Pak Onnos ysh,
Trims atas tanggapannya .....
Untuk pak Onnos... tak salah dan betul juga sih kalau anda bilang arah
diskusi kita belak-belok (kopat-kapit?) dari angin darat keangin laut lalu ke
industri kreatif.....
Sebenarnya saya kira berbagai macam topik bisa secara paralel dapat terus
didiskusikan disini ....tanpa harus pindah-pindah.... Cuma entah ya kok kadang2
Cuma saya sendiri yang ngoceh ya? .... kadang malu juga sih (tapi kadang
dableg juga ya.. hehe..).......
Kadang terpikir juga kalau hanya 1 macam topik saya gali terus berkepanjangan
.. takut membosankan .. atau takut nanti ada yang capek.... tapi sebaliknya
posting yang ditulis terlampau panjang ... biar cepat selesai ... nanti
sekedar bacanya saja ... juga sudah ada yang gak sempat katanya ... dsb...
yah.. memang repot juga .. hehe...
Kalau kadang saya loncat ke topik lain... bukan apa pak Onnos... ini
sebenarnya sekedar masalah tarik napas saja sedikit ... untuk ngaso sebentar
... sebab kadang energinya atau waktunya sedang kurang memungkinkan ....
Sementara itu kalau sekedar forward-forward saja khan buat saya enteng..
nggak perlu banyak keluar energi seperti kalau ngarang sendiri... gitu lho
pak... hehe..
Saya pikir memang beberapa serial saya yang lalu juga ada yang terhenti
ditengah jalan juga seperti misalnya mamminasata .... yang seharusnya saya
lanjutkan ... tapi kadang memang selain tak sempat.. sering terlupakan juga
....
Kalau tentang tanggapan kembali untuk anda .... maaf.. akan saya satukan
dengan tanggapan untuk pak Abimanyu.......
Salam,
aby
Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam sejahtera,
Wah sepertinya diskusi milisters berbelok dari angin darat kearah angin laut,
terus ke dunia seni 'industri kreatif'.
Sepertinya ada misinterpretasi tentang 'arsitektur' yang di 'kerdil' kan jadi
industri kreatif. Ini gejala kemunduran atau terlalu majunya peradaban kita
ya... he he... Setahu saya ada yang pernah menyatakan bahwa: 'architecture is
the grandmother of art', dan sebelum ada 'planner' yang sekolah khusus di
bidang 'planologi', bidang ini dirangkap oleh 'architect' seperti FLW dan Le
Corbu..
Mungkin kurikulum sekolah arsitektur di Indonesia perlu penyesuaian atau dibawa
saja ke sekolah ketrampilan menggambar dan industri kerajinan, biar lebih cepat
selesainya (setingkat D-1 saja) dan terpakai di lapangan industri kerajinan.
Sepertinya di negeri tercinta 'zamrut katulistiwa' yang luas & kaya raya SDA
dengan berbagai suku yang punya beragam kekhasan budaya, hanya cukup dibutuhkan
'pengrajin dan tukang insinyur' saja, tidak perlu 'arsitek' yang berwawasan
luas...
Kita memang butuh pemimpin yang 'visionaris', semoga muncul dipemilu 2009 nanti.
Wassalam,
Onnos
---------------------------------
To: [email protected]
CC: [EMAIL PROTECTED]
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Fri, 13 Jun 2008 05:14:40 +0700
Subject: Re: [referensi] Re: Industri Kreatif Sbg Ekonomi Perkotaan Bernilai
Tambah Tinggi
mailister ysh,
....sayangnya, baru saja bubar pertemuan rencana "launching cetak biru"
industri kreatif tsb beberapa waktu lalu sambil memperlihatkan buku tersebut
ketua IAI sudah nyap-nyap "...coba baca, buku apaan ini...pengelompokan
industri kreatif dan menempatkan bidang arsitektur kok sembarangan begini...
ketahuan penyusunnya tidak tahu apa substansi yang dia susun, apa yang dia
jual...dsb, dst".
Mendengar protesnya saya cuma bisa geleng-geleng kepala, ....apakah penyusunan
cetak biru tsb tidak konsultasi dulu kepada lembaga atau tokoh yang
membidanginya...???? ( ...mungkin momentum promosi ekonomi lebih penting
daripada menelusuri realitanya lebih dulu mas...? atau ....banyak pihak yang
lebih tahu apa itu arsitektur daripada arsiteknya ...?)
salam,
abi
On Thu, Jun 12, 2008 at 9:02 PM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Milister semuanya ysh,
Arsitektur, produk mode, barang kerajinan, musik, lukisan, atau pertunjukan
seni bukanlah barang baru. Meski demikian, pemerintah memasukkannya ke dalam
kelompok industri kreatif.
Industri kreatif atau sering disebut juga ekonomi kreatif semakin mendapat
perhatian utama banyak negara karena industri ini memberi kontribusi nyata
terhadap perekonomian negara.
Selain menyumbang pada ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan produk domestik
bruto (PDB), ekonomi berbasis ide kreatif ini juga dianggap tidak terlalu
bergantung pada sumber daya alam tak terbarukan.
Dengan kata lain, dapat menjadi ramah lingkungan, sejalan dengan kebutuhan
mengurangi kerusakan lingkungan.
"Yang termasuk di dalam industri kreatif bukan industri baru. Masalahnya,
bagaimana membangkitkan industri ini agar memberi nilai tambah ekonomi lebih
tinggi. Nilai ekonomi industri ini diangkat karena keragaman budaya kita tinggi
dan manusianya secara alamiah kreatif. Ini potensi dan daya saing kita," kata
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.
Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia diserahkan Menteri
Perdagangan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan Pekan
Produk Budaya Indonesia (PPBI) di Balai Sidang, Rabu (4/6).
Dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 yang disusun Departemen
Perdagangan, ada 14 industri yang diidentifikasi sebagai industri kreatif: (1)
arsitektur, (2) desain, (3) kerajinan, (4) layanan komputer dan peranti lunak,
(5) mode, (6) musik, (7) pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan
percetakan, (9) periklanan, (10) permainan interaktif, (11) riset dan
pengembangan, (12) seni pertunjukan, (13) televisi dan radio, serta (14) video,
film, dan fotografi.
Negara yang dianggap pertama kali menaruh perhatian serius pada industri atau
ekonomi kreatif adalah Inggris pada tahun 1997.
Hasil pemetaan mereka memperlihatkan, industri menyumbang 7,9 persen pada PDB
negara itu, tumbuh 9 persen pada tahun 1999-2000 dibandingkan total ekonomi
sebesar 2,8 persen.
Nilai ekspornya 8,7 miliar pound atau 3,3 persen dari total ekspor tahun
2000, tumbuh 13 persen dalam periode 1997-2000, sementara ekspor barang dan
jasa tumbuh hanya 5 persen. Sedangkan penyerapan tenaga kerja pada tahun 2001
sebesar 1,95 juta tenaga kerja, tumbuh 5 persen per tahun, sementara penyerapan
tenaga kerja oleh total industri di Inggris hanya tumbuh 1,5 persen.
Studi Industri Kreatif Indonesia 2007 oleh Departemen Perdagangan
menyebutkan, ke-14 industri kreatif Indonesia menyumbang rata-rata Rp 104,638
triliun pada 2002-2006 untuk PDB, lebih besar daripada kontribusi sektor
pengangkutan dan komunikasi, bangunan, serta listrik, gas, dan air bersih.
Pada periode sama, menyerap 5,4 juta tenaga kerja dengan produktivitas Rp
19,5 juta per pekerja per tahun dibandingkan dengan produktivitas nasional yang
rata-rata Rp 18 juta.
Fase-fase dalam ekonomi kreatif
Definisi industri kreatif yang digunakan pemerintah mengadopsi definisi
Pemerintah Inggris, yaitu proses peningkatan nilai tambah hasil eksploitasi
kekayaan intelektual berupa kreativitas, keahlian, dan bakat individu menjadi
produk yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pelaksana dan
orang yang terlibat.
Definisi ini memperlihatkan pentingnya ide kreatif. Tetapi, ide kreatif
tersebut membutuhkan transformasi agar dapat menjadi produk bernilai ekonomi.
Di dalam peta industri kreatif, pemerintah membuat model berdasarkan pada
individu kreatif dengan lima pilar utama: (1) industri yang terlibat dalam
produksi industri kreatif; (2) teknologi sebagai pendukung mewujudkan
kreativitas individu; (3) sumber daya seperti sumber daya alam dan lahan; (4)
kelembagaan mulai dari norma dan nilai di masyarakat, asosiasi industri, dan
komunitas pendukung hingga perlindungan atas kekayaan intelektual; dan (5)
lembaga intermediasi keuangan.
Aktor utama yang terlibat adalah intelektual, termasuk budayawan, seniman,
pendidik, peneliti, penulis, pelopor di sanggar budaya, serta tokoh di bidang
seni, budaya, dan ilmu pengetahuan; bisnis, yaitu pelaku usaha yang
mentransformasi kreativitas menjadi produk bernilai ekonomi; dan pemerintah
sebagai katalisator dan advokasi, regulator, konsumen, investor dan wiraswasta,
serta perencana kota.
"Kunci semua itu implementasi hasil pemetaan. Kami di pemerintahan mulai
berkoordinasi. Dari cetak biru ini harus ada rencana aksi dari tiap lembaga
terkait. Dari situ harus ada mekanisme koordinasi, bisa di lembaga menko yang
ada atau lembaga pemerintah yang dijalankan seperti swasta," kata Mari.
Di dalam implementasi itu termasuk memastikan ekonomi kreatif tidak berada
hanya pada 14 sektor tersebut. Berdasarkan pengalaman negara-negara lain, tahap
itu baru fase pertama dari ekonomi kreatif. Fase berikut, proses kreatif harus
ada di semua kegiatan ekonomi.
Indonesia, menurut Mari, sebetulnya mulai memasuki tahap tersebut.
Industri keramik kelas dunia Royal Doulton dari Inggris yang motifnya dibuat
dengan lukisan tangan, misalnya, membuka pabrik di Jakarta sebagai satu-satunya
pabrik di luar Inggris karena percaya kepada kreativitas dan keterampilan orang
Indonesia.
Seniman batik Iwan Tirta, misalnya, diminta mendesain motif untuk peralatan
makan. Begitu juga sepatu Nike dan Adidas mulai membuat desain sepatunya di
sini.
Fase terakhir adalah pada akhirnya konsumen menentukan arah, dinamika, dan
evolusi ekonomi kreatif.
"Ini menyangkut isu demografi. Hampir semua pasar baru, termasuk Indonesia,
memiliki lebih banyak penduduk usia muda daripada orang dewasa. Mereka sumber
ekonomi kreatif sekaligus pasar. Dinamika ini harus kita pahami," tambah Mari.
* * *
Melihat karakteristik industri kreatif ini... jelas bahwa ia tak semudah itu
dapat dikembangkan didaerah dengan pembangunan berbasis utama agrarian.... dan
utamanya didaerah yang tak jelas strategi pengembangan urbannya.....seperti
pada umumnya strategi 'Kapet' yang sudah lalu.......
Salam,
aby
(bahan dari Ninuk M. Pambudy/ Kompas)
---------------------------------
Always-on security tools provide safer ways to connect and share anywhere.
Find out more. Windows Live