Pak Risfan, Pak Aunur, Pak Aby, Pak BTS, uda Eka, dan rekan-rkan Milister
Ysh,

Menyambung diskusi yang disampaikan pak Risfan tentang kelembagaan, ideologi
atau paham-paham yang melandasi perencanaan, tentang UKM, tentang
infrastruktur Papua yang menjadi concern uda Eka pada diskusi lalu,
izinkakah saya menyampaikan sedikit info terbaru  tentang Papua, karena
kebetulan saya dan teman-teman dari Papua berkesempatan makan siang, sambil
mendengarkan pandangan Pak Bas, Sabtu 14 Feb 2009 kemarin.

Perencanaan regional Papua sekarang dan ke depan diarahkan pada desa. Pak
Bas menyebut langkahnya sebagai "people driven development strategy".

Secara implisit saya kira pak Bas inging mengatakan bahwa meningkatkan
kualitas SDM Papua antara lain dapat dimulai dari penataan institusi
desa. Diakuinya, ini perlu waktu melalui proses yang disebutnya
sebagai mulai dengan "biasa" untuk kemudian menjadi "bisa", dan kelak
diharapkan menjadi "budaya."

Tantangan terbesar Papua memang, suka atau tidak suka, adalah persoalan
"governance." Untuk menjawab tantangan itu, praktek "good governance"
dimulai dengan "test case" desa. Ada sekitar 300 desa, tiap desa
dapat antara Rp 200-300 juta per tahun, lengkap dengan petunjuk pelaksananya
termasuk monitoring dan evaluasinya serta tata cara pertanggunganjawab
nya.

Sebagai peneliti, kecemasan saya soal "governance" di Papua selama ini cukup
beralasan, dan itu sangat dimaklumi pak Bas. Penjelasan pak Bas paling tidak
dapat mengurangi kekuatiran saya dan teman-teman lain, apalagi beliau
mengatakan bahwa paradigma pembangunan regional di Papua sudah berubah sama
sekali.

Mengenai pengembangan UKM di Papua ke depan, pak Bas punya cerita menarik
bahwa beliau sampai pergi ke Cina untuk melihat diapakan kayu-kayu Papua
yang "dibawa" ke Cina. Alamak, ternyata kayu-kayu itu diolah menjadi
furniture oleh UKM. Jadi ke depan, kenapa tidak diolah saja oleh UKM di
Papua?

Pada tahun 2010, pada tahap awal Papua diharapkan sudah punya PLTA melalui
bendungan sungai di Nabire dengan kapasitas 300 MW. Listrik ini akan dijual
untuk Freeport, dan sisanya untuk masyakat Papua. Kapasitas PLTU dari sungai
di Nabire seluruhnya dapat mencapai 2000 MW. Beberapa pelajar terbaik Papua
sudah disiapkan belajar si luar negeri untuk menguasai kelistrikan ini.
Dorongan untuk membuat PLTU ini antara lain adalah bahwa tak perlu PTFI
mengeluarkan biaya lebih besar untuk pembangkit PLTU karena PLTA milik
Pemerintah Papua jauh lebih murah.

Direncanakan juga akan dibuat pabrik semen dengan bahan baku tailing yang
mengalir hingga Timika. Diperkirakan harga semen ini akan menjadi yang
paling murah di Indonesia, diproritaskan untuk pembangunan infrastruktur di
Papua.

Well, kita tunggu bagaimana kiprah selanjutnya gubernur kita yang lumayan
innovatif ini. Kesempatan baik bagi para planner, regional economist dll
untuk memberikan kontribusi pemikiran kepada beliau. Tentu tak elok kalau
saya ceritakan apa saja gebrakan yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini
sebelum beliau umumkan sendiri, karena masih harus menunggu persetujuan
pusat. Pokoknya lumayan innovatif, karena belum pernah dilakukan oleh
daerah-daerah lain sebelumnya.

Wassalam,

Nuzul Achjar

Kirim email ke