Wahai orang yang lembut hatinya

Aku tak ada siapapun kecuali Allah di hatiku

Aku hanya ingin menjadi yang halal bagimu

Yang kan kau kecup keningnya



Usai pertemuan Kamis kemarin, malamnya saya sempatkan bersama istri
tercinta memenuhi janji beberapa minggu ini, menonton sinema yang
belakangan ini ramai dibicarakan, "Ayat-ayat Cinta
<http://www.youtube.com/watch?v=6NexBJmIPhI> ". Sebuah karya sastra
dari Habiburrahman el-Shirazy yang diangkat ke layar kaca oleh Hanung
Bramantyo. Sebuah best seller, yang katanya melebihi Da
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2265>  Vinci
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1408>  Code
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1420> .

Selama pertunjukan, terpaksa saya merelakan badan saya menjadi sasaran
cubitan istri saya, terutama gemas setiap kali melihat
`kerelaan' Aisha. Saya hanya fokus pada tokoh Fahri, yang
melihat profilnya mengingatkan saya pada salah seorang rekan dari milis
Referensi yang saat ini sedang study di Perancis; hanya tokoh Fahri ini
sedikit lebih kalem. Kesimpulan sementara saya, sinema ini saya
rekomendasikan kepada Pak BTS untuk ditonton bersama istri, supaya dapat
memahami dan menghayati `jus poligami
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4437> ' di setiap
resto Wong Solo.

Berbicara masalah perkawinan, saya teringat dengan wejangan Pak Bambang
SP beberapa hari sebelum menikah. "Anda mungkin tidak melihat wanita
yang sama setelah 10 tahun perkawinan". Saya akui hal itu setelah
melewati fase tersebut, namun kiranya cinta tumbuh dalam bentuk yang
lain. Evaluasi dan peneguhan perlu dilakukan dalam setiap fase, seperti
pernah disampaikan Pak Djarot
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4220> . Namun poligami
merupakan hal yang berbeda, dibutuhkan suatu keikhlasan dan rasa adil,
atau mungkin definisi tersendiri. Seorang rekan wanita tahun lalu
menyampaikan makna keikhlasan itu dalam 4 hal: "saya mengikhlaskan
suami saya berpoligami dengan syarat: pertama wanita itu tidak lebih
cantik dari saya, kedua dia tidak lebih kaya dari saya, ketiga dia tidak
lebih pintar dari saya, dan keempat langkahi dulu mayat saya". Dan
dalam pandangan makrifat tentang keadilan dari seorang suami: yang tua
harus dihormati, yang muda harus disayangi.

Dalam Ayat-ayat Cinta, pendefinisian cinta bisa bermacam makna: suatu
simpati dan penghargaan terhadap ketulusan, suatu rasa tersembunyi yang
tak terkatakan, hingga suatu dendam tak terbalaskan. Begitu luas dan
dalamnya makna cinta sehingga membutuhkan `ayat-ayat' untuk
menguraikannya. Secarik surat dari Noura kepada Fahri saya kutip dari
salah satu blog, disampaikan di bawah.

Pak Abim, sebelumnya pernah saya mencoba berlatih menulis resensi (Leaf
on Pillow <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1974> , AADC
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/272> , The Last Samurai
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4318> , dan The Last
King of Scotland <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3629>
), dan sekarang coba mengurai sedikit AAC. Mengambil setting lokasi di
Mesir (dan India), sinema ini menyimpan harapan baru bagi suatu
kebangkitan Indonesia. Sebuah kesimpulan yang klise, namun baiklah kelak
saya sambung sedikit analisis amatir saya ini.

Sementara demikian dulu. Salam.

-ekadj





Kepada

Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa dari Indonesia yang lembut hatinya
dan berbudi mulia

Assalamu 'alaikum warahmatullah wa barakatuh.

Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga.
Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi.
Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci air
telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga
selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah
pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk mengungkapkan
segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau baca
suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium
telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian
tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang
yang pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu. Aku
tahu kau telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang tidak
menitikkan air mata untukku.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan mereka dan masa
bodoh dengan apa yang menimpa pada diriku karena mereka diselimuti rasa
bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa diriku, kau
tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu.
Karena orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah
dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera
dalam relung jiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Malam itu aku mengira aku akan jadi gelandangan dan tidak memiliki
siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mau mengetuk pintu neraka
dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi menahan
derita. Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku, datanglah Maria
menghibur dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat
Jibril menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti
kematian. Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan
keberaniannya. Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut
tangannya pada punggungku yang sakit tiada tara. Namun apa yang terjadi
Fahri?

Maria malah menangis dan memelukku erat-erat. Dengan jujur ia
menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani turun dan tidak
berniat turun malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya dengan segala
keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan datanglah
permintaanmu melalui sms kepada Maria agar berkenan turun menyeka air
mata dukaku. Maria tidak mau. Kau terus memaksanya. Maria tetap tidak
mau. Kau mengatakan pada Maria: "Kumohon tuturlah dan usaplah air
mata. Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan.
Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air
matanya dan membawanya ke tempat yang jauh dari linangan air mata
selama-lamanya". Maria tetap tidak mau." Dia menjawab:
"Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa. "
Kemudian dengan nama Isa Al Masih kau memaksa Maria, kau katakan,
"Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih. " Lalu Maria turun
dan kau mengawasi dari jendela. Aku tahu semua karena Maria membeberkan
semua. Ia memperlihatkan semua kata-katamu yang masih tersimpan dalam
handphone-nya. Maria tidak mau aku cium kakinya. Sebab menurut dia
sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan kubasahi dengan air mata
haruku atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu aku tidak lagi
merasa sendiri. Aku merasa ada orang yang menyayangiku. Aku tidak
sendirian di muka bumi ini.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air
mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi
abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi
orang shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan
menjadi puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia
dan tidak akan menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan
ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut
dijadikan santapan serigala.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikit pun menuliskan ini semua.
Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar di
dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku
sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa dibuat
oleh makhluk dhaif seperti diriku.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah aku ingin halal bagimu.
Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku padamu
yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi budakmu.
Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya, kau belai
rambutnya dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih dari
itu. Sangat tidak pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku
berharap menjadi isterimu. Aku merasa dengan itu aku akan menemukan
hidup baru yang jauh dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan dan
kehinaan. Yang ada dalam benakku adalah meninggalkan Mesir. Aku sangat
mencintai Mesir tanah kelahiranku. Tapi aku merasa tidak bisa hidup
tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan
selalu menginginkan kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan diriku.
Meskipun saat ini aku berada di tempat yang tenang dan aman di tengah
keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam, tapi
aku masih merasa selalu diintai bahaya. Aku takut mereka akan menemukan
diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembok bisa berbicara.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Apakah aku salah menulis ini semua? Segala yang saat ini menderu di
dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa. Hatiku
selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang dengan seberkas
cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada
seseorang sekuat rasa cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin mengganggu
dirimu dengan kenistaan katakataku yang tertoreh dalam lembaran kertas
ini. Jika ada yang bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. Aku sudah
siap seandainya aku harus terbakar oleh panasnya api cinta yang pernah
membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku jadi Laila yang mati karena
kobaran cintanya, namun aku tidak berharap kau jadi Majnun. Kau orang
baik, orang baik selalu disertai Allah.

Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku. Wassalamu
'alaikum,

Yang dirundung nestapa,

Noura

Kirim email ke