Pak Abimanyu ysh,
 
terimakasih atas diskusinya. Saya sependapat dengan sebagian besar yg bapak 
tulis. Ada 2 buku utama yg mengulas masalah mengapa ada bangsa2 yg kaya dan ada 
yg miskin. Yg pertama David Landes "The Wealth and Poverty of Nations", dan yg 
kedua Jared Diamond "Guns, Germs, and Steel"... keduanya menarik, Landes dengan 
pendekatan ekonomi sejarah dan Diamond dengan pendekatan antropologi-geografi...
 
Memang menarik diskusi ttg ini kalau kita berpikiran terbuka. Ada teori 
misalkan bahwa Monotheisme membawa kehancuran pada alam lebih besar dari 
Polytheisme. Karena dlm monotheisme manusia adalah makhluk utama, sedangkan dlm 
polytheisme mereka menghargai dan takut thd unsur2 alam...
 
saya juga tidak mengerti mengapa pemerintah terkesan enggan mensubsidi public 
transport, seperti kasus monorail Jakarta, misalkan... saya kira hampir seluruh 
sistem transportasi publik di dunia, termasuk di negara2 maju pun banyak yg 
disubsidi, yg saya tahu Jerman, Prancis, Belanda.. karena transportasi 
merupakan tulang punggung aktivitas ekonomi... toh nanti pemasukan negara bisa 
besar dari pajak kalau aktivitas perekonomiannya lancar.. mungkin Pak BTS yg 
pernah mendalami kasus ini lebih mengerti...
 
salam.
 
 
 


--- On Thu, 6/26/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: renungan "refleksi & tindakan": negara kaya vs 
miski
To: [email protected]
Date: Thursday, June 26, 2008, 11:17 AM






Pak Eko ysh,

Memang banyak penelitian mengenai cerita sukses suatu negara, masyarakat,dll 
mengenai apapun dimanapun. Kemudian dengan statistik dan analisis matematis 
atau model canggih apapun secara kuantitatif atau penelusuran kualitatif 
"ditemukan" faktor-faktor, bukti-bukti, gejala-gejala atau indikasi-indikasi 
yang menunjukkan  penyebab sukses tersebut dapat terjadi. Kemudian  hasil 
tersebut digeneralisasi  didukung oleh teori-teori  dari tokoh-tokoh atau 
ilmuwan-ilmuwan  top  untuk memperkuat argumen bahwa  betul-betul  temuan 
itulah penyebabnya.  Namun dengan pendekatan kritis sebaliknya dapat juga 
diperoleh hasil bahwa temuan-temuan tersebut tidak cukup untuk menjadi dasar 
peluang kesuksesan bila diterapkan pada waktu-ruang- kultural yang lain.

Kalau kita telusuri negara-negara lain (yang kita anggap maju sekalipun) kita 
dapat banyak temui juga kondisi yang dinegeri kita termasuk miskin, kumuh, 
tidak sejahtera, dll. Namun secara kuantitatif atau statistik global (apalagi 
kalau dasar perhitungan ekonominya adalah alat pembayaran negara maju) akan 
diperoleh rata-rata pendapatan yang jauh lebih tinggi daripada yang termasuk 
golongan menengah atau bahkan kaya untuk perdesaan tertentu di Indonesia. 

Saya menduga bahwa ada yang salah dalam menginterpertasikan dan membandingkan 
kesuksesan atau kemiskinan dengan menggunakan standar perhitungan  yang 
diseragamkan atau global. Ada sistem ekonomi yang menguasai politik-penguasaan 
pasar  perhitungan dan peraturan global  yang  menyebabkan  sukarnya  
menghilangkan kesenjangan kemampuan semu tersebut. Lebih parah lagi karena kita 
lebih gemar menggunakan tolok ukur yang diseragamkan oleh aturan 
politik-ekonomi hingga ilmu-etika-kultur global tersebut. Mungkin upaya 
pembangunan dengan ekonomi tertutup Cina saat diisolasi justru membuat Cina 
dapat mengonsolidasikan posisi ekonomi negaranya dalam standar global. Mungkin 
karena memanfaatkan "larangan" Barat untuk mempersenjatai diri maka Jepang 
memiliki modal cukup untuk mengembangkan ekonomi + semangat pantang menyerah 
mereka. Artinya, selain aspek ketahanan yang bersifat kemanusiaan 
(antropogenik) dan ekologik yang bersifat lokal, sistem ekonomi dan
 tata-nilai global perlu diwaspadai sebagai penyebab kita sukar melepaskan diri 
dari kemiskinan tersebut. Jaring laba-laba sistem ekonomi global yang tidak 
terkendali merupakan sumber kekuatan pendatang yang menyedot peluang pemulihan 
dan peningkatan kemampuan kita dalam menaikkan posisi dalam ranking 
kesejahteraan di dunia. Statistik pada tingkat makro mampu mengaburkan data 
kebocoran sistem ekonomi yang secara sosial dan ekologik sesungguhnya justru 
menyebabkan bencana terhadap peluang peningkatan kapasitas lokal.

Berkaitan dengan tata ruang fisik, selama kita masih lebih suka memberi peluang 
lebih besar kepada investasi ekonomi global dalam mengeksploitasi ruang dan 
sumber daya setempat dan kurang menyediakan ruang kesehatan (green, health, 
sport, recreation, public facilities, home, etc) dan pengembangan diri 
(education, art & culture, etc) bagi masyarakat lokal, maka dua yang terakhir 
ini akan semakin dipurukkan oleh tata ruang yang kita buat. 

Kasiba dan Lisiba tidak akan pernah terlaksana selama seluruh lahan perkotaan 
diperhitungkan kelayakan ekonominya berdasarkan tata nilai perdagangan. MRT 
tidak pernah akan terbangun apabila kelayakannya dibandingkan dengan PAD bila 
lebih mengutamakan jalan tol dalam kota. Transportasi jalan baja selalu akan 
terlalu mahal dan break even yang terlalu panjang apabila dibandingkan dengan 
pemasukan apabila membuka keran produksi (asembling) dan penarikan pajak mobil 
dan motor merk terbaru. Menggusur proyek-proyek besar yang melanggar aturan 
tetapi memiliki backing kuat akan lebih mahal dan beresiko daripada 
mengupayakan pembayaran denda akibat tidak sesuai tata kota yang berwawasan 
lingkungan. Perumahan bagi golongan menengah bawah di dalam kota akan selalu 
tidak layak ekonomi apabila dibandingkan dengan pembangunan tower kelas 
menengah atas dan rumah murah nun jauh dilahan pertanian... ...dsb, dst,.   
selama perhitungan kerugian lingkungan dan kultural
 jangka panjang tidak menjadi pertimbangan dan perhitungan utamanya (susah pak, 
menghitung biaya lingkungan.. ....ahlinya belum ada.....? karena pasarnya belum 
tersedia dalam kebijakan yang ada......). 

Tentu ini juga harus ditambah dengan peran kelembagaan (kepemerintahan) yang 
tidak "public-private partnership" base dalam konotasi yang negatif, sehingga 
mengabaikan perlunya memperkuat basis lokal sebagai tulang punggung peningkatan 
daerah yang secara kumulatif menjadi kekuatan nasional.    

wasalam,

Abimanyu



2008/6/26 Eko Budi KURNIAWAN <[EMAIL PROTECTED] com>:











Bu Reny ysh,
 
Saya tentu setuju dgn prinsip2 yg diuraikan dalam presentasi yg Bu Reny 
forward. Namun saya hendak mohon ijin mengkritisi beberapa hal dlm presentasi 
tsb. (mungkin karena saya saat ini sedang rewel sehingga semua hal dikritisi):
 
1. disebutkan bahwa kekayaan negara tidak terkait dengan umur karena Mesir dan 
India yg sudah 2000 tahun tetap miskin sementara negara2 baru seperti 
Australia, NZ dan Spore justru kaya. Premis ini menurut saya tidak tepat:
  - Mesir Kuno bukan Mesir saat ini, Mesir saat ini didominasi ras Arab, Mesir 
masa lalu oleh ras Mesir. Jadi Mesir saat ini adalah negara baru karena 
pemerintah republiknya baru dideklarasikan tahun 1953.
  - Negara India pun merupakan negara baru karena sebelumnya tidak ada negara 
India, yg ada hanyalah kerajaan2 yg tersebar.
  - Diakui bahwa perubahan pergeseran kekuatan politik dan ekonomi dunia 
terjadi sejak revolusi Perancis dan revolusi industri di Inggris. Menjadi 
pertanyaan mengapa kedua revolusi tsb terjadi di kedua negara. Mengapa tidak di 
Balkan atau Cina misalkan? David Landes misalnya memberikan argumen bahwa 
kondisi geografik dan historik masa itu mendukung semua faktor2 yg membuat 
kedua revolusi tsb terjadi di bagian barat Eropa. Balkan, Hongaria hingga ke 
Austria, misalkan telah lama dalam kondisi perang dengan Turki yg tidak 
memungkinkan terjadi proses ke arah tsb.
- Australia, NZ, Canada dan Spore, walaupun negara baru namun merupakan anak2 
dari bangsa Inggris yg menerima legacy revolusi politik dan industri. India dan 
Mesir hanyalah anak2 tiri.
- Selain itu Australia, NZ, dan Canada adalah negara kaya sumber alam. AUS dan 
Can adalah eksportir mineral alam terbesar di dunia. 
 
2. Kemiskinan Jepang akan sumber daya alam juga separuh mitos karena mereka 
punya banyak batu bara di selatan yg mereka pakai di awal2 pembangunan industri 
dan habis karena kecepatan industrialisasi mereka... Seingat saya walau lahan 
pertanian terbatas namun pada jaman dahulu Jepang tidak pernah impor beras. 
Kebutuhan dalam negeri Jepang tercukupi ketika rezim Tokugawa menutup pintu 
dari hubungan dg asing.
 
3. Tidak ada perbedaan hal yg signifikan dalam hal kecerdasan antar bangsa? ini 
memang hal yg debatable. Ada sebuah buku controversial yg berjudul "IQ and the 
wealth of nations", dari studi tsb tampak bahwa negara2 kaya mendominasi 
peringkat IQ yg tinggi, pertama negara2 Asia Timur: Jepang, Korsel, HK, diikuti 
negara2 Kaukasian, dan paling buncit negara2 Afrika..
 
Sekrg mari kita bandingkan beberapa prinsip dasar kehidupan yg diajukan oleh si 
penulis di negara maju dan negara berkembang:
 
1. Kejujuran dan integritas. Kejahatan besar dan canggih banyak dilakukan di 
negara maju. Sementara negara berkembang mayoritas kejahatannya nyolong ayam.
 
2. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat. Pelanggaran rambu lalu lintas, 
membuang sampah sembarangan, tidak membayar publik transport, dsb banyak sekali 
dilakukan warga Paris.
 
3. Hormat pada hak orang atau warga lain. Mungkin Inggris lebih disiplin soal 
antri, tapi kalau di Prancis ini menyerobot antrian rasanya bukan hal aneh. 
Sekarang ini naik bus pun sering tampak orang2 tua harus meminta tempat duduk 
ke anak2 muda, kalau tidak mereka tdk dipedulikan dibiarkan berdiri.
 
4. Cinta pada pekerjaan. Sebuah survey beberapa waktu lalu menghasilkan bahwa 
lebih dari 60% warga Perancis tidak puas dan tidak cocok dgn pekerjaan 
sekarang. 
 
5. Mau bekerja keras. Bila saya amati para pedagang kaki lima, saya terpukau 
betapa keras kerja mereka: pagi belanja, siang masak, sore mulai jualan sampai 
tengah malam, dan tetap miskin.
 
Sekali lagi saya sependapat dengan prinsip2 yg diajukan si penulis, tetapi 
tidak semuanya juga dimiliki oleh negara maju dan tidak kita miliki. Banyak 
juga yg kita juga miliki atau negara maju tidak miliki. Penyebab suatu negara 
kaya atau miskin saya kira sangat kompleks tidak dapat direduksi hanya pada 
satu faktor saja (faktor etika/pola hidup). Namun maksud baik si penulis tentu 
patut diapresiasi.
 
salam,
 
Eko.
 


--- On Thu, 6/26/08, Reny ansih <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Reny ansih <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [referensi] Fw: bahan renungan "refleksi & tindakan"
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Thursday, June 26, 2008, 6:47 AM








Halo para Referenster ...(bener ya istilahnya nih?)
Ini ada suatu pencerahan dari seorang Widyaiswara (gurunya Pegawai Negeri) yang 
kebetulan menyebut-nyebut tentang 'kemiskinan' dll itu. 
Mungkin bisa direnungkan bersama tentang kebenarannya. 
Salam - 2ny

--- On Tue, 6/24/08, pad <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: pad <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: bahan renungan "refleksi & tindakan"
To: "widyaiswara_ pu Moderator" <widyaiswara_ pu-owner@ yahoogroups. com>
Date: Tuesday, June 24, 2008, 8:20 AM



Yth Rekan2 WI Dept PU
 
KH AA Gym pernah mengutarakan bahwa untuk dapat mengubah bangsa ini a.l 
diperlukan kiat 3 M. 
1. Mulailah dari diri sendiri; 
2. Mulailah dari yang kecil2: 
3. Mulailah saat ini juga. 
Apa memang demikiankah? 
Beberapa waktu yll, saya menerima Fwd dari seorang rekan yang judulnya 
"refleksi & tindakan" katanya dari terjemahan bahasa inggris "to reflect & to 
act".
Mungkin dapat dijadikan sebagai tambahan bahan renungan.... silakan.
 
Padyo


 














      

Kirim email ke