Mas Bambang SP dan Rekans Asw. Matur suwun penjelasan mas BSP, saya sangat sepakat bila banyak daerah juga mengajarkan kembali materi "budi pekerti" seperti yang pernah saya alami waktu di SR (sekolah rayat), sekarang namanya SD. Yang saya ingat waktu itu kira2 kelas 3 SR ada bacaan bab Nugroho dan juga Kancil Nyolong Timun. Mungkin mas BTS bisa membetulkan, karena sejaman dengan beliau. Betapa tingginya pesan sopan dan berlaku santun yang diajarkan kepada siswa-siswa. Saya menyadari belakangan ini, kala itu sang guru (mbah Saroso guru saya) yang tulus telah membekalkan kehalusan hati siswa2nya. Saya memperhatikan anak2 saya kurang sekali memperoleh didikan budi pekerti dari sekolah mereka (di Jakarta/Depok).
Mohon tanya mas BSP, selama ini saya mengenal serat Wulang Reh isinya .."nulodo laku utomo" bukan "nulodo laku tomo". Maaf apakah sama arti dan maknanya antara "..tomo dengan utomo" yang saya memahaminya sebagai "memberi teladan utama/kebaikan" Matur suwun Mas. Wassalam, Koes, JKT. --- On Mon, 17/8/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Think locally, do globally ? To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Monday, 17 August, 2009, 10:52 PM Matur nuwun pak Bambang SP ysh, Wah dengan penjelasannya saya jadi tambah 'kawruh', semoga bahasa jawa bisa jadi bahasa global ya... Namun nuwun sewu pak, sebaiknya pada tingkatan yang mana (kromo inggil, madyo, atau ngoko) yang kita bisa pakai untuk komunikasi sehari-hari antar para birokrat dan antar warga agar tidak 'kagok'. Nuwun pangapunten, inyong asline saka Tegal, ngomonge 'ngapak-2', kaya bulakan sapi lanang... Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: bspr...@indosat. net.id Date: Mon, 17 Aug 2009 11:45:57 +0700 Subject: Re: [referensi] Think locally, do globally ? Sugeng enjing mas Soegiono ysh Mungkin ada sebuah penjelasan kecil mengapa pemerintah propinsi melakukan hal itu (mencoba menggunakan bahasa Jawa pada hari Sabtu). Saat ini lebih dari 85% anak2 di Jogja yang asli DIY sudah tidak menggunakan lagi bahasa Jawa sebagai alat komunikasi. Diperhitungkan bahwa bila ini dibiarkan maka dalam tempo 10 tahunm akan sulit ditemui orang berkomunikasi dalam bahasa Jawa di Jogja. Pemerintah Jogja (DIY) sudah mencanangkan sebagai salah satu pusat budaya terkemuka di Asia Tenggara (RPJP DIY). Nah bagaimana sebuah budaya akan muncul bila salah satu unsur budayanya hilang. Pemerintah Jogja mengatakan sesuai dengan serat Wulangreh : "Nulodo laku tomo" dan bukan "Nulodo sabdo tomo" yang artinya lebih baik mengajak masyarakat dengan memberi contoh dan bukan memerintah. Itu alasannya mas. Namun sebenarnya ada hal lain yang lebih esensial dibandingkan dengan hanya mengajak berbahasa daerah, yaitu memahami, menghayati dan mengamalkan perilaku budaya yang sudah diwariskan leluhur kita. Karena unsur budi pekerti dari masing-masing etnik itu bisa dikatakan sudah hilang digerus oleh budaya global. Nah saat ini sedang dirumuskan bahwa muatan lokal dalam pendidikan di SD dan SMP lebih pada pelajaran budi pekerti. Itu mungkin lebih mengena. Meskipun dalam hal ini kita harus benar2 teliti dalam memberikan ajaran dalam arti menyampaikan term2 yang diwariskan. Contohnya : pemahaman "alon2 awaton kelakon" yang sering diartikan sebagai bermalas-malas, padahal yang sebenarnya adalah kita harus benar2 mencermati langkah meskipun terpaksa lambat. Juga "trimo ing pandum" yang diartikan sebagai ungkapan lemahnya semangat, padahal yang sebenarnya adalah sebuah pesan tentang elan dan semangat meskipun terbentur. Salam bambang sp Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes! Click here

