Rekan-rekan milister ysh,

Suatu tulisan yang bermanfaat adalah yang dapat berkembang menjadi pemicu
pembacanya untuk mengulas dan menggalinya. (Untuk menyampaikan posisi kita,
kadang perlu kata-kata yang tajam...he he he.). Tulisan dan waktu-ruang yang
diluangkan ternyata dapat lebih membuka perdebatan aspek konseptual
tersebut. Dan saya gembira bahwa pernyataan yang saya kutip dari salah satu
diskusi dalam program DPU (Develoment Planning Unit) di U.C.London 1978-1979
yll tersebut telah lebih membuka diskusi dan pemikiran rekan-rekan sekalian
bahwa di setiap aliran atau sekolah ilmu (school of thought) dapat lahir
dari malaikat hingga setan yang memicu kesejahteraan atau kesengsaraan.
Begitu juga di bidang ekonomi (ilmu menghitung eko, atau mengelola rumah
tangga kehidupan alam termasuk manusia di dalamnya), kalau secara holistik
sangat perlu sehingga secara sederhana (ceteris paribus) kita dapat mengerti
perilaku transaksi yang terjadi dari aspek-aspek nyata yang disederhanakan
tersebut agar lebih arif memahami (eko-logi) dan mengelola (eko-nomi)
lingkungan (rumah tangga) tersebut bagi kesejahteraan unsur-unsur rumah
tangga yang berbeda-beda didalamnya. Namun secara "picik" dapat juga cuma
memainkan "game" angka-angka non-riel, yang berpotensi memenangan game walau
dengan korban non-pemain yang lebih banyak.... Karena mereka lupa bahwa
suatu negara bukan a "private corporate", walau international interprise
sekalipun...karena the real client is the people, who are the real owner of
this country, not the local government, not the investors, not the experts,
not even the "united nations" or the world class organizer....

Jadi mas Djarot, silahkan kebakaran jenggot kalau merasa sekolah arsitektur
terusik, asal yang lahir adalah peningkatan kearifan atas mengapa pernyataan
tersebut lahir dan bagaimana meningkatkan agar eksistensinya menjadi lebih
unggul...

Saya sendiri masih mengajar di sekolah arsitektur, pengembangan perkotaan
dan lingkungan. Saya juga mengelola m.k.arsitektur di kawasan pesisir,
memasukkan aspek lingkungan tropis kepulauan sebagai bagian dari m.k. teknik
bangunan di s1 dan s2 arsitektur,  juga di s2 aspek Indonesia sebagai negara
kepulauan dan perjuangan mempertahankan wawasan negara pulau-laut menjadi
bagian awal dari perencanaan kota dan wilayah sebelum menganalisis
teori-teori dari sono, kepada calon doktor ilmu lingkungan aspek kepulauan
juga menjadi dasar pemahaman kewilayahan dan lingkungan hidupnya. Saya juga
tidak alergi dengan ilmu ekonomi (engineering, mikro dan makro) dalam bagian
dari analisis kuantiatif, yang tidak terlepas dari aspek kualitatif, spasial
(bukan dua dimensional) dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Jadi kalau saya dianggap anti sekolah arsitektur mungkin itu penilaian
pribadi pembaca, monggo wae. Yang terang saya bergandengan tangan dengan
sesama rekan-rekan mahasiswa, pengajar, peneliti, pejabat dan konsultan dari
berbagai disiplin ilmu yang tidak mau tunduk kepada pakem lama, apalagi
kalau cuma sekadar import, atau tradisional mati. Kami percaya bahwa tradisi
Indonesia baru dapat lahir sebagai negara pulau-laut terbesar yang lebih
unggul daripada Indonesia lama yang sekadar warisan atau foto-copy bangsa
lain. We should create our own prosperity through improving our unique
capacities...

"We learn from the past, not for copying them, but to develop better
changes, together with the changing environment we live in". Dan rekan-rekan
di Coastal Zone Asia Pacific 2008 cukup setuju dengan pernyataan tersebut...

....khayal...ngaco...ngawur...(eyang aby?). ga po-po yang, pancen akeh panah
kang njuju dewekku...sing penting ngger parikesit sak anak putune iso
nglangni urip gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharjo, wedus
pitik bali neng kandange dewe-dewe...

Nuwun sewu,

Abimanyu

2008/10/23 Harya Setyaka <[EMAIL PROTECTED]>

>   iya betull...
>
> profesi yg merusak ya namanya 'perusak'...
>
> gini aja deh... lulusan arsitek-planner Indonesia kalao kerja di LN ikut
> rusak ga??
> kalo ga... artinya bukan profesi-nya atau sekolahannya yg nge-rusak..
> tapi mungkin karena mereka hanyalah ikan-2 yg berenang di kolam yg cemar.
>
> salam,
> -K-
>
>
> On Mon, Oct 20, 2008 at 11:23 AM, risfano <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>>   Wah, diskusi kok mengarah pada tuduhan rusak-rusakan? Apakah ada
>> profesi yang born to destroy, kecuali pasukan "pembom".
>>
>> Saya jadi ingat ajakan Pak Onnos yang melihat "proses & produk"
>> profesi planning dan arsitek perkotaan sebagai bagian dari Kebijakan
>> Publik. Namanya public, itu berarti "multi-pihak" dan "multi-
>> kepentingan". Artinya perencana juga menjadi satu pihak saja, masih
>> banyak pihak dan kepentingan lain yang (lebih) menentukan. Di luar
>> soal SIAPA, perlu dilihat pula PROSES-nya.
>>
>> TAHAP PERENCANAAN. Perencana atau arsitek kota, mestinya merencana
>> berdasarkan kaidah ilmunya. Asal itu dilakukan dengan lengkap dan
>> benar mestinya ya benar secara profesi. Tapi itu baru produk
>> teknokrasi. Sekanag itu mesti disusun lewat proses partisipatif,
>> melibatkan stakeholder, antar SKPD, ada wakil masyarakat, pengusaha,
>> profesi lain, dst. Lalu proses politis, lewat pembahasan di
>> legislative, dst. Lalu proses hukum, dikaitkan dengan produk hukum/
>> konsiderans nya. Kalau sudah akan disyahkan oleh Kepada Daerah dan
>> DPRD. Sehingga hasilnya belum tentu persis seperti yang dibuat planer,
>> bisa +/-.
>>
>> TAHAP PENGANGGARAN. Kita semua tahu proses ini dilaksanakan tahunan,
>> ada "pertarungan" prioritas antar sector, antar program. Semua sector
>> punya prioritas, PU punya prioritas, Pendidikan menuntut janji 20%
>> nya, Kesehatan minta subsidi lebih banyak untuk janji kesehatan
>> gratisnya dst. Sehingga hasilnya juga tidak selalu seperti yang
>> disepakati seperti rencana jangka menengah, apalagi panjang.
>>
>> TAHAP PELAKSANAAN. Bagaimana produk rencana dan anggaran dilaksanakan?
>> Apakah rencana sudah difahami oelh semua jajaran, disosialisasikan ke
>> masyarakat? Bagaimana kapasitas dan kapabilitas SKPD terkait? Dst.
>> Sementara perkembangan permasalahan di masyarakat secara dinamis
>> berubah terus.
>>
>> Kalau budget terbatas, biasanya terus melibatkan investor swasta,
>> bagaimana prosesnya? Kalau melibatkan swadaya masyarakat, bagaimana
>> prosesnya? Apa konsesi yang diberikan? Apa untung/ruginya (risiko
>> nya)?
>>
>> Jadi sebelum jump-to-conclusion, mencari kambing nya, mungkin ada
>> baiknya menganalisis dulu prosesnya. Apakah seluruh proses sudah
>> dilaksanakan dengan benar? Kalau tidak, mengapa? Kalau sudah, pada
>> tahap dan proses mana terjadi masalah? Bagaimana solusinya? Dst.
>> Apakah begitu?
>>
>> Salam,
>> Risfan Munir
>>
>> > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>,
>> Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
>> > > >
>> > > > Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan arsitek sebagai
>> > > perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini
>> (mungkin
>> > juga
>> > > masa depan!) Jika demikian, apakah institusi pendidikan profesi
>> yang
>> > > merusak dunia ini dibubarkan saja ?
>> > > >
>> > > > Memang merupakan sebuah misteri penciptaan, bahwa ciptaan selalu
>> > > diciptakan menjadi minimal dua golongan, yang baik dan yang buruk;
>> > > malaikat atau setan, kira-kira begitu. Dalam dunia profesi selalu
>> juga
>> > > ada demikian, praktek profesi yang baik dan yang buruk, semuanya
>> > > berbasis nilai-nilai yang diyakininya masing-masing.
>> > > >
>> > > > Bagaimana argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah
>> > > penyandang dosa utama adalah profesi arsitek. Heheheee.... nyuwun
>> > > pencerahan, sebab saya masih mendosen di institusi yang mendidik
>> para
>> > > arsitek....jangan-jangan semua dosa ditumpahkan seluruhnya pada
>> > > kami...heheheee....terus apa saran dan nasihatnya dari mantan
>> arsitek
>> > > seperti bapak ? Lha mengapa bapak tidak taat di dunia para perusak
>> > untuk
>> > > mengubahnya dari dalam, bukan melempari batu dari luar
>> heheheee....
>> > > bagaimana pak....mohon pencerahan ya....sebab saya punya posisi
>> yang
>> > > memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak
>> > > ini....mumpung masih ada di dalamnya.....
>> > > >
>> > > > Salam,
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > > Djarot Purbadi
>> > > >
>> > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > > Halo Pak  Ono yang sudah nywasta,
>> > > >
>> > > > Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah
>> > > "muddling  through" atau "barefood architect"...
>> > > > itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi
>> bagi
>> > > rakyat yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja,
>> yang
>> > > sipengguna harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu
>> saya
>> > > mulai sadar bahwa arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini,
>> dan
>> > > masih berlanjut hingga saat ini).
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>> > > >
>>
>
>  
>

Kirim email ke