Dalam sebuah film pendek berjudul "Betlehem van Java" yang dilahirkan oleh 
Puskat diceriterakan bahwa misionaris Eropa sebelum menabur benih kekatolikan 
di Jawa harus belajar bahasa Jawa. Misionaris yang terkenal waktu itu adalah 
Romo Van Lith, yang dikenang dengan peristiwa pembaptisan 104 orang di 
Sendangsono di tahun 1904. Baginya, belajar bahasa Jawa bukan sekedar kata-kata 
melainkan memahami bagaimana orang Jawa dan Budayanya. Dia tidak terjebak ke 
dalam neo-feodalisme tetapi berhasil menggunakan bahasa dan budaya Jawa untuk 
mengenal kekatolikan. Ia berhasil menerjemahkan doa Bapa Kami dengan bahasa 
Jawa yang sesuai dengan sikap batin orang Jawa. Van Lith berhasil menggunakan 
bahasa Jawa untuk mengakrabkan nilai-nilai kekatolikan ke dalam masyarakat Jawa 
sambil menghormati budaya Jawa itu sendiri.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 8/15/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote:

From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]>
Subject: [referensi] Think locally, do globally ?
To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Saturday, August 15, 2009, 10:52 AM






 




    
                  


Rekan-2 ysh,

Mulai kemarin para birokrat di D.I. Jogyakarta secara resmi diharuskan 
berkomunikasi formil lisan dengan bahasa Jowo, kalau tertulis resmi pakai 
bahasa Indonesia. Apakah ini akan menghidupkan 'kearifan lokal' atau 
'neo-feodalisme' ? (silahkan baca artikel dibawah).

Bagaimana kalau daerah-2 lain di Indonesia mengikuti dengan bahasa daerah 
masing-2, sepertinya kita musti belajar bahasa Bali, Batak, Kalimantan, Papua, 
dll. asyiiik... ngaturaken sugeng 'shaum Ramadhan' ...nyuwun pangapunten. .. 
matur nuwun.

Wassalam,

 

okezone.com - 8/14/2009 11:50 AM Local Time 
 

Hari Ini Pemprov DIY Terapkan Bahasa Jawa 
YOGYAKARTA - Mulai hari ini seluruh pegawai di seluruh lingkungan dinas di 
Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta serta kabupaten/kota akan menggunakan bahasa 
Jawa dalam aktivitas sehari-hari. 
Menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hb X, sebenarnya penggunaan bahasa Jawa ini 
telah dilakukan sebelumnya di tingkat kabupaten/kota namun harinya belum 
seragam. 
"Itu kan sebenarnya sudah jauh hari lalu diterapkan khususnya di tingkat 
kabupaten/kota tapi beda-beda harinya. Nah, mulai besok itu diseragamkan tiap 
hari Sabtu semua," ujar Sultan di Yogyakarata, Jumat (14/8/2009). 
Menurut Sri Sultan, penggunaan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari ini 
merupakan bentuk penghargaan atas nilai-nilai budaya masyarakat Jawa. Apalagi 
sejak Indonesia belum merdeka masyarakat Jawa sudah memiliki tradisi sendiri, 
filosofi sendiri, cara berbusana sendiri, maupun makanan sendiri. 
"Langkah ini sebagai bentuk penghargaan nilai-nilai budaya masyarakat Jawa yang 
sudah lama diajarkan oleh para orangtua kita," tuturnya. 
Sebelumnya Kepala Biro Umum, Humas, dan Protokol Pemprop DIY Sigit Sapto 
Raharjo menjelaskan, aturan penggunaan bahasa Jawa ini utamanya untuk 
komunikasi lisan. Sedang untuk komunikasi tertulis secara formal tetap 
menggunakan bahasa Indonesia, mengingat jika menggunakan bahasa Jawa dibutuhkan 
pedoman dan kaidah-kaidah yang perlu dipelajari, surat-surat tidak formal, bisa 
dimulai dengan bahasa Jawa.  
"Misalnya memo kepala kepada stafnya, bisa saja menggunakan bahasa Jawa," kata 
Sigit. 
 

Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes!  Click here

 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke