Halo Bung Aunur, ceritanya menarik. Eh aku tak pernah bilang hanya finansial saja. Jadi ketika analisis SWOT, saya tulis juga analisis "environment"-nya. Yang saya maksud dengan environment tanda petik ya itu,.... masalah iklim kondusif bagi usaha industri. Sekali lagi cerita Anda melengkapi dari sisi positivisme (riil), tidak hanya normatif-normatif saja. Good...good.
Thanks. CU. BTS. Bambang wrote : ......Analsis SWOT tidak cukup, harus pula dilihat "environment"nya juga, kondusif atau tidak. --- On Thu, 1/22/09, Aunur rofiq <[email protected]> wrote: From: Aunur rofiq <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Permisi Re: (3) Menyemai Klaster Industri Perahu di KTI To: [email protected] Date: Thursday, January 22, 2009, 4:56 AM manufakturing. ..hingga saat ini. Pak risfan dan pak BTS, saya melihatnya tidak harus dari sisi finansial atau teknis semata....rupanya kita perlu melihat dari sisi sosiologi dan budaya... apakah masyarakat makasar dan sekitarnya tidak begitu suka bekerja sebagai buruh pabrik? Salam Aunur Rofiq From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> To: refere...@yahoogrou ps.com Sent: Thursday, January 22, 2009 9:19:15 AM Subject: RE: [referensi] Permisi Re: (3) Menyemai Klaster Industri Perahu di KTI "indra budiman syamwil" [email protected] wrote: “…Mohon maaf kalau saya masuk tanpa permisi dan ceritra ini tanpa riset yang mendalam….”. Akh biasa..... ini saya kira waktu anda bergabung dimilis ini pak Mod EkoBK dan Ekadj paling-paling pada lalai saja membuat upacara ‘tepung tawar’ sebagai sambutan selamat datang sambil seharusnya beliau memperkenalkan hadirnya tambahan seorang tamu agung lagi dimilis ini ……. Trims pak Indra, pak Risfan, pak BTS, pak Dwi, pak Ekadj (dan lainnya nyusul?) atas partisipasinya meramaikan diskusi seputar judul diatas……. Salam, aby --- On Wed, 1/21/09, indra budiman syamwil <ibsyam...@hotmail. com> wrote: From: indra budiman syamwil <ibsyam...@hotmail. com> Subject: RE: [referensi] Re: (3) Menyemai Klaster Industri Perahu di KTI To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, January 21, 2009, 6:58 AM Rekan Refernsier Ysh, Saya pernah sekilas melihat suatu dokumen di IDE di Tokyo yang membahas tentang kapasitas Makasar dilihat dari Industri logamnya. Tentu saja di awal tahun 1970an? pembangunan kawasan industri generasi pertama di Indonesia, sudah mempertimbangkan potensi KTI ini, termasuk Kawasan Industri Makasar. Bahwa kebijakan regional tidak disiasati lebih lanjut dalam aras usaha (firm level) dan keterkaitan industri membentuk produk-produk yang dirancang dan menjual itu barangkali awal dari stagnasi. Jadi Jepang sudah melirik KTI yang berpusat di Makasar sebagai peluang lokasi. Saya tidak punya analisis yang lengkap tapi pandangan saya ketika kita memberikan insentif yang luar biasa kepada FDI untuk datang ke Indonesia saat itu pula propensity to invest di Makasar menjadi melemah. Maklum Jepang memulai FDI dengan sasaran market lokal (ikut kebijakan substitusi impor) dan pasar yang paling besar ada di Jawa (Patal Senayan, Teijin Tetoron, Jatiluhur, dll.), di KTI masih belum cukup besar deman nya. Ketika footlose industrinya datang di era 'hollowing-out' , agglomerasi Jakarta sudah cukup terbentuk (perpindahan ini diawali Cirata dan Saguling), jadi persoalaan efisiensi muncul. Dan pebisnis Jepang umumnya paling tidak berani mengambil resiko. Dalam versi Jepang mereka membangun koridor tepian Pacific dari Korea turun ke wilayah pantai Cina, Thailand, Malaysia dan Indonesia, yang telah difikirkan dalam buku-buku sejarah tua industri Jepang pra Perang Laut China (jadi sebelum PD I), diawali untuk menguasai sumberdaya batu bara di Manchuria dan Sogo-shosa pertama keluarga Mitsui muncul sebagai industrialis kapal dagang dan kapal perang. Kelihatannya koridor itu di akhir abad ke 20 berbalik ke Asia Selatan (India) dan mendapat platform awal di Vietnam (yang di dukung Laos dan Cambodia). Pebisnis di era tersebut banyak dipengaruhi oleh pergerakan investasi Jepang (Astra, National Gobels dll.). Tentang mengawali industrialisasi di KTI, sudah banyak proyek yang berusaha menstandarkan atau menjadikan pengetahuan membuat kapal di Makasar menjadi pengetahuan teknologi yang bisa dipelajari dan berkembang juga tidak berlanjut. Saya bertemu dengan seorang peneliti World Bank (di tahun 1980an) yang pernah mencoba merekam proses membuat kapal pinisi secara tradisional yang setelah pensiun menjadi pengusaha turis dan yacht di Sumatra Barat (rumahnya di Gunung Padang) dia juga mengatakan pinisi membutuhkan pengetahun positif yang testified untuk masuk dalam era modern. Mungkin teman-teman di ITS (Perkapalan) mengetahui bagaimana perkembangan 'trajectori' transformasi pengetahuan menjadi teknologi yang verified ini, sehingga terjadi/tidak terjadi industrialisasi. Atau kita sudah cukup puas dengan mengingat kejayaan pengetahuan kerajan Goa dan Bone yang terputus oleh kolonialisasi dan perubahan zaman itu (sah sah saja, tapi janganlah diperturutkan) . Teknologi pinisi menjadi stagnant kalau dibiarkan tinggal sebagai 'mythology'. Kapal-kapal berbendera Panama, Singapura dan lainnya sekarang hilir mudik mendukung industri pertambangan di Kalimantan. Barge datang dari Jepang dan Brazil dan Pantai Gading (Jepang memulai memindahkan industri logam ke Brazil kalau tidak salah bersamaan dengan Krakatau Steel) dan saya lihat dari literatur Industri perkapalan Jepang sudah lebih satu dekade spill-over ke Brazil. Mungkin pebisnis kita masih bertaraf kontraktor belum menjadi industrialis sejati yang bisa dijadikan mitra kerja dalam menghadapi resiko. Ada gap yang tidak diteruskan dan tidak diisi sehingga pengusaha seperti keluarga Kalla memindahkan bisnisnya ke Jakarta. Mungkin papah nya Pak Yusuf Kalla memulai bisnis keluarga Kalla di Makasar tidak pakai teori lokasi atau komparatif advantage yang menakutkan itu. Mungkin rasa 'loyalitas' kampung halaman punya peranan seperti yang dilakukan Pak Fadel (lah kok saya jadi menyimpang?) . Mungkin zaman teori lokasi sebagai 'destiny/nasib' bukan 'opportunity/ peluang' masih bergelantungan di dalam benak pengambil keputusan dan pebisnis, sehingga tidak berani merintis. Sungguhpun begitu opportunity bisa hilang bila faktor-faktor opportunity yang bersifat 'grains'/ butiran informasi tidak dikumpulkan dengan baik dan dilanjutkkan secara konsisten. Jepang sering melakukan 'supply-led' development untuk mengantisipasi grains of opportunity yang tidak disadari ini (belum muncul menjadi efektif supplai), contoh proyek Highway nya Kakuei Tanaka. Kalau kita memandang perbatasan (lintas negara) menjadi ajang kolaborasi perdagangan bukan hanya melihat sisi 'doktrin keamanan' mungkin deman periferal bisa muncul menjadi efektif deman yang menarik bagi pebisnis. Saya juga ingin bertanya dalam forum ini apakah doktrin keamanan archipelago yang membiarkan periferal sebagai benteng alam masih 'lingering' dalam pengambilan keputusan mengapa PLTU mulut tambang difikirkan 2 kali untuk dikembangkan di luar Jawa yang nota bene tidak sesubur Jawa. Maaf kalau selanjutnya saya mengajak rekan melihat fenomena regional di tingkat unit usaha (firm level) dan integrasi pengetahuan. Kita memang bukan masyarakat yang rajin menyulam dari kecil menjadi besar. Tradisi menyulam dan menghargai gerakan-gerakan kecil, teori-teori kecil menjadi teori dan gerakan yang membesar. Kita melihat agregasi tidak melihat 'grains'. Beberapa rintisan studi menunjukkan bahwa, kekuatan kecil gagal digabungkan, apakah karena pebisnis kecil kita tidak piawai berkolaborasi atau ingin cepat jadi Kalla Bersaudara atau tidak punya 'creative agents' yang menjembatani sinergi. Pengamatan di Balikpapan menunjukkan bahwa industri kecil yang secara sporadik tumbuh sebagai sub-kon industri tambang mempunyai kemampuan cukup baik untuk mengambil manfaat value added keberadaan industri tambang di Kalimantan. Ada beberapa sub-con metal yang secara parsial punya kemampuan tertentu yang bila disatukan menjadi kekuatan yang luar biasa. Ada yang bisa memblasting dan las metal alloy (amagam seprti velg racing) untuk memperbaiki velg roda truck yang tingginya 3-4 kali tinggi orang (tergantung tingginya). Ada yang bisa memotong besi sampai ketebalan 3-4 cm. Dan bila disatukan bisa mensuplai kebutuhan casing pengeboran UNOCAl yang katanya mencapai kontrak 1,5 trilyun per tahun (dolar tahun 2001). Casing ini biasanya dibuang atau didaur-ulang, sehingga seperti barang pakai habis demannya kontinu. Untuk mendapatkan casing ini UNOCAL mengadakan pembicaraan dengan kartel supplier di Bali dan kartel itu berlokasi di sekitar Singapura dan Batam. Petinggi UNOCAL setuju bahwa untuk teknologi yang sederhana ini bila ada yang menjembatani linkage (menyulam) kapasitas lokal akan memberikannya kepada pebisnis lokal bila bisa menjaga standar dan mensuplai secara kontinu. Mereka stick kepada kartel tadi karena takut kalau pendekatan lokal gagal, kartel akan memboikot mereka dengan mekanisma harga. Jadi kalau pemerintah/daerah ingin betul memanfaatkan peluang memang harus tidak tanggung-tanggung. Bila Ireland serba tanggung dalam mendukung platform industri kabel komputernya mungkin Ireland tidak menjadi negara dengan perkapita income tertinggi di Eropah seperti dipenghujung milenium ini (European Miracle? ... mythology lagi), dan penduduknya tetap ngangon kambing. Kalau kita yakin dan istiqamah pebisnis pun akan istiqamah, mungkin inilah yang dilakukan Tanaka terlepas dia terkena skandal Lockheed, di hati orang Jepang dia tetap di kenang sebagai salah satu daimyo Jepang setelah perang. Indonesia banyak mempunyai orang ahli secara parsial tetapi tidak punya desainer yang menyulam. Informasi ini untuk merubah play-field pembangunan regional pada aras perilaku usaha, agen dan jejaringnya. Mohon maaf kalau saya masuk tanpa permisi dan ceritra ini tanpa riset yang mendalam. Salam Hormat, Indra Budiman Syamwil di Arsitektur ITB To: refere...@yahoogrou ps.com From: 4ek...@gmail. com Date: Wed, 21 Jan 2009 12:20:56 +0000 Subject: [referensi] Re: (3) Menyemai Klaster Industri Perahu di KTI Pak Aby dan Pak Risfan ysh, Saya hanya mengikuti Pak Aby saja untuk menyemai industri manufaktur di KTI, apapun pilihan prioritasnya hendaknya kita masih sama-sama minum teh botol sosro ... Saya kurang tahu mengenai industri berbasis mesin ini. Saya dengar sekitar tahun 1960an atau 1970an ya, Rusia pernah membantu pembangunan industri mesin kapal inboard ini di Ambon. Karena itu makanya Unpatti membuka jurusan perkapalan. Mungkin Pak Wawo masih bisa cerita. Industri mesin terkait dengan banyak hal, seperti bahan baku, teknologi dan keahlian, rantai produksi pendukung, pasar, dll. Komponen utamanya adalah metal, yang tersedia sangat berlimpah di KTI. Tinggal bagaimana ini diolah dan dipasarkan. Namun perlu diperhatikan pesan Pak Risfan: negara-negara `menjadi maju' karena penguasaan dalam industri mesin. 2 tahun lalu kita surprised bila kita sudah punya satu industri pembuat mesin CNC (di Cikarang?). Ini tentunya sangat strategis, karena CNC akan menghasilkan potongan-potongan komponen mesin yang presisif, sehingga kita bisa mengejar standar-standar semacam ISO. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu Dirut-nya, MS83, mengatakan kapasitas produksi pabrik saat ini hanya 1 mesin CNC per bulan. Coba di beberapa kota besar KTI diberikan masing-masing satu mesin CNC … Sementara demikian dulu. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risf...@...> wrote: > > Dear All, > > Yang saya tangkap dari posting Uda Hekadj, beliau sarankan > alternatif "industri kapal/perahu" , tapi disebut juga "mesin kapal". > Saya lebih tertarik bicara perahu/kapalnya. Seperti pesawat terbang, > Boeing, Airbus kan industri pesawat, mesin utamanya hampir semua > pakai Rools-Royce. Sementara RR tidak disebut sebagai industri > pesawat, tapi pembuat mesin. > > Komunitas pembuat perahu ini di KTI, khususnya di Sulawesi sudah > menjadi tradisi, sudah punya nama. Jejaring industri ini bisa jadi > embrio pembentukan klaster kegiatan ekonomi, yang akan menjadi motor > penggerak pengembangan wilayh setempat. > > Kalau menggunakan pendekatan yang konvensional dari Porter misalnya > (Competitive Advantage of the nation/region) , saya kira syarat- > syarat komunitas industri kapal di, misal kawasan "Bulukumba- > Makassar-Pinrang" (BMP) sangat potensial. Dalam frame Porter ada: > (1) Firm Structure & Rivalry - ini sudah berkembang, ada yang dari > kayu, ada fiber, ada yang besar, kecil, saling kerjasama, saling > bersaing; (2) Demand Condition - sudah berumur ratusan tahun, tentu > hidup terus karena ada pasar; (3) Related Supporting Industries - > sudah berkembang, di kawasan tersebut didukung Pemda, Litbang, > bahkan dukungan dari luar negeridan industri pemasok, asesories, > dst; (4) Factor condition - beda dengn istilah faktor produksi yang > statik, ini bisa dicreate, dan sudah berkembang, walau kendala juga > masih banyak. Soal branding sudah melegenda dengan perahu Pinisi. > > Pern pemerintah dalam pendekatan Porter sebagai katalis yang > menjalin hubungan antar pelaku, penyediaan infrastruktur, dukungan > kebijakan, dst. > > Rasanya kalau digarap lebih serius, fokus, maka klaster industri > perahu ini bisa betul-betul jadi andalan kawasan BMP tersebut. Perlu > diingat bahwa Kabupaten Jeneponto dan tetangganya termasuk kabupaten > miskin karena lahannya kurang subur, sehingga industri perahu yang > memang sudah ada itu kalau didukung bisa jadi andalan penyerapan > lapangan kerja. Semoga ikut meramaikan pancingan Pak Aby. > > Salam, > Risfan Munir > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" risfano@ wrote: > > > > Uda Hekadj dan rekans ysh, > > > > Dalam rangka menyemai industri manufaktur di Kawasan Timur > Indonesia > > (KTI), industri perahu/kapal tradisional dapat jadi alternatif. > > > > Untuk itu beberapa langkah bisa dilakukan. Misalkan yang jadi > kasus > > industri perahu di wilayah "Bulukumba-Makassar -Pinrang" . Populasi > > mereka cukup banyak dan punya nama secara internasional. Yang > > diperlukan adalah langkah-langkah revitalisasi sebagai berikut: > > • Identifikasi populasinya, lalu buat kontak antar mereka. > > Tentu sebagian sudah saling kenal, kerjasama, berorganisasi > > • Ajak mereka buat pertemuan, bisa per kabupaten dulu. > > Fasilitasi mereka agar hubungan 'cair'. Intinya membentuk > kemitraan > > stakeholder > > • Mulai bahas potensi masing-masing dan ajak memikirkan tujuan > > bersama untuk "revitalisasi" diri. Potensi bisa kapasitas > produksi, > > teknologi dan kualitas, pasar, dst. Fasilitasi untuk bicara visi, > > harapan-harapan ke depan, langkah-langkah utama, > > • Bahas kendala yang perlu diatasi atau diterobos. Biasanya > > soal klasik akses ke faktor-faktor produksi 6M (man, money, > machine, > > methode, material, management) + marketing. Disamping kendala > iklim > > berusaha (prasarana, birokrasi, pungli) > > • Fasilitasi untuk merumuskan langkah-langkah awal yang bisa > > dilakukan sendiri, tanpa tergantung pihak lain. > > > > Secara umum itu beberapa langkah dasar untuk membentuk kemitraan > > stakeholder. Selanjutnya dalam pertemuan yang kian melembaga akan > > dibahas agenda, mulai dari langkah awal yang dilakukan. Memang > > pendekatan ini berbasis UMKM, tapi setelah kelompok terbentuk > secara > > bertahap usaha besar dilibatkan karena antar lapisan tersebut > saling > > terkait. > > > > Akan menarik kalau dimulai dari potensi dan harapan (appreciative > > inquiry) dari pada analisis persoalan yang bisa mengarah kepada > > apatisme masa lalu, cari kambing hitam dst. > > > > Pemasaran biasanya jadi tantangan yang menarik. Harapannya untuk > > memasarkan dalam skala yang luas, nasional, internasional. Tapi > > sebetulnya bisa dimulai secara internal daerah dulu, yang kecil > > melayani yang besar, melayani permintaan nelayan atau tansportasi > > lokal. > > > > Secara bertahap kemitraan stakeholder dalam klaster industri > perahu > > daerah ini dapat diperluas. Tidak hanya melibatkan kelompok > pembuat > > perahu, tapi juga lembaga pendukungnya, termasuk perbankan, > > pendidikan & penelitian, bimbingan manajemen, dst. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risfano@> wrote: > > > > > > Saya tertarik dengan ide Uda Hekadj tentang industri perahu ini. > > > Mengingat salah satu kendala besar pengembangan KTI dan wilayah > > > kepulauan lainnya adalah transportasi, yang jumlahnya terbatas, > > > masih mahal. Maka dari segi pasar nampaknya cukup terbuka, > potensi > > > kemampuan skill dan tradisi membuat kapal ini cukup menonjol. > Dan > > > belum mendapat perhatian memadai. > > > > > > Kalau ada pilihan misal perahu bekas dari Probolinggo ya tak > > > soal,bukan berarti tidak ada peluang bagi industri tersebut di > > KTI. > > > Banyak yang khas, jadi unggulan daerah (pinishi). Kalau kita > baca > > > artikel Kompas tentang diaspora Bugis-Makassar, jelas kejayaan > > > maritim itu didukung oleh industri perahu/kapal mereka. Saya > > > beberapa kali jalan sepanjang pantai selatan dari Makassar ke > arah > > > Bulukumba, atau ke arah Parepare beberapa pembuat perahu itu > masih > > > produktif, masih canggih tinggal mendorong permintaan, > > > supaya "economic of scale" nya tercapai. > > > > > > Dalam sejarah sperti diceritakan Kompas tsb, Bugis-Makassar dan > > > Madura sudah biasa kerja sama dalam wilayah laut antar pulau > > > Nusantara. Saya dengar di Pinrang juga dibuka markas Marinir > > wilayah > > > timur, ini menunjukkan perhatian kepada aspek kemaritiman > terutama > > > di KTI kian ditingkatkan. > > > > > > Jalesveva Jayamahe!!! > > > > > > Salam, > > > Risfan Munir > > > > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "ffekadj" <4ekadj@> wrote: > > > > > > > > > > > > Pak Aby ysh, > > > > > > > > Selain saran relokasi, sebenarnya ada industri manufaktur yang > > > potensial > > > > dikembangkan di KTI, yaitu industri katinting (mesin tempel > > kapal) > > > dan > > > > kapalnya sendiri. Katinting digunakan meluas di KTI, cenderung > > > > memperbesar kapasitas dan volume. Kemarin di Ternate kita > pernah > > > coba > > > > 4x20 PK, malah teman di Sorong pakai 4x50 PK, hanya untuk > perahu > > > kecil. > > > > Saya kira katinting yang ada masih built-up dari Jepang atau > > > assembling > > > > Surabaya. Anehnya juga sedikit sekali bengkel reparasi mesin > di > > > KTI. > > > > Dinas DKP Malut juga punya program rutin motorisasi nelayan, > > > sekitar 500 > > > > unit/tahun. > > > > > > > > Kalau untuk kapal, dulu > > > > <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/304> saya > > pernah > > > > tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu orang bikin kapal 10 ton, > dan > > > > teman-teman UNCRD itu cukup antusias. Saya kira pusatnya di > > > > Buton-Selayar Sulsel. Kalau disemai di beberapa tempat, kita > > bisa > > > jadi > > > > negara maritim. Di Ambon di samping penyeberangan itu juga ada > > satu > > > > galangan kapal, tapi lebih sering sepi. Memang ketika saya > > > tanyakan si > > > > Ahmad <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/304> > > dari > > > Asmat > > > > mengenai perlunya membeli kapal-kapal perikanan yang baru > ukuran > > > besar, > > > > dia menyarankan, "Ngapain beli yang baru pak, beli saja yang > > bekas > > > di > > > > Probolinggo, murah-murah kok." Saya baru tahu rupanya > Probolinggo > > > > menjadi sentra perdagangan kapal (bekas), mungkin sejak era > > > Majapahit. > > > > > > > > Untuk sepeda, saya belum melihat pasar. Sementara demikian > dulu > > > pak. > > > > Salam. > > > > > > > > -ekadj Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery

