Pak Abimanyu, saya tidak kebakaran jenggot meski punya sedikit jenggot....saya salut dengan pandangan panjenengan....nuwun sewu: sama dengan saya....hanya kayaknya panjenengan lebih lantang dan duluan mengatakan di forum ini....lebih berani...saya setuju...dan ingin belajar tentang pengalaman panjenengan....bagaimana kok sampai pada kesimpulan itu....suwer ini serius ! Sudah lama saya merasakan hal itu dan mungkin belum cukup isi benak saya sampai nggak mudeng-mudeng juga....bahkan, langkah saya yang "di luar pakem" (???) juga akibat dari kritik Romo Mangun ke Bapak saya bahwa wuuuu... kleru kuwi sekolah eh kuliah neng arsitektur !....batinnya barangkali bilang guoblok kowe...aku saja keluar dari arsitektur ugm jee ! Romo sampai pada pandangan seperti itu tentunya punya latarbelakang yang kuat...sampai-sampai beliau turun sendiri di tepi kali untuk hidup bersama dengan masyarakat tersisih....ada apa di balik fenomena Romo ? Tentu ada sesuatu yang sangat mendasar.....
Salam, Djarot Purbadi --- On Thu, 10/23/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [referensi] Re: Profesi yang merusak? To: [email protected] Date: Thursday, October 23, 2008, 8:42 AM Rekan-rekan milister ysh, Suatu tulisan yang bermanfaat adalah yang dapat berkembang menjadi pemicu pembacanya untuk mengulas dan menggalinya. (Untuk menyampaikan posisi kita, kadang perlu kata-kata yang tajam...he he he.). Tulisan dan waktu-ruang yang diluangkan ternyata dapat lebih membuka perdebatan aspek konseptual tersebut. Dan saya gembira bahwa pernyataan yang saya kutip dari salah satu diskusi dalam program DPU (Develoment Planning Unit) di U.C.London 1978-1979 yll tersebut telah lebih membuka diskusi dan pemikiran rekan-rekan sekalian bahwa di setiap aliran atau sekolah ilmu (school of thought) dapat lahir dari malaikat hingga setan yang memicu kesejahteraan atau kesengsaraan. Begitu juga di bidang ekonomi (ilmu menghitung eko, atau mengelola rumah tangga kehidupan alam termasuk manusia di dalamnya), kalau secara holistik sangat perlu sehingga secara sederhana (ceteris paribus) kita dapat mengerti perilaku transaksi yang terjadi dari aspek-aspek nyata yang disederhanakan tersebut agar lebih arif memahami (eko-logi) dan mengelola (eko-nomi) lingkungan (rumah tangga) tersebut bagi kesejahteraan unsur-unsur rumah tangga yang berbeda-beda didalamnya. Namun secara "picik" dapat juga cuma memainkan "game" angka-angka non-riel, yang berpotensi memenangan game walau dengan korban non-pemain yang lebih banyak.... Karena mereka lupa bahwa suatu negara bukan a "private corporate", walau international interprise sekalipun... karena the real client is the people, who are the real owner of this country, not the local government, not the investors, not the experts, not even the "united nations" or the world class organizer... . Jadi mas Djarot, silahkan kebakaran jenggot kalau merasa sekolah arsitektur terusik, asal yang lahir adalah peningkatan kearifan atas mengapa pernyataan tersebut lahir dan bagaimana meningkatkan agar eksistensinya menjadi lebih unggul... Saya sendiri masih mengajar di sekolah arsitektur, pengembangan perkotaan dan lingkungan. Saya juga mengelola m.k.arsitektur di kawasan pesisir, memasukkan aspek lingkungan tropis kepulauan sebagai bagian dari m.k. teknik bangunan di s1 dan s2 arsitektur, juga di s2 aspek Indonesia sebagai negara kepulauan dan perjuangan mempertahankan wawasan negara pulau-laut menjadi bagian awal dari perencanaan kota dan wilayah sebelum menganalisis teori-teori dari sono, kepada calon doktor ilmu lingkungan aspek kepulauan juga menjadi dasar pemahaman kewilayahan dan lingkungan hidupnya. Saya juga tidak alergi dengan ilmu ekonomi (engineering, mikro dan makro) dalam bagian dari analisis kuantiatif, yang tidak terlepas dari aspek kualitatif, spasial (bukan dua dimensional) dan keberlanjutan lingkungan hidup. Jadi kalau saya dianggap anti sekolah arsitektur mungkin itu penilaian pribadi pembaca, monggo wae. Yang terang saya bergandengan tangan dengan sesama rekan-rekan mahasiswa, pengajar, peneliti, pejabat dan konsultan dari berbagai disiplin ilmu yang tidak mau tunduk kepada pakem lama, apalagi kalau cuma sekadar import, atau tradisional mati. Kami percaya bahwa tradisi Indonesia baru dapat lahir sebagai negara pulau-laut terbesar yang lebih unggul daripada Indonesia lama yang sekadar warisan atau foto-copy bangsa lain. We should create our own prosperity through improving our unique capacities.. . "We learn from the past, not for copying them, but to develop better changes, together with the changing environment we live in". Dan rekan-rekan di Coastal Zone Asia Pacific 2008 cukup setuju dengan pernyataan tersebut... ....khayal.. .ngaco... ngawur... (eyang aby?). ga po-po yang, pancen akeh panah kang njuju dewekku...sing penting ngger parikesit sak anak putune iso nglangni urip gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharjo, wedus pitik bali neng kandange dewe-dewe... Nuwun sewu, Abimanyu 2008/10/23 Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> iya betull... profesi yg merusak ya namanya 'perusak'... gini aja deh... lulusan arsitek-planner Indonesia kalao kerja di LN ikut rusak ga?? kalo ga... artinya bukan profesi-nya atau sekolahannya yg nge-rusak.. tapi mungkin karena mereka hanyalah ikan-2 yg berenang di kolam yg cemar. salam, -K- On Mon, Oct 20, 2008 at 11:23 AM, risfano <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: Wah, diskusi kok mengarah pada tuduhan rusak-rusakan? Apakah ada profesi yang born to destroy, kecuali pasukan "pembom". Saya jadi ingat ajakan Pak Onnos yang melihat "proses & produk" profesi planning dan arsitek perkotaan sebagai bagian dari Kebijakan Publik. Namanya public, itu berarti "multi-pihak" dan "multi- kepentingan". Artinya perencana juga menjadi satu pihak saja, masih banyak pihak dan kepentingan lain yang (lebih) menentukan. Di luar soal SIAPA, perlu dilihat pula PROSES-nya. TAHAP PERENCANAAN. Perencana atau arsitek kota, mestinya merencana berdasarkan kaidah ilmunya. Asal itu dilakukan dengan lengkap dan benar mestinya ya benar secara profesi. Tapi itu baru produk teknokrasi. Sekanag itu mesti disusun lewat proses partisipatif, melibatkan stakeholder, antar SKPD, ada wakil masyarakat, pengusaha, profesi lain, dst. Lalu proses politis, lewat pembahasan di legislative, dst. Lalu proses hukum, dikaitkan dengan produk hukum/ konsiderans nya. Kalau sudah akan disyahkan oleh Kepada Daerah dan DPRD. Sehingga hasilnya belum tentu persis seperti yang dibuat planer, bisa +/-. TAHAP PENGANGGARAN. Kita semua tahu proses ini dilaksanakan tahunan, ada "pertarungan" prioritas antar sector, antar program. Semua sector punya prioritas, PU punya prioritas, Pendidikan menuntut janji 20% nya, Kesehatan minta subsidi lebih banyak untuk janji kesehatan gratisnya dst. Sehingga hasilnya juga tidak selalu seperti yang disepakati seperti rencana jangka menengah, apalagi panjang. TAHAP PELAKSANAAN. Bagaimana produk rencana dan anggaran dilaksanakan? Apakah rencana sudah difahami oelh semua jajaran, disosialisasikan ke masyarakat? Bagaimana kapasitas dan kapabilitas SKPD terkait? Dst. Sementara perkembangan permasalahan di masyarakat secara dinamis berubah terus. Kalau budget terbatas, biasanya terus melibatkan investor swasta, bagaimana prosesnya? Kalau melibatkan swadaya masyarakat, bagaimana prosesnya? Apa konsesi yang diberikan? Apa untung/ruginya (risiko nya)? Jadi sebelum jump-to-conclusion, mencari kambing nya, mungkin ada baiknya menganalisis dulu prosesnya. Apakah seluruh proses sudah dilaksanakan dengan benar? Kalau tidak, mengapa? Kalau sudah, pada tahap dan proses mana terjadi masalah? Bagaimana solusinya? Dst. Apakah begitu? Salam, Risfan Munir > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote: > > > > > > Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan arsitek sebagai > > perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini (mungkin > juga > > masa depan!) Jika demikian, apakah institusi pendidikan profesi yang > > merusak dunia ini dibubarkan saja ? > > > > > > Memang merupakan sebuah misteri penciptaan, bahwa ciptaan selalu > > diciptakan menjadi minimal dua golongan, yang baik dan yang buruk; > > malaikat atau setan, kira-kira begitu. Dalam dunia profesi selalu juga > > ada demikian, praktek profesi yang baik dan yang buruk, semuanya > > berbasis nilai-nilai yang diyakininya masing-masing. > > > > > > Bagaimana argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah > > penyandang dosa utama adalah profesi arsitek. Heheheee.... nyuwun > > pencerahan, sebab saya masih mendosen di institusi yang mendidik para > > arsitek....jangan- jangan semua dosa ditumpahkan seluruhnya pada > > kami...heheheee. ...terus apa saran dan nasihatnya dari mantan arsitek > > seperti bapak ? Lha mengapa bapak tidak taat di dunia para perusak > untuk > > mengubahnya dari dalam, bukan melempari batu dari luar heheheee.... > > bagaimana pak....mohon pencerahan ya....sebab saya punya posisi yang > > memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak > > ini....mumpung masih ada di dalamnya.... . > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Halo Pak Ono yang sudah nywasta, > > > > > > Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah > > "muddling through" atau "barefood architect"... > > > itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi bagi > > rakyat yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, yang > > sipengguna harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu saya > > mulai sadar bahwa arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, dan > > masih berlanjut hingga saat ini). > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > >

