Pak Dwiagus, saya malah kurang memperhatikan kaitan ordo dengan tampilan fisik 
gereja. Jika gereja dibangun pra-konsili vatikan II (jadi sebelum tahun 1960) 
memang ada semacam semangat mengundang umat dengan tampilan menara yang 
diatasnya ada lonceng untuk menandai saat akan ada Misa Kudus. Di pertapaan 
Rowoseneng Temanggung, lonceng digunakan untuk menandai "doa lima waktu" 
diantara para rahib karena semboyan mereka adalah Ora et Labora. Jadi yang 
bekerja di kebun bisa menghentikan sejenak pekerjaannya dan segera berdoa 
bersama di dalam gereja. Jadi mirip dengan loudspeaker di masjid untuk 
memberitahu umat agar segera berdoa karena sudah waktunya. 

Desain gereja pasca konsili vatikan II sudah direaspi semangat mengangkat 
budaya lokal dan kecenderungan ini berkembang meluas pada saat ini. Sekarang 
tampilan gereja sudah lebih banyak menggunakan referensi budaya lokal, meskipun 
masih ada juga gereja-gereja baru yang menggunakan referensi nostalgis masa 
lalu, khususnya dari Eropa. Hal ini memang diserahkan kepada keinginan umat 
lokal, dan "diawasi" oleh keuskupan setempat untuk menjaga agar gereja sungguh 
Rumah Tuhan, bukan Mall atau tempat pameran karena ada ketentuan yang mengatur 
desain gereja di dalam naskah konsili vatikan II. Misalnya, unsur budaya lokal 
boleh digunakan sejauh menambah kekhusukan dan kesucian suasana gereja, dst. 
Jika gereja tersebut adalah milik ordo atau kongregasi tentunya ya berusaha 
memunculkan identitasnya Pak, ya mirip desain kantor bank BNI atau BCA yang 
berusaha memperkenalkan identitasnya kepada publik.

Jika desain gereja ke-eropa-eropa-nan mungkin karena kebanyakan para pastor 
pernah ke eropa, khususnya tempat-tempat suci di eropa sehingga ketika 
membangun gereja memori itu ikut bermain dalam proses perancangannya. Ini 
sangat wajar dan manusiawi, sebab manusia memang memiliki memori yang 
membuatnya menjadi unik. Mereka ke eropa umumnya menempuh pendidikan sampai 
tingkat doktoral baru bisa menjadi rohaniwan yang sempurna menurut standar 
gereja Katolik. Kalau gereja protestan (sebutan dari pihak Katolik) atau 
reformasi (sebutan mereka sendiri untuk diri sendiri) saya nggak banyak tahu.

Era sekarang (di Jogja yang saya tahu) pembangunan gereja lebih banyak 
dicampuri tangan umat, khususnya para donatur. Sangking semangatnya membantu 
material, misalnya, wajah interior gereja bisa belang-bonteng karena sumbangan 
material atau hiasan yang diberikan para donatur. 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 7/22/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> wrote:

From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: Jagad Jawa 1
To: [email protected]
Date: Wednesday, July 22, 2009, 4:30 PM






 




    
                  







PakDjarot, 

   

Apa arsitektur gereja katolik itu dipengaruhi oleh ordo pastor parokinya
ya pak,…  

   

Kalau gereja Karmelit dari ordo O’Carm, saya perhatikan ada
kesamaan bentuk  kerucut dibelah horizontal, … kayak gereja karmelit di Meruya,
dan kebon jeruk,dan juga di SUkajadi Bandung,. 

Agak lain dengan gereja ordo Jesuit ,.... yang biasanya ada menara
tinggi dan belnya,… seperti Gereja Blok B. Kebayoran baru,.. 

   

Apa ada falsafah khusus, atau apa kebetulan ajah arsiteknya sama,…
tinggal copy paste blueprintnya saja,.. 

   

Ini pertanyaan iseng sajah pak,.. atau pengamatan saya yang
ngawur,.. hehhehe 

   



Regards, 

 B.Dwiagus S. 

http://bdwiagus. blogspot. com 

http://bdwiagus. multiply. com  

  

"The most difficult thing in the world is to know how to do
a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. 
White 

   

:::... Indo-MONEV ...::: 

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian
People anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised
to the work on monitoring and evaluation and other related development
issues including development aid works, particularly in Indonesia. Indo-MONEV
is also supporting the network for InDEC (Indonesian
Development Evaluation Community) 

Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com
 

Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. 
php?gid=34091848 127&ref=ts  



   





From:
refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf Of 
Djarot
Purbadi

Sent: 22 July 2009 07:26

To: refere...@yahoogrou ps.com

Subject: Re: [referensi] Re: Jagad Jawa 1 





   

   








 
  
  Pak Ekadj, terima kasih atas pencerahan yang saya terima
  melalui tulisan Bapak yang runtut ini. Terus terang dari ajaran agama Katolik
  saya belum pernah menggalinya secara serius, apakah ada unsur-unsur yang
  dapat menjadi atau dijadikan referensi dalam tata ruang (wadah kehidupan
  manusia). Tradisinya memang mungkin berbeda, bahkan saya rasakan aspek
  fisik-keruangan kurang mendapat tekanan, misalnya, yang namanya gereja adalah
  umat Allah bukan gedungnya. Oleha karenanya, kadang konservasi dan prservasi
  bangunan arsitektur kurang mendapat perhatian karena aspek rohani yang lebih
  dipentingkan. Pemugaran gereja Ganjuran di Bantul, misalnya, yang semula
  berciri arsitektur kolonial sekarang berubah total ke arah arsitektur Jawa
  yang ramai dengan ornamen kraton. Bangunan di buat baru dan seolah-olah di
  tempat itu belum pernah ada bangunan lama yang bersejarah.

  

  Fenomena gereja berceceran sepanjang tepi jalan kiri dan kanan saya temukan
  di sepanjang perjalanan Kupang Kefamenanu. Menurut informan saya waktu itu
  (2006) gedung gereja lebih banyak daripada umatnya, ini ungkapan lokal yang
  saya tangkap. Bahkan kadang gedung gereja didirikan di tempat yang sekitarnya
  tanah kosong melulu. Informan saya bahkan mengatakan gereja-gereja itu
  berebutan umat, mirip toko-toko yang berebut simpati konsumen yang diduga
  lewat di depan tokonya. Hal ini situasinya khusus, yaitu mendirikan gedung
  gereja untuk menarik umat....fisik- visual digunakan untuk menarik umat.

  

  Saya sangat salut ketika pendirian rumah ibadat ada di tengah masyarakat
  karena kebutuhan nyata masyarakat sendiri di tengah permukiman mereka.
  Artinya, pendiriannya berdasarkan kebutuhan nyata, khususnya kebutuhan
  spiritual terdalam untuk senantiasa dekat dengan Sang Pencipta Hidup. Dalam
  kasus ini masyarakat sendiri berusaha melakukan penataan setting atau
  panggung kehidupan mereka sendiri sesuai dengan kebutuhan manusia yang multi
  dimensi. Oleh karenanya, menurut saya, bagi para planner tampaknya pada skala
  tertentu justru penataan setting yang cocok dengan karakter kehidupan
  masyarakat yang menjadi fokus penting. Persoalannya, referensi untuk menata
  setting itu menggunakan acuan yang mana ? Hal ini kiranya sesuai dengan
  pikiran bahwa pada awalnya manusia menata ruang kehidupannya dan pada
  akhirnya ruang kehidupan itu akan membentuk karakter manusia yang tinggal di
  dalamnya.

  

  Sekian dulu ya Pak, jika ada yang kurang disambung lagi. Nuwun.

  

  Salam,

  

  Djarot Purbadi

  

  http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

  http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

  http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

  

  --- On Sun, 7/19/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote: 
  

  From: ffekadj <4ek...@gmail. com>

  Subject: [referensi] Re: Jagad Jawa 1

  To: refere...@yahoogrou ps.com

  Date: Sunday, July 19, 2009, 8:45 PM 
  
     
  
  Pak Djarot ysh, 
  Terima kasih atas uraian dan penjelasannya yang cukup lengkap,
  mudah-mudahan menambah khazanah pengetahuan kita. Saya ingin menanggapi,
  namun secara bertahap, beberapa hal sebagai berikut : 
  Manunggaling terhadap konsep syukur-taubat- kebaikan bukan hal mudah bila
  hal ini serenta harus diwujudkan dalam ekspresi ruang : pada tempat itu dan
  pada waktu itu. Mungkin dapat dibayangkan bila suatu ketika kita harus
  terharu, kagum, dan bahagia, sementara dalam waktu bersamaan terasa ada
  kekurangan dalam diri, terasa khilaf, egois, dan selanjutnya harus ada amal
  yang akan dilakukan. Di dalam Islam sebenarnya ada jalan yang mengajarkan
  itu, hal itu yang disebut dengan 'pengendalian' . Ekstrimnya bila melihat
  ajaran Budha, bila 'nafsu' itu harus 'dilawan', untuk mencapai tahap
  tertentu. 
  Saya kurang dapat menguraikan untuk individu, namun secara komunal sedikit
  hal yang menjelaskan adalah lokasi tempat ibadah (mesjid) yang seharusnya
  dapat mencerminkan ekspresi komunal terhadap ruang. Dan bila kita tinjau dari
  satu tempat ke lain tempat, penempatan mesjid juga mencerminkan dimensi
  budaya di daerah tersebut dalam resepsinya terhadap agama. Selain kasus
  mesjid di sekitar kraton itu, saya juga melihat kecenderungan penempatan
  mesjid yang berada di tengah lingkungan perumahan di Jawa. Karena akses 
terbatas,
  terkadang kita tidak dapat melihat mesjid tersebut dari jalan umum. Mungkin
  ini pengalaman sempit saja, sewaktu menyusuri jalan Pantura dan Pansela,
  tidak banyak mesjid yang saya lihat berlokasi di pinggir jalan. 
  Ekspresi beragam itu seharusnya menempatkan lokasi mesjid/surau/ langgar
  pada tempat yang terbaik dan lega serta dibangun dengan kualitas baik
  (syukur), anggun dan pengasih sehingga berkehendak untuk minta ampun (taubat,
  walau sering disalahtafsirkan dengan menempatkan kuburan di sekitar mesjid),
  serta mencitrakan keinginan untuk beramal bagi siapapun yang berkunjung.
  Kebalikannya bila kita melihat bangunan umum seperti mall, hotel, dll yang
  menyediakan tempat ibadah di basement panas atau pojok tertentu. Atau mungkin
  cara ini bisa menghasilkan ekspresi seperti itu? 
  Saya senang waktu tahun lalu ke kampus UGM dan menyempatkan sholat di
  mesjid dekat gedung apa itu, yang dekat jembatan McD itu. Suasananya tenang,
  di sekitarnya ada kolam dan taman. Namun aksesnya jauh dari jalan umum. 
  Jadi konsep kehidupan yang diajarkan dalam Islam tidak semata mencerminkan
  suatu tujuan terhadap model kehidupan kasih dan bahagia, tetapi lebih kepada
  'keselamatan' dunia akhirat. Pemaknaannya yang ekstrim seperti tergambar
  dalam ajaran Hindu : ruwa
  bineda, selalu ada dua jalan : yang diridhoi dan tidak diridhoi, karena
  kotak Pandora sudah terbuka di dunia ini. Konsep syukur-taubat- amal ini
  sering saya jadikan rujukan dalam menilai SQ komunal di berbagai tempat. 
  Sementara demikian dulu pak. Salam. 
  -ekadj 
  

  --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:

  >

  > Pak

  > Ekadj, Pak Risfan dan sahabats referensi,

  > 

  >  

  > 

  > Saya

  > usahakan menjelaskan, semoga tidak menjadi semakin terlalu serius
  seperti

  > ungkapan hati Pak Risfan di email yang lain.

  > 

  >  

  > 

  > PERTAMA.

  > Saya sangat setuju bahwa menurut gagasan / ide dalam kitab suci setiap
  tempat

  > di bumi seyogyanya menjadi tempat suci, dalam bentuk visualnya bisa menjadi

  > masjid atau yang lain, dan dalam sebutan universal menjadi tempat untuk
  berdoa

  > dan memohon ampun,  bersyukur serta

  > melakukan kebaikan. Dalam agama Katolik, tubuh manusia bahkan merupakan
  Bait

  > Allah atau Rumah Tuhan karena Tuhan selalu berkenan hadir dan menjumpai
  jiwa

  > dan hati manusia di dalam tubuh manusia; jadi bukan hanya ruang di luar
  manusia

  > yang merupakan tempat suci. Pandangan ini tentu didasari rumusan iman
  tertentu

  > yang khas agama Katolik.

  > 

  >  

  > 

  > Saya

  > jadi mengerti bahwa dalam Islam jelas disebut ada tiga hal itu sementara
  dalam

  > tradisi agama saya (sejauh saya tahu) memang tidak disebutkan
  se-eksplisit itu,

  > meskipun jika dicari barangkali ya mungkin ada (nggak yakin, sebab saya
  belum

  > pernah mencarinya). Jika saya ingat-ingat lagi, ada konsep di dalam
  sebuah doa,

  > dan doa itu ada di dalam kitab Perjanjian Baru adalah: bumi hendaknya
  merupakan

  > "Kraton nDalem" alias "Kerajaan Allah", yang sangat
  ideal

  > penuh dengan cinta kasih. Ini tentu bukan berarti semua orang di dunia
  dikehendaki

  > menjadi masyarakat seagama dari suatu agama tertentu; bukan dogma untuk

  > mengembangkan agama.

  > 

  >  

  > 

  > Gambaran

  > visualnya seperti apa, ya multi interpetasi. Bagi saya konsepnya diambil

  > nilainya yang transenden, yaitu Tuhan/Allah menjadi raja di dunia dan
  akhirat,

  > maka berarti cinta kasih abadi menguasai seluruh kehidupan. Ajaran cinta
  kasih

  > ini saya kira ada di semua agama, hanya narasinya bisa tidak sama, dan

  > penerapannya bisa beragam juga. Pada tataran nilai abstrak sama dan
  kadang pada

  > tataran “bahasa manusia�
  bisa berbeda ungkapannya, misalnya yang satu dengan

  > bahasa Latin yang lain Yunani yang lain lagi dengan bahasa Jawa.
  Misalnya,

  > Gusti Allah iku sangkan lan paraning dumadi = Tuhan adalah asal dan
  tujuan

  > kehidupan = Tuhan adalah Alfa dan Omega kehidupan; gagasan intinya sama,
  bahasa

  > gramatikalnya berbeda.

  > 

  >  

  > 

  > Sekilas

  > saya duga, sebenarnya pada tataran ide ada banyak kesamaan idea tentang
  ruang

  > pada berbagai keyakinan/agama jika kita memang bisa menemukannya. Dalam

  > khasanah Kejawen ada gagasan ideal dari suluk dalang: tata titi tentrem
  gemah

  > ripah lohjinawi, dst saya nggak hafal. Teman saya dari Undip meneliti
  dan

  > menulis idea ruang dengan cara menggali dari khasanah wayang Jawa (dia 
arsitek

  > dan dalang sih). Gagasan ideal tentang ruang ini tema yang menarik jika
  bisa

  > dipelajari dan ditemukan titik-titik pertemuan antar gagasan yang
  diinspirasi

  > dari ajaran suci agama kita masing-masing. Minimal dari milis ini saya
  bisa

  > belajar banyak tentang konsep dan konsepsi ruang dari sudut agama/iman
  Islam.

  > Terima kasih,...dan. ....lanjutkan Pak.

  > 

  >  

  > 

  > Tentang

  > Mono-orientasi, saya ingat dongeng dari Prof Parmono Atmadi (alm) ketika
  beliau

  > pergi menunaikan ibadah haji. Ketika di Mekkah beliau dirubung
  mahasiswa-2 Arab

  > yang sedang survai tentang kesan para peziarah terhadap arsitektur di
  tempat

  > itu. Beliau berjanji mau mengungkapkan kesan pribadi asal di tempat yang
  lebih

  > leluasa. Setelah mendapat tenda yang leluasa kemudian beliau diskusi
  dengan

  > para mahasiswa itu dan kesimpulannya hanya satu, katanya: hanya satu
  kata yaitu

  > "no orientation" . Maksudnya, rancangan arsitektur di Mekkah
  sudah

  > benar, sebab tidak perlu berorientasi ke mana lagi karena memang tempat
  itu

  > adalah titik orientasi itu sendiri. Itulah kalau profesor arsitektur
  berhaji

  > masih sempat diskusi arsitektur juga. 
  
  
  
 


   





 









 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke