Klaster Industri Kreatif
 
Akhirnya industri kreatif diangkat jadi satu andalan. Waktu ngobrol (‘darat’) 
dengan bang Nuzul beberapa waktu lalu, saya mencoba mengambil contoh klaster 
industri kreatif per"film"an di kawasan Kemang. Disitu obrolan, ide-ide, 
pertemuan di antara insan film terjadi kafe-kafe yang ada di lingkungan 
tersebut melahrkan banyak produksi film (movie) nasional, iklan, dst.
 
Mungkin industri kreatif lebih mudah difahami dari kata kunci, yaitu 
kreativitas, cipta, dan knowledge based nya. Ini upaya membedakan dari 
manufaktur, tani, konstruksi, ataupun prasarana, yang mengandalkan material dan 
tenaga kerja. Juga yang mengandalkan capital semata.
 
Konon pada masa mendatang karya "otak kanan" (kreativitas) akan lebih tinggi 
nilainya daripada karya "otak kiri". Tak perlu dijelaskan bahwa pada masa kini 
desain yang baik, trade mark, brand bisa memberikan nilai bahkan ratusan kali 
dibanding barang atau bangunan dengan material yang sama, tapi desainnya tidak 
bagus.
 
Masalahnya saat ini desain lokal, yang menarik secara internasional adalah 
justru yang tradisional. Dari segi ini Indonesia dikenal karena desain ala 
Bali, wayang, ukir, batik, sasirangan, songket, dst. Itu semua dengan berbagai 
kondisinya yang membuat orang dari negara lain datang, karena keunikannya. 
Walaupun bangsa sendiri kurang menghargainya, menganggapnya sebagai karya 
lokal, tradisional.
 
Di selatan Yogyakarta, ada Out of Asia dan beberapa perusahaan sejenis, 
sebagian milik orang asing yang mengambil manfaat dari kekayaan karya 
kreativitas lokal, aneka kerajinan tradisional. Dengan sentuhan yang lebih 
halus, produksinya teratur, standar terjaga, aneka produk dari banyak desa di 
wilayah selatan Jogja dan Jateng itu menjadi produk yang mendunia, mengisi 
hotel-hotel, kafe, restoran dan rumah di seluruh benua. Nilai tambah diberikan 
kepada desain produk yang sebetulnya kreativitas anak bangsa, tapi orang lain 
yang dapat nilai tambah, desainer aslinya mungkin tidak dikenal. Ini akibat 
bangsa kita masih lebih menghargai 'barang'nya, (manufaktur)nya, daripada 
kreativitasnya.
 
Karena itu dalam beberapa kali kesempatan diundang oleh Pemprov Jateng, saya 
selalu menyarankan pentingnya mengangkat 'nilai kretivitas' 
asli/tradisional/indigenous ini. Saya mengusulkan agar konsep pengembangan 
wilayah wisata SSB (Solo-Selo-Borobudur) misalnya, dititik-beratkan pada 
industri kreatif. Memadukan potensi obyek dan atraksi wisata dengan klaster 
atau sentra-sentra kerajinan yang bernilai budaya tinggi, termasuk juga 
sejarahnya. Sehingga wisatawan tidak hanya melihat kerajinan sebagai 'benda' 
tapi juga 'nilai budaya' dibaliknya. Tentu prasarana dan sarana akomodasinya 
penting. Dan, desainnya mesti diselaraskan dengan nilai budaya yang mau 
ditampilkan. Horticultura (aglonema, gelombang cinta, adenium, etc) pun bisa 
menjadi produk kreativitas, karena nilai kreasi dalam hibrida, saling-silang 
dan budi-dayanya jauh melampaui sekedar jual tanaman.
 
Tantangannya, umumnya pengambil keputusan masih berorientasi pada besaran 
proyek fisiknya semata. Bukan nilai kreativitas, yang justru membuat wisatawan, 
konsumen datang jauh kesini.
 
Mengenai ukuran nilai kreativitas industri ini mungkin juga bukan skala 
fisiknya, glamorous-nya, seperti digambarkan pak Aby yang selalu urban, 
kosmopolit. Karena kalau diamati dalam modern superblock, di kawasan segitiga 
emas misalnya. Disitu baik desain bangunan dan isinya, seperti hotel, restoran, 
butik-butik, serta produk-produk yang dijual mayoritas bermerk asing. Artinya 
hasil 'industri kreativitas' bangsa lain. Mungkin dengan kemegahan superblok 
ini kita akan bangga. Punya kota modern, tak kalah dengan metropolitan dunia. 
Tapi karena kreativitasnya milik asing, maka bisa diperkirakan bahwa uang yang 
tersedot superblok modern ini 60% lebih mengalir ke negara pemilik kreativitas 
(trademark, brand). Bangsa kita sekedar dapat upah membangun, upah jadi 
pelayan. Itupun juga kian tergerus nilai rupiah.
 
Pagi kemarin  saya baca di Kompas (15/6/2008), seorang anak muda penulis 
lagu yang produktif. Untuk satu potongan lagunya yang jadi ring tone handpone 
dia bisa beli satu rumah. Belum lagu utuhnya, yang dia bilang sudah lebih dari 
seratus. Seperti diakah pekerja kreativitas itu?
 
Mungkin itukah yang dimaksud Mary Pangestu dengan industri kreativitas, bukan 
sekedar jual material dan upah buruh yang rendah.
 
Masalahnya bagaimana menumbuhkan kreativitas tersebut? Bagaimana 
menghargainya?[]

Salam,
Risfan Munir
 

--- On Sat, 6/14/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [perkotaan] Re: Sentra Tradisional Re: Industri Kreatif Sbg Ekonomi 
Perkotaan Bernilai Tambah Tinggi
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Saturday, June 14, 2008, 1:41 PM











Pak Risfan, juga bapak2 Wawo, Didit Suhadi, Nuzul, Rofiq, Abimanyu,  
Onnos, Eka, Djarot dan milister semuanya ysh,
 
Obrolan industri kreatif pada putaran kali ini ya baru  dimulai dengan 
posting 13 Juni itu pak... kalo tak salah hanya baru oleh bertiga dengan pak 
Onnos dan pak Abimanyu.... .. jadi anda tidak ketinggalan. .......  
Paragraf terakhir itu dari saya pak ..... bukan dari mbak Ninuk.......
Anda benar bahwa ‘industri kreatif’  yang anda sebutkan itu sudah 
berkembang pada level sentra atau klaster  diberbagai wilayah di 
Indonesia... bahkan sebagiannya  sudah sejak zaman Belanda..... .. tetapi 
konteksnya bukan dalam kerangka  ‘industri keatif’ yang ‘14 macam’ 
itu...... but  they still merely  only in the context of   
“industri kecil tradisional” saja........ . 
Yang dimaksud dengan “industri kreatif” pada masa kini  saya kira 
setidaknya adalah dari kumpulan yang “14 macam” itu pak... yang  saya kira 
diharapkan satu sama lain ‘bukan terpisah’ tetapi  dapat saling mengumpul 
dan ‘bersinergi’.. .. pada kota atau sentra atau klaster yang sama ...sehingga 
terbentuk aglomerasi urban... dan perluasan kesempatan kerja...... 
Karenanya saya kira kaitannya seperti  harus ‘lengket’ pula  dengan 
proyeksi  modern big city development. ....... 
 
Ke-14 industri yang diidentifikasi sebagai industri kreatif itu adalah: (1) 
(produk industri pendukung) arsitektur (mudah2an pak Abimanyu dan Ketua IAI 
tidak geleng kepala lagi.. hehe..) , (2) desain, (3) kerajinan (klasik  n 
kontemporer) , (4) layanan komputer dan peranti lunak, (5) mode, (6) musik, (7) 
pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan percetakan, (9) periklanan, 
(10) permainan interaktif, (11) riset dan pengembangan, (12) seni pertunjukan, 
(13) televisi dan radio, serta (14) video, film, dan fotografi.
 
Tentang kaitannya dengan “kapet” yang menurut bapak itu ”terlalu luas”....... 
saya tidak  melihatnya dari sisi pandang :  “dengan menyertakan 
kapet.... maka itulah salah satu cara memperluas kapasitas industri kreatif” 
......... nggak gitu pak........ tetapi saya melihatnya dari sisi pandang lain 
.......ialah  : 
“kalau Kapet mau berkembang ........ maka ia janganlah berbasis  pada 
industri agro melulu...... tetapi berbasislah pada multisektoralitas yang luas 
(termasuk amenity resources based development; re:  pak Nuzul) “..... 
 
Atau dengan kata lain.....”
“.....berbasislah pada proyeksi  big city development (dengan konsekwensi 
perlu rancangan desain kota big city..., termasuk didalamnya  konsep space 
also always for the poor’ seperti yang baru saja kita diskusikan) .... dimana 
didalamnya pada ’center’nya (urban) dapat dimasukkan pula skenario 
pengembangan  berbagai macam sektoralitas seperti industri manufaktur, 
industri kreatif, pariwisata, konstruksi ...... dan  pada periferinya 
(rural)   dapat dimasukkan segala strategi agroindustri  itu... 
baik pertanian, peternakan,  perikanan, pertambangan ..dsb”.........
 
Tentang pendapat anda “seni  mau sok tidak dikaitkan dengan aspek 
ekonomi”..... kalau kata anda “itu sombong” .... kalau kata saya “lha anak 
istri mau dikasih makan dari mana”.....
“seni tidak dikaitkan dengan aspek  ekonomi”..... mungkin contohnya yang 
tidak tepat-tepat amat adalah seperti masa zaman Srimulat atau wayang orang 
Sriwanito, Ngesti Budoyo dsb. dulu  itu.....dimana kala itu belum 
berkembang luas  industri televisi dan periklanan.. ......... .
Di Srimulat yang kaya hanya Jujuk dan Teguhnya.... . pemainnya miskin 
semua....... .
Kalau malam mereka bermain dipanggung dengan honor minim..... siangnya jadi 
pegawai kantor, bakul dipasar.. tukang jahit, tukang parkir....jualan warungan 
dsb..... seperti masa-masa generasi ibunya alm. pelawak Basuki itu..... hehe...
 
Salam,
aby
 

risfano <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: 



Rekans,

Maaf saya tidak mengikuti diskusi ini sejak awal. Tapi saya tertarik
dengan potongan alinea dibawah ini (ini tulisan Ninuk atau pak Aby
Pak?). Komentar saya, kalau sekala Kapet ya terlalu luas lah.

Saya pikir industri kreatif ini bisa dikembangkan, dan sudah berkembang
di level sentra, atau klaster. Ada di Jepara (ukir, troso), Plered
(tembikar), di Pandai Sikek Sumbar (songket, sulaman), di Wajo Sulsel
(sutera), dst, dst. Yang mana daerah tersebut masih bisa dikatakan
rural. Memang umumnya masih bersifat 'perajin' saja, sementara desainnya
masih itu-itu saja.

Dalam memfasilitasi klaster ekonomi lokal di beberapa daerah saya
upayakan untuk mengaitkannya dengan sekolah desain terdekat, ada ada
kontak, syukur-syukur kalau komunikasinya berlanjut. Jika ada mahasiswa
desain tiap tahun magang sebentar untuk memberikan contoh desain, atau
melatih mereka. Sehingga tiap tahun ada beberapa desain baru, modifikasi
desain yang ada. Sehingga corak desainnya akan lebih kaya.

Kesimpulannya, klaster industri kreatif itu bisa didorong, difasilitasi
pertumbuhannnya. Tidak harus skala nasional dulu, mulai saja dari
klaster tingkat lokal.

Komersialisasi seni? Sejauh saya tahu, dalam seni termasuk desain,
umumnya ada tiga ketegori: (1) yang klasik, (2) yang eksperimental, dan
(3) yang populer, mungkin bisa dibilang komersial. Ini menurut saya
pengertian yang netral, ketiganya syah dan selalu hadir. Tapi seperti
kita amati selalu ada beda pendapat dalam hal ini. Ada yang menganggap
wajar, ada yang mengharamkan komersialisasi.

Tapi menurut saya kecuali yang dibiayai/disponsori oleh "keluarga
kerajaan, keluarga borjuis" (jaman dulu), atau yang dibiayai oleh
"konglomerat, MNC, TV/media komersial, atau merek rokok atau
real-estate" (jaman sekarang), rasa-rasanya seni tanpa memperhatikan
aspek ekonominya kok sombong amat.

Salam,

Risfan Munir

> >
> > * * *
> > Melihat karakteristik industri kreatif ini... jelas bahwa ia tak
semudah
> > itu dapat dikembangkan didaerah dengan pembangunan berbasis utama
> > agrarian.... dan utamanya didaerah yang tak jelas strategi
pengembangan
> > urbannya.... .seperti pada umumnya strategi 'Kapet' yang sudah
lalu.......
> >
> > Salam,
> > aby
> >
> > *(bahan dari Ninuk M. Pambudy/ Kompas)*
> >
> >
> >
> >
> >
> > ------------ --------- ---------
> > Always-on security tools provide safer ways to connect and share
anywhere.
> > Find out more. Windows Live
<http://get.live. com/familysafety /overview>
> >
> >
> >
> >
>



 














      

Kirim email ke