Uda Eka,

 

Saya juga berterimakasih atas kiriman foto ini Pak Eka, belum sampai kaki 
melangkah ke Ambon. Siapakah gerangan yang sampai ke Ambon dan membangun Masjid 
ini? Apakah betul ada sejarah perjalanan pelaut Arab sampai ke Papua dan 
Ternate lalu ke Filipina dan juga sampai ke Bali sebelum Vasco da Gama? Saya 
mendapat info dari teman Nyoman Nuarta, seniman patung, bahwa ada salah satu 
motif Bali yang disebut 'Patra Mesir' yang sebenarnya diadopsi orang Bali dari 
ornamen kapal pelaut Arab ini. Maaf Pak Eka mungkin rekan-rekan dalam forum ini 
sudah tahu tapi saya kurang pasti. Profesor Tanimura dari University Tsukuba 
pernah menjelaskan kepada saya bahwa kota Manila sebelumnya bernama Spanyol, 
tetapi jauh sebelumnya bernama seperti nama kota Arab. Dan menurut ceritra yang 
dikabarkan kepada Beryl kakak saya dari Raja Luwu bahwa 3 Datuk dari 
Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke Raja Gowa dan Luwuk di Sulawesi 
bukan datang dari ranah minang (Pagaruyung) melainkan turun dari Filipina. Wah 
bagaimana mungkin orang Minangkabau bisa berakar di Filipina? Dan kelihatannya 
global traveling orang Indonesia sudah terjadi sejak zaman dahulu.

Dari buku kecil yang saya dapatkan di emperan Masjid Demak diterangkan bahwa 
seorang Portugis yang diterima oleh Sunan Prawata (Prawoto?) menyatakan dalam 
ceritra perjalanannya bahwa Sunan Prawata menyatakan niatnya untuk meluaskan 
hegemoni ke Kerajaan Gowa dan Malaka, karena dia ingin seperti Sultan Turki 
(Otoman?) yang menguasai Balkan. Disini saya terkagum dengan luasnya 
pengetahuan dan informasi di zaman dahulu, sepertinya globalisasi sudah seperti 
sekarang ini, sungguhpun sekarang lebih mampat. Mungkin harus baca buku Pak 
Slamet Mulyana untuk bisa menerawang situasi dan kondisi sosio-ekonomi kerajaan 
zaman dahulu dan interaksinya dengan mancanagara. Terimakasih sekali lagi atas 
info Masjid tertua di Ambon.

 

Salam,

Indra B Syamwil

 
 


To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Mon, 27 Jul 2009 18:23:17 -0700
Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat











Pak Ekadj, terima kasih, kiriman fotonya mengandung informasi yang luar biasa. 
Jika kita hanya melihat secara visual saja, tanpa mencoba berimajinasi untuk 
memasuki pengalaman batin, tentu masjid itu hanya biasa saja. Tetapi setelah 
mendengar informasi tekstual yang panjenengan berikan, rasanya jiwa ini 
melambung ke masa lalu yang penuh dengan syukur. Roh apa yang menggerakkan para 
pendahulu hingga sampai tempat yang jauh untuk memperkenalkan Jalan Allah ? 
Rasanya sama ketika saya mendengar bahwa di dekat masjid legendaris itu juga 
ada gereja tertua. Luar biasa !

Pengalaman sejenak ini tentu akan sangat kaya jika ada penjelasan tekstual 
lainnya yang lebih lengkap, sebab jika informasinya sungguh lengkap maka akan 
terjadi dialog batin antara pengamat dengan obyek yang diamati. Pak Apakah ada 
informasi yang lebih mendalam berkaitan dengan masjid dan gereja tertua itu ? 
Pesannya, suatu heritage, yang terkait dengan fenomena suci maupun kekejaman, 
akan bisa berbicara sendiri kepada pengamat jika ada dongengnya. Jika sampai 
pada tahap dialog batin maka batin kita tentulah diperkaya. Penataana ruang 
saya kira juga punya tugas memperkaya kehidupan batin manusia yang menghuni 
atau menggunakannya. Apakah begitu ? Mohon pencerahan.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnusantara.wordpress.com
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 7/27/09, - ekadj <[email protected]> wrote:


From: - ekadj <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat [1 Attachment]
To: [email protected]
Date: Monday, July 27, 2009, 11:16 PM


  



Pak Indra ysh, saya kira kita sangat mungkin mewujudkan gagasan bapak itu. 
Kalau sebelumnya kita bisa merevitalisasi bangunan dan kompleks Budha dan Hindu 
di Jawa Tengah dan berbagai tempat lainnya, konon pula bangunan dan kompleks 
Islam pada masa jayanya. Jangankan itu, bangunan-bangunan yang melambangkan 
penindasan kepada bangsa ini pun masih bisa kita rehabilitasi, seperti benteng 
Vredeburg, dan juga Pemda Kota Ternate saat ini sedang merehabilitasi 
benteng-benteng Portugis-Spanyol- Belanda di sekeliling pulau. Terlampir saya 
sampaikan foto mesjid (tertua di nusantara) di utara Kota Ambon yang dikunjungi 
Ibu Reny tahun lalu, terletak di Hila. Dibangun pada tahun 1414, dan pada tahun 
1664 tiba-tiba mesjid ini berpindah ke hilir di tempatnya sekarang sejauh 12 km 
hanya dalam satu malam! Mesjid ini direhabilitasi kembali oleh LIPI pada tahun 
1982, pada masa Prof.Dr. Tb. Bachtiar Rifai. Sebenarnya di dekat mesjid ini 
terdapat juga gereja tertua di Maluku, yang sayangnya terbakar pada masa 
kerusuhan sosial yang lalu.

Penataan Pantura hendaknya sejalan dengan 'revitalisasi jalan rempah', jadi 
mulai Aceh sampai ke Kepri, berlanjut ke Banten, Pantura, Madura, bercabang ke 
Makasar-Manado- Maluku dan NusaTenggara- Maluku. Untuk Pantura, menarik bapak 
sebutkan titik-titik Banten-Cirebon- Demak, bisa saja dimulai dari Demak. 
Dengan kemampuan yang kita miliki, bisa saja pembangunan itu diwujudkan dalam 
satu malam!

'Penyerangan ke Malaka' dalam buku sejarah juga dilakukan oleh pelaut-pelaut 
Bugis, dan banyak yang tertahan menjadi pyrates di Kepri. Yang paling intens 
memang dilakukan oleh armada Aceh, ada dua kali mereka menguasai Malaka dan 
Johor. Namun yang terpenting adalah : sejarah menyuruh kita segenap komponen 
bangsa ini untuk menguasai (peluang-peluang di) Selat Malaka.

Mudah-mudahan Allah swt mengampuni dosa-dosa kita.

Salam.

-ekadj

2009/7/27 indra budiman syamwil <ibsyam...@hotmail. com>








Uda Eka, Pak Djarot dan Pak BSP,



Tertarik dengan diskusi yang ramai tentang Jagad Jawa sampai tempat keramat.

Saya berjalan-jalan di Masjid Demak 3 minggu yang lalu, dan membeli tiga jilid 
buku tipis tentang sejarah Demak dan Keraton Dhimak Bintoro di halaman masjid 
sesudah Jumatan. Saya perhatikan tiang tatal masjid yang barangkali sudah 
beberapa kali di perbaiki. Masjid itu mempunyai mezanin yang saya kurang tahu 
apakah ditambahkan belakangan atau memang dalam proses perkembangannya semasa 
atau sesudah Kerajaan Dhimak Bintoro mereka sudah mengenal bangunan berlantai 
2. Mungkinkan mereka mengenal membuat tiang yang besar itu dan mezanin itu dari 
teknologi perkapalan Majapahit atau Jung Cina dari pelaut-pelaut Cina dan 
masyarakat pelaut Cina yang ditinggalkan oleh Cheng Ho.

Bila Masjid Demak sudah demikian kokoh konstruksinya bagaimana gerangan Istana 
Demak sendiri yang dikatakan oleh beberapa orang Portugis seakan-akan bercahaya 
dilihat dari Masjid Demak.

Di Kadilangu, wilayah makam Sunan Kalijaga berbeda dengan di kota-kota besar, 
keramaian memperlihatkan terjadinya kegiatan ekonomi yang menghidupkan PKL 
setempat dan sangat tertib, teratur dan bersih. Kekuatan apa yang menggerakan 
sehingga tempat tersebut tetap bersih, mestinya ada kepranataan sosial apakah 
itu datangnya dari kharisma makam orang besar seperti Sunan Kalijaga ataukan 
proses kepranataan lokal yang terbangun lama (masa Demak) dan terpelihara 
sampai sekarang.

Saya tercenung cukup lama melihat Sungai Tuntang dam membayangkan sungai yang 
saat ini hanya 3m lebarnya dahulu bisa dilayari sampai ke Grobogan dan mungkin 
lebarnya sampai 40-50m.

Kalaulah kita dapat merekonstruksi situs kerajaan Demak ini sampai ke pelabuhan 
kerajaan di Jepara dan galangan kapal kerajaan di Semarang akan menjadi Taman 
mini tersendiri yang akan menghidupkan Kota Demak sebagai pusat heritage 
kerajaan Dhimak Bintoro.

Ada beberapa bacaan yang memperlihatkan pelabuhan Demak ini terbesar di Asia 
Tenggara pada masanya, lebih besar dan ramai dari Malaka ? Dengan menguasai 
Malaka dari tangan Portugis diharapkan oleh Pati Unus dan Ratu Kalinyamat, 
Demak akan menguasai seluruh jalur sutera ke selatan China, sehingga Demak dan 
sekutunya (Aceh dan Johor) akan sebesar China. Jalur Sutera dari jazirah Asia 
dan ke Indonesia pun menjadi sinambung. Kalau lah dasar perhitungan seperti ini 
merupakan kebijakan beberapa ekspedisi, saya sangat kagum dengan kedigdayaan 
dan politik regional bangsa ini pada masa kerajaan Demak Bintoro yang sangat 
singkat itu.

Bila Tata Ruang Pantura juga disusun dengan melihat situs-situs kerajaan Demak, 
Cirebon, dan Banten yang dipelihara sebagai artefak tentu kita tidak terkaget 
lagi jika terjadi pembangunan yang menutup situs penting yang penuh dengan 
sejarah kebesaran masa lalu ini. Budayawan, arkeolog dan antropolog, ahli 
sejarah seyogianya dilibatkan dalam diskursus ini, agar TTR kita mempunyai 
nuansa heritage yang kental dan bisa diceritrakan sampai ke anak cucu. Mohon 
pencerahannya. ..... dan tertarik untuk bertamasya ke situs-situs lainnya.



Wassalam,

Indra B Syamwil



. 







_________________________________________________________________
Share your memories online with anyone you want.
http://www.microsoft.com/indonesia/windows/windowslive/products/photos-share.aspx?tab=1

Kirim email ke