Pak Eko ysh, Memang banyak penelitian mengenai cerita sukses suatu negara, masyarakat,dll mengenai apapun dimanapun. Kemudian dengan statistik dan analisis matematis atau model canggih apapun secara kuantitatif atau penelusuran kualitatif "ditemukan" faktor-faktor, bukti-bukti, gejala-gejala atau indikasi-indikasi yang menunjukkan penyebab sukses tersebut dapat terjadi. Kemudian hasil tersebut digeneralisasi didukung oleh teori-teori dari tokoh-tokoh atau ilmuwan-ilmuwan top untuk memperkuat argumen bahwa betul-betul temuan itulah penyebabnya. Namun dengan pendekatan kritis sebaliknya dapat juga diperoleh hasil bahwa temuan-temuan tersebut tidak cukup untuk menjadi dasar peluang kesuksesan bila diterapkan pada waktu-ruang-kultural yang lain.
Kalau kita telusuri negara-negara lain (yang kita anggap maju sekalipun) kita dapat banyak temui juga kondisi yang dinegeri kita termasuk miskin, kumuh, tidak sejahtera, dll. Namun secara kuantitatif atau statistik global (apalagi kalau dasar perhitungan ekonominya adalah alat pembayaran negara maju) akan diperoleh rata-rata pendapatan yang jauh lebih tinggi daripada yang termasuk golongan menengah atau bahkan kaya untuk perdesaan tertentu di Indonesia. Saya menduga bahwa ada yang salah dalam menginterpertasikan dan membandingkan kesuksesan atau kemiskinan dengan menggunakan standar perhitungan yang diseragamkan atau global. Ada sistem ekonomi yang menguasai politik-penguasaan pasar perhitungan dan peraturan global yang menyebabkan sukarnya menghilangkan kesenjangan kemampuan semu tersebut. Lebih parah lagi karena kita lebih gemar menggunakan tolok ukur yang diseragamkan oleh aturan politik-ekonomi hingga ilmu-etika-kultur global tersebut. Mungkin upaya pembangunan dengan ekonomi tertutup Cina saat diisolasi justru membuat Cina dapat mengonsolidasikan posisi ekonomi negaranya dalam standar global. Mungkin karena memanfaatkan "larangan" Barat untuk mempersenjatai diri maka Jepang memiliki modal cukup untuk mengembangkan ekonomi + semangat pantang menyerah mereka. Artinya, selain aspek ketahanan yang bersifat kemanusiaan (antropogenik) dan ekologik yang bersifat lokal, sistem ekonomi dan tata-nilai global perlu diwaspadai sebagai penyebab kita sukar melepaskan diri dari kemiskinan tersebut. Jaring laba-laba sistem ekonomi global yang tidak terkendali merupakan sumber kekuatan pendatang yang menyedot peluang pemulihan dan peningkatan kemampuan kita dalam menaikkan posisi dalam ranking kesejahteraan di dunia. Statistik pada tingkat makro mampu mengaburkan data kebocoran sistem ekonomi yang secara sosial dan ekologik sesungguhnya justru menyebabkan bencana terhadap peluang peningkatan kapasitas lokal. Berkaitan dengan tata ruang fisik, selama kita masih lebih suka memberi peluang lebih besar kepada investasi ekonomi global dalam mengeksploitasi ruang dan sumber daya setempat dan kurang menyediakan ruang kesehatan (green, health, sport, recreation, public facilities, home, etc) dan pengembangan diri (education, art & culture, etc) bagi masyarakat lokal, maka dua yang terakhir ini akan semakin dipurukkan oleh tata ruang yang kita buat. Kasiba dan Lisiba tidak akan pernah terlaksana selama seluruh lahan perkotaan diperhitungkan kelayakan ekonominya berdasarkan tata nilai perdagangan. MRT tidak pernah akan terbangun apabila kelayakannya dibandingkan dengan PAD bila lebih mengutamakan jalan tol dalam kota. Transportasi jalan baja selalu akan terlalu mahal dan break even yang terlalu panjang apabila dibandingkan dengan pemasukan apabila membuka keran produksi (asembling) dan penarikan pajak mobil dan motor merk terbaru. Menggusur proyek-proyek besar yang melanggar aturan tetapi memiliki backing kuat akan lebih mahal dan beresiko daripada mengupayakan pembayaran denda akibat tidak sesuai tata kota yang berwawasan lingkungan. Perumahan bagi golongan menengah bawah di dalam kota akan selalu tidak layak ekonomi apabila dibandingkan dengan pembangunan tower kelas menengah atas dan rumah murah nun jauh dilahan pertanian......dsb, dst,. selama perhitungan kerugian lingkungan dan kultural jangka panjang tidak menjadi pertimbangan dan perhitungan utamanya (susah pak, menghitung biaya lingkungan......ahlinya belum ada.....? karena pasarnya belum tersedia dalam kebijakan yang ada......). Tentu ini juga harus ditambah dengan peran kelembagaan (kepemerintahan) yang tidak "public-private partnership" base dalam konotasi yang negatif, sehingga mengabaikan perlunya memperkuat basis lokal sebagai tulang punggung peningkatan daerah yang secara kumulatif menjadi kekuatan nasional. wasalam, Abimanyu 2008/6/26 Eko Budi KURNIAWAN <[EMAIL PROTECTED]>: > Bu Reny ysh, > > > > Saya tentu setuju dgn prinsip2 yg diuraikan dalam presentasi yg Bu Reny > forward. Namun saya hendak mohon ijin mengkritisi beberapa hal dlm > presentasi tsb. (mungkin karena saya saat ini sedang rewel sehingga semua > hal dikritisi): > > > > 1. disebutkan bahwa kekayaan negara tidak terkait dengan umur karena Mesir > dan India yg sudah 2000 tahun tetap miskin sementara negara2 baru seperti > Australia, NZ dan Spore justru kaya. Premis ini menurut saya tidak tepat: > > - Mesir Kuno bukan Mesir saat ini, Mesir saat ini didominasi ras Arab, > Mesir masa lalu oleh ras Mesir. Jadi Mesir saat ini adalah negara baru > karena pemerintah republiknya baru dideklarasikan tahun 1953. > > - Negara India pun merupakan negara baru karena sebelumnya tidak ada > negara India, yg ada hanyalah kerajaan2 yg tersebar. > > - Diakui bahwa perubahan pergeseran kekuatan politik dan ekonomi dunia > terjadi sejak revolusi Perancis dan revolusi industri di Inggris. Menjadi > pertanyaan mengapa kedua revolusi tsb terjadi di kedua negara. Mengapa tidak > di Balkan atau Cina misalkan? David Landes misalnya memberikan argumen bahwa > kondisi geografik dan historik masa itu mendukung semua faktor2 yg membuat > kedua revolusi tsb terjadi di bagian barat Eropa. Balkan, Hongaria hingga ke > Austria, misalkan telah lama dalam kondisi perang dengan Turki yg tidak > memungkinkan terjadi proses ke arah tsb. > > - Australia, NZ, Canada dan Spore, walaupun negara baru namun merupakan > anak2 dari bangsa Inggris yg menerima legacy revolusi politik dan industri. > India dan Mesir hanyalah anak2 tiri. > > - Selain itu Australia, NZ, dan Canada adalah negara kaya sumber alam. AUS > dan Can adalah eksportir mineral alam terbesar di dunia. > > > > 2. Kemiskinan Jepang akan sumber daya alam juga separuh mitos karena mereka > punya banyak batu bara di selatan yg mereka pakai di awal2 pembangunan > industri dan habis karena kecepatan industrialisasi mereka... Seingat saya > walau lahan pertanian terbatas namun pada jaman dahulu Jepang tidak pernah > impor beras. Kebutuhan dalam negeri Jepang tercukupi ketika rezim Tokugawa > menutup pintu dari hubungan dg asing. > > > > 3. Tidak ada perbedaan hal yg signifikan dalam hal kecerdasan antar bangsa? > ini memang hal yg debatable. Ada sebuah buku controversial yg berjudul "IQ > and the wealth of nations", dari studi tsb tampak bahwa negara2 kaya > mendominasi peringkat IQ yg tinggi, pertama negara2 Asia Timur: Jepang, > Korsel, HK, diikuti negara2 Kaukasian, dan paling buncit negara2 Afrika.. > > > > Sekrg mari kita bandingkan beberapa prinsip dasar kehidupan yg diajukan > oleh si penulis di negara maju dan negara berkembang: > > > > 1. Kejujuran dan integritas. Kejahatan besar dan canggih banyak dilakukan > di negara maju. Sementara negara berkembang mayoritas kejahatannya nyolong > ayam. > > > > 2. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat. Pelanggaran rambu lalu lintas, > membuang sampah sembarangan, tidak membayar publik transport, dsb banyak > sekali dilakukan warga Paris. > > > > 3. Hormat pada hak orang atau warga lain. Mungkin Inggris lebih disiplin > soal antri, tapi kalau di Prancis ini menyerobot antrian rasanya bukan hal > aneh. Sekarang ini naik bus pun sering tampak orang2 tua harus meminta > tempat duduk ke anak2 muda, kalau tidak mereka tdk dipedulikan dibiarkan > berdiri. > > > > 4. Cinta pada pekerjaan. Sebuah survey beberapa waktu lalu menghasilkan > bahwa lebih dari 60% warga Perancis tidak puas dan tidak cocok dgn pekerjaan > sekarang. > > > > 5. Mau bekerja keras. Bila saya amati para pedagang kaki lima, saya > terpukau betapa keras kerja mereka: pagi belanja, siang masak, sore mulai > jualan sampai tengah malam, dan tetap miskin. > > > > Sekali lagi saya sependapat dengan prinsip2 yg diajukan si penulis, tetapi > tidak semuanya juga dimiliki oleh negara maju dan tidak kita miliki. Banyak > juga yg kita juga miliki atau negara maju tidak miliki. Penyebab suatu > negara kaya atau miskin saya kira sangat kompleks tidak dapat direduksi > hanya pada satu faktor saja (faktor etika/pola hidup). Namun maksud baik si > penulis tentu patut diapresiasi. > > > > salam, > > > > Eko. > > > > > > --- On *Thu, 6/26/08, Reny ansih <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: Reny ansih <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [referensi] Fw: bahan renungan "refleksi & tindakan" > To: [email protected] > Date: Thursday, June 26, 2008, 6:47 AM > > Halo para Referenster ...(bener ya istilahnya nih?) > Ini ada suatu pencerahan dari seorang Widyaiswara (gurunya Pegawai Negeri) > yang kebetulan menyebut-nyebut tentang 'kemiskinan' dll itu. > Mungkin bisa direnungkan bersama tentang kebenarannya. > Salam - 2ny > > --- On *Tue, 6/24/08, pad <[EMAIL PROTECTED] com>* wrote: > > From: pad <[EMAIL PROTECTED] com> > Subject: bahan renungan "refleksi & tindakan" > To: "widyaiswara_ pu Moderator" <widyaiswara_ pu-owner@ yahoogroups. com> > Date: Tuesday, June 24, 2008, 8:20 AM > > Yth Rekan2 WI Dept PU > > KH AA Gym pernah mengutarakan bahwa untuk dapat mengubah bangsa ini a.l > diperlukan kiat 3 M. > 1. Mulailah dari diri sendiri; > 2. Mulailah dari yang kecil2: > 3. Mulailah saat ini juga. > Apa memang demikiankah? > Beberapa waktu yll, saya menerima Fwd dari seorang rekan yang judulnya > "refleksi & tindakan" katanya dari terjemahan bahasa inggris "to reflect & > to act". > Mungkin dapat dijadikan sebagai tambahan bahan renungan.... silakan. > > Padyo > > > > >

