Pak  MN. Pak  Prof Perry Burhan  Imam Sati , sanak dipalanta n.a.h

Menyelamatkan anak jalanan dan fakir-miskin peminta-minta lainnya
Sudah jadi kebiasaan birokrat kita selalu berpedoman ke Ibu Kota, memang
ada satu dua bisa berbeda tapi dalam soal anjal dan peminta-minta ini masih
sama saja sikapnya. Apa tidak  ada kemungkinan anjal dan peminta-mimta ini
bydesign untuk kepentingan sesuatu atau multi kepentingan oleh sekelompok
golongan di negeri ini. Kedengaran aneh, masa anjal dan peminta-minta
kemiskinan di design Kita lihat ibu kota Jakarta. Macam-macam perda sudah
ada, pokoknya dilarang berada di Jakarta  kalau tak ada pekerjaan tetap
apalgi hanya untuk mengemis musiman. Mungkin kita tidak tahu apa yang
terjadi dibelakang pimpinan yang resmi, bahwa Jakarta memang dipimpin
seorang Gubenur, ya,  tapi apalah arti seorang gubenur jika dikelilingi
pejabat  yang lebih tinggi dari nya. Oknum-oknum  pejabat ini mungkin ada
kepentingan untuk memasukan pengemis benaran atau pura-pura  termasuk anjal
ke Ibu kota. Kalau tidak ada oknum pejabat yang punya kepentingan,  sudah
lama peminta-minta  dan anjal ini bisa diatasi. Kita masih ingat waktu Pak
Ali Sadikin ingin menertibkan Jakarta dengan perda 14/P/DPRD/1970, belum
lagi berjalan sempurna datang Gubenur baru  pak Tjokropranolo (Bang Nolly)
periode 1977-82, punya ide baru, kemauan sendiri atau suruhan tak
tahulah,  *beliau
secara halus menyatakan pendatang ke Jakarta tak usah dilarang.* Mulai dari
saat itu membanjirlah Jakarta didatangi gepeng, pemulung, anjal dll dari
Timur ke Jakarta (maksudnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mengalir ke
Jakarta). Mungkin begitulah kondisi kebatinan oknum pejabat dari daerah
asal gepeng cs itu. Sekarang kepentingan apa harus banyak mengalir dari
Timur itu ke Jakarta, ini mungkin multi kepentinghan. Salah satu yang
terbayang oleh saya bagaimana kebutuhan UMNO Malaysia memerlukan tambahan
suara untuk memenangkan pemilunya dizaman orde baru dulu itu, Malaysia
pesan penambahan  suara dari Indonesia dengan jalan memasukkan suara itu
via TKI/TKW dari Indonesia. Permohonan Malaysia itu distujui pak
Harto. Sekarang
jadi pertanyaan kita apakah peminta-minta  dan anjal yang ada di kota-kota
besar Sumbar sekarang ini kemungkinan adalah peminta-minta dan anjal
impor. Sebaiknya
ini diinventarisasi, kalau memang barang impor, harus dikembalikan. Makanya
bukan tak mungkin yang dilihat Prof Prry  di Manokwari itu, juga barang
impor. Di kota-kota besar Sumbar keberadaan peminta-minta dan anjal  ada
kemungkinan besar  impor,  karena pejabat teras di Sumbar walaupun sudah
OTDA tapi masih banyak yang didudukan dari Jakarta, yang dari Jakarta ini
mungkin banyak yang se ide dengan Bang Nolly. Di Jakarta tak bisa
ditertibkan, karena oknum pejabat penganut bang Nolyy mungkin banyak Kalau
ini yang terjadi apa yang bisa kita pebuat. Pemprof Sumbar harus segera
mengadakan inventarisasi gepeng dan anjal ini, pulangkan mereka baik local
apalgi impor. Mungkin ada jalan,  bagi peminta-minta dan anjal benaran
bikinkan pusat rehabilitasi di Ladang Padi Taman Bunghatta  bekas pos TNI
waktu PRRI dulu perbesar. Memang perlu biaya, harus kerja sama dengan
pusat. Bagi peminta-minta dan anja siluman, pulangkan. Kalau tidak akan
berduyun ke Sumbar untuk multi kepentingan. Kepentingan ini bisa didugalah.
Wass, Maturidi (L/75) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau


Pada 17 Juni 2014 07.17, R. Y. Perry Burhan <[email protected]> menulis:

> Mamak MN,
>
> tahun 2009 ambo satangah taun di manokwari, papua barat, indak ado anjal
> doh, sudah taun 2012 ambo baliak ka manokwari, lah ado nan manadahkan
> tangan di lampu merah, tapi bukan nan barambuik karitiang, tampaknyo datang
> dari arah barat indonesia, baitu pulo ambo ka merauke, indak pulo ado nan
> minta-minta tuh, hanyo sajo kalau mingu pagi banyak nan lalok di selokan
>
> sampai tahun 1984 ambo maninggakan padang nak marantau, alun ado nan
> maambek oto di jalan untuak minta sadaqah atau sumbangan, tapi kini lah
> banyak.
>
> di rantau boyo, alah acok bana satpol pp manjalo anjal dan dibaok ka
> liponsos untuak dibina, tapi baitu satpol pp (pemkot) lengah, nyo lah
> banyak pulo baliak.
> tapi ado nan miris ambo mancaliaknyo, tanyato anak jalanan ko tibo ka
> simpang jalan tu diangkuik jo oto, tamasuak nan maintak-mintak ka
> rumah-rumah, ruponyo dianta jo oto, diturunkan di suatu tampek untuak
>  manyebar. tampaknyo kalau ado peluang, ado sajo nan mamanfaatkan. ado
> "pengusaha" anjal atau peminta-minta yang taruih manyebarkan anjal ko
> untuaknyo eksploitasi.
>
> rancak perda nan alah ado di dki, sia nan maagiah kepeang ka anjal di
> dando, karano kabanyakan anjal ko adolah eksploitasi pihak tertentu.
>
> baa lah di tampek awak ?
> kalau ambo usul iyo nan maagiah, diagiah sanksi, kalau nak ber amal, kan
> indak harus mambuek kondisi manjadi indak rancak di nagari kito.
>
> itu saketek dek ambo, kok salah di paelok i, kok ado nan batue, kito cubo
> manerapkannyo.
>
> salam\
> imam sati / 55
> rantau boyo
>
>
> 2014-06-17 4:38 GMT+07:00 'Mochtar Naim' via RantauNet <
> [email protected]>:
>
>  o [email protected]
>>  <https://us-mg61.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=evfubbj8muo54#>
>> Jun 16 at 9:22 PM
>>
>>  MENYELAMATKAN ANAK JALANAN DAN FAKIR-MISKIN PEMINTA-MINTA LAINNYA
>> Published  August 28, 2009 Naskah 2007
>> <http://mochtarnaim.wordpress.com/category/naskah-2007/> Leave a Comment
>> <http://mochtarnaim.wordpress.com/2009/08/28/menyelamatkan-anak-jalanan-dan-fakir-miskin-peminta-minta-lainnya/#respond>
>>
>>  JSR No. 39, 10 Februari 2007
>> SIAPAPUN yang berkunjung ke Singapura atau banyak negara lainnya yang
>> perduli dengan nasib anak jalanan alias “anjal” dan fakir-miskin
>> peminta-minta lainnya tidak akan melihat mereka bergelandangan di
>> jalan-jalan dan di tempat-tempat strategis lainnya seperti yang kita lihat
>> sebagai pemandangan biasa di kota-kota di Indonesia ini.
>> Ke mana mereka?
>> Mereka tidak ke mana-mana. Mereka diberikan pilihan: kembali kepada
>> lingkungan keluarga atau dikumpulkan di rumah-rumah pemeliharaan. Yang
>> kedapatan meminta-minta di tempat-tempat umum ditangkapi dan dimasukkan ke
>> rumah-rumah pemeliharaan. Yang berkecenderungan kriminal dikirim ke
>> rumah-rumah rehabilitasi anak-anak nakal. Di rumah-rumah pemeliharaan
>> itulah mereka direhabilitasi, fisik maupun mentalnya. Yang sakit diobati,
>> yang cacad diselamatkan, yang tak bersekolah dari anak-anak anjal itu
>> disekolahkan, dan yang tak bekerja diberikan pekerjaan. Orang-orang cacad
>> diberikan pekerjaan yang setimpal dengan keadaannya. Prinsipnya, tidak ada
>> yang sakit, yang tak bersekolah dan yang tidak bekerja. Orang buta, lumpuh,
>> cacad badan lainnya disesuaikan pekerjaannya dengan kemampuan dan keadaan
>> fisiknya, sehingga bersualah pepatah Minang lama: yang buta penghembus
>> lesung, yang pekak peletus bedil, yang lumpuh pengejut ayam (menjaga
>> jemuran padi di halaman).
>> Pemerintah sementara itu mewajibkan kepada semua badan usaha untuk
>> menerima orang-orang cacad yang bisa bekerja sesuai dengan keadaan dirinya
>> itu, dan menyediakan bahagian tertentu dari keuntungan perusahaan untuk
>> turut menanggulangi pembiayaan usaha bakti sosial yang dikelolakan oleh
>> pemerintah ini.
>> Bisakah itu dilakukan di Indonesia ini? Jawabnya: Kenapa tidak! UUD 1945
>> Fasal 34 malah menginstruksikan agar fakir miskin dan anak-anak terlantar
>> dipelihara oleh negara. Sementara yang kita maksudkan di sini barulah fakir
>> miskin dan anak-anak terlantar yang meminta-minta di jalanan dan di
>> tempat-tempat strategis lainnya.
>> Lalu kenapa tidak dilakukan?
>> Satu, karena piramida pelayanan publik terbalik. Dasarnya ke atas,
>> ujungnya yang runcing ke bawah. Artinya, bahagian terbesar dari dana
>> pelayanan publik diberikan kepada kelompok atas yang kekuasaan dan
>> kekayaannya sudah melimpah yang mestinya melayani, tetapi nyatanya
>> dilayani, sementara hanya tetesan kecil yang turun menetes kepada kelompok
>> bawah yang merupakan bahagian terbesar dari rakyat Indonesia yang masih
>> dirundung oleh kemiskinan ini.
>> Tanyakan lagi: kenapa demikian?
>> Dua, karena budaya primordial Indonesia yang menggerogoti budaya
>> birokrasi Indonesia itu yang sesungguhnya melatar-belakangi dan
>> mengendalikan pelayanan publik itu. Orientasi budaya feodal, nepotik dan
>> paternalistik Indonesia mengharuskan pelayanan prima diberikan terlebih
>> dahulu kepada para petinggi dan pejabat negara, sivil maupun militer, baik
>> di bidang eksekutif, legislatif maupun yudikatif, sementara rakyat di
>> bawahnya adalah para kawula yang melayani keinginan dari para penguasa itu.
>> Ungkapan konstitusi bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat (fasal 1 ayat
>> 2), dan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
>> adalah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (fasal 33 ayat 3), itu jadinya
>> hanyalah isapan jempol belaka yang sifatnya mengelabui.
>> Tiga, tuntutan konstitusional yang mengharuskan terciptanya masyarakat
>> yang demokratis, adil dan sejahtera, itu hanya angan-angan atau mimpi buruk
>> yang dalam prakteknya dihalangi berlakunya oleh lapisan tebal budaya
>> primordial yang feodalistik, nepotik dan paternalistik itu.
>> Oleh karena itu, jika memang mau menciptakan masyarakat dan negara yang
>> demokratis, adil dan sejahtera itu, maka halangan budaya primordial ini
>> yang harus dibuang jauh terlebih dahulu. Dan kita harus tega melakukannya,
>> yang tadinya di awal kemerdekaan sudah disingkirkan tetapi kemudian sejak
>> Orde Lama, kemudian Orde Baru, malah berlanjut sampai ke era Reformasi
>> sekarang ini. Buktinya, dalam keadaan sekarangpun, Indonesia masih
>> tergolong ke dalam kelompok negara terkorup di dunia; nomor 3 di dunia dan
>> nomor 1 di Asia dan Asia Tenggara. Korupsi adalah manifestasi dari
>> ketidak-perdulian elit kekuasaan dengan menggerogoti kekayaan negara yang
>> mestinya dipakai untuk penyejahteraan rakyat terbanyak itu.
>> Tanpa disadari, sistem pemerintahan yang berlaku sekarang sudah
>> terkontaminasi sedemikian jauh dan sedemikian rupa oleh pengaruh budaya
>> primordial feodalistik-nepotik-paternalistik ini sehingga tanpa usaha yang
>> sistematik dan sistemik untuk membuang jauh budaya primordial yang sudah
>> tidak cocok lagi dengan tuntutan dunia moderen ini akan tetap melekat pada
>> sistem birokrasi Indonesia secara keseluruhan.
>> Per definisi, oleh karena itu, tidak mungkin kita mengangkatkan nasib
>> rakyat bawahan ini manakala kita masih melanggengkan unsur budaya
>> primordial feodalistik-nepotik-paternalistik yang tumbuh dari akar
>> kebudayaan kita sendiri itu.
>> Upaya untuk mengentaskan kemiskinan, dan khususnya upaya untuk
>> menyelamatkan anak-anak jalanan dan fakir-miskin peminta-minta itu, tidak
>> mungkin tidak dan harus dijadikan sebagai program nasional yang
>> dilaksanakan serentak di semua daerah secara menyeluruh. Programnya bisa
>> bertahap tetapi penjadwalannya harus pasti-pasti dan sudah terselesaikan
>> dalam waktu yang tidak terlalu lama. Katakanlah dalam jangka waktu satu
>> masa RPJP, 10 atau 20 tahun. Caranya bagaimanapun tidak bisa santai tetapi
>> bersungguh-sungguh dan dengan segenap daya dan upaya.
>> Khusus untuk penanggulangan anak jalanan dan fakir-miskin peminta-minta,
>> di kota-kota, setiap pemerintahan kota sudah harus punya program dan punya
>> jadwal yang tentu-tentu dan pasti-pasti bagaimana menerapkan program itu.
>> Sudah barang tentu harus dimulai dengan pendataan yang relatif sebenarnya
>> sederhana, karena anjal dan fakir-miskin peminta-minta itu secara fisik ada
>> di hadapan mata semua orang dan gampang didata.
>> Dengan diketahuinya jumlah mereka itu, berikut diatur strategi
>> penanggulangan yang bisa bertingkat tetapi saling terkait. Ketika sarana
>> dan prasarana untuk penanggulangan, berikut aspek pendanaan dan
>> hukum-peraturannya sudah disiapkan, barulah peluit pelarangan mereka
>> berkeliaran dan bergelandangan di jalanan dibunyikan. Dan mereka satu per
>> satu diproses dan disalurkan ke tempat-tempat rehabilitasi yang sudah
>> disiapkan, atau dipulangkan ke kampung halaman mereka dengan biaya
>> pemerintah.
>> Untuk ini perlu memang koordinasi dan kerjasama dengan semua pemerintah
>> daerah, kabupaten, kota, kecamatan, sampai ke nagari-nagari, sehingga
>> anjal-anjal dan fakir miskin yang berkeliaran di kota-kota itu, dengan
>> koordinasi dan kerjasama serta kesepakatan bersama itu, pertama-tama mereka
>> dipulangkan ke daerah dan kampung mereka masing-masing. Adalah tugas dari
>> kampung dan daerah masing-masing itulah untuk mengembalikan mereka kepada
>> habitat, lingkungan keluarga masing-masing. Adalah tugas dari dinas sosial
>> serta usaha sosial dari LSM ataupun Ormas dari daerah bersangkutan untuk
>> memastikan bahwa anak-anak dan fakir miskin itu diterima kembali di
>> lingkungan keluarga mereka dengan santunan atau jaminan sosial yang mereka
>> perlukan.
>> Dengan cara demikian, pemerintah atas nama negara, melaksanakan tugas
>> konstitusionalnya seperti yang diamanahkan dalam fasal 34 UUD 1945 itu:
>> “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Masyarakat
>> dengan ormas dan LSMnya dan dengan kepemimpinan tungku nan tigo sajarangan
>> di nagari-nagari juga tidak kurang bertanggung-jawabnya dalam turut
>> bersama-sama menanggulangi aib sosial yang ada di muka mata semua kita ini.
>> Sebenarnya malu kita jadi orang Minang dan sekaligus orang Islam dengan
>> kita membiarkan dan tidak berbuat apa-apa terhadap mereka yang sesungguhnya
>> perlu disantuni dan dipelihara ini.
>> Yang diperlukan sekarang adalah niat yang diikuti dengan “azam,” yaitu
>> tekad bulat kita untuk melakukan dan memulainya, dan melakukannya secara
>> bernegara dan bermasyarakat secara serentak dan bersama-sama. Karenanya
>> juga perlu Perda atau Perpu dan UU sekalipun untuk penguatannya secara
>> hukum, di samping juga masuk ke dalam rencana anggaran negara dan daerah.
>> Mari kita buktikan bahwa untuk ini kita bisa, sebagaimana juga
>> ditunjukkan oleh negara-negara beradab lainnya yang berhasil
>> menanggulanginya. ***
>>
>>  --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>
>
>
> --
> *R. Y. Perry Burhan, Prof., Dr.*
> Laboratorium Geokimia Molekuler
> Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
> Kampus ITS Keputih
> Surabaya 60111
> Tel. +62 31 594 33 53
> Faks. + 62 31 592 83 14
> Tel. portatif +62 811 313 1810; +62 812 30 00 22 59
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke