Rekan- rekan,
Attachment ini saya dapatkan dari salah 1 professor urban planning di TU Delft 
: Prof.Taeke de Jong
Beliau banyak membuat publikasi tentang technical aspect dari urban planning/ 
urban design.
Dalam excel sheet ini beliau melakukan suatu methode, dimana jika kita 
memasukan data2 gempa/bencana, kita bisa mendapatkan kurang lebih tentang 'risk 
prediction'

jika data2 yang harus dimasukan itu (kalau dari email di bawah, terdapat data 
etnografi) dimasukan,
excel sheet ini bisa dimodifikasi untuk kondisi kota di indonesia.

semoga membantu&berguna

franciska windy


________________________________
From: ffekadj <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, October 6, 2009 4:38:49 PM
Subject: [referensi] Re: Disaster Management - Pak If

  

Pak BSP dan Pak Djarot ysh, terima kasih atas informasi pengalaman gempa
yang diberikan. Informasi ini telah saya kumpulkan dan diteruskan ke
beberapa pihak untuk menjadi bahan perhatian, dan telah ada reaksi yang
positif. Memang prihatin bila hingga saat ini manajemen evakuasi dan
bantuan masih belum berjalan dengan baik.

Sebenarnya catatan Pak BSP dan Pak Djarot ini lebih merupakan catatan
etnografis, melalui observasi lapangan, memuat deep structure,
eksplanatoris, sehingga memiliki kandungan ilmiah. Memang mengherankan
bila selama ini etnografi dilakukan oleh sosiolog dan antropolog, namun
dapat dengan mudah dilakukan oleh siapa saja dengan tujuan pembelajaran.
Ke depan kita akan senang mengumpulkan catatan-catatan seperti ini,
sebagai referensi untuk berbagai kebutuhan. Salam.

-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, "bspr...@... " <bspr...@... > wrote:
>
> Uda Eka ysh,
>
> Uda menuliskan :
>
> Pak Risfan ysh, mungkin permasalahannya selama ini 'kegiatan
pembangunan' itu dilaksanakan 'secara terprogram', jadi strukturalism
itu sangat kental. Perbandingannya adalah seperti yang disampaikan dalam
catatan Pak BSP, kalau TNI sudah sampai di lapangan beberapa waktu
setelah bencana dan langsung melakukan evakuasi atau 3 jam sebelum
aparat Pemda baru mengumpul untuk memulai koordinasi.
>
> Dari kejadian Sumbar kemarin, yang turun justru 2 batalyon tempur,
bukan zeni, yang tidak mengerti mengenai bangunan. Namun sepertinya itu
adalah satuan yang berada pada lokasi terdekat, mereka datang dengan
bekal pangan untuk 2 hari dan semangat. Saya kira ini fungsionalism.
>
> Tanggapan saya :
>
> Problem yang dihadapi oleh PNS Pemda adalah bahwa mereka cenderung
juga ikut menjadi korban. Saya justru sangat sangat menghormati pegawai
Kabupaten Bantul yang bisa mengkonsolidasi diri dalam waktu 3 hari.
>
> Bayangkan, lebih dari 80% pegawai itu yang rumahnya, atau rumah
keluarganya luluh lantak karena gempa. Mereka justru diminta untuk
membantu masyarakat.
>
> Saya sangat mengalami sendiri. Waktu itu saya punya staf dari dinas
sosial. Mereka sangat giat melakukan koordinasi pembagian bantuan. Tiba2
saya mendengar dari temannya berkata : "pak rumahnya juga hancur dan
satu anaknya luka". Saya langsung panggil dan minta dia berhenti untuk
lebih dulu menyelesaikan masalah keluarganya. Ini gambaran riil Uda.
>
> Selain itu dalam gempa, mereka juga mengalami trauma. Saya masih
melihat pada hari ke 7 banyak PNS yang ekspresinya mendadak pucat gara2
mendengar truk tronton lewat. Mereka menduga ada gempa lagi.
>
> Saya beruntung (atau memang sudah disain Allah), sebenarnya saya ada
di Jogja sehari sebelum gempat. Tetapi entah mengapa waktu shalat asyar
kok merasa ada yang membisiki untuk saya kembali ke Jakarta kumpul
keluarga. Jadi saya terhindar dari moment itu. Implikasinya, saya sangat
jernih dalam mengendalikan penanganan bantuan.
>
> Jadi, tolong melihat gempa jangan dari kacamata diluar. Kita harus
bisa merasakan apa yang terjadi di dalam sana. Karena itu saya sangat
paham dengan apa yang terjadi di Sumbar.
>
> Yang sangat saya sayangkan ada pejabat di sumbar yang nampang di TV
dan berbicara dengan nada tinggi. Yang dibutuhkan saat itu adalah kerja
keras dan bukan menyombongkan diri. Apalagi saya melihat si pejabat itu
dengan baju yang klimis dan muka kayak habis mandi (bukan mandi peluh he
he he). Itu benar2 sangat menyakitkan hati masyarakat. Rapi is oke, tapi
bukan bersolek. Saya masih ingat bagaimana bupati klaten, bupati Bantul,
walikota Jogja waktu diwawancarai lusuh namun dengan sorot mata yang
pasti. Saya lebih suka melihat performance dari pak Gubenur Sumbar yang
firm danb tidak berlebihan.
>
> Selanjutnya tentang TNI. Ada prosedur standar tentang penanganan
tanggap darurat. Pasti yang diperintahkan adalah yang tidak terkena
langsung dengan bencana itu.
>
> Demikian Uda tanggapan saya.
>
> Salam
>
> bambang sp
>


   


      

Kirim email ke