Mungkin nanti triad Sulawesi-kalimantan-nusatenggara dapat sisa-sisa, sarana angkutan laut antar pulau yang sudah tidak diperlukan lagi di selat sunda dan selat madura,.. Kapal-kapal pelni mungkin jadi melirik ke timur,.
Di selat madura khan demand untuk transport lewat laut berkurang,. jadi bisa bergeser ke NTB-NTT deh,. Mungkinkah ? Regards, B.Dwiagus S. http://bdwiagus.blogspot.com http://bdwiagus.multiply.com InDEC (Indonesian Development Evaluation Community) --> here <http://www.indec-indonesia.org/> Indo-MONEV --> here <http://groups.yahoo.com/group/indo-monev/> in yahoogroups and here <http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts> in facebook Send an email to: [email protected] "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment." - T.H. White From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Nuzul Achjar Sent: 30 September 2009 12:40 To: [email protected] Subject: Re: [referensi] Is it worth connecting Sumatra and Java? Pak Risfan, Rekan Tiar, dan Sahabat Referensiers Ysh, Dalam Rancangan RPJM 2010-2015, sebenarnya arahan menuju "development for all". Pidato SBY di DPD pada 19 Agustus lalu ditafsirkan sebagai upaya mengurangi disparitas. Nantinya tidak akan ada lagi istilah KBI vs KTI. Gimana kalau Jembatan Penghubung Jawa Sumatera (JPJS) -- istilah yang katanya akan digunakan sebagai pengganti istilah Jembatan Selat Sunda (JSS). Secara konseptual dan pakai teori ekonomi regional sih, pola Dyad Jawa-Sumatera akan semakin menguat saja, sementara Triad Kalimantan-Sulawesi dan the Rest of Indonesia belum tentu menguat. Mengapa, ya, kuncinya adalah perdagangan interregional masih lemah. Mengapa lemah, ya antara lain infrastruktur pendudukung (pelabuhan, armada niaga) masih terbatas, belum lagi pertanyaannya, emangnya Kalimantan, Sulawesi dan the Rest of Indonesia, saling jual apa? Pola Dyad Jawa Sumatera sudah puluhan tahun terbentuk, dan tidak berubah. Apa artinya? ya pemainnya itu itu saja. Kalau kita bicara disparitas sih, so pastilah disparitas akan semakin besar antara Dyad Jawa Sumatera dengan Triad Kalimantan-Sulawesi-the rest of Indonesia. Kajian empiris dengan gunakan teori perdagangan interregional sudah tunjukkan itu. Teori mengatakan, pola yang relatif merata itu jika tidak ada pola Dyad Triad, minimal wujudnya tidak terlihat jelaslah begitu. Artinya, kalau JSPS dimaksudkan untuk mengurangi disparitas, disparitas yang mana? Kalau mengurangi within dyad Jawa Sumatera mungkin ya, tapi kalau between regions in Indonesia, ceritanya sama sekali berbeda. Lepas dari isu JSPS, dari draft awal yang saya dengar, arah pembangunan regional ke depan adalah integratsi ekonomi domestik. Ini pernyataan eksplisit dari Calon Wapres. Ini yang perlu kita kritisi, kalau kita bicara integrasi ekonomi domestik, mengurangi disparitas regional , tapi kalau infrastruktur pendukung untuk berkembangnya interregional trade di Triad, rasanya, kita sudah salah arah. Maaf sahabat, kalau pake teori Dyad dan Triad segala. Wassalam, Nuzul Achjar

