PakDjarot,

 

Apa arsitektur gereja katolik itu dipengaruhi oleh ordo pastor parokinya ya 
pak,… 

 

Kalau gereja Karmelit dari ordo O’Carm, saya perhatikan ada kesamaan bentuk  
kerucut dibelah horizontal, … kayak gereja karmelit di Meruya, dan kebon 
jeruk,dan juga di SUkajadi Bandung,.

Agak lain dengan gereja ordo Jesuit ,.... yang biasanya ada menara tinggi dan 
belnya,… seperti Gereja Blok B. Kebayoran baru,..

 

Apa ada falsafah khusus, atau apa kebetulan ajah arsiteknya sama,… tinggal copy 
paste blueprintnya saja,..

 

Ini pertanyaan iseng sajah pak,.. atau pengamatan saya yang ngawur,.. hehhehe

 

Regards,

 B.Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia. Indo-MONEV is also supporting 
the network for InDEC (Indonesian Development Evaluation Community)

Join in by sending an email to:  [email protected] 

Find also Indo-MONEV in facebook:  
<http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts> 
http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
Djarot Purbadi
Sent: 22 July 2009 07:26
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: Jagad Jawa 1

 

  


Pak Ekadj, terima kasih atas pencerahan yang saya terima melalui tulisan Bapak 
yang runtut ini. Terus terang dari ajaran agama Katolik saya belum pernah 
menggalinya secara serius, apakah ada unsur-unsur yang dapat menjadi atau 
dijadikan referensi dalam tata ruang (wadah kehidupan manusia). Tradisinya 
memang mungkin berbeda, bahkan saya rasakan aspek fisik-keruangan kurang 
mendapat tekanan, misalnya, yang namanya gereja adalah umat Allah bukan 
gedungnya. Oleha karenanya, kadang konservasi dan prservasi bangunan arsitektur 
kurang mendapat perhatian karena aspek rohani yang lebih dipentingkan. 
Pemugaran gereja Ganjuran di Bantul, misalnya, yang semula berciri arsitektur 
kolonial sekarang berubah total ke arah arsitektur Jawa yang ramai dengan 
ornamen kraton. Bangunan di buat baru dan seolah-olah di tempat itu belum 
pernah ada bangunan lama yang bersejarah.

Fenomena gereja berceceran sepanjang tepi jalan kiri dan kanan saya temukan di 
sepanjang perjalanan Kupang Kefamenanu. Menurut informan saya waktu itu (2006) 
gedung gereja lebih banyak daripada umatnya, ini ungkapan lokal yang saya 
tangkap. Bahkan kadang gedung gereja didirikan di tempat yang sekitarnya tanah 
kosong melulu. Informan saya bahkan mengatakan gereja-gereja itu berebutan 
umat, mirip toko-toko yang berebut simpati konsumen yang diduga lewat di depan 
tokonya. Hal ini situasinya khusus, yaitu mendirikan gedung gereja untuk 
menarik umat....fisik-visual digunakan untuk menarik umat.

Saya sangat salut ketika pendirian rumah ibadat ada di tengah masyarakat karena 
kebutuhan nyata masyarakat sendiri di tengah permukiman mereka. Artinya, 
pendiriannya berdasarkan kebutuhan nyata, khususnya kebutuhan spiritual 
terdalam untuk senantiasa dekat dengan Sang Pencipta Hidup. Dalam kasus ini 
masyarakat sendiri berusaha melakukan penataan setting atau panggung kehidupan 
mereka sendiri sesuai dengan kebutuhan manusia yang multi dimensi. Oleh 
karenanya, menurut saya, bagi para planner tampaknya pada skala tertentu justru 
penataan setting yang cocok dengan karakter kehidupan masyarakat yang menjadi 
fokus penting. Persoalannya, referensi untuk menata setting itu menggunakan 
acuan yang mana ? Hal ini kiranya sesuai dengan pikiran bahwa pada awalnya 
manusia menata ruang kehidupannya dan pada akhirnya ruang kehidupan itu akan 
membentuk karakter manusia yang tinggal di dalamnya.

Sekian dulu ya Pak, jika ada yang kurang disambung lagi. Nuwun.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnusantara.wordpress.com
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 7/19/09, ffekadj <[email protected]> wrote:


From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Jagad Jawa 1
To: [email protected]
Date: Sunday, July 19, 2009, 8:45 PM

  

Pak Djarot ysh,

Terima kasih atas uraian dan penjelasannya yang cukup lengkap, mudah-mudahan 
menambah khazanah pengetahuan kita. Saya ingin menanggapi, namun secara 
bertahap, beberapa hal sebagai berikut :

Manunggaling terhadap konsep syukur-taubat- kebaikan bukan hal mudah bila hal 
ini serenta harus diwujudkan dalam ekspresi ruang : pada tempat itu dan pada 
waktu itu. Mungkin dapat dibayangkan bila suatu ketika kita harus terharu, 
kagum, dan bahagia, sementara dalam waktu bersamaan terasa ada kekurangan dalam 
diri, terasa khilaf, egois, dan selanjutnya harus ada amal yang akan dilakukan. 
Di dalam Islam sebenarnya ada jalan yang mengajarkan itu, hal itu yang disebut 
dengan 'pengendalian' . Ekstrimnya bila melihat ajaran Budha, bila 'nafsu' itu 
harus 'dilawan', untuk mencapai tahap tertentu.

Saya kurang dapat menguraikan untuk individu, namun secara komunal sedikit hal 
yang menjelaskan adalah lokasi tempat ibadah (mesjid) yang seharusnya dapat 
mencerminkan ekspresi komunal terhadap ruang. Dan bila kita tinjau dari satu 
tempat ke lain tempat, penempatan mesjid juga mencerminkan dimensi budaya di 
daerah tersebut dalam resepsinya terhadap agama. Selain kasus mesjid di sekitar 
kraton itu, saya juga melihat kecenderungan penempatan mesjid yang berada di 
tengah lingkungan perumahan di Jawa. Karena akses terbatas, terkadang kita 
tidak dapat melihat mesjid tersebut dari jalan umum. Mungkin ini pengalaman 
sempit saja, sewaktu menyusuri jalan Pantura dan Pansela, tidak banyak mesjid 
yang saya lihat berlokasi di pinggir jalan.

Ekspresi beragam itu seharusnya menempatkan lokasi mesjid/surau/ langgar pada 
tempat yang terbaik dan lega serta dibangun dengan kualitas baik (syukur), 
anggun dan pengasih sehingga berkehendak untuk minta ampun (taubat, walau 
sering disalahtafsirkan dengan menempatkan kuburan di sekitar mesjid), serta 
mencitrakan keinginan untuk beramal bagi siapapun yang berkunjung. Kebalikannya 
bila kita melihat bangunan umum seperti mall, hotel, dll yang menyediakan 
tempat ibadah di basement panas atau pojok tertentu. Atau mungkin cara ini bisa 
menghasilkan ekspresi seperti itu?

Saya senang waktu tahun lalu ke kampus UGM dan menyempatkan sholat di mesjid 
dekat gedung apa itu, yang dekat jembatan McD itu. Suasananya tenang, di 
sekitarnya ada kolam dan taman. Namun aksesnya jauh dari jalan umum.

Jadi konsep kehidupan yang diajarkan dalam Islam tidak semata mencerminkan 
suatu tujuan terhadap model kehidupan kasih dan bahagia, tetapi lebih kepada 
'keselamatan' dunia akhirat. Pemaknaannya yang ekstrim seperti tergambar dalam 
ajaran Hindu : ruwa <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3655>  
bineda, selalu ada dua jalan : yang diridhoi dan tidak diridhoi, karena kotak 
Pandora sudah terbuka di dunia ini. Konsep syukur-taubat- amal ini sering saya 
jadikan rujukan dalam menilai SQ komunal di berbagai tempat.

Sementara demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak
> Ekadj, Pak Risfan dan sahabats referensi,
> 
> Â 
> 
> Saya
> usahakan menjelaskan, semoga tidak menjadi semakin terlalu serius seperti
> ungkapan hati Pak Risfan di email yang lain.
> 
> Â 
> 
> PERTAMA.
> Saya sangat setuju bahwa menurut gagasan / ide dalam kitab suci setiap tempat
> di bumi seyogyanya menjadi tempat suci, dalam bentuk visualnya bisa menjadi
> masjid atau yang lain, dan dalam sebutan universal menjadi tempat untuk berdoa
> dan memohon ampun,  bersyukur serta
> melakukan kebaikan. Dalam agama Katolik, tubuh manusia bahkan merupakan Bait
> Allah atau Rumah Tuhan karena Tuhan selalu berkenan hadir dan menjumpai jiwa
> dan hati manusia di dalam tubuh manusia; jadi bukan hanya ruang di luar 
> manusia
> yang merupakan tempat suci. Pandangan ini tentu didasari rumusan iman tertentu
> yang khas agama Katolik.
> 
> Â 
> 
> Saya
> jadi mengerti bahwa dalam Islam jelas disebut ada tiga hal itu sementara dalam
> tradisi agama saya (sejauh saya tahu) memang tidak disebutkan se-eksplisit 
> itu,
> meskipun jika dicari barangkali ya mungkin ada (nggak yakin, sebab saya belum
> pernah mencarinya). Jika saya ingat-ingat lagi, ada konsep di dalam sebuah 
> doa,
> dan doa itu ada di dalam kitab Perjanjian Baru adalah: bumi hendaknya 
> merupakan
> "Kraton nDalem" alias "Kerajaan Allah", yang sangat ideal
> penuh dengan cinta kasih. Ini tentu bukan berarti semua orang di dunia 
> dikehendaki
> menjadi masyarakat seagama dari suatu agama tertentu; bukan dogma untuk
> mengembangkan agama.
> 
> Â 
> 
> Gambaran
> visualnya seperti apa, ya multi interpetasi. Bagi saya konsepnya diambil
> nilainya yang transenden, yaitu Tuhan/Allah menjadi raja di dunia dan akhirat,
> maka berarti cinta kasih abadi menguasai seluruh kehidupan. Ajaran cinta kasih
> ini saya kira ada di semua agama, hanya narasinya bisa tidak sama, dan
> penerapannya bisa beragam juga. Pada tataran nilai abstrak sama dan kadang 
> pada
> tataran “bahasa manusia� bisa berbeda ungkapannya, misalnya yang satu 
> dengan
> bahasa Latin yang lain Yunani yang lain lagi dengan bahasa Jawa. Misalnya,
> Gusti Allah iku sangkan lan paraning dumadi = Tuhan adalah asal dan tujuan
> kehidupan = Tuhan adalah Alfa dan Omega kehidupan; gagasan intinya sama, 
> bahasa
> gramatikalnya berbeda.
> 
> Â 
> 
> Sekilas
> saya duga, sebenarnya pada tataran ide ada banyak kesamaan idea tentang ruang
> pada berbagai keyakinan/agama jika kita memang bisa menemukannya. Dalam
> khasanah Kejawen ada gagasan ideal dari suluk dalang: tata titi tentrem gemah
> ripah lohjinawi, dst saya nggak hafal. Teman saya dari Undip meneliti dan
> menulis idea ruang dengan cara menggali dari khasanah wayang Jawa (dia arsitek
> dan dalang sih). Gagasan ideal tentang ruang ini tema yang menarik jika bisa
> dipelajari dan ditemukan titik-titik pertemuan antar gagasan yang diinspirasi
> dari ajaran suci agama kita masing-masing. Minimal dari milis ini saya bisa
> belajar banyak tentang konsep dan konsepsi ruang dari sudut agama/iman Islam.
> Terima kasih,...dan. ....lanjutkan Pak.
> 
> Â 
> 
> Tentang
> Mono-orientasi, saya ingat dongeng dari Prof Parmono Atmadi (alm) ketika 
> beliau
> pergi menunaikan ibadah haji. Ketika di Mekkah beliau dirubung mahasiswa-2 
> Arab
> yang sedang survai tentang kesan para peziarah terhadap arsitektur di tempat
> itu. Beliau berjanji mau mengungkapkan kesan pribadi asal di tempat yang lebih
> leluasa. Setelah mendapat tenda yang leluasa kemudian beliau diskusi dengan
> para mahasiswa itu dan kesimpulannya hanya satu, katanya: hanya satu kata 
> yaitu
> "no orientation" . Maksudnya, rancangan arsitektur di Mekkah sudah
> benar, sebab tidak perlu berorientasi ke mana lagi karena memang tempat itu
> adalah titik orientasi itu sendiri. Itulah kalau profesor arsitektur berhaji
> masih sempat diskusi arsitektur juga.

 



Kirim email ke