Bambang Tata Samiadji [EMAIL PROTECTED] com wrote: “…..Menurut teman-teman lulusan S-3 yang baru, Regional Planning tidak lagi pola pikir semacam "counter magnet", "tricling down", membuat tandingan-tandingan , memindah-mindahkan, atau semacamnya. Membangun daerah, kata kuncinya adalah INOVASI…….”. Saya tidak komen utk masalah pemindahan ibukota.... tapi tertarik utk masalah 'paradigma regional planning'.... Pertama… sependengaran saya…. Yg namanya inovasi itu adalah kata kunci perubahan kehidupan manusia bahkan sejak zaman neolitikum…. Seperti bahwa semula manusia memakai alat2 dari batu… lalu meningkat menjadi alat2 dari logam….. lalu ketika pada 1769 mesin uap yg pertama dipatenkan…. Lalu kehidupan manusia seluruh duniapun berubah drastis dst… dst… Kedua…. jadi pengin tahu…. Itu pola pikir global campuran negara maju dan miskin atau khusus negara maju saja ya?..... dan yang disebut para S3 baru… atau setengah baru atau setengah lama itu yg pada injak kakinya pada dimana ya?..... sebab sependengaran saya … negeri2 seperti Indonesia ini tertinggalnya setidaknya selalu 100 tahun dalam hal apa saja (entah kalo soal kurupsi, tipu dan KKN) dari negeri2 maju…. dan nggak levellah untuk masalah ‘inovasi’ mau bersanding sama negeri2 maju itu…. Kalau dinegeri maju yg namanya paradigma regional planning sudah tak lagi ngomong contermagnet, trickling down segala…. Tentu saja… wong dari hasil dari kolonialisasi diera pertanian saja yg berabad2 mereka sudah kelewat makmur…. Dan AS pada 1950 pantai baratnya sengaja atau tidak sudah berkembang sebagai countermagnet utk megalopolis (deretan metropolis pantai timurnya Bos-NY-Ph-Bal-Was)… dan Perancis pada 1960 sudah bikin 8 countermagnet coba mengurangi dominasi Paris….. Jepang yg hanya 3 thn menjajah Indonesia saja juga berhasil mengangkut segala rupa barang besi bekas kita…. Sampai para pemuda dan bapak2 kita pakai celananya saja dari karung sampai ada kutunya segala yang dinamai ‘tumo katok (kutu celana)….karena segala sabun cuci juga tidak ada….. Belum lagi dari revolusi industri…. Negeri2 maju juga berpuluh tahun ada didepan kita untuk urusan industri manufaktur dan inovasinya….. Kalau sekedar untuk acara bagi daging kurban saja bangsa kita masih berdesakan hingga jatuh pingsan… menyerbu pembagian uang 20 ribuan di Pasuruan mati 12 orang …. di Petak Sembilan Jkt Kota utk hari raya Imlek ratusan orang2 yg pada dasarnya bukan agama budha berjejer jongkok mengantri menerima saweran dari kelenteng juga (setidaknya malu2in agama saya)….. hasil dari national family planning dan regional devlpmnt yg gagal…. Sementara Jepang misalnya penduduknya hari ini 120 juta (pada 1950 80 juta) lalu pada th 2100 akan menjadi hanya 65 juta….. dan primacy disegitiga Tokyo-Yokohama-Chiba pelan2 juga diimbangi dengan pertumbuhan Kinki megapolitan Region (Kyoto-Osaka-Kobe)…. Selain inovasi ipteknya.. belum lagi overseas economic investmentnya….. Pada 1994 (maaf data kuno)…. Perekonomian dari pulau Hokaido (pulau paling utara paling ‘tertinggal’) saja disebutkan sebagai masih lebih besar dari perkonomian Indonesia plus Thailand…. Atau perkonomian pulau sangat minor Shikoku ditenggara Osaka disebutkan sebagai lebih besar daripada Hongkong, Malaysia atau Singapura…. Jepang pun tida serta merta melejit menyamai budaya perkonomian barat…. tetapi juga melewati masa2 ‘primitip’nya .. seperti pada setting cerita Oshin pada sekitar 1907 dimana orang desa di Jepang sana pada musim dingin masih memakai alas kaki dari jerami …… nyangkul masih pakai sekop…. Ketika perekonomian negara maju terus melejit kedepan.. kita lihat televisi kita yg belasan channel banyaknya hanya banyak menyajikan acara2 goyang pinggul dan cengengesan serta kisah2 murahan selebritis lokal kita saja…. Dengan angka pengangguran setinggi ini dan ketimpangan serta keterpencilan dan ketertinggalan wilayah Jawa-luar Jawa yg dipisah2kan oleh laut2 luas sedahsyat itu (jauh dari kondisi laut dan jarak antar pulau di Jepang dan Pilipina).... Bagaimana kita mau mendadak sontak sok sama dan sok selevel dengan pola pikir atau paradigma pembangunan hari ini dari para negeri maju itu?.... Salam, aby --- On Tue, 12/9/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [referensi] ibukota RI To: [email protected] Date: Tuesday, December 9, 2008, 1:42 AM Pemikiran Andrinof sih oke-oke saja. Banyak awam yang mempunyai pemahaman yang seperti itu. Menurut saya pandangan seperti itu adalah pandangan Ilmu Regional Planning paradigma yang lama yang dan tidak melihat fenomena empiris dan perubahan-perubahan yang terjadi. Menurut teman-teman lulusan S-3 yang baru, Regional Planning tidak lagi pola pikir semacam "counter magnet", "tricling down", membuat tandingan-tandingan , memindah-mindahkan, atau semacamnya. Membangun daerah, kata kuncinya adalah INOVASI. Yang rada nggak ngerti itu penggampangan tentang biaya pemindahan ibukota sebesar Rp 50 triliun. Pertanyaan awam adalah bagaimana memobilisasi uang sebesar itu? Lucunya lagi dibandingkan dengan kerugian akibat kemacetan sebesar Rp 43 triliun pertahun. Memangnya siapa yang rugi Rp 43 triliun itu? Thanks. CU. BTS. --- On Tue, 12/9/08, arinynta <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: arinynta <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: [referensi] ibukota RI To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Tuesday, December 9, 2008, 8:37 AM Wacananya sudah ramai dibicarakan di milis ini beberapa waktu lalu, eh sekarang ada yg mengangkat ke publik... apa yg mengangkatnya di milis ini memberi bocoran ke andrianof??? salam, nita Pindahkan Ibu Kota RI ke Kalimantan / Selasa, 9 Desember 2008 | 15:21 WIB JAKARTA, SELASA - Pembangunan Indonesia yang terjadi saat ini tidak seimbang. Sekitar 80 persen industri terkonsentrasi di Pulau Jawa, yang luasnya hanya 6,8 persen dari daratan Indonesia. Padahal, daya dukung lingkungan dan sumber daya air di Jawa sudah mencapai titik yang memprihatikan dan tidak layak memenuhi kebutuhan penduduknya yang mencapai 59 persen dari total populasi Indonesia. Demikian juga dengan Jakarta, yang masih didera oleh berbagai masalah, seperti banjir, kemacetan, urbanisasi, serta tingkat kriminalitas yang tinggi. Biaya yang harus ditanggung akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp 43 triliun per tahun. Maka itu, pengajar ekonomi politik di jurusan Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, kembali mengangkat wacana perlunya pemindahan ibu kota Indonesia ke wilayah Kalimantan Timur atau Kalimantan Tengah. "Pemindahan ibu kota dapat turut menggerakkan tumbuhnya keseimbangan pembangunan antarwilayah dan mencegah semakin parahnya dampak kongesti pemakaian prasarana transportasi di Jawa," ujar Andrinof dalam peluncuran Visi Indonesia 2033, Selasa (9/12) di Jakarta. Menurutnya, Kalimantan memiliki posisi yang strategis di Indonesia, karena tidak terlalu ke Barat maupun Timur. Andrinof melanjutkan, program-program pemercepatan pemerataan, seperti program transmigrasi, percepatan pembangunan daerah tertinggal tidak efektif, serta hanya menimbulkan pemborosan anggaran, sepanjang pemerintah hanya fokus melakukan pembangunan di pulau Jawa, yang hanya memberikan manfaat kepada segelintir pihak. Ia menambahkan, berdasarkan perhitungannya, biaya memindahkan ibu kota dapat mencapai Rp 50 triliun. Pihak yang mengatakan bahwa angka tersebut terlalu tinggi, kata Andrinof, terlalu menyederhanakan masalah. "Biaya pembangunan tersebut memang tinggi, tapi ini sekali lempar. Sedangkan biaya kemacetan di Jakarta, Rp 43 triliun, harus ditanggung setiap tahun," kata Andrinof. Dengan biaya tersebut, pemerintah dapat melakukan efisiensi dan menggerakkan pertumbuhan moda transportasi udara dan laut nasional, memperkuat ekonomi, menghilangkan faktor penyebab struktural urbanisasi, dan migrasi penduduk ke Jawa. Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

