Mas Andri ysh,

Secara umum saya dengan mudah bisa mengatakan sepakat dengan konsep tersebut. 
Namun sebenarnya hal itu menjadi sangat sukar. Saya tidak menggunakan case 
orang lain ... biar tidak di Prita-kan. Ini adalah kasus saya sendiri selama di 
DIY. 

Sebagai seorang pengambil keputusan waktu itu, baik semasa di Kanwil PU maupun 
semasa di Sekertariat Daerah, saya tidak mengijinkan sama sekali istri saya 
yang notabene adalah seorang konsultan (karena hanya itu yang bisa 
dikerjakannya sebagai seorang lulusan Planologi) untuk masuk ke Jogja. Sebagai 
konsekuensinya, dia terpaksa harus hidup terpisah dengan saya selama 11 tahun 
ini. Ini adalah karena mencoba untuk mengikuti konsep seperti yang ditawarkan 
oleh mas Andri. 

Pernah suatu kejadian, saya marah kepada istri saya karena dia menang dalam 
suatu paket besar sehingga menyumbang hand-tractor ke propinsi lain (Sulawesi 
Selatan) dan itu di cover TV swasta, dan saya lihat. Dalam berita tersebut 
dikatakan bahwa ada bantuan dari PT X kepada pemerintah prop. sulawei selatan 
10 hand tractor. Complain saya adalah mengapa itu tidak disumbangkan ke DIY 
saja. Jawabnya adalah ... lho saya mencari makan dari tempat lain kok? Disitu 
saya terdiam ... ternyata ini akibat dari sebuah usaha untuk konsisten terhadap 
sebuah nilai ... katakan ... etika.

Dan selama 11 tauhn itu, perusahannya tidak pernah menyentuh DIY. Padahal itu 
bukan miliknya. Dia hanya salah satu direktur dari perusahaan itu.

Mari kita bayangkan ... bila saya menjadi salah satu pejabat di departemen ... 
yang notabene pasti akan sama dengan ruang keahlian istri saya ... lalu apakah 
berarti perusahaan itu tidak bisa bekerja disitu ?? Saya tidak mencoba untuk 
membela tentang issue bahwa keluarga pejabat tidak boleh memanfaatkan 
APBN/APBD. Saya hanya ingin untuk memperlihatkan dari sudut pandang lain.

Pernah istri gubernur menanyakan kepada istri saya : "mengapa bu Bambang tidak 
pindah ke Jogja?" Jawab istri saya : "kalau suami saya diijinkan korupsi saya 
akan segera pindah ke Jogja. Saya mempunyai kebutuhan hidup yang perlu 
dipenuhi." Disitulah gubernur dan istri memahami sikap saya dan istri. Tetapi 
demi Allah kehidupan keluarga saya selama 11 tahun menjadi tidak normal .... 
karena etika ini. Bahkan muncul rumors yang macam2 dan itu tidak lebih dari 
akibat etika ini.

Baru sekarang, istri saya bisa masuk ke Jogja dan bidding untuk sebuah 
kegiatan. Alhamdulillah saya sudah menjadi staf lagi jadi tidak masuk dalam 
kategori yang dilarang.

Mungkin ini bisa sedikit memberikan pandangan lain.

Salam

bambang sp

Kirim email ke