Saya kira inisiatif Farid Gaban dengan ekspedisinya, seperti pak BSP dengan 
forum budayanya merupakan bentuk konkrit cinta budaya bangsa yang selayaknya 
didukung.

Salam,
Risfan Munir







-----Original Message-----
From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]>
Sent: Monday, August 31, 2009 1:17 AM
To: [email protected]
Subject: Sikap Kanak-kanak Menghadapi Malaysia by Farid Gaban RE: [referensi] 
Pendet tarian Malaysia??!!?? Wahhh!

 
Ini ada tulisan bagus (semoga bukan bentuk yang dianggap nyinyir,…) dari Farid 
Gaban
 
-------------------
Sikap Kanak-kanak Menghadapi Malaysia
 
 Farid Gaban
 WARTAWAN, KINI SEDANG MELAKUKAN PERJALANAN KELILING INDONESIA DALAM
 EKSPEDISI ZAMRUD KHATULISTIWA (www.zamrud-khatulistiwa.or.id)
 
 Amarah kepada Malaysia berkaitan dengan "pencurian" khazanah seni dan
 budaya Indonesia hanya mempertontonkan sikap kanak-kanak kita sebagai
 bangsa. Emosi menggelegak atas kasus Manohara dan sengketa Ambalat,
 misalnya, hanya menegaskan sikap rendah diri kita. Dan ini bukan
 sekali-dua berlangsung. Narsisisme berlebihan dibarengi kecintaan semu
 belaka pada hal-hal yang menyangkut identitas tradisional dan lokal
 negeri yang beragam ini tidak akan menolong.
 
 Kita sendiri kurang peduli kepada khazanah kekayaan alam dan budaya.
 Menjelajahi Sumatera selama dua bulan lebih, sebagai bagian dari
 Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, saya menyaksikan banyak pulau tak
 terurus, khazanah seni budaya tradisional punah perlahan-lahan dalam
 sunyi, serta sejarah yang hilang jejak tanpa bekas ditelan
 ketidakpedulian.
 
 Pulau Enggano, pulau terluar di Samudra Hindia, hanya dijaga tiga
 serdadu rendahan tanpa pekerjaan jelas. Jejak Portugis, yang pertama
 kali menemukan pulau ini yang menyebutnya sebagai "pulau keliru" dalam
 bahasa mereka (enggano), tak lagi bisa ditemukan. Budaya lokal hampir
 punah dihantui kemiskinan kronis. Pertanian muram, nelayan tidak lagi
 menemukan ikan.
 
 Saya hampir tidak bisa lagi menemukan jejak sejarah Barus, Sumatera
 Utara, kota pelabuhan tua yang namanya harum dalam catatan perjalanan
 pengelana legendaris Marcopolo dan Ibnu Battuta. Terkenal dengan kapur
 barusnya, dia juga merupakan salah satu pintu masuk agama Islam di
 Indonesia. Barus, atau fanzur dalam bahasa Arab, terabadikan dalam
 nama pujangga sufi terkenal Hamzah Fanzuri yang lahir di sini. Tapi,
 sekarang di dekat Lobo Tua (kota tua), Makam Mahligai di perbukitan,
 makam para bangsawan, saudagar dan ulama, hanya tersisa batu-batu
 berinskripsi Arab tak terurus. Hampir tidak ada informasi bermakna di
 kota kecamatan ini. Kota yang hilang dan tersesat.
 
 Koto Tinggi, dekat Bukittinggi, seperti sebuah kota mati meski ini
 pernah menjadi ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Hanya
 ada tugu besar dan sebuah bangunan kecil tempat terpampang susunan
 kabinet Syafruddin Prawiranegara. Bangunan kecil itu terlalu sederhana
 dan hanya bisa menjadi tempat pemungutan suara dalam pemilu 2009 tempo
 hari.
 
 Rumah Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, di Pandan Gadang,
 Kabupaten Limapuluh Kota, lapuk dimakan rayap dan usia. Tidak ada
 biaya untuk renovasi. Sebagian ruang menjadi sarang satu-dua burung
 walet. Cicit Tan Malaka berharap penjualan sarang burung walet bisa
 membiayai salah satu situs sejarah ini.
 
 Di Banda Aceh, saya bertemu dengan Tarmizi Ahmad, seorang pegawai
 negeri yang punya hobi mengoleksi naskah kuno atas inisiatif dan biaya
 sendiri. Sebagian koleksinya, yang berusia seabad-dua abad antara,
 lain buku karya Nurruddin Ar-Raniry, hilang waktu tsunami. Dia tak
 bisa ikut Pameran Kebudayaan Aceh yang dihadiri Presiden Susilo
 Bambang Yudhoyono, Agustus lalu, karena tak bisa membayar stan, dan
 memutuskan memamerkan koleksinya di rumah pribadi. Dia merasa lebih
 dihargai oleh pemerintah Malaysia, Singapura, dan Brunei ketimbang
 pemerintah Indonesia maupun Aceh.
 
 Benteng Inong Balee, benteng laskar janda yang dipimpin Panglima
 Malahayati pada abad ke-18, terbengkalai tak terurus meski menempati
 sebuah bukit menghadap teluk yang indah tak jauh dari Kota Banda Aceh.
 Omo Hada, rumah tradisional Nias di Hilinawalo Manzingo, kusam dan
 lusuh. Bangunan berusia 300 tahun ini merupakan adi-karya arsitektur
 tradisional dari kayu dan tahan gempa. Penghuninya tak punya biaya
 untuk merawatnya. Bangunan ini masuk daftar 100 situs kuno yang
 terancam punah versi World Museum Watch tahun 2000.
 
 Tengku Mohammad Fuad, salah satu ahli waris Kesultanan Riau di Pulau
 Penyengat, mengeluhkan rendahnya kepedulian pemerintah kepada situs,
 sejarah, dan khazanah sastra Melayu yang pernah berjaya di sini.
 Penyengat merupakan mata air sastra dan bahasa Indonesia modern, salah
 satunya lewat ketekunan Raja Ali Haji (1808-1873). Fuad masih
 menyimpan koleksi pribadi surat-surat dagang kuno yang kini hanya
 dilapis plastik untuk mengurangi laju kelapukan, antara lain kuitansi
 dan surat saham kepemilikan penambangan timah di Johor, Malaysia,
 bertahun 1917. Meski makam, masjid, dan mushaf Al-Quran abad ke-19
 masih terawat bagus, Pulau Penyengat sudah kehilangan sebagian besar
 jejak sebuah kesultanan Melayu terbesar. Ironi di tengah ambisi
 Malaysia untuk menjadi pusat peradaban Melayu dunia di alam modern.
 
 Pengabaian terhadap khazanah budaya digenapi dengan ketidakpedulian
 kepada khazanah alam yang potensial menjadi daya tarik wisata
 lingkungan (ecotourism). Kepulauan Mentawai adalah salah satu
 paradoks. Kekayaan hayati yang hebat, namun kemiskinan yang menyengat.
 Ini pulau yang dikenal dengan banyak flora-fauna unik alias endemik,
 sering disebut sebagai Madagaskar-nya Indonesia, mengilhami para
 ilmuwan dunia mencari konfirmasi teori evolusi Charles Darwin. Taman
 nasional di Pulau Siberut, yang diproklamasikan oleh UNESCO sebagai
 cagar biosfer warisan dunia, terbengkalai. Museum dan kantornya rusak
 serta roboh tak diperbaiki setelah gempa besar 2007.
 
 Resor dan jasa wisata alam, seperti selancar dan trekking, di Mentawai
 (Sumatera Barat), Nias (Sumatera Utara), dan Simeulue (Aceh), lebih
 banyak diminati oleh orang asing ketimbang investor lokal maupun
 pemerintah. Belasan anggota kru sebuah televisi Prancis sedang membuat
 film tentang alam dan budaya Siberut ketika saya sedang berkunjung ke
 sana, Juli lalu.
 
 Dan itu semua baru sebagian kecil saja kekayaan serta keragaman
 khazanah alam, sejarah, seni dan budaya yang kita sia-siakan.
 Indonesia, negeri kepulauan terbesar di dunia, tampak bodoh dan
 kerdil. Dilihat dari luar, minimnya kepedulian, kurangnya informasi
 dan pengetahuan tentangnya, menjadikan negeri ini sama muram dan
 kusamnya dengan Museum Bahari di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta.
 
 Rendahnya tingkat kepedulian dibarengi dengan miskinnya keterampilan
 mengelola informasi dan dokumentasi. Informasi, dalam bentuk museum,
 buku, dan produk multimedia, adalah tulang punggung bisnis wisata.
 Meski Internet sudah demikian maju, demikian pula saluran komunikasi
 dan teknologi media, kita masih keteteran mengurus hal ini. Dan
 Malaysia tahu benar kelemahan Indonesia itu.
 
 Negeri-negeri kecil seperti Malaysia dan Singapura sadar persis tak
 memiliki kekayaan alam dan budaya sekaya dan seberagam Indonesia.
 Mereka tak perlu memiliki Indonesia, cukup menjadi beranda dan pintu
 gerbangnya. Mereka menjadikan Indonesia sebagai "halaman belakang",
 atau dapur dari bisnis wisata besar, sementara mereka menjadi koki dan
 pemilik restorannya.
 
 Emosi yang meledak-ledak, perang kata yang menggelora, caci-maki
 kekanak-kanakan, tidak akan mengubah keadaan. Justru kita akan
 kelihatan makin konyol. Lebih bagus jika energi sia-sia itu diubah
 menjadi gairah untuk mengubah sikap kita dalam menghargai khazanah
 alam, budaya, dan sejarah sendiri serta kemampuan untuk
 mengemasnya.***
 
 
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/08/28/Opini/krn.20090828.175101.id.html
 
Regards,
 B.Dwiagus S.
http://bdwiagus.blogspot.com
http://bdwiagus.multiply.com 
 
InDEC (Indonesian Development Evaluation Community)  --> here
Indo-MONEV -->  here in yahoogroups  and  here in facebook
Send an email to:  [email protected] 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - 
T.H. White
 

Kirim email ke