Hehehe.... si habe ini selain kayak anjing gila, jg kayak kodok buduk dlm 
tempurung, ga tau apa2 selain apa yg ada dlm tempurungnya. Udah dungu, tp 
kaing2nya keras, buat pamerin kedunguannya.

Tp emang kalo ga kaing2 ga keruan, apa lagi yg bisa dilakukan oleh si habe?




>________________________________
>From: Habe Proletar <[email protected]>
>To: [email protected]
>Sent: Thursday, July 14, 2011 4:37 PM
>Subject: Re: [proletar] Keliru Menyalahkan Pers
>
>
>  
>majalah Tempo itu bagus dan berkelas
>Jakarta globe juga korang yang handal
>
>tem, lu sebagai expat  tester air kencing onta di arab
>ngga punya kemampuan untuk meneliti dunia pers di Indonesia
>
>sarap sia'
>
>________________________________
>From: item abu <[email protected]>
>To: "[email protected]" <[email protected]>
>Sent: Thu, July 14, 2011 1:31:57 AM
>Subject: Re: [proletar] Keliru Menyalahkan Pers
>
>Padahal pers itu sebetulnya jg ga becus dan bajingan jg. Liat aja cara mereka 
>maksa2 mau ngedapatkan berita dgn mau nerobos rumah orang dan ga ngehormatin 
>privacy orang lain. Atau liat cara mereka bikin berita ga pantas dgn ngasih 
>liat 
>mayat orang atau ngasih liat muka PSK yg diuber2 satpol PP.
>
>Yg namanya pers itu ga becus nyari berita selain nunggu muntahan aja. Mereka 
>kadang cuma nongkrong di kantor polisi nunggu polisi mau melakukan sesuatu, 
>mereka sendiri ga becus nyari berita sendiri.
>
>Jadi ga heran kalo kasus Nazaruddin misalnya pada akhirnya jg ga akan ada 
>ujung 
>pangkalnya, cuma ngegantung selamanya.
>
>>________________________________
>>From: sunny <[email protected]>
>>To: [email protected]
>>Sent: Thursday, July 14, 2011 4:27 PM
>>Subject: [proletar] Keliru Menyalahkan Pers
>>
>>
>> 
>>Refl: SBY adalah mantan jenderal militer, jadi tahu taktik, "pertahanan 
>>terbaik 
>>adalah menyerang", cuma saja terlambat dan lagi membabibuta taktiknya ini, 
>>ibarat orang  tengelam baru mau belajar berenang. 
>>
>>
>>http://www.tempo.co/hg/opiniKT/2011/07/13/krn.20110713.241818.id.html 
>>
>>Keliru Menyalahkan Pers
>>Rabu, 13 Juli 2011 | 01:14 WIB
>>
>>Terseretnya politikus Partai Demokrat dalam kasus korupsi mestinya membuat 
>>partai ini berintrospeksi. Tapi Ketua Dewan Pembina Demokrat Susilo Bambang 
>>Yudhoyono justru menyalahkan pers. Pemberitaan media dianggap memecah-belah 
>>partai. Ia bahkan mempertanyakan cara kerja dan kredibilitas pers. 
>>
>>
>>Orang yang tak mengikuti skandal proyek pembangunan wisma atlet di Palembang 
>>bisa terkecoh oleh pidato politik Yudhoyono itu. Pers seolah terlalu 
>>membesar-besarkan kasus yang melibatkan bekas Bendahara Umum Demokrat M. 
>>Nazaruddin tersebut. Padahal persoalan ini semakin disoroti justru karena 
>>Nazaruddin seolah sengaja diminta kabur ke luar negeri. Negara hukum kita 
>>terkesan tak berdaya menghadapi ulah politikus ini. 
>>
>>
>>Dari penelusuran pers, peran Nazaruddin pun amat sentral dalam kasus itu. 
>>Sejak 
>>awal ia terlibat dalam pengaturan proyek bersama koleganya serta Sekretaris 
>>Menteri Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam, yang kini jadi tersangka. Anggota 
>>Badan Anggaran DPR ini juga disebut-sebut terlibat dalam pengaturan agar PT 
>>Duta 
>>Graha Indonesia memenangi tender proyek senilai Rp 190 miliar tersebut. 
>>
>>
>>Kongkalikong seperti itu diduga dilakukan pula dalam banyak proyek lain yang 
>>total nilainya mencapai triliunan rupiah. Tak sekadar mengatur pemenang 
>>tender, 
>>perusahaan Nazaruddin kerap kali menangani proyek secara langsung. Perusahaan 
>>milik politikus ini, seperti PT Anugrah Indonesia dan PT Mahkota Negara, 
>>pernah 
>>tercatat sebagai pemenang tender di Kementerian Pendidikan Nasional.
>>
>>Permainan yang melibatkan pengusaha, pejabat, dan politikus Senayan itu tentu 
>>menghasilkan berlimpah fulus. Diperkirakan dari sinilah sumber dana untuk 
>>menggerakkan roda partai politik sekaligus memakmurkan pengurusnya. Modus 
>>kuno 
>>ini seakan malah semakin merajalela di era reformasi sekarang. Praktek ini 
>>menyumbang terhadap buruknya rapor indeks korupsi Indonesia. Tahun lalu, 
>>survei 
>>yang diselenggarakan oleh Political and Economic Risk Consultancy menunjukkan 
>>Indonesia sebagai negara terkorup di kawasan Asia-Pasifik.
>>
>>Betapa kacaunya negara ini bila praktek kotor seperti itu tidak segera 
>>dihentikan. Ratusan triliun rupiah anggaran negara kita selama ini sudah 
>>dihabiskan untuk menggaji para pejabat negara, termasuk anggota DPR, dan 
>>pegawai 
>>negeri. Sementara itu, anggaran pembangunan dan pengadaan juga bocor 
>>gara-gara 
>>praktek permainan proyek.
>>
>>Mestinya Yudhoyono memahami betul persoalan tersebut. Ini bukan sekadar soal 
>>nyanyian Nazaruddin yang menuding sejumlah rekannya di Demokrat terlibat atau 
>>menerima duit dari patgulipat proyek. Ini menyangkut masalah yang lebih besar 
>>lagi karena terlalu banyak anggaran negara yang bocor dan tak bisa dinikmati 
>>rakyat. 
>>
>>
>>Menghentikan permainan tender itu amat penting agar anggaran bisa digunakan 
>>secara efisien. Membersihkan sekaligus menyelamatkan Partai Demokrat juga 
>>penting karena partai inilah yang kini mengelola negara. Dua agenda yang 
>>semestinya menjadi perhatian Presiden Yudhoyono ini akan lebih mudah 
>>diselesaikan jika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. 
>>
>>
>>Publik tentu heran karena ternyata bukan soal itu yang diprioritaskan oleh 
>>Yudhoyono. Ia justru mempersoalkan pemberitaan kasus Nazaruddin, hal yang 
>>dianggap lumrah dan masih sesuai dengan kaidah jurnalistik oleh Dewan Pers.
>>
>>[Non-text portions of this message have been removed]
>>
>>
>> 
>>
>>
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> 
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke