naik sepeda, marathon atau cukur > jenggot ya pig? > Terkesan more reality or low profile. > > > (s-one). > > --- In [email protected], "Jusfiq" <kesayangan.allah@> wrote: > > > > > > Kapasitas berfikir rezameutia yang sudah gila dan mikir pake kontol itu > > jelas amat terbatas: ngedongeng, ngomong tentang sepak bola, ngoceh sedikit > > tentang musik, menyebar dusta dan fitnah serta pamer fikiran yang busuk, > > nista lagi menjijikkan. > > > > Nulis dia jelas nggak bisa. > > > > Lalu dia bajak tulisan orang. > > > > Tulisan dibawah dibajaknya dari karangan Taufiq Ismail. > > > > http://anginsepoi.wordpress.com/2008/01/22/kisah-dibalik-lagu-ketika-tangan-dan-kaki-berkata-chrisye/ > > > > > > --- In [email protected], "rezameutia" <rezameutia@> wrote: > > > > > > KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA > > > > > > Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, > > > "Bang,saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, > > > tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" > > > > > > Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan > > > kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang > > > lain, deadline sebulan itu bolehlah. > > > > > > Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik > > > diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan > > > diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius. > > > > > > Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. > > > Sesudah seminggu,tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga > > > inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat > > > tetap buntu. > > > > > > Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang > > > macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan > > > harinya dan saya mau bilang, "Chris, maaf ya, macet. Sori." > > > > > > Saya akan kembalikan pita rekaman itu. > > > > > > Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai > > > ayat 65 yang berbunyi, "A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. Alyauma > > > nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum > > > bimaa kaanu yaksibuun", saya berhenti. > > > > > > Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka > > > akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang > > > telah mereka lakukan." > > > > > > Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa! > > > Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu > > > ke larik-larik lagi tersebut. > > > > > > Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa > > > masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan > > > alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. > > > > > > Lagu itu saya beri judul "Ketika Tangan dan Kaki Berkata". Keesokannya > > > dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai". > > > Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi > > > lirik tersebut. > > > > > > Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar > > > menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis > > > lagi, berkali-kali. > > > > > > Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah > > > Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang > > > dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, > > > yang menggetarkan sekujur tubuh saya. > > > > > > Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya > > > benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu > > > menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! > > > > > > Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air > > > mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! > > > Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. > > > > > > Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan > > > Kaki Berkata. Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada > > > kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. > > > > > > Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan > > > menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari > > > Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. > > > > > > Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana > > > bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau > > > sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan > > > saat mencoba merekam di studio. > > > > > > Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan > > > lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah > > > saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri! > > > > > > Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah > > > senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung > > > mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa > > > ditunda lagi. > > > > > > Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, > > > menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan > > > susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. > > > > > > Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan > > > tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan > > > lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak > > > terulang! > > > > > > Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, > > > rasanya ingin berlari! Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting > > > dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di > > > dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya > > > yang paling dalam selama menyanyi. > > > > > > Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. > > > > > > Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan > > > luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak > > > menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan > > > Hari Akhir di hari kiamat kelak. > > > > > > Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin > > > Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin > > > biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin > > > akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian > > > sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut. > > > > > > > > > http://www.youtube.com/watch?v=sHOQHgOtBfc&feature=related > > > > > > > > > > > > ================= > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
