Pak Wawo,
Saya tidak bisa hadir ke Bandung pak karena ada rencana ke kota lain. Nanti
saya baca saja deh ole-ole Bandungnya. Rasanya ilmu saya sudah ga nyambung
dengan segala 'vernacular' itu pak...hehe bukannya itu istilah kedokteran ya
pak? Tapi memang mungkin bisa juga ya dipakai untuk 'city', kalau saya ingat
pelajaran pertama dulu di pl-itb (saya agak ga suka sekarang disebut SAPPK ya,
kok hilang nama pl nya? Berubah jadi arsitektur, kenapa ?) disebut bahwa 'kota
adalah organisme yang hidup', katanya dulu pelajaran planologi dikembangkan
dari ilmu biologi....ya mungkin kita memang harus mempelajari ilmu
hayat/biologi ya pak? Celakanya sekarang kota (apalagi yang besar) di negeri
ini sudah pada kena 'kanker' sudah kena 'kolesterol' jadi macet ke-mana2,
jangan2 bisa 'collaps' atau 'stroke-city' ya pak...?!
Salam - 2ny
Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Reny,
Terima kasih untuk koreksi, maklum saya masih terpesona dengan peristiwa 20
maret di Sari Bundo, tapi memang kalau bisa saya mau ke Bandung 17 april ini
kalau bisa dapat izin, lalu mungkin saya mau coba bikin paper 'sustainable
vernacular cities' nah ini memang satu concern baru kayaknya suatu sintesa
antara vernacularism dan urbanism masa kini. Gimana Reny dateng juga? Salam
Pak Wawo.
----- Original Message ----
From: Reny ansih <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, April 6, 2008 6:21:38 PM
Subject: Re: [referensi] Re: Pak Wawo Re : Menyemai Populasi Kelas Kreatif di
KTI (2)
Pak Wawo,
...cuma mau mengingatkan kayaknya sekarang kan sudah bulan April, ga salah
tuh Bapak mau ke Bandung tanggal 22 Maret? Bukannya acaranya April 2008 ?
Salam - 2ny
Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com> wrote:
Hengky,
Ternyata saya bisa juga susun Kata Pengantar yang saya janjikan itu, serta
saya lampirkan pada posting ini.. Memang ada dua versi, tapi yang baik saya
kira versi yang kedua. Nah kalau Hengky masih ada saran saya bisa
pertimbangkan, soalnya saya memang belum pasti ke Bandung tgl 17 Maret, karena
sudah ada rencana untuk pergi tgl 22 maret, jadi agak terlalu cepat kalau tgl
17. Jadi saya kirim saja lewat posting ini. Mudah-mudahan bisa berkenan. Pak
Wawo.
PS. Sebetulnya saya masih ingin lanjutkan diskussi kita tentang bibir itu,
----- Original Message ----
From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Cc: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Thursday, April 3, 2008 2:28:07 AM
Subject: [referensi] Re: Pak Wawo Re : Menyemai Populasi Kelas Kreatif di KTI
(2)
Pak Wawo ysh,
Terimakasih atas tanggapannya. ... Maaf lho pak... sektor pendidikan
terserempet sedikit.... ini sekedar bagian dari intro untuk penyedap dan
aktualisasi saja pak ..... tujuan akhir saya sih nantinya akan lebih ke
analisis tentang studi kebijakan sektor industri, perdagangan dan investasi...
.. dan migrasi ke KTI......... .
Tentang langkah kebijakan peningkatan mutu pendidikan ¡ala restorasi Meiji¢
dimasa awalnya pengembangan pendidikan tinggi di KTI ... saya kira memang itu
salah satu langkah mula yang strategis... ... saya setuju 100%.. dan
sepertinya memang tidak ada pilihan lain cara inseminasi lebih baik dari
itu......
Hanya bedanya dengan masa Meiji.... kalau yang di KTI banyak yang lalu
nyangkut di KBI dan banyak yang nggak baliki lagi ke KTI ya pak?........
Sementara itu pada Meiji mereka setelahnya lalu balik lagi semua ke Jepang
dan benar benar membangun Jepang dalam segala sektornya... ..dan nggak banyak
yang nyangkut ke bibir Eropa gitu ya pak? (ini disini bapak yang mulai duluan
ngomong bibir lho ya... dulu juga gitu ... bibir pasifik... juga bapak
duluan)..... ..
Eh.. tapi ngomong2 saya masih tetap nunggu kiriman hadiah dari bapak itu
lho.....
Salam,
aby
Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com> wrote: Aby,
Tadinya saya belum ingin menanggapi posting Hengky terakhir yang terutama
menjurus ke KTI. Sebagai bahan referensi saya kira sudah cukup lengkap apalagi
untuk mereka yang belum pernah menyelami atau mengalami KTI itu. Saya juga
tidak akan berpretensi mempunyai suatu gambaran komprehensip terhadap wilayah
lebih setengah Indonesia itu, tetapi ada satu aspek yang Aby telah kemukakan
yaitu perguruan tinggi atau universitas .
Memang ingin saya telaah khususnya, walaupun memang juga tidak bisa terlepas
dari bagian-bagian lainnya yang Aby telah kemukakan.
Setidaknya terdapat 5 perguruan tinggi negeri di SulSel : Unhas, UNM, UIN
Alaudin, Politeknik Mesin Makassar, Politeknik Pertanian Makasar, beberapa
universitas swasta seperti UMI, Univ.45, Unika Atmajaya, UKI-Paulus dsb........
Pada tiap propinsi di KTI setidaknya terdapat masing2 1 univ. negeri seperti
Untad di Palu, Unsrat di Manado,Unhalu di Kendari, Uncen di Papua,Unpati di
Maluku dsb. Tetapi sekedar catatan...... angka kegagalan ujian nasional di
Papua adalah 73% pada 2005..... dan banyak lulusan terbaik dari KTI memilih
memasuki ITB, IPB, UGM.......
Ini merupakan tugas berat perguruan tinggi di KTI untuk bersaing baik secara
regional mau-pun nasional menarik lebih banyak lulusan terbaik siswa SLA di
KTI......
Begini Aby, waktu saya mulai memimpin UNSRAT pada tahun 1976, maka penilaian
dilemma terakhir ini saya perbandingkan sebagai berikut - sebetulnya saya
mengambil prinsipnya dari zaman Meiji di Jepang, dimana Jepang sengaja
mengirimkan tenaga-tenaga untuk dididik keluar negeri, versi yang hampir sama
juga telah dilakukan oleh India pada waktu ingin membangun industri besiu
baja nya, kebetulan saya disuruh mempelajari sistim itu pada waktu Biro
Perancang Negara RI sedang mempersiapkan proyej besi baja Cilegon , dan juga
aluminium di Asahan. Anyway dalam konteks UNSRAT pada tahun tujuhpuluhan jauh
lebih menguntungkan to send the best sons and daughters to ITB, IPB, Gajah
Mada, dan Airlangga(terutama utk kedokteran) daripada to produce your own with
limited means. Soalnya tempat yang terbatas yang ada di manado itu sih memang
digunakan untuk the weaker brothers (tapi nyatanya sih engga terlalu weak tapi
jelas 'homegrown' Tapi saya engga miukir pro contra, tapi seperti
Meiji Jepang, yang penting adalah hasil akhir. OK ternyata kini pada tahun
2007, generasi tujuhpuluhan sebagian besar sudah kembali dan mereka ternyata
tidak usah bersaing dalam kata mencari lapangan kerja, on the contrary jikalau
ada yang dapat kerja di Jakarta atau malahan sampai keluar they are free to do
so, sebetulnya sebagai TKI sih tetap menguntungkan, kalau dia kembali ke
minahasa yah dia udah tahu sendiri dia engga mudah bisa mnakan tempe atau baso
kaya di Jawa.
Nah Aby saya pikir engga usah kita terlalu sukar melihat umplikasi
keterbelakangan KTI itu, rasanya itu suatu masalah statistik yang rada picik.
Barangkali sepuluh tahun lagi sudah tinggal 'survival of the fittest" di manado
maupun juga di bandung, bogor atau Bonn atau Berlin , semua harus
membuktikannya. .
Jadi terima kasih untuk data perbandingan Aby, tapi seperti analisa ekologis
saya dulu utk Singapura dan Jakarta, a simple comparison is not fair, karena
nanti akan ada perubahan speciesnya, si lulusan manado atau lulusan jawa
dua-duanya akan harus menemukan niche-nya, cuma niche jawa atau indonesia
memang tidak seragam dengan niche papua atau menurut persepsi Aby 'bibir
manado' itu. Terus terang Aby saya belum pernah rasakan bibir manado, walaupun
saya akui sudah menikmati bibir dan jiwa solo salatiga.
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster' s offering you one month of Blockbuster
Total Access, No Cost.
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster' s offering you one month of Blockbuster
Total Access, No Cost.
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster' s offering you one month of Blockbuster
Total Access, No Cost.
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster' s offering you one month of Blockbuster
Total Access, No Cost.
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster
Total Access, No Cost.
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.