Salam dan hormat untuk Eyangku, dan sahabat milis semuanya,

Eyang ABY, kenapa ujungnya kok sederhana sekali....PEMUTIHAN !!!. Sebenarnya 
apa sih konsep di balik label pemutihan itu kok para planner segera bisa 
mengadopsi label pemutihan dengan enak begitu saja ? Maksud saya, prosesnya kok 
begitu sederhana sekali ? Apakah tidak perlu dilakukan suatu kajian serius yang 
mungkin ujungnya juga akan ke situ juga...atau bisa saja ke arah lain ? Apakah 
tidak bisa kawasan Kemang justru dijadikan suatu kasus (dalam kajian CSR) 
sehingga bisa menyumbangkan pemikiran baru....eee untuk mengecek asumsi-asumsi, 
konsep-konsep dan teori-teori yang dulu digunakan untuk melandasi penataan 
Kemang itu ? Gimana kok menyerah sebalum mengetahui karakteristik lawan dan 
hanya melihat tubuhnya yang gempal terus loyo ? Maksud saya, kasus Kemang dapat 
menjadi instrumen untuk mengevaluasi pikiran-pikiran yang dulu melandasi konsep 
penataan Kemang itu, supaya muncul pikiran-pikiran baru yang mungkin akan lebih 
baru dan bermanfaat untuk
 kasus-kasus lain, begitu Yang.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 3/25/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:
From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: KEMANG, AKHIRNYA...
To: [email protected]
Date: Wednesday, March 25, 2009, 9:33 PM











    
            Milisters ysh,  
Kalau ada yg katakan kasus 'pemutihan' semacam di Kemang  adalah salah satu  
contoh bagaimana lemahnya kita dalam melaksanakan 'proses managemen 
perkotaan'……. Tak usahlah kita berkecil hati (tapi sebaliknya birokrat PR di 
pemda DKI juga tak usah besar kepala)……. Kita akui saja… bgmn kok kita tidak  
‘lemah’  dalam proses manajemen perkotaan….. wong kita memang masih negara 
sedang berkembang dengan GNP belum sampai 5000 dollar…… hutang negara masih
 banyak…… dan angka pengangguran kita tinggi…..  
Yg penting skrg bgmn kerja keras membangun ekonomi dulu…..  mengatasi angka 
pengangguran yg tinggi agar menjadi normal dulu….. bgmn terus memerangi korupsi 
agar good governance lekas terwujud…. dan mengupayakan keuangan negara jangan 
terhuyung2 oleh beban hutang LN…… membenahi “sistem kota secara nasional”  
dulu…..   spt dgn cara mengupayakan “distribusi/ persebaran  sistem kota2 serta 
hirarkhinya”…… agar kesempatan
 kerja semakin luas dan agar ‘ketimpangan kemajuan antar wilayah ’menjadi 
semakin reda……….  
Masalahnya bukanlah ‘now or never’….. tapi  adalah ‘if it is not now… it may be 
 later either someday’…….……. 
Pemerintah Inggris telah memberikan contoh yg baik…… utk cita2 membangun The 
London Green Belt…….. pemerintah Inggris melakukannya dgn mencicil…… ketika 
sudah  memiliki sejumlah uang…..… pemerintah  kemudian membeli sejumlah 
properti milik masyarakat… merobohkan bangunannya dan mengubahnya menjadi 
RTH……… demikian diwaktu yg lain pemerintah mengulanginya lagi ketika tlh 
memiliki sejumlah uang lagi…… dst…...  
Yg penting adalah bgmn mensejahterakan masyarakat dulu….. baru kemudian stlh 
itu bgmn mempercantik  kota……… janganlah ditengah kesulitan ekonomi dan 
ditengah angka pengangguran yg tinggi lalu seakan dengan berdarah dingin atau  
seolah berkacamata kuda dan seolah berada diruang steril….… kita hanya terus 
menyesali ttg sepotong ruas jalan yg diubah  peruntukannya dari rumah tinggal 
menjadi komersial……… apalagi bahwa Jkt toh hanya 0.03% wilayah nasional 
kita…….. dan sebanyak 93.3% wilayah kita diluar Jawa juga
 masih banyak  yg kurang tersentuh perencanaannya………. 
 
Salam  
 
 

--- On Tue, 3/24/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote:

From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>
Subject: RE: [referensi] Re: KEMANG, AKHIRNYA...
To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Tuesday, March 24, 2009, 7:20 PM




Rekan-2 milister ysh,
Omong-2 tentang kasus 'pemutihan' semacam di Kemang yang telah dibahas panjang 
lebar, menurut saya ini hanyalah salah satu contoh bagaimana lemahnya kita 
dalam melaksanakan 'proses managemen perkotaan'. Banyak 'teori-teori' yang 
dapat dipakai untuk mencegah terjadinya kasus demikian, tetapi pada dasarnya 
untuk negara yang sedang berkembang seperti NKRI ini, mungkin sebaiknya kita 
terus mendorong 'peran serta masyarakat' dalam Penataan Ruang (bagaimana agar 
masyarakat sadar akan pentingnya PR bagi lingkungan hidup mereka dan terlibat 
sejak dari proses perencanaan - pemanfaatan - pengendalian) sambil terus 
meningkatan 'capacity building' di bidang managemen perkotaan, termasuk 
'clean-government' tentunya dengan 'gaji' aparat pelaksananya yang layak untuk 
dapat hidup normal/wajar. 
Wassalam,
Onnos
 


To: refere...@yahoogrou ps.com
From: 4ek...@gmail. com
Date: Mon, 23 Mar 2009 12:11:04 +0000
Subject: [referensi] Re: KEMANG, AKHIRNYA...





Ibu Cut yang baik,

Rasa-rasanya ada 1 orang dari balai tersebut yang juga ikut di milis
ini. Kita memang mengharapkan para shareholder dan stakeholder untuk
ikut aktif dalam milis ini, seperti contoh saya mengharapkan ada anggota
FPI yang juga bisa ikutan, karena dulu katanya proven mampu melakukan
penyegelan di Kemang. Salam.

-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, cut safana <cutsaffana@ ...> wrote:
>
> Khusus untuk Pak Eka : jangan lupa Dep. PU punya Puslitbang
Permukiman, yang didalamnya ada Balai Tata Ruang, Bangunan dan Kawasan
lho. Kalau dapat mereka aktif di 'refrensi' ini, dan dapat membuat
kajian atau model-2 yang lebih baik.
>
> Salam.






What can you do with the new Windows Live? Find out 


      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke