Ysh. referensier. 

Tergelitik juga soal ruang untuk
usaha kecil. Sebetulnya para developer tidak keberatan untuk menyediakan
ruang untuk usaha kecil berupa kantin murah. 
Soalnya begini. Dalam
gedung perkantoran memang didesain atau disediakan ruang untuk kantin dan
disewakan sebagai pelengkap dari perkantoran. Tentunya kantin yang cukup
mahal (karena sewa ruang juga cukup mahal) untuk makan siang klas manajer
(biasanya berupa food court). Kira-kira setiap makan siang habisnya antara
Rp 10 ribu sampai Rp 25 ribu. Lha bagaimana dengan kantin sangat murah
yang tarifnya antara Rp 5 ribu sampai 10 ribu (untuk pegawai rendahan dan
karyawan muda)? Di sini para arsiteknya bingung menerapkan "high best
value". Kalau mereka di tempat strategis, maka akan "head
on" dengan foodcourt yang ada. Ini jelas tidak adil dan para
pengusaha foodcourt akan "resign" karena akan bangkrut (tidak
bisa bersaing dengan makan siang yang sangat murah). Ini tentunya akan
merugikan pemilik gedung. Maka alternatifnya harus di lokasi yang jauh
(tidak strategis), misalnya di gedung parkir lantai teratas. Alternatif
ini jelas tidak dimaui oleh pengusaha kecil karena nggak akan laku. 

Akhirnya gimana? Ya biarkan saja, tidak usah dikasih lokasi.
Ternyata ada baiknya juga. Kesempatan ini diambil oleh warga setempat
(sekitar) untuk berusaha, atau membuka usaha warung. Ternyata mereka juga
laris. Bukannya pembiaran ini lebih baik? Warga sekitar memperoleh manfaat
dari gedung perkantoran. Win-win. Memang kelihatan kumuh... tapi kumuh itu
ada menariknya koq...begitu kata teman-teman saya orang asing yang juga
suka makan di situ (katanya suasananya "warm", alias sumuk).

Thanks. CU. BTS. 




----- Original
Message ----- 
From: hengky abiyoso 
To:
[email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, June 16, 2008 4:08 PM 
Subject: [referensi] Re: Re: Geser Dikit Kekota Re: Ikan Indonesia Masuk
ke Rumpon Malaysia 



Kirim email ke