Mudah-mudahan ada rekan yang mau menjawab pertanyaan Pak ATA ini.

Untuk the highest and the best value
<http://groups.yahoo.com/group/perkotaan/message/339>  selalu menempati
posisi centrum, dan ukurannya memang nilai (: money) lahan. Biasanya
ditunjukkan dengan 3 atau lebih frontage. Posisi terbaik bagi mesjid
adalah di junction, sehingga bisa dimasuki dari segala arah, karenanya
punya banyak pintu. Semakin banyak frontage, semakin tinggi nilai SQ
komunal, sorry. Karena multi-frontage, sering dikawinkan dengan konsep
taman/halaman, juga untuk antisipasi luberan, asal jangan dijadikan
kuburan. Untuk sholat Ied seharusnya di lapangan terbuka, karena
mengandung nilai syiar. Pengembangan mesjid sering disebut 'ladang
amal', jadi tidak semata-mata faktor arsitektural: jadi perlu bersifat
terbuka terhadap amaliah. 'Aspek pengembangan' ini juga faktor penilaian
SQ. Namun terlalu akhirat, juga akan menyebabkan 'robohnya surau kami'.

Memang konsep umum menempatkan taman (RTH) sebagai the highest value;
namun saya perhatikan untuk kasus kota-kota yang dominan muslim di
Indonesia, nilai kedekatan ke mesjid (dalam jangkauan perjalanan kaki)
sudah menjadi pertimbangan utama.

Sementara demikian dulu. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], abimanyu takdir alamsyah
<takdi...@...> wrote:
>
> Maaf ya rekan-rekan...., bolehkah saya mengajukan pertanyaan nyeleneh
tapi
> praktis...?
> Kalau bangunan ibadahnya mesjid, lebih cocok mana, di tengah
permukiman atau
> dibagian Barat - Barat Laut?
> Bagian Timurnya justru lapangan luas sebelum ke kawasan penggunaan
lain ?.
> Soalnya kalau saat solat Ied atau Jumat, seringkali bagian Timur
> berdesak-desakan sedangkan bagian Barat-nya justru kosong....
> Highest and the best value....? siapa bilang begitu...?
> Hmmmm.....apakah 'value' itu ? Lahan atau ruang...?
> ...atau waktu-ruang-kultural ?
> Kecuali cuma untuk monumennya "arsitek" atau bagus dilihat dari
> angkasa.......???
>
> Salam,
> Abimanyu
>
> 2009/7/22 ffekadj 4ek...@...
>
> >
> >
> > Pak Djarot ysh, saya kira kita sudah hampir bertemu di suatu titik,
bila
> > bangunan ibadah itu sebenarnya dan seharusnya berada di titik tengah
> > permukiman. Dan untuk masyarakat religius seperti di Indonesia ini,
bangunan
> > ibadah itu bisa menjadi titik energi yang menggerakkan motivasi dan
> > aktivitas masyarakat dalam kehidupan dlsb. Posisinya seharusnya
berada pada
> > the highest and the best value secara land-use. Kalau di Jepang saya
melihat
> > bila the best value itu diperuntukkan untuk taman (RTH), sehingga
peruntukan
> > apa pun yang berdekatan dengan taman tersebut akan memiliki nilai
lahan
> > lebih tinggi. Namun kasus di beberapa perkotaan di Indonesia, posisi
> > kedekatan dengan mesjid atau bangunan ibadah lainnya, menjadi faktor
penentu
> > margin harga lahan. Saya coba terapkan dalam tabel neraca lahan yang
sedang
> > saya modifikasi.
> >
> > Saya kurang tahu juga apresiasi
gereja<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1727>bagi
masyarakat Nasrani. Dalam 'Angels and Demons' sedikit banyak
> > tergambarkan hal tersebut, namun saya belum mampu menanggapi lebih
lanjut.
> > Dulu sempat saya kunjungi beberapa dom di Eropah, seperti di Ghent,
> > Frankfurt, dan Notre Dame; dan coba menangkap hikmahnya terutama
ketika
> > apresiasi itu masuk ke zaman pertengahan. Termasuk apresiasi ketika
> > malam-malam datang ke tempat Pak Wawo di Tomohon, yang juga melalui
jalanan
> > kiri-kanan gereja dan seminari; serta juga perjalanan dari Maumere
ke Ende.
> >
> > Untuk daerah-daerah dengan percampuran umat beragama, simbol
bangunan
> > ibadah juga menandai suatu wilayah dominasi agama, dan mengambil
tempat di
> > pinggir jalan utama. Saya kira 'jalan ke Kaenbaun' termasuk dalam
hal
> > tersebut, karena sudah berada dalam daerah transisi
Protestan-Katholik.
> > Termasuk juga jalanan di Tapanuli, bila kelihatan mesjid maka itu
kampung
> > muslim dan bila kelihatan gereja maka itu kampung nasrani. Di Trans
Sulawesi
> > malah lebih beragam, termasuk bila kelihatan pura maka itu kampung
> > transmigran dari Bali. Dengan demikian bangunan ibadah tidak mesti
berlokasi
> > terpusat di tengah permukiman, namun bisa pertanda hub ke dalam
komunitas
> > setempat.
> >
> > Banyaknya pendirian rumah ibadah tidak sekedar karena meluasnya
permukiman
> > dan meningkatnya kemakmuran. Di dalam ajaran Islam juga menyebutkan
tentang
> > cara-cara amaliah untuk mendirikan bangunan-bangunan ibadah dan
umum; dan
> > sering ditafsirkan adalah mendirikan mesjid dsb. Pak Har mendapatkan
data
> > dari berita Bazis bila saat ini ada lebih 2 juta hektar tanah wakaf
di
> > seluruh Indonesia. Bayangkan bila seluruh tanah wakaf tersebut
dibangunkan
> > mesjid. Sehingga perlu suatu pemikiran fuqaha dan perencana untuk
> > mendayagunakan tanah wakaf tersebut untuk kepentingan umat yang
tidak mesti
> > berbentuk bangunan ibadah. Saya kira saat ini gagasan tersebut
sedang
> > dipikirkan oleh Pak Nana dkk.
> >
> > Mungkin sementara demikian dulu pak, kelak disambung lagi. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> > --- In [email protected], Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> > >
> > > Pak Ekadj, terima kasih atas pencerahan yang saya terima melalui
tulisan
> > Bapak yang runtut ini. Terus terang dari ajaran agama Katolik saya
belum
> > pernah menggalinya secara serius, apakah ada unsur-unsur yang dapat
menjadi
> > atau dijadikan referensi dalam tata ruang (wadah kehidupan manusia).
> > Tradisinya memang mungkin berbeda, bahkan saya rasakan aspek
fisik-keruangan
> > kurang mendapat tekanan, misalnya, yang namanya gereja adalah umat
Allah
> > bukan gedungnya. Oleha karenanya, kadang konservasi dan prservasi
bangunan
> > arsitektur kurang mendapat perhatian karena aspek rohani yang lebih
> > dipentingkan. Pemugaran gereja Ganjuran di Bantul, misalnya, yang
semula
> > berciri arsitektur kolonial sekarang berubah total ke arah
arsitektur Jawa
> > yang ramai dengan ornamen kraton. Bangunan di buat baru dan
seolah-olah di
> > tempat itu belum pernah ada bangunan lama yang bersejarah.
> > >
> > > Fenomena gereja berceceran sepanjang tepi jalan kiri dan kanan
saya
> > temukan di sepanjang perjalanan Kupang Kefamenanu. Menurut informan
saya
> > waktu itu (2006) gedung gereja lebih banyak daripada umatnya, ini
ungkapan
> > lokal yang saya tangkap. Bahkan kadang gedung gereja didirikan di
tempat
> > yang sekitarnya tanah kosong melulu. Informan saya bahkan mengatakan
> > gereja-gereja itu berebutan umat, mirip toko-toko yang berebut
simpati
> > konsumen yang diduga lewat di depan tokonya. Hal ini situasinya
khusus,
> > yaitu mendirikan gedung gereja untuk menarik umat....fisik-visual
digunakan
> > untuk menarik umat.
> > >
> > > Saya sangat salut ketika pendirian rumah ibadat ada di tengah
masyarakat
> > karena kebutuhan nyata masyarakat sendiri di tengah permukiman
mereka.
> > Artinya, pendiriannya berdasarkan kebutuhan nyata, khususnya
kebutuhan
> > spiritual terdalam untuk senantiasa dekat dengan Sang Pencipta
Hidup. Dalam
> > kasus ini masyarakat sendiri berusaha melakukan penataan setting
atau
> > panggung kehidupan mereka sendiri sesuai dengan kebutuhan manusia
yang multi
> > dimensi. Oleh karenanya, menurut saya, bagi para planner tampaknya
pada
> > skala tertentu justru penataan setting yang cocok dengan karakter
kehidupan
> > masyarakat yang menjadi fokus penting. Persoalannya, referensi untuk
menata
> > setting itu menggunakan acuan yang mana ? Hal ini kiranya sesuai
dengan
> > pikiran bahwa pada awalnya manusia menata ruang kehidupannya dan
pada
> > akhirnya ruang kehidupan itu akan membentuk karakter manusia yang
tinggal di
> > dalamnya.
> > >
> > > Sekian dulu ya Pak, jika ada yang kurang disambung lagi. Nuwun.
> > >
> > > Salam,
> > >
> > >
> > >
> > > Djarot Purbadi
> > >
> > >
> > >
> > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> > >
> > > http://arsitekturnusantara.wordpress.com
> > >
> > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
> > >
> > > --- On Sun, 7/19/09, ffekadj 4ekadj@ wrote:
> > >
> > > From: ffekadj 4ekadj@
> > > Subject: [referensi] Re: Jagad Jawa 1
> > > To: [email protected]
> > > Date: Sunday, July 19, 2009, 8:45 PM
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Â
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Pak Djarot ysh,
> > > Terima kasih atas uraian dan penjelasannya yang cukup lengkap,
> > mudah-mudahan menambah khazanah pengetahuan kita. Saya ingin
menanggapi,
> > namun secara bertahap, beberapa hal sebagai berikut :
> > > Manunggaling terhadap konsep syukur-taubat- kebaikan bukan hal
mudah bila
> > hal ini serenta harus diwujudkan dalam ekspresi ruang : pada tempat
itu dan
> > pada waktu itu. Mungkin dapat dibayangkan bila suatu ketika kita
harus
> > terharu, kagum, dan bahagia, sementara dalam waktu bersamaan terasa
ada
> > kekurangan dalam diri, terasa khilaf, egois, dan selanjutnya harus
ada amal
> > yang akan dilakukan. Di dalam Islam sebenarnya ada jalan yang
mengajarkan
> > itu, hal itu yang disebut dengan 'pengendalian' . Ekstrimnya bila
melihat
> > ajaran Budha, bila 'nafsu' itu harus 'dilawan', untuk mencapai tahap
> > tertentu.
> > > Saya kurang dapat menguraikan untuk individu, namun secara komunal
> > sedikit hal yang menjelaskan adalah lokasi tempat ibadah (mesjid)
yang
> > seharusnya dapat mencerminkan ekspresi komunal terhadap ruang. Dan
bila kita
> > tinjau dari satu tempat ke lain tempat, penempatan mesjid juga
mencerminkan
> > dimensi budaya di daerah tersebut dalam resepsinya terhadap agama.
Selain
> > kasus mesjid di sekitar kraton itu, saya juga melihat kecenderungan
> > penempatan mesjid yang berada di tengah lingkungan perumahan di
Jawa. Karena
> > akses terbatas, terkadang kita tidak dapat melihat mesjid tersebut
dari
> > jalan umum. Mungkin ini pengalaman sempit saja, sewaktu menyusuri
jalan
> > Pantura dan Pansela, tidak banyak mesjid yang saya lihat berlokasi
di
> > pinggir jalan.
> > > Ekspresi beragam itu seharusnya menempatkan lokasi mesjid/surau/
langgar
> > pada tempat yang terbaik dan lega serta dibangun dengan kualitas
baik
> > (syukur), anggun dan pengasih sehingga berkehendak untuk minta ampun
> > (taubat, walau sering disalahtafsirkan dengan menempatkan kuburan di
sekitar
> > mesjid), serta mencitrakan keinginan untuk beramal bagi siapapun
yang
> > berkunjung. Kebalikannya bila kita melihat bangunan umum seperti
mall,
> > hotel, dll yang menyediakan tempat ibadah di basement panas atau
pojok
> > tertentu. Atau mungkin cara ini bisa menghasilkan ekspresi seperti
itu?
> > > Saya senang waktu tahun lalu ke kampus UGM dan menyempatkan sholat
di
> > mesjid dekat gedung apa itu, yang dekat jembatan McD itu. Suasananya
tenang,
> > di sekitarnya ada kolam dan taman. Namun aksesnya jauh dari jalan
umum.
> > > Jadi konsep kehidupan yang diajarkan dalam Islam tidak semata
> > mencerminkan suatu tujuan terhadap model kehidupan kasih dan
bahagia, tetapi
> > lebih kepada 'keselamatan' dunia akhirat. Pemaknaannya yang ekstrim
seperti
> > tergambar dalam ajaran Hindu : ruwa bineda, selalu ada dua jalan :
yang
> > diridhoi dan tidak diridhoi, karena kotak Pandora sudah terbuka di
dunia
> > ini. Konsep syukur-taubat- amal ini sering saya jadikan rujukan
dalam
> > menilai SQ komunal di berbagai tempat.
> > > Sementara demikian dulu pak. Salam.
> > > -ekadj
> > >
> > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> > > >
> > > > Pak
> > > > Ekadj, Pak Risfan dan sahabats referensi,
> > > >
> > > > ÂÂ
> > > >
> > > > Saya
> > > > usahakan menjelaskan, semoga tidak menjadi semakin terlalu
serius
> > seperti
> > > > ungkapan hati Pak Risfan di email yang lain.
> > > >
> > > > ÂÂ
> > > >
> > > > PERTAMA.
> > > > Saya sangat setuju bahwa menurut gagasan / ide dalam kitab suci
setiap
> > tempat
> > > > di bumi seyogyanya menjadi tempat suci, dalam bentuk visualnya
bisa
> > menjadi
> > > > masjid atau yang lain, dan dalam sebutan universal menjadi
tempat untuk
> > berdoa
> > > > dan memohon ampun, bersyukur serta
> > > > melakukan kebaikan. Dalam agama Katolik, tubuh manusia bahkan
merupakan
> > Bait
> > > > Allah atau Rumah Tuhan karena Tuhan selalu berkenan hadir dan
menjumpai
> > jiwa
> > > > dan hati manusia di dalam tubuh manusia; jadi bukan hanya ruang
di luar
> > manusia
> > > > yang merupakan tempat suci. Pandangan ini tentu didasari rumusan
iman
> > tertentu
> > > > yang khas agama Katolik.
> > > >
> > > > ÂÂ
> > > >
> > > > Saya
> > > > jadi mengerti bahwa dalam Islam jelas disebut ada tiga hal itu
> > sementara dalam
> > > > tradisi agama saya (sejauh saya tahu) memang tidak disebutkan
> > se-eksplisit itu,
> > > > meskipun jika dicari barangkali ya mungkin ada (nggak yakin,
sebab saya
> > belum
> > > > pernah mencarinya). Jika saya ingat-ingat lagi, ada konsep di
dalam
> > sebuah doa,
> > > > dan doa itu ada di dalam kitab Perjanjian Baru adalah: bumi
hendaknya
> > merupakan
> > > > "Kraton nDalem" alias "Kerajaan Allah", yang sangat ideal
> > > > penuh dengan cinta kasih. Ini tentu bukan berarti semua orang di
dunia
> > dikehendaki
> > > > menjadi masyarakat seagama dari suatu agama tertentu; bukan
dogma untuk
> > > > mengembangkan agama.
> > > >
> > > > ÂÂ
> > > >
> > > > Gambaran
> > > > visualnya seperti apa, ya multi interpetasi. Bagi saya konsepnya
> > diambil
> > > > nilainya yang transenden, yaitu Tuhan/Allah menjadi raja di
dunia dan
> > akhirat,
> > > > maka berarti cinta kasih abadi menguasai seluruh kehidupan.
Ajaran
> > cinta kasih
> > > > ini saya kira ada di semua agama, hanya narasinya bisa tidak
sama, dan
> > > > penerapannya bisa beragam juga. Pada tataran nilai abstrak sama
dan
> > kadang pada
> > > > tataran â€Å"bahasa manusia� bisa berbeda
ungkapannya,
> > misalnya yang satu dengan
> > > > bahasa Latin yang lain Yunani yang lain lagi dengan bahasa Jawa.
> > Misalnya,
> > > > Gusti Allah iku sangkan lan paraning dumadi = Tuhan adalah asal
dan
> > tujuan
> > > > kehidupan = Tuhan adalah Alfa dan Omega kehidupan; gagasan
intinya
> > sama, bahasa
> > > > gramatikalnya berbeda.
> > > >
> > > > ÂÂ
> > > >
> > > > Sekilas
> > > > saya duga, sebenarnya pada tataran ide ada banyak kesamaan idea
tentang
> > ruang
> > > > pada berbagai keyakinan/agama jika kita memang bisa
menemukannya. Dalam
> > > > khasanah Kejawen ada gagasan ideal dari suluk dalang: tata titi
tentrem
> > gemah
> > > > ripah lohjinawi, dst saya nggak hafal. Teman saya dari Undip
meneliti
> > dan
> > > > menulis idea ruang dengan cara menggali dari khasanah wayang
Jawa (dia
> > arsitek
> > > > dan dalang sih). Gagasan ideal tentang ruang ini tema yang
menarik jika
> > bisa
> > > > dipelajari dan ditemukan titik-titik pertemuan antar gagasan
yang
> > diinspirasi
> > > > dari ajaran suci agama kita masing-masing. Minimal dari milis
ini saya
> > bisa
> > > > belajar banyak tentang konsep dan konsepsi ruang dari sudut
agama/iman
> > Islam.
> > > > Terima kasih,...dan. ....lanjutkan Pak.
> > > >
> > > > ÂÂ
> > > >
> > > > Tentang
> > > > Mono-orientasi, saya ingat dongeng dari Prof Parmono Atmadi
(alm)
> > ketika beliau
> > > > pergi menunaikan ibadah haji. Ketika di Mekkah beliau dirubung
> > mahasiswa-2 Arab
> > > > yang sedang survai tentang kesan para peziarah terhadap
arsitektur di
> > tempat
> > > > itu. Beliau berjanji mau mengungkapkan kesan pribadi asal di
tempat
> > yang lebih
> > > > leluasa. Setelah mendapat tenda yang leluasa kemudian beliau
diskusi
> > dengan
> > > > para mahasiswa itu dan kesimpulannya hanya satu, katanya: hanya
satu
> > kata yaitu
> > > > "no orientation" . Maksudnya, rancangan arsitektur di Mekkah
sudah
> > > > benar, sebab tidak perlu berorientasi ke mana lagi karena memang
tempat
> > itu
> > > > adalah titik orientasi itu sendiri. Itulah kalau profesor
arsitektur
> > berhaji
> > > > masih sempat diskusi arsitektur juga.
> > >
> >
> >
>


Kirim email ke