Cak H. Andri yang lembut hatinya dan berbudi mulia

Tinggal di Medan nun jauh di sana

Lama tak dijawab bukannya lupa

Tapi awak membanting tulang sibuk bekerja



Nonton AAC tiga kali di Medan Plaza

Istri dibawa sungguhlah rela

Pasrah sudah kehendak cerita

Kalau awak boleh bertanya

Itu yang di rumah, tipikal Aisha?

Alamak, tando-tandonyo, dapat restu rupanya



-ekadj

--- In [email protected], Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Bang Eka ysh,
>
> Terima kasih atas resensinya. Saya nonton AAC tiga kali
> bersama istri, tanpa harus kena cubit karena memang belum
> berniat menambah satu lagi (well, it will.. when pigs fly:)
>
> Sayang saya belum bisa semelankolis Bang Eka untuk
> bertutur, hanya dialog yang paling romantis menurut saya
> adalah saat Fahri dan Maria berada di tepian sungai Nil
> (atau mungkin sungai Ganga, tapi yang jelas bukan kali
> Ciliwung atau tepian Toba kita yang "indah") sbb.:
>
>
> Maria: Kamu percaya jodoh Fahri?
>
> Fahri: Iya, setiap orang mempunyai ....
>
> Maria: ...(memotong)... jodohnya masing-masing. Itu yang
> selalu kamu katakan, Fahri.
>
> Fahri: (tertunduk malu)
>
>
> Tidak biasa seorang gadis begitu ngebet kepada seorang pria
> sampai teraba sinyal dari gestur dan terungkap niat dari
> ucapan - setidaknya untuk zaman pra-Fatimah Mernissi.
> Namun bukan itu - yang saya ingin garisbawahi adalah bahwa
> kata "masing-masing"
> seperti dalam dialog di atas sudah "overused" pada era kita
> sekarang ini. Sebuah klise modernisasi.
>
> Saya yakin sutradara Hanung B. ingin mengajak "conscious
> mind" kita berkontemplasi, bahwa suatu saat mungkin apa
> yang menurut kita baik atau buruk itu akan menjadi
> "tergantung pada pribadi masing-masing" atau minimal
> "tergantung sikon." Alias serba relatif.
>
> Misal, ada reporter bertanya kepada artis, "Mbak Luna,
> apakah dugem itu baik?", lalu jawab Mbak Luna, "Oh, itu sih
> tergantung pada pribadi masing-masing." :) Akan sangat
> celaka apabila sang wartawan lanjut bertanya kepada Om Roy,
> "Apakah narkoba itu berbahaya?" lalu Om Roy menjawab,
> "Tergantung niatnya." :)
>
> Relativisme atau tergantungisme juga berguna untuk
> melarikan diri dari masalah - apabila kita sedang malas
> berpikir. Misal: "Pak Menteri, apakah Lumpur Sidoarjo
> adalah diakibatkan pemboran Lapindo atau 'force majeure'
> murni?" Jawab saja dengan tersenyum, "Itu tergantung
> bagaimana Anda melihatnya." Selesai!
>
> Simpulannya? Saya pun sedang malas berpikir, jadi
> tergantung members sajalah ;)
>
> Salam,
> Andri
>
>
> ekadj08 wrote:
> > Wahai orang yang lembut hatinya
> >
> > Aku tak ada siapapun kecuali Allah di hatiku
> >
> > Aku hanya ingin menjadi yang halal bagimu
> >
> > Yang kan kau kecup keningnya
> >
> >
> >
> > Usai pertemuan Kamis kemarin, malamnya saya sempatkan bersama istri
> > tercinta memenuhi janji beberapa minggu ini, menonton sinema yang
> > belakangan ini ramai dibicarakan, "Ayat-ayat Cinta
> > <http://www.youtube.com/watch?v=6NexBJmIPhI>". Sebuah karya sastra
dari
> > Habiburrahman el-Shirazy yang diangkat ke layar kaca oleh Hanung
> > Bramantyo. Sebuah best seller, yang katanya melebihi Da
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2265> Vinci
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1408> Code
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1420>.
> >
> > Selama pertunjukan, terpaksa saya merelakan badan saya menjadi
sasaran
> > cubitan istri saya, terutama gemas setiap kali melihat `kerelaan'
Aisha.
> > Saya hanya fokus pada tokoh Fahri, yang melihat profilnya
mengingatkan
> > saya pada salah seorang rekan dari milis Referensi yang saat ini
sedang
> > study di Perancis; hanya tokoh Fahri ini sedikit lebih kalem.
Kesimpulan
> > sementara saya, sinema ini saya rekomendasikan kepada Pak BTS untuk
> > ditonton bersama istri, supaya dapat memahami dan menghayati `jus
> > poligami <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4437>' di
> > setiap resto Wong Solo.
> >
> > Berbicara masalah perkawinan, saya teringat dengan wejangan Pak
Bambang
> > SP beberapa hari sebelum menikah. "Anda mungkin tidak melihat wanita
> > yang sama setelah 10 tahun perkawinan". Saya akui hal itu setelah
> > melewati fase tersebut, namun kiranya cinta tumbuh dalam bentuk yang
> > lain. Evaluasi dan peneguhan perlu dilakukan dalam setiap fase,
seperti
> > pernah disampaikan Pak Djarot
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4220>. Namun
poligami
> > merupakan hal yang berbeda, dibutuhkan suatu keikhlasan dan rasa
adil,
> > atau mungkin definisi tersendiri. Seorang rekan wanita tahun lalu
> > menyampaikan makna keikhlasan itu dalam 4 hal: "saya mengikhlaskan
suami
> > saya berpoligami dengan syarat: pertama wanita itu tidak lebih
cantik
> > dari saya, kedua dia tidak lebih kaya dari saya, ketiga dia tidak
lebih
> > pintar dari saya, dan keempat langkahi dulu mayat saya". Dan dalam
> > pandangan makrifat tentang keadilan dari seorang suami: yang tua
harus
> > dihormati, yang muda harus disayangi.
> >
> > Dalam Ayat-ayat Cinta, pendefinisian cinta bisa bermacam makna:
suatu
> > simpati dan penghargaan terhadap ketulusan, suatu rasa tersembunyi
yang
> > tak terkatakan, hingga suatu dendam tak terbalaskan. Begitu luas dan
> > dalamnya makna cinta sehingga membutuhkan `ayat-ayat' untuk
> > menguraikannya. Secarik surat dari Noura kepada Fahri saya kutip
dari
> > salah satu blog, disampaikan di bawah.
> >
> > Pak Abim, sebelumnya pernah saya mencoba berlatih menulis resensi
(Leaf
> > on Pillow <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1974>,
AADC
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/272>, The Last
Samurai
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4318>, dan The Last
> > King of Scotland
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3629>), dan
sekarang
> > coba mengurai sedikit AAC. Mengambil setting lokasi di Mesir (dan
> > India), sinema ini menyimpan harapan baru bagi suatu kebangkitan
> > Indonesia. Sebuah kesimpulan yang klise, namun baiklah kelak saya
> > sambung sedikit analisis amatir saya ini.
> >
> > Sementara demikian dulu. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> >
> >
> >
> > /Kepada /
> >
> > /Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa dari Indonesia yang lembut
> > hatinya dan berbudi mulia /
> >
> > /Assalamu 'alaikum warahmatullah wa barakatuh. /
> >
> > /Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni
> > surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun
> > pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci
sesuci
> > air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga
> > selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada
pernah
> > pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa. /
> >
> > /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> >
> > /Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk
mengungkapkan
> > segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau baca
> > suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil
mencium
> > telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.
/
> >
> > /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> >
> > /Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa
sendirian
> > tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang
> > yang pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu.
Aku
> > tahu kau telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang tidak
> > menitikkan air mata untukku. /
> >
> > /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> >
> > /Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan mereka dan
masa
> > bodoh dengan apa yang menimpa pada diriku karena mereka diselimuti
rasa
> > bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa diriku,
kau
> > tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal
itu.
> > Karena orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang
telah
> > dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera
> > dalam relung jiwa. /
> >
> > /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> >
> > /Malam itu aku mengira aku akan jadi gelandangan dan tidak memiliki
> > siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mau mengetuk pintu
neraka
> > dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi
menahan
> > derita. Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku, datanglah
Maria
> > menghibur dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan
malaikat
> > Jibril menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat
menanti
> > kematian. Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan
> > keberaniannya. Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut
> > tangannya pada punggungku yang sakit tiada tara. Namun apa yang
terjadi
> > Fahri? /
> >
> > /Maria malah menangis dan memelukku erat-erat. Dengan jujur ia
> > menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani turun dan tidak
> > berniat turun malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya dengan
segala
> > keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan datanglah
> > permintaanmu melalui sms kepada Maria agar berkenan turun menyeka
air
> > mata dukaku. Maria tidak mau. Kau terus memaksanya. Maria tetap
tidak
> > mau. Kau mengatakan pada Maria: "Kumohon tuturlah dan usaplah air
mata.
> > Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon.
> > Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya
dan
> > membawanya ke tempat yang jauh dari linangan air mata
selama-lamanya".
> > Maria tetap tidak mau." Dia menjawab: "Untuk yang ini jangan paksa
aku,
> > Fahri! Aku tidak bisa. " Kemudian dengan nama Isa Al Masih kau
memaksa
> > Maria, kau katakan, "Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih. "
Lalu
> > Maria turun dan kau mengawasi dari jendela. Aku tahu semua karena
Maria
> > membeberkan semua. Ia memperlihatkan semua kata-katamu yang masih
> > tersimpan dalam handphone-nya. Maria tidak mau aku cium kakinya.
Sebab
> > menurut dia sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan kubasahi
dengan
> > air mata haruku atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu aku
tidak
> > lagi merasa sendiri. Aku merasa ada orang yang menyayangiku. Aku
tidak
> > sendirian di muka bumi ini. /
> >
> > /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> >
> > /Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan
air
> > mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi
> > abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak
bagi
> > orang shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya
dengan
> > menjadi puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan
manusia
> > dan tidak akan menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan
dan
> > ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut
> > dijadikan santapan serigala. /
> >
> > /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> >
> > /Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikit pun menuliskan ini
semua.
> > Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar
di
> > dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku
> > sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa dibuat
> > oleh makhluk dhaif seperti diriku. /
> >
> > /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> >
> > /Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah aku ingin halal
bagimu.
> > Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku
padamu
> > yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi
budakmu.
> > Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya, kau belai
> > rambutnya dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih
dari
> > itu. Sangat tidak pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku
> > berharap menjadi isterimu. Aku merasa dengan itu aku akan menemukan
> > hidup baru yang jauh dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan dan
> > kehinaan. Yang ada dalam benakku adalah meninggalkan Mesir. Aku
sangat
> > mencintai Mesir tanah kelahiranku. Tapi aku merasa tidak bisa hidup
> > tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan
> > selalu menginginkan kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan diriku.
> > Meskipun saat ini aku berada di tempat yang tenang dan aman di
tengah
> > keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam,
tapi
> > aku masih merasa selalu diintai bahaya. Aku takut mereka akan
menemukan
> > diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembok bisa berbicara.
/
> >
> > /Wahai orang yang lembut hatinya, /
> >
> > /Apakah aku salah menulis ini semua? Segala yang saat ini menderu di
> > dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa.
Hatiku
> > selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang dengan seberkas
> > cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada
> > seseorang sekuat rasa cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin
mengganggu
> > dirimu dengan kenistaan katakataku yang tertoreh dalam lembaran
kertas
> > ini. Jika ada yang bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. Aku
sudah
> > siap seandainya aku harus terbakar oleh panasnya api cinta yang
pernah
> > membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku jadi Laila yang mati karena
> > kobaran cintanya, namun aku tidak berharap kau jadi Majnun. Kau
orang
> > baik, orang baik selalu disertai Allah. /
> >
> > /Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku.
Wassalamu
> > 'alaikum, /
> >
> > /Yang dirundung nestapa, /
> >
> > /Noura/

Kirim email ke