Pak Wawo dan milister semuanya ysh, 
   
  Peribahasa mengatakan ... kalo tidak memberikan PR .. maka  itu bukan pak 
guru  Wawo namanya .......
  Kemarin pak Wawo memberikan PR yang sulit ....... :
  “.......Tapi pertanyaan yang ingin kita susun adalah  bagaimana akar-akar 
budaya ini telah membentuk suatu modal kreatip atau kelas kreatip. ...
  ......Barangkali sebagai tantangan saya lemparkan issue  'black berry'  
(suatu hp yang ada mesintiknya) and how that might shape the future creative 
society?
  Kalau issue yang rada enteng barangkali : what will happen to Singapore if 
the global financial crunch will come (barangkali BTS sudah ada dugaannya)
  atau lebih mudah lagi:  what role will  global airports have for future 
tourist or travel patterns.(well anymore creative questions ).......”.
   
  Saya lupa persisnya... Dan belum sempat mengeceknya kembali  ... Apakah 
asalnya ada hubungan atau tidak antara diskusi kita  ’kelas kreatif’ dan 
statemen  Menko Boediono atau Menteri Marie Pangestu tentang perhatian lebih 
untuk mendongkrak peran  Industri Kreatif dalam perekonomian kita........ 
  Tapi dari teknologi mutakhir dunia... world creativity  dan ‘kelas kreatif 
Indonesia’ ......dalam hubungannya dengan teknologi   ‘blackberry’...... kalo 
harus menjawab PR-nya pak Wawo ........ 
  Kalo bicara tentang kelas kreatif dan  potensi perannya dalam pembangunan 
nasional  Indonesia .. itu nanti jawabnya  sedikit panjang......  tapi  tentang 
blackberry  dulu ... (juga tentang beberapa  produk teknologi mutakhir lainnya 
yang mahal)  ...... dalam kaitan dengan creative society di Indonesia..........
  Saya melihat bahwa teknologi mutakhir  dan hubungannya dengan masyarakat 
Indonesia ....... sebagiannya masih  lebih merupakan hubungan-hubungan  bahwa  
..... saya punya cukup uang (tak penting darimana, nggak usah nanya) ) ..... 
dan saya bisa membelinya ... dan kalo saya tak mampu menghubungkannya dengan 
peningkatan  produktivitas diri saya serta inovasi lebih lanjut.... atau 
apalagi kaitannya dengan pembangunan nasional......... itu toh  bukan kewajiban 
saya .... karena yang penting  saya pikir saya akan terlihat canggih.....  kalo 
saya bisa sering-sering memperlihatkannya didepan umum.... begitu.... 
hehe...... 
  Yah ... dalam penggunaan sehari-hari  di Indonesia ... blackberry masih 
banyak dipakai sekedar untuk alat komunikasi wanita karier dengan rumah seperti 
“Nak... bilang ke bibik ... sup jangan lupa dipanasin ya ”.... atau untuk 
berhaha-hihi dan bergosip dengan tetangga dalam milis kompleks perumahan 
......... yang terlihat canggih kalo dikirimnya saja dari tengah jalan sambil  
mobil melaju dijalan raya.......... 
  Atau dimesjid didalam kompleks perumahan untuk sebuah acara belajar membaca 
Al Qur'an untuk ibu-ibu ..... pagi-pagi disatu tempat saya lihat ..... untuk 
jarak-jarak dari rumah yang paling juga tak lebih dari 1  km ke mesjid 
....berderet-deret mobil mewah para student membaca Al Qur'an itu ... BMW 318 
i, Audi A4 TurboFSI, Camry 2.4 MT, Alphard ASG 2.4....  hanya saja yang Hummer 
dari General Motors kok nggak ikut sekalian..... 
   
  Sementara demikian jawaban  untuk PR-nya pak Wawo, mohon pontennya harap yang 
bagus ya pak.......hehe..
   
  Wassalam,
  aby
   
  "Hannie Waworoentoe" <[EMAIL PROTECTED]>  
   
  Rekan-rekan Deden  R. dan Mulya A. 
  Semestinya saya lebih menyelami lagi referensi yang Deden telah sebut dan 
Mulya juga tanggapi, tetapi maklumlah saya memang dari dua atau tiga generasi 
yang lampau namun 'while being retired I cannot say to be tired'  hal yang 
tidak begitu tepat oleh karena ke rekan Hengky A. saya katakan saya jemu (bored 
to hell - kalau mengikuti  indonesian idol - the supposedly  upcoming 
(urban)creative class) 
  tapi sudahlah barangkali ini bisa jadi topic tersendiri  dalam JAKARTA KOQ 
DILAWAN DST – 
  tapi usw peran  "creative class"  ini khususnya di Jakarta  pasti perlu kita 
simak lebih dalam, dan kalian berdua sudah mulai hal ini.  
  Saya juga tidak mau terjebak dalam suatu debat atau pandangan kritik dangkal, 
tapi mungkin saya ingin menggali lebih dalam  hal mana rada susah,  walaupun 
ada suatu pemeo yang mengatakan  'we are indeed surprised that so many that dug 
for dirt actually struck gold'  atau dalam logika petambang mas itu sekali-kali 
memang gali lubang untuk buang kotoran. -  which again opens another vista of 
the potential richness of urban waste in the future. Wah gitulah kalau kita 
ngawur-ngawuran. 
  Tapi  first the observation on Storper, Scott, Soya and perhaps Saskia S, 
bahwa mereka geographer kelas wahid  (kecuali Saskia ) tidak usah kita sangkal, 
 tapi sedikitnya ada dua observasi tambahan, 
  pertama pada waktu planologi itb itu baru merupakan suatu embryo atau idee, 
dua promotor utamanya adalah Kenneth Watts (planning advisor di DKI) dan 
Jaqueline Tyrwhitt (dosen Harvard/MIT) yang keduanya adalah geographers of 
origin but also the first postwar  Townplanning generation di UK,   sedangkan 
ada satu lagi yang ikut tender katanya dari Canada atau UBC atau Toronto yang 
juga geography dept. malahan lembaga itu yang menampung Pak Soekotjo T. yang 
jadi pakar aerial photography  dan remote sensing.  
  Akhirnya juga temuan rekan Eko B di Perancis yang simply said that all 
planning in France is regional geography atau masuk dalam mazhab besar itu.  
  Jadi kalau metaphor penggali tambang emas diatas kita terapkan untuk geografi 
dan planning maka kesimpulannya  adalah:  that those geographers did not 
realize that they hit  (planning) gold, while on the other hand those (stupid) 
planners still were trying to find the rich vein,  atau si planolog masih 
mencari akar emasnya. 
  Well in that case both are stupid, atau tidak bisa menikmati nasibnya. 
  Tetapi bagaimana sebetulnya  masalah creativity itu untuk Betawi kita.  Deden 
sudah coba melihatnya dalam konteks kota-kota yang punya lahan budaya urban 
yang kaya sekali, sedikitnya di New York tapi saya rasa terbesar mungkin di 
urban europe kini dan ini adalah seluruh eropah, oleh karena sudah tidak ada 
lagi non urban europe. 
  Secara sangat hati-hati saya ingin mencoba menarik analisa itu ke Asia 
walaupun masih sangat kasar  
  - Begini 
  di Asia kini kelihatannya secara historis ada dua jalur budaya besar, yang 
satu adalah budaya yang berakar dari India (Hindu) atau Persia yang juga sampai 
ke Indonesia,  sedangkan di Utara ada jalur budaya Cina (Mongol) sampai ke 
Jepang,  pasti para antropolog atau sejarawan budaya bisa memberikan analisa 
yang lebih tepat lagi,
   tapi pertanyaan yang ingin kita susun adalah  bagaimana akar-akar budaya ini 
telah membentuk suatu modal kreatip atau kelas kreatip. 
  Observasi yang sangat gegabah barangkali ingin melihat implikasinya langsung 
dalam perbandingan  India dan Jepang  sekarang. 
  Rasanya Deden dan Mulya bisa melakukan comparison ini. Barangkali sebagai 
tantangan saya lemparkan issue  'black berry'  (suatu hp yang ada mesintiknya) 
and how that might shape the future creative society?
  Kalau issue yang rada enteng barangkali : what will happen to Singapore if 
the global financial crunch will come (barangkali BTS sudah ada dugaannya)> 
  atau lebih mudah lagi:  what role will  global airports have for future 
tourist or travel patterns.(well anymore creative questions )
  Eka Dj rasanya ada cukup bahan untuk  kopi darat berikut kan. 
   
  salam dari Tomohon dan Pak Wawo. 

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke