Bung Ekadj dan rekans ysh,

Mengenai istilah bisa bertahap saling memahami, tapi untuk yang
kuantitatif, ini memang populer sejak Forrester mengembangkan System
Dynamic nya (70an) yang dipakai dasar karya monumental "Limit to Growth"
nya Club of Rome. Ini mungkin yang dicoba diulang oleh Al Gore dalam
simulasi "Global Warming" nya.

Lalu Forrester menciptakan derivate nya, yaitu "Industrial Dynamic" dan
"Urban Dynamic". Yang terakhir ini yang kemudian diadopsi oleh
teman-teman yang gemar 'modelling'. Beberapa proyek akhir (thesis) dulu
banyak yang mengaplikaikannya. Belakangan ini saya ngintip beberapa
teman yang nulis disertasi (s3)nya juga menggunakannya. Yang tentu saat
ini sudah lebih canggih dan mudah (teman-teman yang di sekolah tentu
lebih tahu).

Tapi di samping itu pendekatan yang lebih kualitatif dalam "scenario
building" ini kan juga berkembang. Teman-teman yang terlibat penyusunan
skenario "Indonesia 2010" menggunakan pendekatan
kualitatif/partisipatif, yang menggunakan nara sumber maupun
stakeholders. Mudah-mudahan ada teman yang terlibat disitu (atau
sejenisnya) bisa cerita di sini.

Buat PWK (perencana wilayah & kota) mungkin bisa dinamis menggunakannya.
Tapi bagaimana untuk PTR (perencana tata ruang), karena ruang/lahan kan
tidak mudah diutak-atik menurut dinamika yang berubah cepat?

Mungkin Bung Eka perlu buka-buka lagi "Tarudin" (tata ruang dinamis)
sebagai antisipasi situasi (PEST - politik, ekonomi, sosial, teknologi)
yang berubah terus.
Terutama saat ini dimana negara kita yang sudah - jadi deficit minyak,
krisis listrik, hutang luar negeri yang 'mencekik', subsidi energi dan
pangan, desentralisasi/otonomi daerah, dst.

Salam,
Risfan Munir
http://urbanis.wordpress.com <http://urbanis.wordpress.com>



--- In [email protected], "- ekadj" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Risfan ysh,
> Memang saya mendengar bila salah satu metode dalam futurologi adalah
melalui
> penyusunan skenario, di samping beberapa metode lain seperti
pemodelan,
> simulasi, analisis trend, dll. Uraian bapak memperjelas beberapa
pendekatan
> di dalamnya, mudah-mudahan dapat menjadi populer sebagai pilihan dalam
> kajian futurologi. Mengenai istilah 'peramalan' sepertinya kurang
cocok
> karena terkesan 'kurang terukur'. Iskandar Alisyahbana menggunakan
istilah
> 'penerawangan', namun hemat saya istilah 'mengukur masa depan'
kelihatannya
> lebih bertanggung jawab. Mudah-mudahan ada rekan pembelajar yang
bersedia
> berbagi wawasan lebih lanjut.
>
> Sekelompok anak muda alumni ITB beberapa tahun yang lalu menerbitkan
jurnal,
> sepertinya rekan-rekan Bang Zaid, salah satunya mengkaji tentang
'theory of
> complexity'. Saya kurang tahu kelanjutannya, namun kelihatannya
berambisi
> membangun model-model kompleks. Dengan kata lain, selama ini telah ada
> bibit-bibit yang mencoba menembus kendala-kendala pendekatan itu.
>
> Extrapolasi begitu saja memang terkesan kurang bertanggung jawab, kita
> cukupkan di dunia perencanaan; dan sepertinya sekarang sudah mulai
> hati-hati.
>
> Saya dulu pernah membaca buku karya Siswono Yudhohusodo, ketika beliau
> bereksperimen dalam suatu skenario migrasi beberapa suku bangsa dan
ras di
> Indonesia ini; sangat mengesankan dan cukup berhasil meyakinkan
tentang
> trend antropologis itu. Sehingga metode skenario ini menurut saya
cenderung
> populer ke depan, namun hendaknya juga menggunakan ukuran-ukuran.
>
> Salah satu keunggulan futurologi saya kira adalah tidak mengenal
'bangun
> kesepakatan' dan juga 'tidak butuh policy', dan semata tunduk kepada
'hukum
> alam' (sunnatullah); yang bagaimana pun disiasati, akan berlangsung
juga.
> Cepat atau lambat, jauh atau dekat, di dunia atau di akhirat; dan
kalau
> terukur mudah-mudahan menjadi berkat. Sehingga menarik juga dipelajari
> sebagai pengetahuan.
>
> Mengenai time-line atau duration time saya kira fleksibel saja,
sekurangnya
> ada sedikit kemerdekaan kita dalam membayangkan masa-masa di depan
kita (ini
> koreksi lagi).
>
> Mudah-mudahan diskusi kecil kita ini dapat berkembang lebih lanjut.
> Sebelumnya terima kasih pak. Salam.
>
> -ekadj
>
>
>
> --- In [email protected], "risfano" risfano@ wrote:
> >
> >
> > Pak Wawo, Eka dan rekan2 ysh,
> >
> > Bicara time-line atau cycles, dalam jangka panjang mau tidak mau
bicara
> > skenario. Kata Peter Schward, skenario dibuat karena dalam kasus
> > kompleks extrapolasi sulit dilakukan, karena beberapa faktor utama
yang
> > tidak bisa diramal (hasil pemilu, keputusan pemimpin, konflik, dst).
> >
> > Setidaknya ada beberapa plot skenario yang bisa dipertimbangkan:
> > Pertama, yang normal ekstrapolatif. Kedua, cyclical. Sejarah yang
> > berulang dalam kurun waktu tertentu. Misalnya pra-Orba rakyat
'ngantri
> > minyak', setelah lima dekade rakyat 'ngantri minyak' lagi.
> >
> > Ketiga, challenge and response. Ada tantangan, kendala tapi bisa
> > diresponse. Ada masalah volume lalu-lintas yang tinggi, kebutuhan
lahan
> > yang melonjak. Lalu direspons dengan pembangunan prasarana jalan,
> > distribusi pusat-pusat. Maka kota meluas, lalu muncul masalah
> > metropolitan (sprawl), lalu direspons dengan pembangunan ring-road,
> > outer-ring-road. Direspons terus dengan pertumbuhan intensif ala
rumah
> > susun, ....dst, .....dst. Ini secara jangka panjang tampak sebagai
> > sesuatu yang linier juga. Tapi sampai kapan? Tentu ada batasnya.
> >
> > Keempat, skenarionya Lone Ranger atau Rambo. Alias ndableg. Ada
> > kemungkinan pemimpin dan sistem tidak peduli dengan
> > 'perubahan-perubahan' atau "tanda-tanda zaman". Yakin saja dengan
> > keputusan dan nikmat dengan tren yang ada, nyaman, tak mau berubah.
> > Pada pertengahan 70an wacana 'minyak akan habis' sudah dikembangkan,
> > teknologi tepat-guna, solar energy sudah diperkenalkan. Tapi tidak
> > mendapat sambutan. Maka sejarah harus menghadapi realita keras.
Bukannya
> > kampanye industrialisasi, malahan menteri perindustrian dan 4
menteri
> > lainnya sibuk melarang industri bekerja penuh, dengan ancaman lagi
(Lho,
> > katanya mau bersing?).
> >
> > Kelima, skenario evolutif. Perubahan yang lambat tidak terasa,
> > seringkali memang menghanyutkan. Contohnya mungkin "global warming".
> > Atau ini tidak lambat ya, karena setelah beribu tahun 'bumi aman',
kok
> > tiba-tiba satu abad ini saja jadi memanas. Mungkin yang evolutif itu
> > perkembangan wilayah seperti Tomohon, sampai datangnya the flower
> > festival?
> >
> > So, apakah memang kita bisa meramal sampai lebih dari 10 tahun?
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> > http://urbanis.wordpress.com <http://urbanis.wordpress.com>
>


Kirim email ke