Pak BSP yang baik, konon orang Jawa kalau dipangku koit Pak, seperti matinya 
huruf Jawa jika dipangku, nggak bisa apa-apa. Jangan menyanjung seperti itu 
Pak, saya malu nih. 

Soal "titen" mungkin bisa dipahami sebagai memori, meskipun tidak sesederhana 
itu. Jika proses membangun pengetahuan bersifat organis, proses titen ini 
menyumbangkan pemahaman dengan pola induktif. Tetapi titen juga bisa menjadi 
sangat mengagetkan ketika menjadi bagian dari proses berpikir deduktif yang 
umumnya mengarah kepada pembangunan keyakinan, kemantapan melalui verifikasi. 
Dengan kata lain, jika kita terbiasa peka terhadap cara berpikir kita, kapan 
induksi dan kapan deduksi, tentunya peta pengetahuan di dalam benak kita 
menjadi semakin sempurna. Menurut saya,titen harus dimaknai sebagai titen yang 
aktif, bahkan pro-aktif, bukan pasif yang hanya menerima apapun yang kita 
titeni. Menopo mekaten Pak Bambang ?

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 8/19/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Fw: [IKA-UI] Menguji Tesis de Soto: Mau?
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 19, 2009, 3:36 PM






 




    
                  Pak Djarot yang linuwih,
Saya kira kita tidak bisa juga hanya berdasarkan pada pengalaman. Teori juga 
diperlukan kok seperti yang panjenengan sampaikan dengan sangat baik di milist 
ini. Namun kok ada common denomintator dari kedua pendekatan itu yaitu fungsi 
{titen}. Semakin kita titan maka pemahaman akan semakin baik dan construct yang 
terjadi dalam benak kita akan semakin matang pula. Saya kira keduanya saling 
melengkapi.
Monggo monggo dipun lajengaken.
Salam
bambang sp
ps : tidak sedang mengajak berbahas jawa hari sabtu karena ini hari rabu. he he 
he
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke