Pak Rofiq.
1/3 penduduk Papua tinggal di daerah pantai, 2/3 nya tinggal di bagian Tengah 
di gunung2, entah namanya apa, yg jelas bukan desa menurut presepsi kita2 ini. 
Yang di pantai mungkin bisa dilakukan pendekatan "seperti Jawa", Tata Ruang 
Kek, site planning, atau apalah yg kite2 udah pd pinter. Tapi paling ngga, 
kalau kita pandai pengolahnya, akan menjadi pusat pertumbuhan atau paling ngga  
sbg pusat kebudayaan (Teorinya kan gitu?), yg bisa menarik Kang Kabayan, 
Crocodile Dandy dan Aktor the God must be Crazy tinggal di kota. Nah, yg 
digunung ini kite kagak tahu, mungkin perlu diawali dgn budaya cocok tanam 
dulu, misal budaya intensi tanam ubi, padi, kemudian tahap berikutnya budaya 
transportasi. Sayang, kalau kita bikin jalan raya, yg digunung kan budayanya 
masih budaya jalan kaki, belum ditambah budaya eksclusive antar kelompok2. 
Sorry, ikut nimbrung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Aunur rofiq <[email protected]>

Date: Mon, 16 Feb 2009 04:27:03 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan  Buntu?


Pak Nuzul,
Itu mimpi pak Bas sejak dulu, mudah-mudahan beliau bisa mewujudkannya di 
periode sekarang. Tapi saya khawatir dengan memberi dana per kampung 100 juta 
rupiah.......beberapa kampung mungkin bisa memanfaatkan tetapi ribuan (bukan 
ratusan pak) yang lain masih sulit dibayangkan

Salam
Aunur Rofiq


--- On Mon, 2/16/09, Nuzul Achjar <[email protected]> wrote:

> From: Nuzul Achjar <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan  
> Buntu?
> To: [email protected]
> Date: Monday, February 16, 2009, 11:25 AM
> Pak Aby,
> 
> He he he.. pak Aby, kok minta tolong ke saya sih.. langsung
> saja pak Aby
> kasih saran. Pada seminar "Sustainable Development
> Papua" tahun lalu,
> sebenarnya banyak usulan  agar permukiman kecil dengan
> jumlah penduduk yang
> sangat sedikit dikelompokkan saja dalam suatu permukiman
> sehingga lebih
> mudah untuk membuat akses jalan. Tetapi ini tentu perlu
> dukungan argumentasi
> antropologis apakah permukiman ini bisa disatukan.
> 
> Seperti saya kemukakan sebelumnya, fokus perencanaan Papua
> ke depan dimulai
> dari desa. Tapi saya yakin, pembangunan perkotaan tentu
> tidak akan diabaikan
> begitu saja.
> 
> Salam hangat,
> 
> Nuzul Achjar


      

Kirim email ke