Her-he..koq kayak fenomena becak. Becak tergusur di pusat kota terus menggeser 
ke pinggiran kota. Kalau inter-regional kayaknya nggak gitu deh. Kalau nggak 
ada demand, atau nggak ada produksi dan barang yang diangkut, ya kapal-kapal 
itu nggak akan bergeser deh.
 
Mungkin gitu.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Wed, 9/30/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> wrote:


From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Is it worth connecting Sumatra and Java?
To: [email protected]
Date: Wednesday, September 30, 2009, 12:31 PM


  





Mungkin nanti triad Sulawesi-kalimantan -nusatenggara dapat sisa-sisa, sarana 
angkutan laut antar pulau yang sudah tidak diperlukan lagi di selat sunda dan 
selat madura,…. Kapal-kapal pelni mungkin jadi melirik ke timur,… 
Di selat madura khan demand untuk transport lewat laut berkurang,… jadi bisa 
bergeser ke NTB-NTT deh,…
 
Mungkinkah ?
 

Regards,
 B.Dwiagus S.
http://bdwiagus. blogspot. com
http://bdwiagus. multiply. com 
 
InDEC (Indonesian Development Evaluation Community)  --> here
Indo-MONEV -->  here in yahoogroups  and  here in facebook
Send an email to:  indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - 
T.H. White
 
 


From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of Nuzul Achjar
Sent: 30 September 2009 12:40
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Is it worth connecting Sumatra and Java?
 
  




Pak Risfan, Rekan Tiar, dan Sahabat Referensiers Ysh,

 

Dalam Rancangan RPJM 2010-2015, sebenarnya arahan menuju "development for all". 
Pidato SBY di DPD pada 19 Agustus lalu ditafsirkan sebagai upaya mengurangi 
disparitas. Nantinya tidak akan ada lagi istilah KBI vs KTI. 

 

Gimana kalau Jembatan Penghubung Jawa Sumatera (JPJS) -- istilah yang katanya 
akan digunakan sebagai pengganti istilah Jembatan Selat Sunda (JSS). 

 

Secara konseptual dan pakai teori ekonomi regional sih, pola Dyad Jawa-Sumatera 
akan semakin menguat saja, sementara Triad Kalimantan-Sulawesi dan the Rest of 
Indonesia belum tentu menguat. Mengapa, ya, kuncinya adalah perdagangan 
interregional masih lemah. Mengapa lemah, ya antara lain infrastruktur 
pendudukung (pelabuhan, armada niaga) masih terbatas, belum lagi pertanyaannya, 
emangnya Kalimantan, Sulawesi dan the Rest of Indonesia, saling jual apa?

 

Pola Dyad Jawa Sumatera sudah puluhan tahun terbentuk, dan tidak berubah. Apa 
artinya? ya pemainnya itu itu saja. 

 

Kalau kita bicara disparitas sih, so pastilah disparitas akan semakin besar 
antara Dyad Jawa Sumatera dengan Triad Kalimantan-Sulawesi -the rest of 
Indonesia. Kajian empiris dengan gunakan teori perdagangan interregional sudah 
tunjukkan itu. Teori mengatakan, pola yang relatif merata itu jika tidak ada 
pola Dyad Triad, minimal wujudnya tidak terlihat jelaslah begitu. 

 

 

 

Artinya, kalau JSPS dimaksudkan untuk mengurangi disparitas, disparitas yang 
mana? Kalau mengurangi within dyad Jawa Sumatera mungkin ya, tapi kalau between 
regions in Indonesia, ceritanya sama sekali berbeda. 

 

Lepas dari isu JSPS, dari draft awal yang saya dengar, arah pembangunan 
regional ke depan adalah integratsi ekonomi domestik. Ini pernyataan eksplisit 
dari Calon Wapres. Ini yang perlu kita kritisi, kalau kita bicara integrasi 
ekonomi domestik, mengurangi disparitas regional , tapi kalau infrastruktur 
pendukung untuk berkembangnya interregional trade di Triad, rasanya, kita sudah 
salah arah. 

 

Maaf sahabat, kalau pake teori Dyad dan Triad segala. 

 

Wassalam,

 

Nuzul Achjar

 

















      

Kirim email ke