Tanggal 08 October 2013

PADANG — Perusahaan migas asal Prancis, Total E&P Indonesie bersiap-siap
melakukan eksplorasi Blok Mentawai tahun depan. Gubernur Irwan Prayitno
yang dihubungi Singgalang tadi malam menyebutkan, eksplorasi tersebut akan
menambah pendapatan bagi Sumatera Barat. “Pengaturan perimbangan keuangan
diatur pemerintah pusat,” katanya.

Dijelaskan Irwan, Sumbar dan Bengkulu sama-sama diuntungkan oleh eksplorasi
minyak itu.
Eksplorasi
Perusahaan penghasil gas terbesar di Indonesia itu, menurut Kepala
Departemen Hubungan Media Total Kristanto Hartadi, sedang menghitung nilai
investasinya yang diperkirakan besar.
“Eksplorasi di laut dalam lebih mahal daripada di darat,” kata dia yang
dilansir republikaonline, Senin (7/10).
Total E&P Indonesia Mentawai B.V menargetkan pengeboran untuk eksplorasi di
lepas pantai Blok Bengkulu I Mentawai dapat dilakukan pada Oktober 2014.
District Manager Total E&P Indonesia Mentawai B.V Avep Disasmita mengatakan
pengeboran itu guna melihat kandungan yang ada di perut bumi Bengkulu.
Jika terbukti mengandung minyak dan gas (migas) maka akan dilakukan
pemetaan yang lebih dalam.
“Pengeboran di lepas pantai itu akan dilakukan di kedalaman kurang lebih
950 meter. Operasinya sekitar 60-90 hari,” katanya.
Tahapan eksplorasi yang direncanakan perusahaan akan memakan waktu selama
tiga tahun mulai dari environmental baseline assessment (EBA), survei
geofisika, pengeboran sampai survey seismik 3 dimensi di lepas pantai
Bengkulu itu.
Dari beberapa tahapan itu, menurut  Avep, investasi yang paling mahal ada
pada tahap pengeboran. Pengeboran ini sendiri nantinya dapat dilakukan
dengan dua jenis anjungan, drillship dan semi submersible rig.

“Investasi yang paling mahal di situ [pengeboran] karena butuh sewa
anjungan. Nilai total investasi untuk eksplorasi selama tiga tahun ke depan
sebesar US$40 juta atau sekitar Rp400 miliar,” katanya.
Menurut Avep Blok Bengkulu I, Mentawai ini merupakan tantangan bagi Total
E&P Indonesia karena belum ada perusahaan migas yang beroperasi di pesisir
Bengkulu.
“Kami ingin membuktikan dari segi geologi, berdasarkan umur batuan, apakah
ada oil and gas yang terjebak di sana,” ujarnya.
Total optimistis eksplorasi ini dapat berhasil karena pihaknya sudah
memiliki pengalaman kegiatan migas di laut dalam Afrika, yaitu di Nigeria
dan Angola.
Menurutnya, kali ini adalah kesempatan Total untuk membawa teknologi yang
diterapkan di laut dalam Afrika ke Indonesia.
Blok Bengkulu I Mentawai sendiri merupakan blok yang dipegang Total sejak
ditandatanganinya kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC)
antara perusahaan dengan pemerintah lewat SKK Migas pada Oktober 2012.
Total sendiri menjadi pemegang 100 persen participating interest dari PSC
ini.
Blok eksplorasi ini terletak di kawasan lepas pantai Selat Bengkulu yang
meliputi wilayah seluas 8.034 kilometer persegi dengan kedalaman laut
berkisar 400-1.000 meter.
GM Total E&P Indonesia Mentawai B.V mengatakan pihaknya bangga Total
mendapatkan blok eksplorasi yang merupakan blok pertama perusahaan untuk
wilayah lepas pantai Sumatra Barat.
“Hal ini menunjukkan kompetensi kami yang kuat untuk menghadapi tantangan
yang unik yang ada di kawasan ini,” katanya.
Kepala SKK Migas Perwakilan Sumatra Bagian Selatan Setia Budi mengatakan
Bengkulu memang baru memulai kegiatan operasi migas pada 2012.
Dia mengatakan wilayah kerja KKKS Migas dan CBM banyak tersebar di Sumsel
dan Jambi. Sedangkan sebaran di Lampung, Bengkulu dan Bangka Belitung yang
dibawah pengawasan SKK Migas Sumbagsel relatif sedikit.
“Jumlah KKKS Migas dan CBM serta mitra Pertamina di wilayah kami terdapat
79 perusahaan. 43 sudah berproduksi dan sisanya masih status eksplorasi,”
katanya.
Di bawah kuota
Pemerintah memperkirakan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi sampai
akhir 2013 berada di bawah kuota APBN Perubahan yang ditetapkan 48 juta
kiloliter.
Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengatakan, sampai akhir 2013,
pihaknya memprediksi konsumsi BBM subsidi mencapai 47,4 juta-47,5 juta
kiloliter. “Masih di bawah kuota APBN sebesar 48 juta kiloliter,” katanya.
Menurut dia, per jenis BBM, konsumsi solar memang kemungkinan di atas kuota
yang ditetapkan. Namun, untuk premium dan minyak tanah diperkirakan di
bawah kuota sehingga secara keseluruhan juga lebih rendah dari 48 juta
kiloliter.
Susilo mengatakan, penyebab konsumsi BBM subsidi di bawah target, antara
lain kenaikan harga dan konversi ke biodiesel, selain juga penegakan hukum.
Vice President Fuel Retail Marketing PT Pertamina (Persero) Muchamad
Iskandar mengatakan realisasi konsumsi BBM subsidi sampai September 2013
adalah 34,3 juta kiloliter.
Realisasi itu naik satu juta kiloliter dibandingkan periode sama tahun lalu
sebesar 33,3 juta kiloliter. “Sekitar tiga persen naiknya,” katanya.
Kenaikan terbesar terjadi pada jenis premium yakni 4,4 persen dengan
konsumsi sampai September 2013 sebesar 21,82 juta kiloliter, dibandingkan
2012 sebanyak 20,9 juta kiloliter. Disusul solar naik 1,4 persen dengan
konsumsi 11,68 juta kiloliter, sementara pada tahun 2012 sebesar 11,52 juta
kiloliter. Konsumsi minyak tanah turun 0,06 persen dari 0,88 juta menjadi
0,83 juta kiloliter. (006)

http://hariansinggalang.co.id/blok-mentawai-segera-dieksplorasi/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke