Pak Budiman, informasinya sangat menarik dan ajakan untuk memperhatikan unsur 
heritage dalam tata keruangan tentunya memang sangat diperlukan. Pengalaman 
"kasus PIM" di Mojokerto / Trowulan merupakan salah satu tonggak penting yang 
harus selalu diingat agar tidak terjadi lagi. Tentang situs Majapahit di 
Trowulan saat ini, ada rekan saya yang sedang menggali data untuk disertasi 
dengan paradigma fenomenologi Heidegger, bukan Husserl. Ketika beliau 
presentasi awal, yaitu draf proposalnya, wah keadaan situs itu sekarang penuh 
dengan kegiatan budaya yang menarik. Jadi jangan dibayangkan, sekarang situs 
Majapahit sepi dan terus dirusak oleh industri rakyat produsen batu bata. 
Tampaknya banyak nilai sejarah atau spiritual yang masih diyakini di kawasan 
situs bersejarah itu dan menimbulkan berbagai aktivitas ritual dibarengi dengan 
ekonomi.

Ketika saya kecil biasanya jika ada wayangan di suatu tempat, selalu saja di 
barengi dengan kegiatan jual-beli masyarakat, bahkan ada juga judi cliwik dll. 
Clifford Geertz juga menunjukkan bagaimana ritual sabung ayam berada di tengah 
arena dan di luar area tengah tersebut di kelilingi aktivitas ekonomi, termasuk 
judi juga. Masih tampak tesis Pak BSP bahwa nilai spiritual melahirkan nilai 
ekonomi.....tetapi jika yang ditengah adalah pertunjukan musik ndangdut atau 
sepak bola kok para penonton malah tawuran ya ????

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 7/27/09, indra budiman syamwil <[email protected]> wrote:

From: indra budiman syamwil <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat
To: [email protected]
Date: Monday, July 27, 2009, 4:53 PM






 




    
                  


Uda Eka, Pak Djarot dan Pak BSP, 
  
Tertarik dengan diskusi yang ramai tentang Jagad Jawa sampai tempat keramat.
Saya berjalan-jalan di Masjid Demak 3 minggu yang lalu, dan membeli tiga jilid 
buku tipis tentang sejarah Demak dan Keraton Dhimak Bintoro di halaman masjid 
sesudah Jumatan. Saya perhatikan tiang tatal masjid yang barangkali sudah 
beberapa kali di perbaiki. Masjid itu mempunyai mezanin yang saya kurang tahu 
apakah ditambahkan belakangan atau memang dalam proses perkembangannya semasa 
atau sesudah Kerajaan Dhimak Bintoro mereka sudah mengenal bangunan berlantai 
2. Mungkinkan mereka mengenal membuat tiang yang besar itu dan mezanin itu dari 
teknologi perkapalan Majapahit atau Jung Cina dari pelaut-pelaut Cina dan 
masyarakat pelaut Cina yang ditinggalkan oleh Cheng Ho.
Bila Masjid Demak sudah demikian kokoh konstruksinya bagaimana gerangan Istana 
Demak sendiri yang dikatakan oleh beberapa orang Portugis seakan-akan bercahaya 
dilihat dari Masjid Demak.
Di Kadilangu, wilayah makam Sunan Kalijaga berbeda dengan di kota-kota besar, 
keramaian memperlihatkan terjadinya kegiatan ekonomi yang menghidupkan PKL 
setempat dan sangat tertib, teratur dan bersih. Kekuatan apa yang menggerakan 
sehingga tempat tersebut tetap bersih, mestinya ada kepranataan sosial apakah 
itu datangnya dari kharisma makam orang besar seperti Sunan Kalijaga ataukan 
proses kepranataan lokal yang terbangun lama (masa Demak) dan terpelihara 
sampai sekarang. 
Saya tercenung cukup lama melihat Sungai Tuntang dam membayangkan sungai yang 
saat ini hanya 3m lebarnya dahulu bisa dilayari sampai ke Grobogan dan mungkin 
lebarnya sampai 40-50m. 
Kalaulah kita dapat merekonstruksi situs kerajaan Demak ini sampai ke pelabuhan 
kerajaan di Jepara dan galangan kapal kerajaan di Semarang akan menjadi Taman 
mini tersendiri yang akan menghidupkan Kota Demak sebagai pusat heritage 
kerajaan Dhimak Bintoro. 
Ada beberapa bacaan yang memperlihatkan pelabuhan Demak ini terbesar di Asia 
Tenggara pada masanya, lebih besar dan ramai dari Malaka ? Dengan menguasai 
Malaka dari tangan Portugis diharapkan oleh Pati Unus dan Ratu Kalinyamat, 
Demak akan menguasai seluruh jalur sutera ke selatan China, sehingga Demak dan 
sekutunya (Aceh dan Johor) akan sebesar China. Jalur Sutera dari jazirah Asia 
dan ke Indonesia pun menjadi sinambung. Kalau lah dasar perhitungan seperti ini 
merupakan kebijakan beberapa ekspedisi, saya sangat kagum dengan kedigdayaan 
dan politik regional bangsa ini pada masa kerajaan Demak Bintoro yang sangat 
singkat itu. 
Bila Tata Ruang Pantura juga disusun dengan melihat situs-situs kerajaan Demak, 
Cirebon, dan Banten yang dipelihara sebagai artefak tentu kita tidak terkaget 
lagi jika terjadi pembangunan yang menutup situs penting yang penuh dengan 
sejarah kebesaran masa lalu ini. Budayawan, arkeolog dan antropolog, ahli 
sejarah seyogianya dilibatkan dalam diskursus ini, agar TTR kita mempunyai 
nuansa heritage yang kental dan bisa diceritrakan sampai ke anak cucu. Mohon 
pencerahannya. ..... dan tertarik untuk bertamasya ke situs-situs lainnya.
  
Wassalam, 
Indra B Syamwil 

 
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> From: 4ek...@gmail. com
> Date: Mon, 27 Jul 2009 05:08:50 +0000
> Subject: [referensi] Re: tempat keramat
> 
> 
> Ki Juru Mertani ysm, ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan informasi
> di bawah:
> 
> 1 Bagaimana caranya menentukan tempat petilasan di Wono Kobaran itu, dan
> seberapa perlu tempat tersebut direvitalisasi?
> 
> 2 Mengenai tokoh Sunan Kalijaga, saya kira tokoh ini hidup dalam 4-5
> generasi, dan mengiringi perjalanan Mataram. Apakah memang momen penting
> pertemuan Sunan Kalijaga dan Brawijaya V tersebut bagi Mataram?
> 
> 3 Mohon pendapat bapak tentang pandangan Mataram terhadap Kewalian Giri?
> 
> Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "bspr...@... " <bspr...@...> wrote:
> >
> > Sebuah kasus yang menarik.
> >
> > Pada saat saya di Kanwil PU, saya diminta oleh HB X membangun sebuah
> petilasan tempat bertemunya Sunan Kalijaga dengan Brawijaya V sebelum
> mukswa di pantai selatan. Tempat petilasan itu kemudian disebut Wono
> Kobaran. Letaknya di desa Temu Ireng, Panggang. Semula desa itu sangat
> terisolir. Namun apa yang terjadi dengan munculnya petilasan tadi...
> pelan tapi pasti muncul pertumbuhan ekonomi akibat banyaknya penziarah
> kesitu.
> >
> > Disinilah saya ingin mencoba mendekatkan apa yang menjadi concern mas
> BTS dengan apa yang dikuasai mas Djarot.
> >
> > Salam
> >
> > bambang sp
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> ------------ --------- --------- ------
> 
> Komunitas Referensi
> http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 

See all the ways you can stay connected to friends and family

 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke