Uda Eka, Pak Djarot dan Pak BSP,
 
Tertarik dengan diskusi yang ramai tentang Jagad Jawa sampai tempat keramat.
Saya berjalan-jalan di Masjid Demak 3 minggu yang lalu, dan membeli tiga jilid 
buku tipis tentang sejarah Demak dan Keraton Dhimak Bintoro di halaman masjid 
sesudah Jumatan. Saya perhatikan tiang tatal masjid yang barangkali sudah 
beberapa kali di perbaiki. Masjid itu mempunyai mezanin yang saya kurang tahu 
apakah ditambahkan belakangan atau memang dalam proses perkembangannya semasa 
atau sesudah Kerajaan Dhimak Bintoro mereka sudah mengenal bangunan berlantai 
2. Mungkinkan mereka mengenal membuat tiang yang besar itu dan mezanin itu dari 
teknologi perkapalan Majapahit atau Jung Cina dari pelaut-pelaut Cina dan 
masyarakat pelaut Cina yang ditinggalkan oleh Cheng Ho.
Bila Masjid Demak sudah demikian kokoh konstruksinya bagaimana gerangan Istana 
Demak sendiri yang dikatakan oleh beberapa orang Portugis seakan-akan bercahaya 
dilihat dari Masjid Demak.
Di Kadilangu, wilayah makam Sunan Kalijaga berbeda dengan di kota-kota besar, 
keramaian memperlihatkan terjadinya kegiatan ekonomi yang menghidupkan PKL 
setempat dan sangat tertib, teratur dan bersih. Kekuatan apa yang menggerakan 
sehingga tempat tersebut tetap bersih, mestinya ada kepranataan sosial apakah 
itu datangnya dari kharisma makam orang besar seperti Sunan Kalijaga ataukan 
proses kepranataan lokal yang terbangun lama (masa Demak) dan terpelihara 
sampai sekarang.
Saya tercenung cukup lama melihat Sungai Tuntang dam membayangkan sungai yang 
saat ini hanya 3m lebarnya dahulu bisa dilayari sampai ke Grobogan dan mungkin 
lebarnya sampai 40-50m.
Kalaulah kita dapat merekonstruksi situs kerajaan Demak ini sampai ke pelabuhan 
kerajaan di Jepara dan galangan kapal kerajaan di Semarang akan menjadi Taman 
mini tersendiri yang akan menghidupkan Kota Demak sebagai pusat heritage 
kerajaan Dhimak Bintoro.
Ada beberapa bacaan yang memperlihatkan pelabuhan Demak ini terbesar di Asia 
Tenggara pada masanya, lebih besar dan ramai dari Malaka ? Dengan menguasai 
Malaka dari tangan Portugis diharapkan oleh Pati Unus dan Ratu Kalinyamat, 
Demak akan menguasai seluruh jalur sutera ke selatan China, sehingga Demak dan 
sekutunya (Aceh dan Johor) akan sebesar China. Jalur Sutera dari jazirah Asia 
dan ke Indonesia pun menjadi sinambung. Kalau lah dasar perhitungan seperti ini 
merupakan kebijakan beberapa ekspedisi, saya sangat kagum dengan kedigdayaan 
dan politik regional bangsa ini pada masa kerajaan Demak Bintoro yang sangat 
singkat itu.
Bila Tata Ruang Pantura juga disusun dengan melihat situs-situs kerajaan Demak, 
Cirebon, dan Banten yang dipelihara sebagai artefak tentu kita tidak terkaget 
lagi jika terjadi pembangunan yang menutup situs penting yang penuh dengan 
sejarah kebesaran masa lalu ini. Budayawan, arkeolog dan antropolog, ahli 
sejarah seyogianya dilibatkan dalam diskursus ini, agar TTR kita mempunyai 
nuansa heritage yang kental dan bisa diceritrakan sampai ke anak cucu. Mohon 
pencerahannya...... dan tertarik untuk bertamasya ke situs-situs lainnya.
 
Wassalam,
Indra B Syamwil

 
> To: [email protected]
> From: [email protected]
> Date: Mon, 27 Jul 2009 05:08:50 +0000
> Subject: [referensi] Re: tempat keramat
> 
> 
> Ki Juru Mertani ysm, ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan informasi
> di bawah:
> 
> 1 Bagaimana caranya menentukan tempat petilasan di Wono Kobaran itu, dan
> seberapa perlu tempat tersebut direvitalisasi?
> 
> 2 Mengenai tokoh Sunan Kalijaga, saya kira tokoh ini hidup dalam 4-5
> generasi, dan mengiringi perjalanan Mataram. Apakah memang momen penting
> pertemuan Sunan Kalijaga dan Brawijaya V tersebut bagi Mataram?
> 
> 3 Mohon pendapat bapak tentang pandangan Mataram terhadap Kewalian Giri?
> 
> Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 
> --- In [email protected], "bspr...@..." <bspr...@...> wrote:
> >
> > Sebuah kasus yang menarik.
> >
> > Pada saat saya di Kanwil PU, saya diminta oleh HB X membangun sebuah
> petilasan tempat bertemunya Sunan Kalijaga dengan Brawijaya V sebelum
> mukswa di pantai selatan. Tempat petilasan itu kemudian disebut Wono
> Kobaran. Letaknya di desa Temu Ireng, Panggang. Semula desa itu sangat
> terisolir. Namun apa yang terjadi dengan munculnya petilasan tadi...
> pelan tapi pasti muncul pertumbuhan ekonomi akibat banyaknya penziarah
> kesitu.
> >
> > Disinilah saya ingin mencoba mendekatkan apa yang menjadi concern mas
> BTS dengan apa yang dikuasai mas Djarot.
> >
> > Salam
> >
> > bambang sp
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> ------------------------------------
> 
> Komunitas Referensi
> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 

_________________________________________________________________
See all the ways you can stay connected to friends and family
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

Kirim email ke