Pak Iman ysh.
Betul pak, utk skala geografik yg lebih tinggi (wilayah dan nasional) banyak 
pertanyaan ttg gender dan PWK ini belum terjawab. Sy sejujurnya tdk banyak 
membaca soal ini, tapi dr beberapa bahan yg sy baca, umumnya di level wilayah 
dan nasional, kesetaraan gender lebih berupa upaya partisipasi aktif dr 
wanita... 
Kalau soal ini menurut sy tentunya terkait dgn cara pandang masyarakat akan 
peran masing2 sex tadi pak (point 1 & 2 tulisan sy sebelumnya). Indonesia 
sebetulnya cukup maju utk hal ini. Pendidikan perencanaan misalkan, proporsi 
mahasiswa dan dosen wanita cukup besar. Demikian juga sebagai profesional, kita 
punya banyak planner wanita, juga di pemerintahan seperti di DJPR yg sebagian 
direktur dan kasubditnya wanita... 
terlihat adanya sedikit pergeseran pemikiran di masyarakat kita, khususnya di 
kota2 besar, walaupun tidak ditetapkan sebagai konsensus nasional (UU dsb.).. 
sedikit pergeseran karena pemikiran bahwa wanita adalah penanggungjawab urusan 
domestik masih dominan di masy kita... nampaknya kita masih jauh dr perubahan 
pemikiran bahwa wanita secara biologis memang yg melahirkan anak, namun tdk dgn 
serta merta berarti bahwa wanita yg paling bertanggungjawab utk membesarkan 
sang anak...tapi di beberapa negara Barat pun perubahan pemikiran seperti ini 
dianggap radikal...
di Indonesia mungkin permasalahan lebih pada partisipasi di legislatif, baik 
pusat maupun daerah...tapi ini terkait juga dgn sistem sosial di masy kita... 
salam..



--- On Thu, 5/21/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: [email protected]
Date: Thursday, May 21, 2009, 2:26 PM











 






    
            
            


      
      
     Kalau bagian 1 dan 2 jelas, tapi begitu No 3 bagian RDTR, RTRW Kota, Kab, 
Prov ngga terjawab khan? 
Saya waktu di Nairobi, kesasar masuk side event seminar mengenai Land Manajemen 
yg pro Gender. Ternyata yg ikut seminar sebagian besar orang kulit hitam cewe. 
Yg mereka bicarakan adalah bgmana akses mereka dpt menguasai hak akan tanah, 
krn ternyata di Afrika wanita itu susah dpt hak atas tanah, semua nya dihak 
oleh laki laki.Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  Eko B K 
Date: Thu, 21 May 2009 05:15:59 -0700 (PDT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
                           Pak Aby, Pak BTS, Pak Efha, Pak Ibnu, Pak Iman, Bu 
Mila, Bu Nita, Pak Risfan, dan ibu/bapak ysh. (urutan nama berdasarkan abjad 
utk menghindari kesan adanya preferensi gender :))
Membaca komen2 ttg gender dan planning di milis, sy jadi tertarik utk ikut urun 
opini:
1. Karena planning tdk dapat terlepas ideologi/ falsafah dasar yg dianut oleh 
sebuah negara, maka pembahasan ttg kesetaraan gender (gender equality) perlu 
mengacu pd Pancasila dan UUD 45... Pancasila memberi ruang utk ini di sila ke 2 
dan khususnya ke 5...namun sayangnya masalah gender tidak terelaborasi di UUD 
45... hal ini dpt dimengerti karena pd saat penyusunan keduanya, masalah 
keadilan sosial masih lebih berkutat pd masalah antar kelas sosial..seingat sy, 
dunia baru mulai memperhatikan masalah gender dgn lebih serius sejak terbitnya 
buku "the second  sex" (Simone de Beauvoir) tahun 1949..
2. Elaborasi falsafah negara ini penting utk menetapkan gender equality seperti 
apa yg dikehendaki di Indonesia. Kebijakan pemerintah, termasuk PWK, tentu 
menyesuaikan dr elaborasi tsb. 
Gender, misalkan, diketahui terkait masalah konstruksi sosial (gender system) 
dan biologis. Keduanya menyangkut keterbatasan wanita masa kehamilan 
(keterbatasan biologis) dan paska kehamilan (konstruksi sosial)....utk Paska 
Kehamilan, kebijakan2 yg dibutuhkan utk mengakomodasi gender equality 
berdasarkan sistem gender di mana wanita dipandang lebih bertanggungjawab thd 
urusan domestik akan berbeda dgn kebijakan2 yg memandang bahwa kedua jenis sex 
sama2 bertanggungjawab. ..
Saat ini dlm sistem sosial yg kita anut, wanita dipandang paling 
bertanggungjawab thd urusan domestik... Tapi bila wanita dan pria dipandang 
sama2 bertanggungjawab dgn peran yg juga setara  (ini terkait prinsip Rawlsian 
justice bahwa tdk satu orangpun perlu bergantung secara submisif pd orang 
lain), maka kebijakan2 yg diperlukan juga akan berbeda... wanita bekerja di 
luar rumah, misalkan, di-encourage dgn memperbanyak tempat2 penitipan balita di 
lingkungan tinggal (di Prancis misalnya, bandingkan dgn Jerman yg jauh lebih 
sedikit karena tdk ada encouragement dr pemerintah, atau di Inggris yg 
mahal)...jam waktu sekolah anak2 yg mengakomodasi wanita dpt bekerja di luar 
rumah (bandingkan di Prancis yg dr 8.30-16.00 dgn di Jerman yg hanya sampai jam 
13.00)... penyediaan angkutan umum khusus wanita (antara lain di Jepang) utk 
menghindari kejahatan sexual.. dsb...dsb...
3. Setelah bicara di level falsafah dasar, baru kita bisa masuk ke kebijakan 
PWK. Karena dlm PWK kita biasa bicara ttg skala, maka sy sepakat dgn pendapat 
ibu2 dan bapak2 akan perlunya identifikasi masalah gender ini dlm berbagai 
skala geografik: level  bangunan, RTRK, RDTRK/RTRWK, RTRWP, RTRWN, RPJMD, dll...
Salam.




--- On Thu, 5/21/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:

From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, May 21, 2009, 11:45 AM

                                 Ya ya ya....... saya berterimakasih, setuju 
dan turut prihatin.... .... 

--- On Thu, 5/21/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:

From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, May 21, 2009, 2:29 AM

Rekans ysh,
Wah diskusinya berkembang ya. 
Isyu gender ini memang sulit difahami. Salah satunya menurut saya karena salah 
strategi kampanye. Kenapa masyarakat terkesan kurang peduli gender? A.l. Karena 
memang (dibikin) abstrak. Pengusungnya kebanyakan aktivis LSM yang sering 
mengusung banyak misi sekaligus Perjuangan gender dicampur "anti pembangunan" , 
anti ini-itu, bahkan anti jilbab. Sehingga bagi pemerintah dan masyarakat umum 
menjadi rumit. Mengkampanyekan sesuatu ke masyarakat luas dengan mengkritik 
agama adalah "kesalahan fatal" bagi intelektual yang tahu ilmu budaya. Akhirnya 
mereka capai sendiri dan mengatakan "orang tak mengerti". 
So, "Keep it Simple Sis". 

Waktu seorang cagub di Sumatera ditanya soal gender, semua pesaingnya berteori. 
Tapi sang Cagub ini cuma bilang, "Gender menurut ku adalah bagaimana aku 
menghormati mamak (ibu)ku, saudara  perempuanku" . Dan dia menang.

Desain ruang yang sadar gender barangkali lebih konkrit pada skala site-plan, 
sebagian urban design. Di skla wilayah kurang.
Tapi bukankah urusan kita juga PWK (urban/regional development planning) 
seperti RPJMD yang lebih komprehensif, termasuk rekomendasi ekonomi. Dan, 
bukankah ekonomi kita masih ditunjang sumber devisa ketiga, yaitu ekspor TKW. 
Apa implikasinya bagi gender n planning?

Salam,
R Munir

From: mila karmila <alim_...@yahoo. com>
Sent: Thursday, May 21, 2009 2:12 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang



Bapak-bapak dan Ibu ysh

Saya harus berterima kasih, karena persoalan gender dan pembangunan ini membuat 
bapak-bapak dan ibu merasa prihatin dan mulai memikirkan bagaimana  memasukkan 
isu-isu gender didalam perencanaan pembangunan

P risfan sudah menyatakan bahwa gender adalah konstruksi sosial yang dibangun 
atas budaya patriarkhal (laki-laki) didalam kehidupan masyarakat kita budaya 
ini cukup mengakar tercermin pada hampir seluruh aspek kehidupan walaupun 
mungkin saat ini sudah lebih baik tapi bukan berarti kesenjangan gender tidak 
ada. Implementasi dari budaya ini adalah tereduksinya hak-hak perempuan yang 
kemudian dianggap sama dengan laki-laki (di dunia kerja walaupun suda ada cuti 
hamil, cuti haid dan sebagainya) tapi ini belum cukup karena hak-hak yang lebih 
mendasar masih sering dilanggar seperti hak untuk berserikat, hak mendapatkan 
pendidikan, hak untuk mengakses pelayan kesehatan yang murah dan terjangkau,  
semuanya itu belum sepenuhnya terpenuhi. Kondisi ini tentunya memprihatinkan, 
jika semua ini terakomodasi di dalam perencanaan pembangunan dan menjadi 
pemikiran bersama mungkin hak-hak yang terlanggar tadi bisa dieliminasi. 
Indonesia memang telah meratifikasi CEDAW
 didalam UU No 7/1984 tentang penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap 
perempuan, namun inipun masih dianggap belum efektif berjalan dan kemudian 
disusul dengan keluarnya UU No 9/2000 tentang PUG (Pengarusutamaan Gender) yang 
intinya memasukkan isu gender di dalam setiap perencanaan pembangunan. Tapi 
sayang karena masih banyak SKPD yang tidak responsif gender shg isu gender di 
reduksi menjadi isu perempuan, dan yang berhubungan dengan perempuan kembalinya 
kepada Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Di Jateng teman-teman Biro 
Pemberdayaan Perempuan sudah bekerjasama dengan Bappeda Prov agar didalam 
perencanaannya pembangunan bisa memasukkan isu-isu gender. Sedangkan terkait 
dengan bagaimana  memasukkan isu gender didalam perencanaan pembangunan adalah 
dengan mengawal kebijakan tersebut kemudian memastikan bahwa di dalam 
penggaggaranpun isu-isu tersebut diterima.

Salam
Mila

From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, May 20, 2009, 10:51 PM

Pak Iman, Pak Aby, Mbak Mila, Mbak Nyta, Bung Efha dan rekans ysh, Saya sudah 
baca comment Pak Iman, Pak Aby, Efha, tapi sengaja reply mbak Alim... eh Mila, 
maksud saya mbok jangan ragu sampaikan "opini" mbak, jangan hanya komentar 
-terima kasih dan setuju, atau masih prihatin saja. Apa sih gender itu? Dan 
bagimana.... .. Untuk mancing, saya sampaikan reka-rekaan saya (salah gak 
dimarahi Pak Aby kok). Gender dan Penataan RuangTerpancing oleh diskusi 
teman-teman, saya coba menggali beberapa ingatan yang saya tahu saat 
bersinggungan dengan topic ini. Gender & SexGender dibedakan dengan sex. Soal 
sex atau jenis kelamin bersifat “natural, biologis”. Perempuan bisa melahirkan 
dan menyusui, dan konsekuensi dari itu. Sementara laki-laki tidak bisa. 
Sedangkan soal gender, adalah soal pandangan yang terbentuk oleh budaya 
(nurture) bahwa laki-laki berkuasa, pencari nafkah, lebih ini dan itu. Anggapan 
ini menjadikan hak-hak wanita diletakkan dibawah lelaki.
 Kerja bisa sama tapi hak sebagai karyawan untuk dapat posisi, tunjangan bisa 
beda.Jadi soal kodrat biologis tidak bisa diubah, tapi soal tradisi dan 
pandangan atas peran perempuan yang merugikan, bisa diubah. Sekarang umumnya 
wanita bekerja, tapi tanggung jawab urusan rumah tangga sebagian besar masih di 
dia, jadi fungsinya rangkap. Tuntutan GenderPerjuangan gender, kalau menurut 
saya mengandung paradox. Di satu sisi menuntut ”persamaan” posisi/perlakuan, di 
sisi lain menuntut hak karena kebutuhannya ada yang berbeda (ruang/jalur 
khusus, kuota, hal-hal terkait dengan kebutuhannya sebagai wanita dan ibu rumah 
tangga). Ini perlu penjelasan.Kebijakan pembangunan yang ”buta-gender” memang 
bisa mengakibatkan kesulitan bagi perempuan. Adanya teknologi pertanian yang 
menghapus pekerjaan tertentu (misal ani-ani, menumbuk beras), membuat banyak 
wanita desa kehilangan pekerjaan. Dan banyak contoh peraturan perburuhan yang 
menyulitkan perempuanSecara
 hukum tuntutan persamaan hak ini telah diakui oleh perundangan, sejak UU 
no8/1978 tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Kaum Perempuan. Lalu 
Konferensi PBB Nairobi 1985 menegaskan untuk menjadikan perspektif gender ke 
dalam semua kebijakan negara dan pembangunan. Dan, pada 1995 di Beijing 
dituangkan dalam platform for action dengan strategi yang dikenal sebagai 
”gender mainstreaming”. Kepada peminat kajian ”gender and planning” sebetulnya 
sudah bisa mencoba menerjemahkan strategi tersebut dalam proses dan substansi 
perencanaan wilayah dan kota, wabil khusus penataan ruang. Kalau perlu bisa 
sampai menyusun daftar simak (check-list) untuk memandu, memonitor dan 
mengevaluasi apakah seluruh proses penataan ruang sudah ”sadar 
gender”.Misalnya:Apakah prinsip kebijakan yang mendasari perencanaan sudah 
mengacu pada perundangan/ kebijakan gender?Apakah tim penyusun rencana sudah 
mempertimbangkan representasi suara perempuan?Apakah proses
 penyesyahannya juga melibatkan stakeholder yang merepresentasi gender?Apakah 
substansi rencana, isinya, langkah-langkahnya sudah mempertimbangkan aspek 
gender? Standar tata ruang yang digunakan juga sudah mempertimbangkan kebutuhan 
khas wanita dan keluarga?Apakah proses diseminasi rencana sudah mengundang 
representasi perempuan/gender? 
Apakah cara-cara pelaksanaan rencana sudah mempertimbangkan partisipasi 
perempuan, organisasi wanita? Apakah dalam proses monitoring & evaluasi sudah 
melibatkan representasi suara perempuan untuk member feed-back? Dst, 
dsb. Semoga memancing diskusi lanjutan Salam,Risfan Munir

--- On Wed, 5/20/09, mila karmila <alim_...@yahoo. com> wrote:

From: mila karmila <alim_...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, May 20, 2009, 9:18 PM

Pak Risfan dan temen-temen Referensier

Sepakat pak bahwa mindset yang selama ini terbangun adalah mindset yang 
dipengaruhi budaya Patriarkhal, sehingga budaya ini merasuk mulai dari 
kebijakan sampai dengan penyediaan fasilitas yang semuanya adalah netral 
gender. Semoga semakin banyak yang terusik maka semakin cepat isu bergulir dan 
akan menjadi agenda yang juga dipikirkan oleh perencana pembangunan.

Salam
Mila

--- On Wed, 5/20/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:

From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, May 20, 2009, 5:56 PM


 


__._,____Messages in this topic (29) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | CalendarKomunitas 
Referensi
http://groups. yahoo.com/ group/referensi/
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest  | Switch format to 
Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent 
Activity 1New MembersVisit Your Group Give BackYahoo! for GoodGet inspiredby a 
good cause.Y! ToolbarGet it Free!easy 1-click accessto your groups.Yahoo! 
GroupsStart a groupin 3 easy steps.Connect with others.. 

                                         
                                                   
 

      

    
    
        
         
        
        


        


        
        
        
        
        




      

Kirim email ke