Bang Eka ysh,

Terima kasih atas resensinya. Saya nonton AAC tiga kali
bersama istri, tanpa harus kena cubit karena memang belum
berniat menambah satu lagi (well, it will.. when pigs fly:)

Sayang saya belum bisa semelankolis Bang Eka untuk
bertutur, hanya dialog yang paling romantis menurut saya
adalah saat Fahri dan Maria berada di tepian sungai Nil
(atau mungkin sungai Ganga, tapi yang jelas bukan kali
Ciliwung atau tepian Toba kita yang "indah") sbb.:


Maria: Kamu percaya jodoh Fahri?

Fahri: Iya, setiap orang mempunyai ....

Maria: ...(memotong)... jodohnya masing-masing. Itu yang
selalu kamu katakan, Fahri.

Fahri: (tertunduk malu)


Tidak biasa seorang gadis begitu ngebet kepada seorang pria
sampai teraba sinyal dari gestur dan terungkap niat dari
ucapan - setidaknya untuk zaman pra-Fatimah Mernissi.
Namun bukan itu - yang  saya ingin garisbawahi adalah bahwa 
kata "masing-masing"
seperti dalam dialog di atas sudah "overused" pada era kita
sekarang ini. Sebuah klise modernisasi.

Saya yakin sutradara Hanung B. ingin mengajak "conscious 
mind" kita berkontemplasi, bahwa suatu saat mungkin apa 
yang menurut kita baik atau buruk itu akan menjadi 
"tergantung pada pribadi masing-masing" atau minimal 
"tergantung sikon." Alias serba relatif.

Misal, ada reporter bertanya kepada artis, "Mbak Luna, 
apakah dugem itu baik?", lalu jawab Mbak Luna, "Oh, itu sih 
tergantung pada pribadi masing-masing." :)  Akan sangat 
celaka apabila sang wartawan lanjut bertanya kepada Om Roy, 
"Apakah narkoba itu berbahaya?" lalu  Om Roy menjawab, 
"Tergantung niatnya." :)

Relativisme atau tergantungisme juga berguna untuk 
melarikan diri dari masalah - apabila kita sedang malas 
berpikir. Misal: "Pak Menteri, apakah Lumpur Sidoarjo 
adalah diakibatkan pemboran Lapindo atau 'force majeure' 
murni?"  Jawab saja dengan tersenyum, "Itu tergantung 
bagaimana Anda melihatnya." Selesai!

Simpulannya? Saya pun sedang malas berpikir, jadi 
tergantung members sajalah ;)

Salam,
Andri


ekadj08 wrote:
> Wahai orang yang lembut hatinya
> 
> Aku tak ada siapapun kecuali Allah di hatiku
> 
> Aku hanya ingin menjadi yang halal bagimu
> 
> Yang kan kau kecup keningnya
> 
>  
> 
> Usai pertemuan Kamis kemarin, malamnya saya sempatkan bersama istri 
> tercinta memenuhi janji beberapa minggu ini, menonton sinema yang 
> belakangan ini ramai dibicarakan, "Ayat-ayat Cinta 
> <http://www.youtube.com/watch?v=6NexBJmIPhI>". Sebuah karya sastra dari 
> Habiburrahman el-Shirazy yang diangkat ke layar kaca oleh Hanung 
> Bramantyo. Sebuah best seller, yang katanya melebihi Da 
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2265> Vinci 
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1408> Code 
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1420>.
> 
> Selama pertunjukan, terpaksa saya merelakan badan saya menjadi sasaran 
> cubitan istri saya, terutama gemas setiap kali melihat `kerelaan' Aisha. 
> Saya hanya fokus pada tokoh Fahri, yang melihat profilnya mengingatkan 
> saya pada salah seorang rekan dari milis Referensi yang saat ini sedang 
> study di Perancis; hanya tokoh Fahri ini sedikit lebih kalem. Kesimpulan 
> sementara saya, sinema ini saya rekomendasikan kepada Pak BTS untuk 
> ditonton bersama istri, supaya dapat memahami dan menghayati `jus 
> poligami <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4437>' di 
> setiap resto Wong Solo.
> 
> Berbicara masalah perkawinan, saya teringat dengan wejangan Pak Bambang 
> SP beberapa hari sebelum menikah. "Anda mungkin tidak melihat wanita 
> yang sama setelah 10 tahun perkawinan". Saya akui hal itu setelah 
> melewati fase tersebut, namun kiranya cinta tumbuh dalam bentuk yang 
> lain. Evaluasi dan peneguhan perlu dilakukan dalam setiap fase, seperti 
> pernah disampaikan Pak Djarot 
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4220>. Namun poligami 
> merupakan hal yang berbeda, dibutuhkan suatu keikhlasan dan rasa adil, 
> atau mungkin definisi tersendiri. Seorang rekan wanita tahun lalu 
> menyampaikan makna keikhlasan itu dalam 4 hal: "saya mengikhlaskan suami 
> saya berpoligami dengan syarat: pertama wanita itu tidak lebih cantik 
> dari saya, kedua dia tidak lebih kaya dari saya, ketiga dia tidak lebih 
> pintar dari saya, dan keempat langkahi dulu mayat saya". Dan dalam 
> pandangan makrifat tentang keadilan dari seorang suami: yang tua harus 
> dihormati, yang muda harus disayangi.
> 
> Dalam Ayat-ayat Cinta, pendefinisian cinta bisa bermacam makna: suatu 
> simpati dan penghargaan terhadap ketulusan, suatu rasa tersembunyi yang 
> tak terkatakan, hingga suatu dendam tak terbalaskan. Begitu luas dan 
> dalamnya makna cinta sehingga membutuhkan `ayat-ayat' untuk 
> menguraikannya. Secarik surat dari Noura kepada Fahri saya kutip dari 
> salah satu blog, disampaikan di bawah.
> 
> Pak Abim, sebelumnya pernah saya mencoba berlatih menulis resensi (Leaf 
> on Pillow <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1974>, AADC 
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/272>, The Last Samurai 
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4318>, dan The Last 
> King of Scotland 
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3629>), dan sekarang 
> coba mengurai sedikit AAC. Mengambil setting lokasi di Mesir (dan 
> India), sinema ini menyimpan harapan baru bagi suatu kebangkitan 
> Indonesia. Sebuah kesimpulan yang klise, namun baiklah kelak saya 
> sambung sedikit analisis amatir saya ini.
> 
> Sementara demikian dulu. Salam.
> 
> -ekadj
> 
>  
> 
>  
> 
> /Kepada /
> 
> /Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa dari Indonesia yang lembut 
> hatinya dan berbudi mulia /
> 
> /Assalamu 'alaikum warahmatullah wa barakatuh. /
> 
> /Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni 
> surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun 
> pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci 
> air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga 
> selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah 
> pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa. /
> 
> /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> 
> /Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk mengungkapkan 
> segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau baca 
> suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium 
> telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya. /
> 
> /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> 
> /Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian 
> tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang 
> yang pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu. Aku 
> tahu kau telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang tidak 
> menitikkan air mata untukku. /
> 
> /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> 
> /Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan mereka dan masa 
> bodoh dengan apa yang menimpa pada diriku karena mereka diselimuti rasa 
> bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa diriku, kau 
> tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu. 
> Karena orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah 
> dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera 
> dalam relung jiwa. /
> 
> /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> 
> /Malam itu aku mengira aku akan jadi gelandangan dan tidak memiliki 
> siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mau mengetuk pintu neraka 
> dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi menahan 
> derita. Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku, datanglah Maria 
> menghibur dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat 
> Jibril menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti 
> kematian. Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan 
> keberaniannya. Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut 
> tangannya pada punggungku yang sakit tiada tara. Namun apa yang terjadi 
> Fahri? /
> 
> /Maria malah menangis dan memelukku erat-erat. Dengan jujur ia 
> menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani turun dan tidak 
> berniat turun malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya dengan segala 
> keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan datanglah 
> permintaanmu melalui sms kepada Maria agar berkenan turun menyeka air 
> mata dukaku. Maria tidak mau. Kau terus memaksanya. Maria tetap tidak 
> mau. Kau mengatakan pada Maria: "Kumohon tuturlah dan usaplah air mata. 
> Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. 
> Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan 
> membawanya ke tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya". 
> Maria tetap tidak mau." Dia menjawab: "Untuk yang ini jangan paksa aku, 
> Fahri! Aku tidak bisa. " Kemudian dengan nama Isa Al Masih kau memaksa 
> Maria, kau katakan, "Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih. " Lalu 
> Maria turun dan kau mengawasi dari jendela. Aku tahu semua karena Maria 
> membeberkan semua. Ia memperlihatkan semua kata-katamu yang masih 
> tersimpan dalam handphone-nya. Maria tidak mau aku cium kakinya. Sebab 
> menurut dia sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan kubasahi dengan 
> air mata haruku atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu aku tidak 
> lagi merasa sendiri. Aku merasa ada orang yang menyayangiku. Aku tidak 
> sendirian di muka bumi ini. /
> 
> /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> 
> /Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air 
> mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi 
> abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi 
> orang shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan 
> menjadi puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia 
> dan tidak akan menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan 
> ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut 
> dijadikan santapan serigala. /
> 
> /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> 
> /Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikit pun menuliskan ini semua. 
> Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar di 
> dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku 
> sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa dibuat 
> oleh makhluk dhaif seperti diriku. /
> 
> /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> 
> /Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah aku ingin halal bagimu. 
> Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku padamu 
> yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi budakmu. 
> Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya, kau belai 
> rambutnya dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih dari 
> itu. Sangat tidak pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku 
> berharap menjadi isterimu. Aku merasa dengan itu aku akan menemukan 
> hidup baru yang jauh dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan dan 
> kehinaan. Yang ada dalam benakku adalah meninggalkan Mesir. Aku sangat 
> mencintai Mesir tanah kelahiranku. Tapi aku merasa tidak bisa hidup 
> tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan 
> selalu menginginkan kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan diriku. 
> Meskipun saat ini aku berada di tempat yang tenang dan aman di tengah 
> keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam, tapi 
> aku masih merasa selalu diintai bahaya. Aku takut mereka akan menemukan 
> diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembok bisa berbicara. /
> 
> /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> 
> /Apakah aku salah menulis ini semua? Segala yang saat ini menderu di 
> dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa. Hatiku 
> selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang dengan seberkas 
> cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada 
> seseorang sekuat rasa cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin mengganggu 
> dirimu dengan kenistaan katakataku yang tertoreh dalam lembaran kertas 
> ini. Jika ada yang bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. Aku sudah 
> siap seandainya aku harus terbakar oleh panasnya api cinta yang pernah 
> membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku jadi Laila yang mati karena 
> kobaran cintanya, namun aku tidak berharap kau jadi Majnun. Kau orang 
> baik, orang baik selalu disertai Allah. /
> 
> /Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku. Wassalamu 
> 'alaikum, /
> 
> /Yang dirundung nestapa, /
> 
> /Noura/
> 
> 

Kirim email ke