Pak Aby Kalau mau, ada sepeda listrik,pak.. kalau nanjak, tinggal santai,setel listriknya,.... nanti jalan turun, baterai akan nge-charge,..... tidak perlu BBM,... salam, dwiagus
--- In [email protected], hengky abiyoso <watashi...@...> wrote: > > Prof Abim ysh, > > Kota dgn konsep sepeda utk Papua maap saya maunya pilih2 .. yg saya setujui adalah pertama utamanya lbh utk kawasan2 seperti Papua Selatan (Merauke, Timika, Agat), Teminabuan atau lembah muara sungai Mamberamo serta kawasan2 yg pokoknya topografiknya relatif landai Kalau utk kawasan yg topografiknya miring sampai 45 derajat dimana utk jalan kaki saja orang harus setengah "memanjat" . Bgmn mau bersepeda . Utk naik saja sepedanya musti dituntun dan utk turunnya . Ya kalau remnya pakem . Gimana dong bos kalo remnya blong?.......... > Salam dari aby > > --- On Mon, 2/16/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@...> wrote: > > From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@...> > Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan Buntu? > To: [email protected] > Date: Monday, February 16, 2009, 4:00 PM > > > > > > > Pak Is, > > Saya setuju anda. Papua sangat luas, lebih luas beberapa kali dari Jawa, dengan penduduk lebih sedikit dan lebih tersebar dengan banyak ragam budaya lokal. Tentu kondisi kultural yang berbeda menuntut pendekatan yang tidak stereotype seperti di kota-kota Jawa. Apakah konsep sepeda suatu yang wajar atau justru konsep baru bagi mereka yang lebih banyak jalan. Mungkin kota dengan konsep sepeda (16 km / jam) akan mencakup kawasan seluas Kebayoran Baru (awal). Sedangkan konsep kota berbasis jalan kaki seperempatnya. Alat transport sepeda harus import dari luar Papua (istilah import lebih jelas, walau tidak selalu dari luar negara). Begitu import sepeda lalu import sepeda motor yag bisa menguasai jalan sepeda dan jalan orang, artinya import BBM. Peningkatan konsumsi sudah jelas, bagaimana dengan peningkatan produksi dan pasarnya yang mampu memberi penghasilan lebih besar daripada peningkatan kebutuhan barang import yang di introduksi tersebut ? dsb, dst. > > Mungkin yang lebih sesuai, kota pantai yang sudah ada dapat dikembangkan. Yang kondisinya sudah terpolusi konsep Jawa ya boleh dah rekan-rekan berotak kota Jawa bereksperimen di sana. Namun peningkatan permukiman berkonsep perdesaan (yang lebih maju tentu) justru mungkin lebih membumi. Apalagi kota selalu minta "disangga" sumber daya alam desa. Bagaimana kalau desanya belum kuat? import lagi? Apalagi bila kita tidak ingin perkembangan perekonomian Papua cuma didominasi oleh "sumbangan keberlanjutan keberadaan Freeport" saja. Banyak planner, juga yang berasal dari pulau ini, yang basis pembangunannya bukan kota tapi pembangunan perdesaan (halo rekan-rekan PWD, apa kabar?)....yang pentingkan tingkat kesejahteraannya meningkat, daya dukung lingkungannya lebih lestari. > > Artinya, kembangkanlah wilayah setempat sesuai dengan potensi dan peluang keberlanjutan peningkatan kualitas daerahnya masing-masing. Jangan mengintroduksi unsur luar yang belum teruji kesesuaiannya bagi tempat tersebut. > > Salam, > Abimanyu > > > > On Tue, Feb 17, 2009 at 5:31 AM, <isoedradjat@ yahoo.com> wrote: > > > >

