Pak Aby, Pak BTS, Pak Efha, Pak Ibnu, Pak Iman, Bu Mila, Bu Nita, Pak Risfan, 
dan ibu/bapak ysh. (urutan nama berdasarkan abjad utk menghindari kesan adanya 
preferensi gender :))
Membaca komen2 ttg gender dan planning di milis, sy jadi tertarik utk ikut urun 
opini:
1. Karena planning tdk dapat terlepas ideologi/ falsafah dasar yg dianut oleh 
sebuah negara, maka pembahasan ttg kesetaraan gender (gender equality) perlu 
mengacu pd Pancasila dan UUD 45... Pancasila memberi ruang utk ini di sila ke 2 
dan khususnya ke 5...namun sayangnya masalah gender tidak terelaborasi di UUD 
45... hal ini dpt dimengerti karena pd saat penyusunan keduanya, masalah 
keadilan sosial masih lebih berkutat pd masalah antar kelas sosial..seingat sy, 
dunia baru mulai memperhatikan masalah gender dgn lebih serius sejak terbitnya 
buku "the second sex" (Simone de Beauvoir) tahun 1949..
2. Elaborasi falsafah negara ini penting utk menetapkan gender equality seperti 
apa yg dikehendaki di Indonesia. Kebijakan pemerintah, termasuk PWK, tentu 
menyesuaikan dr elaborasi tsb. 
Gender, misalkan, diketahui terkait masalah konstruksi sosial (gender system) 
dan biologis. Keduanya menyangkut keterbatasan wanita masa kehamilan 
(keterbatasan biologis) dan paska kehamilan (konstruksi sosial)....utk Paska 
Kehamilan, kebijakan2 yg dibutuhkan utk mengakomodasi gender equality 
berdasarkan sistem gender di mana wanita dipandang lebih bertanggungjawab thd 
urusan domestik akan berbeda dgn kebijakan2 yg memandang bahwa kedua jenis sex 
sama2 bertanggungjawab...
Saat ini dlm sistem sosial yg kita anut, wanita dipandang paling 
bertanggungjawab thd urusan domestik... Tapi bila wanita dan pria dipandang 
sama2 bertanggungjawab dgn peran yg juga setara (ini terkait prinsip Rawlsian 
justice bahwa tdk satu orangpun perlu bergantung secara submisif pd orang 
lain), maka kebijakan2 yg diperlukan juga akan berbeda... wanita bekerja di 
luar rumah, misalkan, di-encourage dgn memperbanyak tempat2 penitipan balita di 
lingkungan tinggal (di Prancis misalnya, bandingkan dgn Jerman yg jauh lebih 
sedikit karena tdk ada encouragement dr pemerintah, atau di Inggris yg 
mahal)...jam waktu sekolah anak2 yg mengakomodasi wanita dpt bekerja di luar 
rumah (bandingkan di Prancis yg dr 8.30-16.00 dgn di Jerman yg hanya sampai jam 
13.00)... penyediaan angkutan umum khusus wanita (antara lain di Jepang) utk 
menghindari kejahatan sexual.. dsb...dsb...
3. Setelah bicara di level falsafah dasar, baru kita bisa masuk ke kebijakan 
PWK. Karena dlm PWK kita biasa bicara ttg skala, maka sy sepakat dgn pendapat 
ibu2 dan bapak2 akan perlunya identifikasi masalah gender ini dlm berbagai 
skala geografik: level bangunan, RTRK, RDTRK/RTRWK, RTRWP, RTRWN, RPJMD, dll...
Salam.




--- On Thu, 5/21/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: [email protected]
Date: Thursday, May 21, 2009, 11:45 AM











 






    
            
            


      
      Ya ya ya....... saya berterimakasih, setuju dan turut prihatin.... ....
 


--- On Thu, 5/21/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:


From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, May 21, 2009, 2:29 AM




Rekans ysh,
Wah diskusinya berkembang ya. 
Isyu gender ini memang sulit difahami. Salah satunya menurut saya karena salah 
strategi kampanye. Kenapa masyarakat terkesan kurang peduli gender? A.l. Karena 
memang (dibikin) abstrak. Pengusungnya kebanyakan aktivis LSM yang sering 
mengusung banyak misi sekaligus Perjuangan gender dicampur "anti pembangunan" , 
anti ini-itu, bahkan anti jilbab. Sehingga bagi pemerintah dan masyarakat umum 
menjadi rumit. Mengkampanyekan sesuatu ke masyarakat luas dengan mengkritik 
agama adalah "kesalahan fatal" bagi intelektual yang tahu ilmu budaya. Akhirnya 
mereka capai sendiri dan mengatakan "orang tak mengerti". 
So, "Keep it Simple Sis". 

Waktu seorang cagub di Sumatera ditanya soal gender, semua pesaingnya berteori. 
Tapi sang Cagub ini cuma bilang, "Gender menurut ku adalah bagaimana aku 
menghormati mamak (ibu)ku, saudara
 perempuanku" . Dan dia menang.

Desain ruang yang sadar gender barangkali lebih konkrit pada skala site-plan, 
sebagian urban design. Di skla wilayah kurang.
Tapi bukankah urusan kita juga PWK (urban/regional development planning) 
seperti RPJMD yang lebih komprehensif, termasuk rekomendasi ekonomi. Dan, 
bukankah ekonomi kita masih ditunjang sumber devisa ketiga, yaitu ekspor TKW. 
Apa implikasinya bagi gender n planning?

Salam,
R Munir



From: mila karmila <alim_...@yahoo. com>
Sent: Thursday, May 21, 2009 2:12 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang











Bapak-bapak dan Ibu ysh

Saya harus berterima kasih, karena persoalan gender dan pembangunan ini membuat 
bapak-bapak dan ibu merasa prihatin dan mulai memikirkan bagaimana  memasukkan 
isu-isu gender didalam perencanaan pembangunan

P risfan sudah menyatakan bahwa gender adalah konstruksi sosial yang dibangun 
atas budaya patriarkhal (laki-laki) didalam kehidupan masyarakat kita budaya 
ini cukup mengakar tercermin pada hampir seluruh aspek kehidupan walaupun 
mungkin saat ini sudah lebih baik tapi bukan berarti kesenjangan gender tidak 
ada. Implementasi dari budaya ini adalah tereduksinya hak-hak perempuan yang 
kemudian dianggap sama dengan laki-laki (di dunia kerja walaupun suda ada cuti 
hamil, cuti haid dan sebagainya) tapi ini belum cukup karena hak-hak yang lebih 
mendasar masih sering dilanggar seperti hak untuk berserikat, hak mendapatkan 
pendidikan, hak untuk mengakses pelayan kesehatan yang murah dan terjangkau,
 semuanya itu belum sepenuhnya terpenuhi. Kondisi ini tentunya memprihatinkan, 
jika semua ini terakomodasi di dalam perencanaan pembangunan dan menjadi 
pemikiran bersama mungkin hak-hak yang terlanggar tadi bisa dieliminasi. 
Indonesia memang telah meratifikasi CEDAW didalam UU No 7/1984 tentang 
penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, namun inipun masih 
dianggap belum efektif berjalan dan kemudian disusul dengan keluarnya UU No 
9/2000 tentang PUG (Pengarusutamaan Gender) yang intinya memasukkan isu gender 
di dalam setiap perencanaan pembangunan. Tapi sayang karena masih banyak SKPD 
yang tidak responsif gender shg isu gender di reduksi menjadi isu perempuan, 
dan yang berhubungan dengan perempuan kembalinya kepada Kementrian Pemberdayaan 
Perempuan. Di Jateng teman-teman Biro Pemberdayaan Perempuan sudah bekerjasama 
dengan Bappeda Prov agar didalam perencanaannya pembangunan bisa memasukkan 
isu-isu gender. Sedangkan terkait dengan bagaimana
 memasukkan isu gender didalam perencanaan pembangunan adalah dengan mengawal 
kebijakan tersebut kemudian memastikan bahwa di dalam penggaggaranpun isu-isu 
tersebut diterima.

Salam
Mila


From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, May 20, 2009, 10:51 PM









Pak Iman, Pak Aby, Mbak Mila, Mbak Nyta, Bung Efha dan rekans ysh,
 
Saya sudah baca comment Pak Iman, Pak Aby, Efha, tapi sengaja reply mbak 
Alim... eh Mila, maksud saya mbok jangan ragu sampaikan "opini" mbak, jangan 
hanya komentar -terima kasih dan setuju, atau masih prihatin saja. Apa sih 
gender itu? Dan bagimana.... .. Untuk mancing, saya sampaikan reka-rekaan saya 
(salah gak dimarahi Pak Aby kok).
 
Gender dan Penataan Ruang
Terpancing oleh diskusi teman-teman, saya coba menggali beberapa ingatan yang 
saya tahu saat bersinggungan dengan topic ini.
 
Gender & Sex
Gender dibedakan dengan sex. Soal sex atau jenis kelamin bersifat “natural, 
biologis”. Perempuan bisa melahirkan dan menyusui, dan konsekuensi dari itu. 
Sementara laki-laki tidak bisa. Sedangkan soal gender, adalah soal pandangan 
yang terbentuk oleh budaya (nurture) bahwa laki-laki berkuasa, pencari nafkah, 
lebih ini dan itu. Anggapan ini menjadikan hak-hak wanita diletakkan dibawah 
lelaki. Kerja bisa sama tapi hak sebagai karyawan untuk dapat posisi, tunjangan 
bisa beda.
Jadi soal kodrat biologis tidak bisa diubah, tapi soal tradisi dan pandangan 
atas peran perempuan yang merugikan, bisa diubah. Sekarang umumnya wanita 
bekerja, tapi tanggung jawab urusan rumah tangga sebagian besar masih di dia, 
jadi fungsinya rangkap.
 
Tuntutan Gender
Perjuangan gender, kalau menurut saya mengandung paradox. Di satu sisi menuntut 
”persamaan” posisi/perlakuan, di sisi lain menuntut hak karena kebutuhannya ada 
yang berbeda (ruang/jalur khusus, kuota, hal-hal terkait dengan kebutuhannya 
sebagai wanita dan ibu rumah tangga). Ini perlu penjelasan.
Kebijakan pembangunan yang ”buta-gender” memang bisa mengakibatkan kesulitan 
bagi perempuan. Adanya teknologi pertanian yang menghapus pekerjaan tertentu 
(misal ani-ani, menumbuk beras), membuat banyak wanita desa kehilangan 
pekerjaan. Dan banyak contoh peraturan perburuhan yang menyulitkan perempuan
Secara hukum tuntutan persamaan hak ini telah diakui oleh perundangan, sejak UU 
no8/1978 tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Kaum Perempuan. Lalu 
Konferensi PBB Nairobi 1985 menegaskan untuk menjadikan perspektif gender ke 
dalam semua kebijakan negara dan pembangunan. Dan, pada 1995 di Beijing 
dituangkan dalam platform for action dengan strategi yang dikenal sebagai 
”gender mainstreaming”.
 
Kepada peminat kajian ”gender and planning” sebetulnya sudah bisa mencoba 
menerjemahkan strategi tersebut dalam proses dan substansi perencanaan wilayah 
dan kota, wabil khusus penataan ruang. Kalau perlu bisa sampai menyusun daftar 
simak (check-list) untuk memandu, memonitor dan mengevaluasi apakah seluruh 
proses penataan ruang sudah ”sadar gender”.
Misalnya:
Apakah prinsip kebijakan yang mendasari perencanaan sudah mengacu pada 
perundangan/ kebijakan gender?
Apakah tim penyusun rencana sudah mempertimbangkan representasi suara perempuan?
Apakah proses penyesyahannya juga melibatkan stakeholder yang merepresentasi 
gender?
Apakah substansi rencana, isinya, langkah-langkahnya sudah mempertimbangkan 
aspek gender? Standar tata ruang yang digunakan juga sudah mempertimbangkan 
kebutuhan khas wanita dan keluarga?
Apakah proses diseminasi rencana sudah mengundang representasi 
perempuan/gender? 
Apakah cara-cara pelaksanaan rencana sudah mempertimbangkan partisipasi 
perempuan, organisasi wanita? Apakah dalam proses monitoring & evaluasi sudah 
melibatkan representasi suara perempuan untuk member feed-back? Dst, dsb.

 
Semoga memancing diskusi lanjutan
 
Salam,
Risfan Munir


--- On Wed, 5/20/09, mila karmila <alim_...@yahoo. com> wrote:


From: mila karmila <alim_...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, May 20, 2009, 9:18 PM








Pak Risfan dan temen-temen Referensier

Sepakat pak bahwa mindset yang selama ini terbangun adalah mindset yang 
dipengaruhi budaya Patriarkhal, sehingga budaya ini merasuk mulai dari 
kebijakan sampai dengan penyediaan fasilitas yang semuanya adalah netral 
gender. Semoga semakin banyak yang terusik maka semakin cepat isu bergulir dan 
akan menjadi agenda yang juga dipikirkan oleh perencana pembangunan.

Salam
Mila

--- On Wed, 5/20/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:


From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, May 20, 2009, 5:56 PM





 




__._,____
Messages in this topic (29) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Calendar
Komunitas Referensi
http://groups. yahoo.com/ group/referensi/

Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest
 | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 



Recent Activity


 1
New MembersVisit Your Group 



Give Back
Yahoo! for Good
Get inspired
by a good cause.

Y! Toolbar
Get it Free!
easy 1-click access
to your groups.

Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
. 




      
 

      

    
    
        
         
        
        


        


        
        
        
        
        




      

Kirim email ke