Oke Pak, mistifikasi memang tabu di kalangan akademisi, terima kasih atas 
peringatannya. Pak saya masih penasaran, bagaimana ceriteranya kok Pak Abim 
sampai kesimpulan begitu tajam. Tentu saya masih ingin tahu, dan mohon ceritera 
yang lebih panjang, jika memang panjang dan itupun jika panjenengan berkenan 
mendongengnya. Sebab, menurut saya karakter yang satu ini nggak pernah menjadi 
substansi diskursus di kalangan para arsitek...yang semestinya peka terhadap 
hal itu. Paling-paling hanya dibahas menjadi mata kuliah etika profesi. Mohon 
dongeng tambahan ya Pak.

Orang sudah terlanjur mencap bahwa profesi arsitek itu baik-baik saja, bahkan 
iklan televisi-pun menggunakan figur arsitek (minimal orang cakep, meja gambar 
miring, kertas panjang digulung, dsb) untuk iklan. Jika kita memandangnya, kita 
tentu akan maklum sebab itulah image arsitek dimata awam....

Salam,



Djarot Purbadi




--- On Fri, 10/24/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: Profesi yang merusak?
To: [email protected]
Date: Friday, October 24, 2008, 8:24 AM










    
            Mas Djarot, menurutdosen saya (bukan bapakku...) yang temen beliau, 
waktu ditanya...apakah romo memang punya konsep awal mengenai pengembngan 
masyarakat code ? beliau menjawab bahwa sebetulnya beliau suka saja 
bereksperimen dengan mengolah lereng sungai yang berterpa-terap dengan design 
alami....

Catatan saya tersebut cuma untuk menggambarkan bahwa romo juga manusia...tidak 
perlu terlalu di "mistifying"...dan tugas sebagai romo memang jalan hidup yang 
dipilih sehari-hari. ..
Jadi...ya jalan sajalah....mengalir dengan ikhlas....nanti juga sampai kemana 
yang kita diberikanNya. ..

Kalau suka hidup bersama masyarakat silahkan...tetapi kalau juga sekaligus 
tetap sebagai dosen , peneliti dan konsultan, baik di satu disiplin maupun 
multi, inter, hingga menjadi trans disiplin juga ok saja...nanti juga menemukan 
kebernaran yang paling cocok dihati...

mengenai arsitek perusak lingkungan.. .pernyataan tsb bukan pernyataan asli 
saya tetapi pendapat yang berkembang diluar dunia arsitek, walaupun yang 
menyampaikannya pertama kali ke saya adalah seorang arsitek dari Brasil. Dan 
saya sepakat pendapat beliau...dengan catatan bahwa masih banyak arsitek yang 
percaya, belajar dan mengutamakan karyanya sebagai "brand" pribadi...tanpa 
mengutamakan aspek lingkungan, manusia yang terkena dampak...bahkan sang client 
sendiri...dan ekonomipun kadang harus mengalah kepada kemauan si master arsitek 
sehingga sang client terpaksa atau harus merogoh koceknya agar monumen pribadi 
sang arsitek dapat terwujud.... yang tidak setuju dianggap.... belum 
ngarsitek... (bukan durung jowo...lho). Tentu saja tidak semua arsitek semacam 
itu, dan tidak semua pengajar arsitek mendidik muridnya untuk menjadi semacam 
itu...dan tidak harus dianggap bukan arsitek lho mereka itu...

konsep muddling through dan arsitek kaki kotor atau aliran John Turner, Johan 
Silas dll pasti tak sepakat kalau mereka bukan arsitek dan bukan tidak 
memperhatikan masyarakat dan lingkungannya. ..walau menggunakan paradigma 
lain...Sama seperti saya tidak sefaham dengan Marco yang menganjurkan komunitas 
pesisir harus dipindah ke daratan, jauh dari pantai agar bebas Tsunai, atau 
sebaiknya pemerintah kota mengiklaskan sebagian tanah Situ Depok bagi penduduk 
miskin yang menduduki dan mereklamasi tepiannya karena mereka hidup dari tempat 
itu....Saya tidak sepakat karena beliau tidak memahami permasalahan sosial dan 
lingkungan setempat dan sangat sektoral.... .bukan tidak mengakui arsitek atau 
kearsitekturan belaiau atau sebaliknya.. ...cuma beda paradigma saja....dan 
menurut saya paradigma yag dianut tergantung perkembangan masukan yang 
masing-masing alami, hayati dan praktekkan dalam kehidupan berprofesinya selama 
ini. Waktu saya meninggalkan dunia swasta,
 saya disebut bodoh, tetapi saya membuktikan sendiri bahwa kehidupan saya tidak 
menurun bahkan meningkat dengan kehidupan yang baru. Bahkan pada saat krisi, 
saya bahkan tidak mengalami krisi tersebut, ...karena kesejahteraan kita bukan 
diatur perhitungan ekonomi manusia, semua diberikanNya sesuai haraan kita....

Ok dulu deh, cucu saya ngajak jalan-jalan cari oleh-oleh buat anak-anak di 
Indonesia... .
Jangan terlalu fanatik, dogmatis atau sebaliknya kecewa dengan profesi 
sekarang...tetap berkarya, mengalir dengan iklas dan selalu improve ourself....

Salam,

Abimanyu


2008/10/23 Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>

















    
            
Pak Abimanyu, saya tidak kebakaran jenggot meski punya sedikit jenggot....saya 
salut dengan pandangan panjenengan. ...nuwun sewu: sama dengan saya....hanya 
kayaknya panjenengan lebih lantang dan duluan mengatakan di forum ini....lebih 
berani...saya setuju...dan ingin belajar tentang pengalaman panjenengan. 
...bagaimana kok sampai pada kesimpulan itu....suwer ini serius ! Sudah lama 
saya merasakan hal itu dan mungkin belum cukup isi benak saya sampai nggak 
mudeng-mudeng juga....bahkan, langkah saya yang "di luar pakem" (???) juga 
akibat dari kritik Romo Mangun ke Bapak saya bahwa wuuuu... kleru kuwi sekolah 
eh kuliah neng arsitektur !....batinnya barangkali bilang guoblok kowe...aku 
saja keluar dari arsitektur ugm jee ! Romo sampai pada pandangan seperti itu 
tentunya punya latarbelakang yang kuat...sampai- sampai beliau turun sendiri di 
tepi kali untuk hidup
 bersama dengan masyarakat tersisih.... ada apa di balik fenomena Romo ? Tentu 
ada sesuatu yang sangat mendasar.... .

Salam,



Djarot Purbadi




--- On Thu, 10/23/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [referensi] Re: Profesi yang merusak?
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com

Date: Thursday, October 23, 2008, 8:42 AM







    
            Rekan-rekan milister ysh,

Suatu tulisan yang bermanfaat adalah yang dapat berkembang menjadi pemicu 
pembacanya untuk mengulas dan menggalinya. (Untuk menyampaikan posisi kita, 
kadang perlu kata-kata yang tajam...he he he.). Tulisan dan waktu-ruang yang 
diluangkan ternyata dapat lebih membuka perdebatan aspek konseptual tersebut. 
Dan saya gembira bahwa pernyataan yang saya kutip dari salah satu diskusi dalam 
program DPU (Develoment Planning Unit) di U.C.London 1978-1979 yll tersebut 
telah lebih membuka diskusi dan pemikiran rekan-rekan sekalian bahwa di setiap 
aliran atau sekolah ilmu (school of thought) dapat lahir dari malaikat hingga 
setan yang memicu kesejahteraan atau kesengsaraan. Begitu juga di bidang 
ekonomi (ilmu menghitung eko, atau mengelola rumah tangga kehidupan alam 
termasuk manusia di dalamnya), kalau secara holistik sangat perlu sehingga 
secara sederhana (ceteris paribus) kita dapat mengerti perilaku transaksi yang
 terjadi dari aspek-aspek nyata yang disederhanakan tersebut agar lebih arif 
memahami (eko-logi) dan mengelola (eko-nomi) lingkungan (rumah tangga) tersebut 
bagi kesejahteraan unsur-unsur rumah tangga yang berbeda-beda didalamnya. Namun 
secara "picik" dapat juga cuma memainkan "game" angka-angka non-riel, yang 
berpotensi memenangan game walau dengan korban non-pemain yang lebih banyak.... 
Karena mereka lupa bahwa suatu negara bukan a "private corporate", walau 
international interprise sekalipun... karena the real client is the people, who 
are the real owner of this country, not the local government, not the 
investors, not the experts, not even the "united nations" or the world class 
organizer... . 



Jadi mas Djarot, silahkan kebakaran jenggot kalau merasa sekolah arsitektur 
terusik, asal yang lahir adalah peningkatan kearifan atas mengapa pernyataan 
tersebut lahir dan bagaimana meningkatkan agar eksistensinya menjadi lebih 
unggul...



Saya sendiri masih mengajar di sekolah arsitektur, pengembangan perkotaan dan 
lingkungan. Saya juga mengelola m.k.arsitektur di kawasan pesisir, memasukkan 
aspek lingkungan tropis kepulauan sebagai bagian dari m.k. teknik bangunan di 
s1 dan s2 arsitektur,  juga di s2 aspek Indonesia sebagai negara kepulauan dan 
perjuangan mempertahankan wawasan negara pulau-laut menjadi bagian awal dari 
perencanaan kota dan wilayah sebelum menganalisis teori-teori dari sono, kepada 
calon doktor ilmu lingkungan aspek kepulauan juga menjadi dasar pemahaman 
kewilayahan dan lingkungan hidupnya. Saya juga tidak alergi dengan ilmu ekonomi 
(engineering, mikro dan makro) dalam bagian dari analisis kuantiatif, yang 
tidak terlepas dari aspek kualitatif, spasial (bukan dua dimensional) dan 
keberlanjutan lingkungan hidup.


Jadi kalau saya dianggap anti sekolah arsitektur mungkin itu penilaian pribadi 
pembaca, monggo wae. Yang terang saya bergandengan tangan dengan sesama 
rekan-rekan mahasiswa, pengajar, peneliti, pejabat dan konsultan dari berbagai 
disiplin ilmu yang tidak mau tunduk kepada pakem lama, apalagi kalau cuma 
sekadar import, atau tradisional mati. Kami percaya bahwa tradisi Indonesia 
baru dapat lahir sebagai negara pulau-laut terbesar yang lebih unggul daripada 
Indonesia lama yang sekadar warisan atau foto-copy bangsa lain. We should 
create our own prosperity through improving our unique capacities.. .



"We learn from the past, not for copying them, but to develop better changes, 
together with the changing environment we live in". Dan rekan-rekan di Coastal 
Zone Asia Pacific 2008 cukup setuju dengan pernyataan tersebut...



....khayal.. .ngaco... ngawur... (eyang aby?). ga po-po yang, pancen akeh panah 
kang njuju dewekku...sing penting ngger parikesit sak anak putune iso nglangni 
urip gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharjo, wedus pitik bali neng 
kandange dewe-dewe...



Nuwun sewu,

Abimanyu

2008/10/23 Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>


















    
            iya betull...

profesi yg merusak ya namanya 'perusak'...

gini aja deh... lulusan arsitek-planner Indonesia kalao kerja di LN ikut rusak 
ga??
kalo ga... artinya bukan profesi-nya atau sekolahannya yg nge-rusak..



tapi mungkin karena mereka hanyalah ikan-2 yg berenang di kolam yg cemar.

salam,
-K-


On Mon, Oct 20, 2008 at 11:23 AM, risfano <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:



















    
            Wah, diskusi kok mengarah pada tuduhan rusak-rusakan? Apakah ada 

profesi yang born to destroy, kecuali pasukan "pembom".



Saya jadi ingat ajakan Pak Onnos yang  melihat "proses & produk" 

profesi planning dan arsitek perkotaan sebagai bagian dari Kebijakan 

Publik. Namanya public, itu berarti "multi-pihak" dan "multi-

kepentingan". Artinya perencana juga menjadi satu pihak saja, masih 

banyak pihak dan kepentingan lain yang (lebih) menentukan. Di luar 

soal SIAPA, perlu dilihat pula PROSES-nya.



TAHAP PERENCANAAN. Perencana atau arsitek kota, mestinya merencana 

berdasarkan kaidah ilmunya. Asal itu dilakukan dengan lengkap dan 

benar mestinya ya benar secara profesi. Tapi itu baru produk 

teknokrasi. Sekanag itu mesti disusun lewat proses partisipatif, 

melibatkan stakeholder, antar SKPD, ada wakil masyarakat, pengusaha, 

profesi lain, dst. Lalu proses politis, lewat pembahasan di 

legislative, dst. Lalu proses hukum, dikaitkan dengan produk hukum/ 

konsiderans nya. Kalau sudah akan disyahkan oleh Kepada Daerah dan 

DPRD. Sehingga hasilnya belum tentu persis seperti yang dibuat planer, 

bisa +/-.



TAHAP PENGANGGARAN. Kita semua tahu proses ini dilaksanakan tahunan, 

ada "pertarungan" prioritas antar sector, antar program. Semua sector 

punya prioritas, PU punya prioritas, Pendidikan menuntut janji 20% 

nya, Kesehatan minta subsidi lebih banyak untuk janji kesehatan 

gratisnya dst. Sehingga hasilnya juga tidak selalu seperti yang 

disepakati seperti rencana jangka menengah, apalagi panjang.



TAHAP PELAKSANAAN. Bagaimana produk rencana dan anggaran dilaksanakan? 

Apakah rencana sudah difahami oelh semua jajaran, disosialisasikan ke 

masyarakat? Bagaimana kapasitas dan kapabilitas SKPD terkait? Dst. 

Sementara perkembangan permasalahan di masyarakat secara dinamis 

berubah terus.



Kalau budget terbatas, biasanya terus melibatkan investor swasta, 

bagaimana prosesnya? Kalau melibatkan swadaya masyarakat, bagaimana 

prosesnya? Apa konsesi yang diberikan? Apa untung/ruginya (risiko 

nya)?



Jadi sebelum jump-to-conclusion, mencari kambing nya, mungkin ada 

baiknya menganalisis dulu prosesnya. Apakah seluruh proses sudah 

dilaksanakan dengan benar? Kalau tidak, mengapa? Kalau sudah, pada 

tahap dan proses mana terjadi masalah? Bagaimana solusinya? Dst.

Apakah begitu?



Salam,

Risfan Munir

> > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

> > >

> > > Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan arsitek sebagai

> > perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini 

(mungkin

> juga

> > masa depan!) Jika demikian, apakah institusi pendidikan profesi 

yang

> > merusak dunia ini dibubarkan saja ?

> > >

> > > Memang merupakan sebuah misteri penciptaan, bahwa ciptaan selalu

> > diciptakan menjadi minimal dua golongan, yang baik dan yang buruk;

> > malaikat atau setan, kira-kira begitu. Dalam dunia profesi selalu 

juga

> > ada demikian, praktek profesi yang baik dan yang buruk, semuanya

> > berbasis nilai-nilai yang diyakininya masing-masing.

> > >

> > > Bagaimana argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah

> > penyandang dosa utama adalah profesi arsitek. Heheheee.... nyuwun

> > pencerahan, sebab saya masih mendosen di institusi yang mendidik 

para

> > arsitek....jangan- jangan semua dosa ditumpahkan seluruhnya pada

> > kami...heheheee. ...terus apa saran dan nasihatnya dari mantan 

arsitek

> > seperti bapak ? Lha mengapa bapak tidak taat di dunia para perusak

> untuk

> > mengubahnya dari dalam, bukan melempari batu dari luar 

heheheee....

> > bagaimana pak....mohon pencerahan ya....sebab saya punya posisi 

yang

> > memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak

> > ini....mumpung masih ada di dalamnya.... .

> > >

> > > Salam,

> > >

> > >

> > >

> > > Djarot Purbadi

> > >

> >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >             Halo Pak  Ono yang sudah nywasta,

> > >

> > > Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah 

> > "muddling  through" atau "barefood architect"...

> > > itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi 

bagi

> > rakyat yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, 

yang

> > sipengguna harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu 

saya

> > mulai sadar bahwa arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, 

dan

> > masih berlanjut hingga saat ini).

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >


      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




      


         
        
        


      
      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke